• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
DENGKI
Oleh : Heidy Kaeni
"Opi."Aku tersentak. Lamunanku buyar. Pintu kamarku diam-diam terbuka, dan terlihat wajah Aldo,sepupuku. Selain menumpang di rumahnya, aku juga menjadi teman sejurusan dan seangkatan dikampus yang sama."Eh, sori.Tapi aku udah capek ngetuk pintu dari tadi. Boleh aku masuk?" Setelah akumengangguk singkat, Aldo pun masuk dan duduk di kursi belajar. "Kamu sakit?""Ng, enggak. Apa keliatannya begitu?""Jujur aja Pi, kamu lagi menghindari seseorang, ya?" tanyanya blak-blakan.Untuk kedua kalinya aku tersentak dan tak bisa berkata-kata. Diam-diam aku mencobamengatur nafas. Agar tak terlihat kacau. Ah, Aldi itu kan cowok, beda sama aku, pasti pikirannya.nggak akan bisa"Olivia, kan?"Kali ini aku hampir tersedak. Buru-buru aku bangkit dari tempat tidur. "Ddd..darimana kamutau?" tanyaku yang masih belum pulih dari rasa kaget. Kukira ia akan menebak bahwa akusedang menghindari seorang cowok."Wah, itu sih gampang. Udah hampir sebulan kamu nggak penah muncul di himpunan. Trus,kamu juga seunit kegiatan dengannya. Di antara anak sejurusan, cuma kamu berdua yang ikutunit itu. Keliatannya, kamu juga udah nggak aktif di unit itu lagi.""Tapi, masa hanya karna itu?""Ya, nggak dong. Apa gunanya aku sejurusan sama kamu, kalo nggak bisa ngeliat faktor-faktor pendukung lainnya? Ayo, mau cerita, nggak? Tapi aku nggak maksa, kok. Cuma, siapa tauaku bisa bantu. Soalnya kata Mama, kamu keliatan agak kacau akhir-akhir ini.""Bude bilang gitu?" Kekagetanku bertambah lagi, padahal aku juga masih tak habis pikir akan tebakan Aldo yang jitu itu. Wah, ya, aku lupa. Dia kan jenius. Pantas saja. Setelah beberapalama berpikir, aku pun memutuskan untuk bercerita. "Ng, Al, kamu pernah ngerasa jaadi orang jahat, nggak?"Aldo tampak mengerutkan dahinya. "Bad guy, maksudmu?" Ketika aku mengangguk, Aldo berkata lagi,"Aku masih nggak ngerti.""Aku, aku ngerasa udah jadi orang jahat. Selama ini, hampir sepanjang tahun aku ngerasa benci sama Pia. Puncaknya, ya akhir-akhir ini.""Masa' sih? Kalian kan hampir selalu bersama-sama, kukira kalian bersahabat!""Justru itu. Itu yang bikin aku ngerasa jahat. Rasanya, dia jadi sosok yang innocent, nggak tau kalo aku benci setengah mati sama dia. Mungkin dia malah nganggep aku ini sahabatnya.Huh, kalo bisa musuhan terang-terangan sih, aku lebih lega,""lho, kalo gitu, kenapa kamu benci dia? Apa yang bikin kamu ngerasa bertentangan samadia?"Aku tertawa mendengus. "Bertentangan? Wah, senang rasanya kalo itu terjadi. Mau tau? Aku benci sama dia, justru karna kami terlalu mirip!""Maksudmu soal sejurusan, seorganisasi, kamu nggak suka yang begitu itu?""Semula aku cukup senang akan hal-hal yang mirip itu, yang kupikir akan membuat kami benar-benar bersahabat. Tapi lama kelamaan, yang kurasakan bukannya sahabat di sisiku, tapimalah saingan berat yang seolah selalu membayangiku kemana saja!" Belum pernah kuceritakanrahasia ini pada siapapun sebelumnya. Karena aku percaya pada keinginan Aldo untuk membantu, aku pun bertekad menceritakan segalanya. "Minat kami sama, itulah yang membuatkami terjun dalam organisasi yang sama, selain sejurusan dalam studi. Tapi, ia selalu lebih baik dimana pun. Ia sukses dalam berorganisasi, tapi juga berprestasi dalam akademik. Bakat dan
 
kegemaran kami pun sama. Ia tertarik waktu aku cerita, aku dapat honor yang memuaskan darisatu majalah karena kiriman cerpenku. Begitu ia mulai ikut mengirimkan ceritanya, cerpenku tak diterima lagi. Lalu, dalam hal cowok" Aku terdiam ragu.Tak disangka-sangka, Aldo menyahut, "Aku udah tau soal itu"Walaupun mengherankan, aku tak menanyai Aldo lebih lanjut. Ia di sini untuk mendengar ceritaku, bukan sebaliknya. Tapi, mungkin karena aku juga sudah kebal, entah untuk yangkeberapa kalinya ia membuatku terkejut siang ini. "Yah, kami terlalu mirip. Minat dan bakat kaminyaris persis sama, tapi ia selalu melebihiku dalam berbagai hal itu!" Aku terdiam. Kurasamataku sudah berkaca-kaca, jadi tak berani menatap Aldo lagi. Kuarahkan penglihatanku kelangit-langit kamar, dengan harapan agar air yang menggenangi mataku tidak tumpah. "Sekarangkamu ngerti, kan, Al. Aku ngerasa udah jadi orang jahat, karna aku punya perasaan dengki.""Menurutku," kata Aldo setelah beberapa saat kami saling terdiam. "Justru kamu terlalu baik,""Hah?""Ya, kalo kamu sekarang udah menyadari perasaan itu dan kamu tau kalo itu sebenarnyanggak benar, berarti, selama ini kamu udah jadi orang yang cukup baik .." ujarnya perlahan."walaupun kamu belum bisa ngelawan perasaan itu,""Terimakasih atas hiburannya," Aku tertawa mendengus. " Tapi aku tak butuh itu,""Oh, maaf! Tapi, aku sama sekali tak berniat menghibur. Aku berkata jujur! Kan tadi sudahkubilang, aku mau coba membantu. Dengar, Pi, kamu itu manusia normal. Walaupun banyak nasihat seperti 'jangan merasa dengki', atau 'Ikhlaslah selalu' ,"Aldo terdiam sejenak. "Ng,sepertinya lebih mudah mengikuti nasihat seperti 'jangan mencuri' atau 'jangan membunuh', kan?Kamu bukannya berniat untuk merasa dengki, tapi hanya merasa sulit mengendalikan perasaanmuitu, kan?'Benar juga, itulah yang pertama kali kukatakan dalam hati setelah mendengar kata-kata Aldoitu."Aku juga pernah seperti kamu, Pi. Tapi, ingatlah Tuhan itu Maha Adil. Yakinlah, tak mungkin Pia benar-benar melebihimu dalam segala hal. Berserah diri sajalah,""Itu sih sama saja dengan nasihat-nasihat lainnya. Aku sudah mencobanya, tapi aku tak bisa berpura-pura merasa baik-baik saja melihat kecermelangannya itu,""Kalau begitu, kali ini kamu harus mencoba untuk berpura-pura. Kalau kalian memang begitu mirip, ada satu dugaan, kenapa kamu tidak semaju Pia," Aldo menatapku lekat-lekat."Kamu sudah lebih dulu rendah diri! Cobalah untuk berpura-pura bahwa saat ini kamu jauh lebihunggul darinya, dan bayangkan saja ia yang sedang merasakan dengki sepertimu. Lihat saja, inisemacam praktikum. Kita lihat hasilnya sama-sama,""Thanks, Al," ujarku tepat saat Aldo keluar dari kamarku.Aku agak heran ketika Aldo langsung menutup pintu. Tapi, dua detik kemudian, iamenjengukkan kepalanya lagi ke dalam. "Eh, wajah kalian juga cukup mirip, ya? Ophelia merasakesal pada Oliviawah! Nama kalian pun mirip?!" Cara berpamitan yang aneh itu kubalas denganlemparan bantal."Aku perlu bicara sama kamu," kataku pada Aldo di kampus seusai kuliah pada suatu hari,kira-kira dua minggu kemudian. "Tentang Pia,""Kenapa? Rencana kita minggu lalu itu berhasil, kan?""Bu..bukan. Anukemarin dia mengundurkan diri dari kepengurusan unitku. Yang lebih parah,katanya dia mau keluar! Aku jadi nggak ngerti," ceritaku dengan perasaan tak keruan.Aldo tersenyum mengangguk-angguk."Jadi,berhasil, kan?"Tap..tapi, kalau memang aku penyebabnya, aku nggak mau! Bukan itu keinginanku. Akunggak pernah ingin membuatnya merasa sepertiku dulu,""Benar, kan, kataku dulu? Kamu masih termasuk orang baik," kata Aldo yang tetap terlihatsantai. "Perasaanmu kan udah agak sembuh sekarang, cobalah bicara sama Pia. Udah berapa lama
 
kalian seperti saling tak kenal? Tunggu disini, ya." Tiba-tiba Aldo melangkah pergi,meninggalkanku sendiri di luar ruang kuliah terakhir kami tadi."Opi,"Aku tersentak. Suara Pia. Belum lagi kudongkakkan kepala untuk memastikannya, Pia sudahduduk disampingku. "Eh,Pia, apa kabar?" ujarku tersendat-sendat. Rasanya seperti tercekatditenggorokan."Opi..,please, jangan gitu! Kok kita jadi kayak orang asing gini sih? Aku nggak suka," Piamenghela napasnya. Aku merasa pasti, ia sedang bersiap untuk mengatakan sesuatu lainnya. "Oh,ya. Aku udah promosi'in kamu untuk ngisi posisiku di kepengurusan, lho."Aku menatap Pia lekat-lekat. Benar-benar tak kumengerti. "Ya ampun, Pia! Sebenarnya adaapa sih? Kenapa kamu tiba-tiba ..?"Aku benar-benar bingung dengan apa yang kukatakan."A..anu, kalau ini memang ada kaitannya denganku.,""Percaya, dehaku udah tau arah pertanyaanmu. Nyantai aja, ini bukan gara-gara kamu, kok !ujar Pia lagi. Tapi kenapa ia bisa bicara begitu lancar?"Aku mau minta maaf, sebenarnya selamaini aku udah jahat banget sama kamu"Jantungku jadi berdegup kencang. Tiba-tiba saja terlintas wajah Aldo dalam pikiranku.Jangan-jangan ia malah menceritakan segala-galanya pada Pia."Aku..selama ini aku iri sekali sama kamu,""Iri ?" ulangku terkejut."Kakamu punya banyak kelebihan""Memangnya kamu nggak.." Aku mencoba memotong pembicaraannya, tapi kata-kataku punterpotong juga."Ditambah dengan segala minatmu. Mungkin aku lebih iri pada hal yang satu itu. Kamu jelas-jelas tau apa keinginanmu sendiri. Kamu selalu tau pasti, selalu yakin tentang apa yang bakal kamu lakukan. Kamu terlalu optimis. Aku aku benci melihat itu, karna aku nggak pernah bisa!"Aku hanya bisa melongo. Kata-kataku seperti tercekat ditenggorokan."Maaf, Opi. Aku nggak bermaksud menghancurkanmu. Aku cuma ingin tau, cuma inginmelihat sebentar, gimana jadinya kamu tanpa keyakinan, tanpa optimisme. Aku benar-benanggak pernah bermaksud menghilangkannya, untuk seterusnya. Tapi sebenarnya, ini semua jugatanpa rencana. Aku hanya ingin seperti kamu. Makanya berusaha untuk menirumu, sampai.Hu-uh, dari kata-katanya saja bisa kutebak dengan yakin, Aldo pasti menceritakansegalanya. Kenapa waktu itu aku tak menerima sumpahnya?!"Yah, setidaknya. berkat kamu juga, akhirnya aku tau kelebihanku sendiri.." lanjut Pia lagi."Apa itu?" tanyaku penasaran ketika Pia mulai terdiam."Bergaul..berhubungan dengan banyak orangmenarik perhatian publikitu mudah sekaliuntukku. Ternyata itu kelebihankuyah, setidaknya kamu tau kan, itu yang membuat kita berbeda.Ternyata aku sudah salah jalan. Unit kita itu sebenarnya.. tempatku bukan disana. Apalagi jadi pengurus? Kamu ngerti kan? Jadi, bukan gara-gara kamu, aku keluar. Uh! Kamu ge-er banget,sih!" ujar Pia menatapku. "Aku bener-bener senang melihatmu dalam dua minggu terakhir ini.Aku bersyukur, ternyata kamu orang yang kuat. Kalau saja niat usilku benar- benamenghancurkanmu, aku pasti nggak akan memaafkan diriku sendiriku"Tiba-tiba Aldo menghampiriku dan Pia. Kami benar-benar kaget karena ia muncul begitumendadak."Udah selesai, belum?" tanyanya sembari tertawa-tawa kecil."Mau apa kamu ke sini? Dasar.."Belum lagi kata-kataku sempat terselesaikan, Pia sudahmenarik lenganku dan memaksa untuk berjalan menjauhi Aldo."Jangan salah paham dan jangan dendam sama Aldo, ya. Asal kamu tau aja, akulah yang pertama cerita tentang perasaanku, tentang perasaan kita. Akulah yang minta supaya ia
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...