desa. Tapi sungguh, keindahan itu menjadi terasa lebih indah karena lima tahunterakhir aku nyaris tak lagi menyentuh sepeda
onthel
. Ya, lima tahun terakhir akulebih banyak naik motor atau menggunakan kendaraan umum. Bahkan ke warungtetangga berjarak dua ratus meter pun selama ini aku tak mau lagi naik sepeda.Indah karena sambil menggenjot pedal aku mengenang masa-masa sebelum limatahun yang lalu. Saat tiap hari aku menempuh puluhan kilometer di atas sepeda jengkiatau sepeda mini, bersaing dengan bis kota di atas sadel sepeda. Bermandi peluh saatmatahari siang bolong panas membakar, atau bernafas embun saat kabut pagi masihmelingkupi. Kini, lima tahun kemudian, aku naik sepeda hanya sebagai selingan,sekedar sarana untuk berolahraga dan berekreasi.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, ingin kuceritakan padamu nikmatnya mengurus ternak. Mencari dan memberimakan ayam, bebek dan kambing. Juga membersihkan kandang mereka dari ranting-ranting sisa makanan, juga dari kotorannya. Bau khas ayam, serudukan kambing dankotorannya terasa nyaman. Beberapa jam berkutat dengan mereka memangmelelahkan, tapi sungguh terasa nikmat dan menyenangkan. Bagaimana tidak nikmatdan menyenangkan, sedang aku mengerjakan semua itu hanya sekali dua, saatmenjalani liburan. Dulu, lima tahun yang lalu, aku harus melakukan pekerjaan itu tiaphari. Dan kini, rasanya indah sekali, mengenang betapa beratnya pekerjaan itu dulu.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, ingin kubagi padamu tentang asyiknya menimba air dari sumur dengan tali.Meskipun lengan sempat kram dan pegal selama beberapa hari, derit roda katrolnyamenimbulkan sensasi yang menggembirakan. Tempelasan air yang menerpa teramatmenyenangkan. Segar. Dan keasyikan itu berubah menjadi perasaan yang indah,mengenang lima tahun yang lalu aku harus bercapai-capai menimba berpuluh-puluhember untuk seluruh kegiatan rumah tangga, juga usaha batu bata ibu. Sedang kini,aku hanya perlu menimba saat listrik mati.
Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?
Kawan, aku ingin engkau tahu, menyenangkan sekali memasak dengan kayu bakar.Kuhembus bara-bara dengan sepenuh tenaga, agar makanan di tungku menjadi masak.Meskipun itu berarti abu berhamburan mengotori baju, keringat berleleran karenaudara panas di sekitar tungku, dan panci-panci menjadi menghitam serta butuh usahaekstra untuk mencucinya. Kata orang, memasak dengan api tungku lebih enak. Tapi
Leave a Comment