• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
GUNUNG KEMBANG EMAS
BIARPUN telah kembali ke Hachisuka, Koroku takkan membiarkan Tenzololos tanpa hukuman. la mengutus pembunuh-pembunuh bayaran untuk memburu Tenzo, dan mengirim surat kepada marga-marga di provinsi- provinsi yang jauh untuk menanyakan keberadaan keponakannya itu. Musimgugur tiba, tapi segala usahanya belum juga mendatangkan hasil. Kabar  burung mengatakan bahwa Tenzo memperoleh perlindungan dari margaTakeda di Kai. la menghadiahkan senapan curiannya pada mereka, danmulai bertugas sebagai anggota pasukan mata-mata dan penghasut yang bekerja untuk ptovinsi itu."Kalau dia sampai ke Kai...," Koroku bergumam dengan getir, tapiuntuk sementara ia tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.Tak lama kemudian, ia didatangi oleh utusan pengikut marga Oda yang pernah mengundangnya menghadiri upacara minum teh. Orang itu membawakendi
akae.
"Kami tahu benda ini menyebabkan kesulitan yang tidak kecil bagimarga Hachisuka. Meski kami membeli kendi tersohor ini secara sah, kamimerasa tak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Kami yakin nama baik marga Hachisuka bisa dipulihkan dengan mengembalikan kendi ini kepada pemiliknya semula."Koroku menerima kendi itu, dan berjanji untuk mengadakan kunjungan balasan. Akhirnya bukan ia sendiri yang pergi, melainkan seorang utusanyang membawa berbagai hadiah: sebuah pelana indah serta emas senilai duakali harga kendi. Pada hari yang sama, ia memanggil Matsubara Takumidan memberitahunya untuk bersiap-siap mengadakan perjalanan singkat.Kemudian ia keluar ke serambi."Monyet!" ia berseru.Hiyoshi muncul dari antara pepohonan dan berlutut di hadapan Koroku.
86
a
eBook oleh
Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection's 
 
Mula-mula ia memang pergi ke Futatsudera, tapi kemudian ia segerakembali ke Hachisuka dan memulai kehidupan barunya. Ia cerdas dan maumelakukan apa saja. Orang-orang masih sering mengejeknya, namun iamenahan diri dan tak pernah membalas. Ia banyak bicara, tapi tak pernah bersikap tidak jujur. Koroku mempekerjakannya di kebun dan cukup puasdengannya. Meski Hiyoshi berkedudukan sebagai pelayan, ia tidak sekadar menyapu pekarangan. Pekerjaannya menyebabkan ia selalu di dekat Koroku,sehingga siang-malam ia berada di bawah pengawasan majikannya. Setelahmatahari tenggelam, ia bertugas sebagai penjaga. Tentu saja tugas semacamini hanya diberikan pada orang-orang kepercayaan."Kau ikut Takumi untuk menunjukkan jalan ke toko tembikar diShinkawa.""Ke Shinkawa?""Kenapa kau pasang tampang murung?""Aku bisa melihat kau enggan pergi, tapi Takumi harus mengembalikankendi itu pada pemiliknya yang sah. Kupikir tak ada salahnya kalau kau juga ikut."Hiyoshi tak berdaya dan menempelkan keningnya ke lantai.Karena ia ikut sebagai pengiring, Hiyoshi menunggu di luar ketikamereka tiba di rumah Sutejiro. Bekas rekan-rekan kerjanya tidak mengertiapa yang terjadi, dan mereka mendatanginya serta menatapnya denganheran. Hiyoshi sendiri tampaknya sudah lupa bahwa beberapa dari merekasering menertawakan dan memukulnya sebelum ia dipulangkan. Sambiltersenyum pada mereka semua, ia jongkok di bawah matahari, menungguTakumi yang segera keluar dari rumah itu.Kembalinya kendi yang hilang dicuri betul-betul di luar dugaan Sutejirodan istrinya. Mereka begitu gembira, sehingga hampir tak percaya bahwamereka tidak bermimpi. Terburu-buru mereka mengatur letak sandal tamumereka, agar ia bisa mengenakannya dengan mudah, lalu mendahuluinya kegerbang, dan di sana mereka membungkuk berulang-ulang. Ofuku jugaikut, dan ia terkejut ketika melihat Hiyoshi."Kami akan berusaha menyempatkan diri untuk berkunjung ke Hachisuka,agar kami dapat mengucapkan terima kasih secara langsung," kata Sutejiro."Tolong sampaikan salam kami kepada Yang Mulia. Sekali lagi terima kasihkarena Tuan telah bersusah payah datang ke sini." Suami, istri, Ofuku, dansemua pegawai membungkuk rendah-rendah. Hiyoshi mengikuti Takumikeluar dan melambaikan tangan sambil pergi. Ketika mereka melewati perbukitan Komyo, ia berpikir dengan sedih, "Bagaimana kabar bibiku diYabuyama? Dan pamanku yang malang? Mungkin dia malah sudah tiada."Mereka berada di dekat Nakamura, dan tentu saja Hiyoshi juga teringatibu dan kakaknya. Tak ada yang lebih diinginkannya selain berlari ke sanauntuk menemui mereka, tapi sumpah yang ia ucapkan pada malam dingin
87
"Tapi..."
 
itu menahannya. Ia masih belum melakukan apa-apa untuk membahagiakanibunya. Ketika ia dengan berat hati berpaling dari Nakamura, ia melihatseorang laki-laki berseragam prajurit infanteri."Hei, bukankah kau anak Yaemon?""Dan Tuan siapa, kalau aku boleh tanya?""Kau Hiyoshi, bukan?""Ya.""Astaga, kau sudah besar sekali. Namaku Otowaka. Aku teman mendiangayahmu. Kami bertugas di kesatuan yang sama, di bawah Oda Nobuhide.""Sekarang aku ingat! Betulkah aku sudah bertambah besar?""Ah, kalau saja mendiang ayahmu bisa melihatmu sekarang."Mata Hiyoshi mulai berkaca-kaca. "Apakah Tuan sempat bertemu ibuku belakangan ini?" ia bertanya."Aku tak pernah berkunjung ke rumahnya, tapi kadang-kadang aku pergi ke Nakamura dan mendengar berita. Kelihatannya dia masih bekerjakeras seperti biasa.""Dia tidak sakit, bukan?""Kenapa kau tidak lihat sendiri saja?""Aku tak bisa pulang sebelum menjadi orang besar.""Pergi saja dan tunjukkan batang hidungmu. Bagaimanapun, dia ibumu."Hiyoshi hampir menangis. Ia memalingkan wajah. Ketika perasaannyatelah kembali tenang, Otowaka sudah pergi ke arah berlawanan. Takumi pun telah meneruskan perjalanan dan meninggalkannya cukup jauh.
***
Panasnya musim kemarau telah berlalu. Pagi dan malam hari terasa sepertidi musim gugur, daun-daun talas telah lebat dan mekar."Hmm, sudah lima tahun parit ini tak pernah dikeruk," Hiyoshi ber-gumam. "Kita terus-menerus berlatih menunggang kuda dan mendalamiilmu tombak, tapi kita membiarkan lumpur menumpuk di depan kaki kita!Itu tidak baik." Ia baru kembali dari rumah tukang potong bambu, dansedang mengamati keadaan parit tua itu. "Sebenarnya, apa gunanya sebuah parit? Aku harus memberitahukan ini pada Tuan Koroku."Hiyoshi memeriksa kedalaman air dengan tongkat bambu. Permukaan parit dipenuhi tanaman air, jadi tak ada yang memperhatikannya; tapikarena daun gugur dan lumpur telah menumpuk selama bertahun-tahun, parit itu jadi tidak begitu dalam lagi. Setelah memeriksa kedalamannya didua atau tiga tempat, ia membuang tongkatnya. Ia baru saja hendak menyeberangi jembatan yang menuju gerbang samping, ketika seseorangmemanggil, "Tuan Setengah Takar." Julukan itu tidak mengacu pada ukurantubuhnya, melainkan merupakan panggilan yang lazim untuk pelayan sebuahmarga pedesaan.
88
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...