Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perda_7_1998_Pajak Bahan Galian Golongan C

Perda_7_1998_Pajak Bahan Galian Golongan C

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 2,615|Likes:
Published by Muhammad Faisal
Perda ini mengatur tentang kewajiban/ pembebanan bagi orang pribadi/ badan usaha yang melakukan kegiatan pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan C
Perda ini mengatur tentang kewajiban/ pembebanan bagi orang pribadi/ badan usaha yang melakukan kegiatan pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan C

More info:

Published by: Muhammad Faisal on Jul 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/17/2011

pdf

text

original

 
PERATURAN DAERAHKABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR  NOMOR 7 TAHUN 1998TENTANGPAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHANBAHAN GALIAN GOLONGAN CDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR 
Menimbang : a. bahwa berdasarkan pasal 2 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997,tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Pengambilan dan Pengolahan BahanGalian Golongan C merupakan jenis pajak Daerah Tingkat II;b.bahwa untuk memungut pajak sebagaimana dimaksud huruf a perlu ditetapkan denganPeraturan Daerah;Mengingat :1. Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Tahun1959 Nomor 58 Tambahan Lembaran Negara Nomor 1092);2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3684);4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah(Lembaran Negara tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3686);6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah (Lembaran NegaraTahun 1997 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3691);7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerahdan Peraturan Daerah Perubahan;8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 tahun 1997 tentang Pedoman Tata CaraPemungutan Pajak Daerah;9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 171 Tahun 1997 tentang Prosedur PengesahanPeraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi Daerah;10.Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaandi bidang Pajak Daerah;11. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur Nomor 4 Tahun 1987 tentangPedoman Penunjukan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri Sipilpada Pemerintah Daerah Tingkat II Aceh Timur;Dengan PersetujuanDewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur.
 MEMUTUSKAN :
Menetapkan
 
:
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR TENTANG PAJAK PENGAMBILAN DANPENGOLAHAN BAHAN GOLONGAN C.BAB IKETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :a. Daerah adalah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur;b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur;c. Kepala Daerah adalah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Timur;d. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang Perpajakan Daerahsesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;e. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C yang selanjutnya disebutPajak adalah Pungutan Daerah atas pengambilan dan pengolahan galian C;f. Bahan Galian Golongan C adalah bahan galian golongan C sebagaimana dimaksud dalamPeraturan Perundang-Undangan yang berlaku;g. Eksploitasi bahan galian golongan C adalah pengambilan bahan galian golongan C dansumber alam didalam dan atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan;h. Surat pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPPD adalah surat yangdigunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran Pajak yangterutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;i. Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yangdigunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yangterutang ke Kas Daerah atau ke tempat lain yang ditetapkan oleh Kepala oleh KepalaDaerah;j. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah suratkeputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang jumlah kredit pajak,jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlahyang masih harus dibayar;k. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDKBadalah singkat SPPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkanperhitungan dan pembayaran Pajak yang terutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;l.Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkatSKPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yangditetapkan:m. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalahsurat keputusan yang menentukan besarnya jumlah kelebihan pembayaran pajak karenajumlah kredit pajak lebih besar dan pajak yang terutang atau tidak seharusnyaterutang;
 
n. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat SKPDN adaah suratkeputusan yang menentukan jumlah yang terutang sama besarnya dengan kredit pajak,atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;o. Surat Tagihan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untukmelakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;
BAB II NAMA, OBJEK DANSUBJEK PAJAK Pasal 2
(1)Dengan nama Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C dipungutpajak atas kegiatan eksploitasi bahan galian golongan C;(2)Obyek pajak adalah kegiatan eksploitasi bahan galian golongan C;(3)Bahan galian golongan C sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi :a. Asbes;b. Batu tulis;c. Batu Setengah Permata;d. Batu Kapur;e. Batu Apung;f. Batu Permata;g. Bentonit;h. Dolomit;i. Peldspar;j. Garam batu (balite);k. Grafit;I. Granit;m. Gips;n. Kalsito. Kaolin;p. Leusit;q. Magnesit;r. M i k a;s. Marmar;t. Nitrat;u. Opsiden;v. Oker;w. Pasir dan Kerikil;x. Pasir Kuarsa;y. Perlit;z. Phospal;aa. Tanah Serap (follers earth);ab. T a l k;ac. Tanah diatome;ad. Tanah liat;ae. Tawas (alum);af.Tras;ag. Yarosif;ab. Zeolit.(4)Subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengeksploitasi atau mengambilbahan galian golongan C;(5)Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan eksploitasibahan galian golongan C.
BAB IIIDASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK Pasal 3
(1)Dasar Pengenaan Pajak adalah nilai jual hasil eksploitasi bahan galian golongan C;(2)Nilai jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan mengalikan volumetonase hasil eksploitasi dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenisbahan galian golongan C;(3)Harga standar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pada masing-masing jenis bahangalian golongan C ditetapkan secara priodik oleh Kepala Daerah sesuai dengan hargarata-rata yang berlaku di lokasi setempat;(4)Harga standar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Instansi yangberwenang dalam bidang pertambangan bahan galian golongan C.
Pasal 5
Besarnya tarif pajak ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen).
BAB IV  WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK Pasal 6
(1)Pajak yang terhutang dipungut diwilayah Daerah tempat eksploitasi bahan galiangolongan C;(2)Besarnya Pajak Terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak sebagaimanadimaksud dalam pasal 5 dengan dasar pengenaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4.
BAB V  MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERUTANG DAN SURATPEMBERITAHUAN PAJAK DAERAHPasal 7
Masa Pajak adalah jangka waktu tertentu yang lamanya 1 (satu) bulan takwin.
 
Pasal 8
Pajak terhutang dalam masa pajak terjadi pada saat kegiatan eksploitasi bahan galiangolongan C dilakukan;
Pasal 9
(1)Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD;(2)SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar danlengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Kuasanya;(3)SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus disampaikan kepada Kepala Daerahselambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.(4)Bentuk, isi dan tata pengisian SPTPD ditetapkan oleh Kepala Daerah;
BAB VITATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK Pasal 10
(1)Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Kepala Daerahmenetapkan Pajak terhutang dengan menerbitkan SKPD;(2)Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak atau kurang dibayar setelahlewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima dikenakan sanksiadministrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.
Pasal 11
(1)Wajib Pajak yang membayar sendiri, SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat(1) digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yangterhutang;(2)Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya pajak, Kepala Daerahdapat menerbitkan :a. SKPDKB;b SKPDKBT;c. SKPDN;(3)SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diterbitkan :a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terhutangtidak atau kurang dibayar, dikenakan sanksi administrasi sebesar 2 % (duapersen) sebulan di hitung dan pajak yang kurang atau terlambat dibayar untukjangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saatterhutangnya pajak;b.Apabila SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telahditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi sebesar 2 % (dua persen)sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangkawaktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnyapajak;c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terhutang dihitungsecara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25%(dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayaruntuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saatterhutangnya pajak;(4)SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diterbitkan apabila ditemukandata yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yangterhutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%(seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;(5)SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diterbitkan apabila jumlah pajakyang terhutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terhutangdan tidak ada kredit pajak;(6)Apabila kewajiban membayar pajak terhutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimanadimaksud pada ayat (2) huruf a dan b tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalamjangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD di tambahdengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan darijumlah tagihan;(7)Penambahan jumlah pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidakdikenakan apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakanpemeriksaan.
BAB VIITATA CARA PEMBAYARANPasal 11
(1)Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk olehKepala Daerah sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT danSTPD.(2)Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaanpajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1x24 jam atau dalam waktuyang ditentukan oleh Kepala Daerah.(3)Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan denganmenggunakan SSPD.
Pasal 12
(1)Pembayaran pajak harus diakukan sekaligus atau lunas;(2)Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsurpajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yangditentukan;(3)Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dilakukansecara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2 % (dua persen)sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar;(4)Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk menundapembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratanyang ditentukan dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlahpajak yang belum atau kurang dibayar;

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Setiari Ni Made liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->