• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Menjembatani Langit dan Bumi
 Publikasi 03/02/2003 08:54 WIB
eramuslim
- Kebijakan-kebijakan pemerintah yang melakukan divestasi Indosat, privatisasi asset-asset negara, menaikkan harga-harga BBM, Tarif Dasar Listik (TDL),Telepon yang menyebabkan kenaikan di berbagai sektor lainnya. Semakinmenegaskan jarak antara pemerintah dengan rakyat yang jelas-jelas menolak semuakebijakan tersebut. Rakyat berpikir, semua kebijakan pemerintah itu tak satupun yangdidasari atas kepentingan jangka panjang, atas kepentingan dan kemaslahatan orang banyak, melainkan kepentingan sesaat yang semakin memburukkan keadaan rakyatsudah terperosok selama sekian tahun sejak krisis ekonomi melanda negeri ini.Kebijakan pemerintah dan harapan rakyat ibarat langit dan bumi. Yang padakenyataannya, selama malaikat pesuruh Allah belum meniupkan sangkakala pertandahari akhir, tidak akan pernah langit menyatu dengan bumi. Namun jika secara fisik keduanya tidak bisa bertemu, bukankah masih ada harapan kesenyawaan itu terciptaketika hati dan pikiran orang-orang yang dilangit menjemput yang di bumi? Jikaterlalu berat bagi yang dibumi untuk menghusung hati ke atas, bukankah lebih ringan bagi yang berada diatas untuk turun?Penguasa yang cerdas selalu peduli terhadap pola pikir rakyat yang diperintahnya.Itulah salah satu kunci keberhasilan suatu kepemimpinan yang paling mendasar. Saatini, pemerintah mempunyai pola pikirnya sendiri, sementara masyarakat jugamemiliki pola pikirnya sendiri. Memaksakan pola pikir yang satu terhadap yang laintentulah hanya akan melahirkan konflik. Selanjutnya, sudah pasti akan muncul berbagai praktek kekerasan yang timbul akibat tumbuhnya benih-benih perlawanan,ketidaksukaan dan perbedaan.Maraknya aksi-aksi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat akhir-akhir ini,awalnya hanya sekedar ‘pemaksaan’ pola pikir pemerintah yang tidak sejalan dengankepentingan rakyatnya. Pemaksaan yang dilanjutkan dengan sikap tegas dan represif kekuatan kekuasaan terhadap siapapun yang tidak sejalan, sesungguhnya merupakan potret awal keruntuhan. Teori manapun yang pernah kita pelajari berkenaan dengan perubahan mengajarkan, tidak akan pernah suatu perubahan (progresif) tercipta tanpaadanya kesatuan antara orang-orang yang di depan dengan mereka yang memberikankepercayaan penuh kepada yang di depan. Membangun sebuah peradaban baru, perlukesatuan yang utuh antara orang-orang berpendidikan, intelektual yang dipercayasebagai pemimpin suatu bangsa, dengan anggota masyarakat dari bangsa itu sendiri(Ali Syari’ati).
 
Masalahnya kemudian, ada kesenjangan hubungan, tidak adanya kontak dari hati kehati antara langit dan bumi. Sekali lagi, untuk sementara langit memang takkan pernah menjumpai langit, tapi sejauh apapun jarak itu bukankah tetap bisa tersatukanketika hati dan pikiran keduanya duduk menyatu dalam satu kepentingan, dalam satutujuan selayaknya orang-orang terdahulu di negeri ini melakukannya saatmerumuskan bentuk dan kelahiran bangsa, ketika bahu membahu membidani perjuangan memerdekakan negeri bernama Indonesia ini.Semestinya setiap penguasa belajar dari sejarah, bahwa kejatuhan yang pernahdialami oleh hampir semua pemimpin adalah saat langkahnya tak lagi seiring denganorang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga dengan negeri ini, mendiang PresidenPertama RI, Soekarno sangat menyadari artinya rakyat bagi sebuah bangsa, pemahaman yang teramat mendalam dari Soekarno itu tercermin dari pidatonya padatahun 1957: “Dulu itu kita semua adalah ‘rakyati’, dulu itu kita semua adalah ‘volks’.Api pergerakan kita dulu itu kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala pikiran danangan-angan kita dulu itu kita tujukan kepada kepentingan rakyat. Tujuan pergerakankita dulu itu adalah satu masyarakat adil dan makmur bagi rakyat.”Kalaulah Allah begitu teramat sering menjumpai hamba-hamba-Nya di bumi, melihatlangsung dari dekat setiap bulir air mata ummat yang menetes di sepanjang malam.Begitu juga dengan para malaikat (makhluk langit lainnya) yang penuh kearifanmenghampiri anak-anak Adam dan melaporkan kepada Tuhan setiap aduan, keluhanatau bahkan jeritan ketidakberdayaan manusia menjalani hidup. Kalaulah para Nabidan Rasul Allah memberikan teladan bagaimana menyentuh hati rakyat, mengangkatyang jatuh, menggandeng yang lemah dan bahkan mengutamakan kepentingan rakyatdiatas semua kepentingan diri dan keluarganya. Jika pemimpin-pemimpin di negeriini masih menjadikan Allah sebagai sesembahan mereka, masih percaya adanyamalaikat-malaikat yang senantiasa hadir bersamanya, dan menempatkan Rasulsebagai teladan hidup, semestinya mereka mau turun ke bumi.
Menikmati Hidup
 Publikasi 16/01/2003 08:27 WIB
eramuslim
- Kawan, ingin kuceritakan padamu indahnya menggenjot pedal sepedamembelah persawahan, menempuh jarak 5 sampai 10 kilometer. Angin segar menerpa, cicit burung dan lenguhan kerbau mengiringi setiap putaran roda. Kehijauansawah sepanjang mata memandang, berbatas cakrawala langit yang biru dengansaputan awan putih di ketinggian. Sebenarnya semua itu biasa saja, karena aku anak 
 
desa. Tapi sungguh, keindahan itu menjadi terasa lebih indah karena lima tahunterakhir aku nyaris tak lagi menyentuh sepeda
onthel 
. Ya, lima tahun terakhir akulebih banyak naik motor atau menggunakan kendaraan umum. Bahkan ke warungtetangga berjarak dua ratus meter pun selama ini aku tak mau lagi naik sepeda.Indah karena sambil menggenjot pedal aku mengenang masa-masa sebelum limatahun yang lalu. Saat tiap hari aku menempuh puluhan kilometer di atas sepeda jengkiatau sepeda mini, bersaing dengan bis kota di atas sadel sepeda. Bermandi peluh saatmatahari siang bolong panas membakar, atau bernafas embun saat kabut pagi masihmelingkupi. Kini, lima tahun kemudian, aku naik sepeda hanya sebagai selingan,sekedar sarana untuk berolahraga dan berekreasi.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, ingin kuceritakan padamu nikmatnya mengurus ternak. Mencari dan memberimakan ayam, bebek dan kambing. Juga membersihkan kandang mereka dari ranting-ranting sisa makanan, juga dari kotorannya. Bau khas ayam, serudukan kambing dankotorannya terasa nyaman. Beberapa jam berkutat dengan mereka memangmelelahkan, tapi sungguh terasa nikmat dan menyenangkan. Bagaimana tidak nikmatdan menyenangkan, sedang aku mengerjakan semua itu hanya sekali dua, saatmenjalani liburan. Dulu, lima tahun yang lalu, aku harus melakukan pekerjaan itu tiaphari. Dan kini, rasanya indah sekali, mengenang betapa beratnya pekerjaan itu dulu.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, ingin kubagi padamu tentang asyiknya menimba air dari sumur dengan tali.Meskipun lengan sempat kram dan pegal selama beberapa hari, derit roda katrolnyamenimbulkan sensasi yang menggembirakan. Tempelasan air yang menerpa teramatmenyenangkan. Segar. Dan keasyikan itu berubah menjadi perasaan yang indah,mengenang lima tahun yang lalu aku harus bercapai-capai menimba berpuluh-puluhember untuk seluruh kegiatan rumah tangga, juga usaha batu bata ibu. Sedang kini,aku hanya perlu menimba saat listrik mati.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, aku ingin engkau tahu, menyenangkan sekali memasak dengan kayu bakar.Kuhembus bara-bara dengan sepenuh tenaga, agar makanan di tungku menjadi masak.Meskipun itu berarti abu berhamburan mengotori baju, keringat berleleran karenaudara panas di sekitar tungku, dan panci-panci menjadi menghitam serta butuh usahaekstra untuk mencucinya. Kata orang, memasak dengan api tungku lebih enak. Tapi
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...