Mengapa bersifat semu? Karena selain seks bebas akan tetap dimurkaiAllah swt meskipun menggunakan kondom, ternyata kondom sendiri terbuktitidak mampu mencegah transmisi HIV.
Hal ini karena kondom terbuat daribahan dasar latex (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasiyang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakanmikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron,
26
yaitu 700 kalilebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron.
27
Selainitu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karenaselama proses pembuatan kondom terbentuk lubang-lubang. Terlebih lagikondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin,
28
sehingga 36-38%sebenarnya tidak dapat digunakan.
29
Dengan demikian, alih-alih sebagaipencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbuktiadanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom13-27% lebih.
30
Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982bahkan terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) daripernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat(US:CDC:United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukanpada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibatpenyakit AIDS menjadi peringkat no 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dankanker.
Selain itu, kondom memang dirancang hanya untuk mencegahkehamilan, itupun dengan tingkat kegagalan mencapai 20%.
25
Selain kondom untuk pria, saat ini di Indonesia juga dipopulerkankondom perempuan.
31,32
Ada yang berupa diafragma, yaitu kantong plastikberbentuk tabung yang dimasukkan ke dalam vagina. Diakui, kondom iniberisiko tinggi gagal mencegah kehamilan,
33
apalagi untuk mencegahpenularan HIV. Adapun kondom perempuan yang berupa hidrojel, selainmasih diragukan keampuhannya mencegah penularan HIV, juga berpotensimenimbulkan berbagai hal yang mempermudah penularan HIV, sepertiperadangan.
34
Mencermati uraian di atas, jelaslah bahwa kondomisasi, apapunalasannya, sama saja dengan menfasilitasi seks bebas yang merupakansarana penularan utama HIV/AIDS. Dan HIV/AIDS je as-jelas membahayakankehidupan. Sehingga, tidak heran setelah program kondomisasi dijalankankasus HIV/AIDS justru semakin meningkat pesat. Dengan demikian,kondomisasi sama saja dengan penghancuran terselubung umat manusia.
b.
Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril
Penyebaran HIV/AIDS yang sangat cepat akhir-akhir ini diperkirakankarena penggunaan jarum suntik secara bergantian dikalangan IDU yang jumlahnya semakin banyak. Hal ini dijadikan alasan untuk mensahkantindakan memberikan jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagipenyalahguna NARKOBA suntik.Saat ini, strategi subsitusi metadon dalam bentuk Program TerapiRumatan Metadon (PTRM) dan pembagian jarum suntik steril telah menjadisalah satu layanan di rumah-rumah sakit, puskesma-puskemas dan di klinik-klinik VCT (
voluntary Counseling and Testing)
.
DepKes menyediakan 75 rumahsakit untuk layanan CST (
Care Support and Treatmen
),
11
tercatat 18Puskesmas percontohan, 260 unit layanan VCT yang tersebar di seluruhIndonesia.
15
Melalui layanan ini, para penasun (pengguna NARKOBA suntik) dapatdengan mudah memperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukupmurah, yaitu sekitar Rp7500/butir. Kehidupan para penasun yang lebihteratur, tidak melakukan tindak kriminal selalu diopinikan untukmembenarkan upaya ini.
35
Namun benarkah upaya ini akan mengurangi risikopenularan HIV/AIDS? Jawabannya jelas tidak, mengapa?Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masihmerupakan sintesis dan turunan opiat itu sendiri, misalnya metadon,buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lain sejenis.
Subsitusi padahakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetapakan menimbulkan gangguan mental,
36
termasuk metadon. Selain itu
3
Leave a Comment
kenapa KONDOM jadi permasalah............pencegahan HIV melalui kondom jgn di kaitkan dengan meksud menghalalkan zina.....tapi perspektifnya UNTUK MEMUTUSKAN PENULARAN.....mari kita kaji kondom menurut Islam.........Kita semua sepakat ZINA HARAM..........................Pencegahannya hanya dengan Ilmu penegtahuaan dan tingkatkan keimanan.
betul betul
Bagi Anda yang membaca makalah ini, kami sarankan untuk juga membaca dokumen kami yang lain berkaitan dengan hal ini: Memutus Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS....., KESALAHAN PARADIGMA...... Kami sampaikan dengan penuh kerendahan hati, untuk bersama-sama menemukan solusi yang tepat dan benar menangani HIV/AIDS ini. wassalam.
lanjutan....: Menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh, ataupun bersikap menerima untuk menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh atas berbagai kerusakan yang ‘dilahirkan’ oleh sistem rusak saat ini adalah sama sekali salah alamat. Banyaknya masjid –contohnya- bukanlah representasi dari system Islam kaaffah. Kalaupun seandainya hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang phobia terhadap Islam, kami meyakini hal tersebut terjadi karena belum dikenalnya Islam dengan komprehensif, masih sepotong-potong (misal: hanya hukum rajamnya,tapi tidak sistem pergaulannya yang penuh kemuliaan; hanya potong tangannya, tapi tidak sistem ekonominya yang menjamin kesejateraan seluruh WN nya,dsb). Dan pada titik inilah, lagi-lagi, justru kuncinya adalah pada upaya penyampaian dan pengenalan Islam apa adanya. Semakin kita tutupi sebagian, maka semakin ‘tidak solutif’ lah sistem Islam itu. Dan itu kami menyebutnya sebagai bagian dari upaya ’penyadaran’, bukan ’gembar-gembor’. Tentu saja, satu tulisan makalah yang kami buat, tidak akan pernah bisa cukup untuk menjadi sarana mengenal Islam kaaffah. Bagaimanapun, kami sangat menghormati semua pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS ini, termasuk MUI & Tokoh agama sebagaimana yang Saudara sebutkan. Insya Allah informasi yang Saudara bagi bersama kami ini akan menjadi sebuah masukan berharga bagi kami, utamanya ketika kami menjalin shillah ukhuwah, komunikasi dan diskusi berkaitan hal ini dengan beliau-beliau. Wallahu A’lam.
Terimakasih sekali lagi atas timbal baliknya, dan juga informasi yang sangat berguna bagi kami. Alhamdulillah, dari apa yang Bpk/Sdr tulis dalam komentar sebelumnya, kami mendapati bahwa kita ternyata berangkat dari kesamaan pemahaman, bahwa : - "paradigma Islam sejatinya pasti merupakan solusi bagi segala masalah", - termasuk "Islam adalah solusi atas merebaknya HIV AIDS... ", - Islam secara Kaaffah hanyalah dapat menjelma dalam lingkup UMMATan wasathan... bukan dalam lingkup fardiyyah", - "Kesempurnaan Dinul Islam yang Kaaffah tersebut tidaklah mungkin terjelma dan dipikul dalam lingkup pribadi atau sekelompok orang muslim saja" singkatnya kalau saya bahasakan dengan bahasa saya: bahwa kita sepakat (dan Insya Allah meyakini) bahwa Islam adalah sebuah sistem hidup paripurna, yang dengan kekaffaahannya dan keshahihannya (karena berasal dari Dzat Yang Maha Benar) akan bisa menjadi solusi atas segala persoalan kehidupan manusia. Dan penyelesaian yang diberikannya (kita yakini juga) pasti akan membawa kepada terwujudnya kehidupan yang diliputi dengan kehormatan dan kemuliaan manusia. Dia akan menjadi sebuah solusi yang paling 'pas' untuk manusia karena berasal dari Sang Pencipta manusia itu sendiri, yang paling tahu hakikat manusia itu seperti apa (apa yang membahagiakannya, merusaknya, menimbulkan ketakutan/efek jera pada dirinya, dsb). Berikutnya, bahwa untuk bisa mewujudkan Islam sebagai solusi mengharuskannya untuk diimplementasikan dalam kehidupan nyata (tidak sekedar dibicarakan di kertas-2). Dan bahwa untuk bisa mengimplementasikan konsep/pemikiran Islam (fikrah) yang akan menjadi solusi tadi mengharuskan adanya metode (thariqah) untuk melaksanakannya. Dan metode itu adalah Negara (system), bukan perorangan ataupun sekelompok orang. Namun, kami tidak sepakat kalau dikatakan “alangkah baiknya seorang atau sekelompok muslim tidak terlalu mengembar-gemborkan wacana intelektual tentang Islam, yang belum ada jelmaan implementasinya; di kenyataan hidup saat ini dan belum dirasakan pula dampak nyatanya oleh ummat manusia.” Justru berangkat dari kesadaran bahwa system Islam yang merupakan solusi tersebut saat ini belum ‘establish’ itulah yang kemudian mendorong kami untuk berusaha mewujudkannya agar ‘establish’. Dengan sebuah upaya yang bersifat pemikiran maupun politis. Menyampaikan wacana Islam, melakukan kritik terhadap wacana ghairu Islam yang sekarang sedang tegak, adalah suatu aktivitas yang justru kami yakini merupakan awal dari dikenalnya pemikiran Islam, untuk kemudian bisa diambil oleh mereka-mereka yang teryakinkan (sepakat) –tentu saja proses ini terjadi tanpa pemaksaan sedikitpun, karena bersifat ‘pertarungan pemikiran’, bukan ‘pertarungan fisik’. Menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh, ataupun bersikap menerima untuk menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh atas berbagai kerusakan yang ‘dilahirkan’ oleh sistem rusak saat ini adalah sama sekali salah alamat. Banyaknya masjid –contohnya- bukanlah representasi dari system Islam kaaffah. Kalaupun seandainya hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang phobia terhadap Islam, kami meyakini hal tersebut terjadi karena belum dikenalnya Islam dengan komprehensif, masih sepotong-potong (misal: hanya hukum rajamnya,tapi tidak sistem pergaulannya yang penuh kemuliaan; hanya potong tangannya, tapi tidak sistem ekonominya yang menjamin kesejateraan seluruh WN nya,dsb). Dan pada titik inilah, lagi-lagi, justru kuncinya adalah pada upaya penyampaian dan pengenalan Islam apa adanya. Semakin kita tutupi sebagian, maka semakin ‘tidak solutif’ lah sistem Islam itu. Dan itu kami menyebutnya sebagai bagian dari upaya ’penyadaran’, bukan ’gembar-gembor’. Bagaimanapun, kami sangat menghormati semua pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS ini, termasuk MUI & Tokoh agama sebagaimana yang Saudara sebutkan. Insya Allah informasi yang Saudara bagi bersama kami ini akan menjadi sebuah masukan berharga bagi kami, utamanya ketika kami menjalin shillah ukhuwah, komunikasi dan diskusi berkaitan hal ini dengan beliau-beliau. Mohon maaf atas segala khilaf.Wallahu A’lam.
Terimakasih pula atas timbal-baliknya... dalam hal ini perkenankanlah menyampaikan berbagai hasil diskusi Pasca dilaksanakannya pelatihan Respon HIV AIDS dlm Konteks Gender & HAM yang melibatkan seluruh sektor di Kabupaten Bandung termasuk dari unsur MUI & Tokoh agama di dalamnya. Salah satu masukan hasil diskusi yang menarik & disepakati berbagai pihak adalah konteks Islam secara Kaaffah hanyallah dapat menjelma dalam lingkup UMMATan wasathan... bukan dalam lingkup fardiyyah... Oleh sebab itu, satu pelajaran yang ditarik dari diskusi-diskusi tersebut adalah Tidak selayaknya menyodorkan kesempurnaan Dinul Islam "hanya" sebagai wacana semata dalam rangka menanggulangai HIV AIDS. Sementara implementasi dari Kesempurnaan Dinul Islam yang Kaaffah tersebut tidaklah mungkin terjelma dan dipikul dalam lingkup pribadi atau sekelompok orang muslim saja. Dan hal tersebut, telah pula menimbulkan fitnah akibat gembor-gembor semata dari paradigma Islam yang sejatinya -pasti merupakan solusi bagi segala masalah- tetapi karena belum terjelma menjadi kenyataan global maka menjadi bahan cemoohan karenanya. Maka alangkah baiknya seorang atau sekelompok muslim tidak terlalu mengembar-gemborkan wacana intelektual tentang Islam, yang belum ada jelmaan "implementasinya" di kenyataan hidup saat ini dan belum dirasakan pula dampak nyatanya oleh ummat manusia. Dengan belum terjelmanya implementasi nyata dari Dinul Islam di lingkup ummat, janganlah kemudian menjadi bahan olokan atau guyonan dari orang-orang atau kelompok yang fobia terhadap Islam yang notabene saat ini sedang eksis secara nyata dalam upaya penanggulangan AIDS di lingkup global. Dan lebih baik jikalau segala wacana atau solusi nyata dari Dinul Islam, mulailah diimplementasikan dari lingkup fardiyah. dan tidak terjebak kedalam "wacana" semata dan dengan cara mengkonfrontir wacana-wacana metode kaum maghribi dengan dinul Islam. Kita bisa memulai dari diri sendiri atau lingkup keluarga yang kemudian dapat digulirkan oleh setiap muslim secara nyata dan isnyaAlloh dapat berefek bola salju pula ke dalam lingkup Ummat. Sehingga efek fitnah akibat dari belum terjelmanya implementasi Dinul Islam di lingkup ummat tidaklah menjadi "kontra produktif" terhadap pengamalan Islam sebagai solusi dimata Dunia. Banyak sudah ungkapan yang mendiskriditkan Islam... salah satunya ungkapan "mesjid didirikan dimana-mana tetapi tidak bisa mencegah menyebarnya HIV AIDS"... ungkapan itu bukanlah cemooh semata dan hal itu semakin mendorong berbagai pihak untuk lebih memilih metode-metode "pragmatis" kaum maghribi yang sudah terjema nyata secara global serta telah dirasakan manfaat kuantitatifnya dalam aspek kesehatan masyarakat luas, walaupun sebenarnya pragmatisme tersebut banyak bertentangan dengan Kaidah hidup dalam Dinul Islam. Kita semua setuju Islam adalah solusi atas merebaknya HIV AIDS... tetapi bukanlah hal bijak jika solusi tersebut hanyalah gembar-gembor "wacana semata". Karena Tuhan sangatlah membenci orang-orang menyatakan hal-hal yang tidak diperbuat ummatnya. Pendek kata kita semua dapat mulai bergerak secara fardiyyah tanpa perlu gembar-gembor terlebih dahulu terhadap hal-hal yang belum terjelma nyata implementasinya di kehidupan ini, khususnya dalam lingkup ummat Islam secara global. Atau segala gembar-gembor wacana tersebut hanyalah dijadikan sumber timbulnya Fitnah terhadap Ke-Kaaffahan Dinul Islam oleh orang-orang Islamofobia.
terima kasih kpd KPA kab Bandung atas komentarnya. Apa yang kami sampaikan dalam makalah tersebut adalah apa yang kami pahami dari Pemikiran dan hukum-2 Islam sebagai sumbernya. Karena itulah kami menyebutnya kritik Islam...dan solusi Islam...., dan bukannya kritik dan solusi dari seorang muslimah. Berkenaan dengan hal ini, kami sangat senang dan terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut tentang hal ini. Apakah benar yang saya sampaikan tersebut adalah pemikiran/hukum Islam ataukah tidak (saya mengada-adakannya sendiri berdasarkan hawa nafsu saya sendiri). Saya kira semangat kita sama: mencari solusi terbaik untuk menangani HIV-AIDS ini. Semua strategi yang ditawarkan selama ini (di Indonesia/dunia), ternyata belum pernah ada yang menjadikan paradigma ISlam (sbg sebuah 'way of life'), konsep dan metodenya sebagai solusi. Paling jauh, Islam hanya diambil sebatas nilai-nilai moral dan spiritualnya (minus peraturan-2 kaaffah lain yang dimilikinya). Tulisan ini bermaksud membuka wacana, benarkah solusi itu hanya dengan mengambil strategi yang selama ini dijalankan tersebut? bagi seorang muslim yang meyakini kesempurnaan Islam, sangatlah layak kalau kemudian kami mencoba menawarkan konsep Islam ini. Semoga Allah menunjuki kita pada kebenaran-Nya, dan memudahkan kita untuk menerima petunjuk-Nya tersebut.
saya kira apa yang disampaikan KPAKab Bandung benar... apalagi anda mengatakan bahwa itu berdasarkan pemahaman anda terhadap islam.. hmm. kalo begini.. bisa saja semua orang mengatas namakan islam kemudian memutuskan seseuatu memang kita sama2 cari penyelesain masalah... tapi dengan mengatakan pendapat kita sebagai pendapat islam saya kira perlu dipertimbangkan kalo nggak salah Nabhani melarang
Maaf beribu maaf... kami keberatan jika wacana yg ukhti paparkan disebut sebagai "solusi ISLAM".... tetapi jika judulnya diubah menjadi solusi yg ditawarkan oleh seorang "Muslimah"... kami dapat memahaminya.... ISLAM berbeda hakikat dengan MUSLIM .... pendpat seorang muslimah belum tentu menggambarkan DINUL ISLAM secara Kaaffah.... Jangan mereduksi ke-kaaffahan Dinul Islam jika yang ukhti kemukakan adalah pendapat dan hasil penelitian pribadi.... agar jika terdapat kesalahan... maka itu adalah kesalahan pendapat seorang muslimah... dan bukanlah kesalahan ISLAM sebagai Dien yang Diridloi-Nya