kegemaran kami pun sama. Ia tertarik waktu aku cerita, aku dapat honor yang memuaskan darisatu majalah karena kiriman cerpenku. Begitu ia mulai ikut mengirimkan ceritanya, cerpenku tak diterima lagi. Lalu, dalam hal cowok" Aku terdiam ragu.Tak disangka-sangka, Aldo menyahut, "Aku udah tau soal itu"Walaupun mengherankan, aku tak menanyai Aldo lebih lanjut. Ia di sini untuk mendengar ceritaku, bukan sebaliknya. Tapi, mungkin karena aku juga sudah kebal, entah untuk yangkeberapa kalinya ia membuatku terkejut siang ini. "Yah, kami terlalu mirip. Minat dan bakat kaminyaris persis sama, tapi ia selalu melebihiku dalam berbagai hal itu!" Aku terdiam. Kurasamataku sudah berkaca-kaca, jadi tak berani menatap Aldo lagi. Kuarahkan penglihatanku kelangit-langit kamar, dengan harapan agar air yang menggenangi mataku tidak tumpah. "Sekarangkamu ngerti, kan, Al. Aku ngerasa udah jadi orang jahat, karna aku punya perasaan dengki.""Menurutku," kata Aldo setelah beberapa saat kami saling terdiam. "Justru kamu terlalu baik,""Hah?""Ya, kalo kamu sekarang udah menyadari perasaan itu dan kamu tau kalo itu sebenarnyanggak benar, berarti, selama ini kamu udah jadi orang yang cukup baik .." ujarnya perlahan."walaupun kamu belum bisa ngelawan perasaan itu,""Terimakasih atas hiburannya," Aku tertawa mendengus. " Tapi aku tak butuh itu,""Oh, maaf! Tapi, aku sama sekali tak berniat menghibur. Aku berkata jujur! Kan tadi sudahkubilang, aku mau coba membantu. Dengar, Pi, kamu itu manusia normal. Walaupun banyak nasihat seperti 'jangan merasa dengki', atau 'Ikhlaslah selalu' ,"Aldo terdiam sejenak. "Ng,sepertinya lebih mudah mengikuti nasihat seperti 'jangan mencuri' atau 'jangan membunuh', kan?Kamu bukannya berniat untuk merasa dengki, tapi hanya merasa sulit mengendalikan perasaanmuitu, kan?'Benar juga, itulah yang pertama kali kukatakan dalam hati setelah mendengar kata-kata Aldoitu."Aku juga pernah seperti kamu, Pi. Tapi, ingatlah Tuhan itu Maha Adil. Yakinlah, tak mungkin Pia benar-benar melebihimu dalam segala hal. Berserah diri sajalah,""Itu sih sama saja dengan nasihat-nasihat lainnya. Aku sudah mencobanya, tapi aku tak bisa berpura-pura merasa baik-baik saja melihat kecermelangannya itu,""Kalau begitu, kali ini kamu harus mencoba untuk berpura-pura. Kalau kalian memang begitu mirip, ada satu dugaan, kenapa kamu tidak semaju Pia," Aldo menatapku lekat-lekat."Kamu sudah lebih dulu rendah diri! Cobalah untuk berpura-pura bahwa saat ini kamu jauh lebihunggul darinya, dan bayangkan saja ia yang sedang merasakan dengki sepertimu. Lihat saja, inisemacam praktikum. Kita lihat hasilnya sama-sama,""Thanks, Al," ujarku tepat saat Aldo keluar dari kamarku.Aku agak heran ketika Aldo langsung menutup pintu. Tapi, dua detik kemudian, iamenjengukkan kepalanya lagi ke dalam. "Eh, wajah kalian juga cukup mirip, ya? Ophelia merasakesal pada Oliviawah! Nama kalian pun mirip?!" Cara berpamitan yang aneh itu kubalas denganlemparan bantal."Aku perlu bicara sama kamu," kataku pada Aldo di kampus seusai kuliah pada suatu hari,kira-kira dua minggu kemudian. "Tentang Pia,""Kenapa? Rencana kita minggu lalu itu berhasil, kan?""Bu..bukan. Anukemarin dia mengundurkan diri dari kepengurusan unitku. Yang lebih parah,katanya dia mau keluar! Aku jadi nggak ngerti," ceritaku dengan perasaan tak keruan.Aldo tersenyum mengangguk-angguk."Jadi,berhasil, kan?"Tap..tapi, kalau memang aku penyebabnya, aku nggak mau! Bukan itu keinginanku. Akunggak pernah ingin membuatnya merasa sepertiku dulu,""Benar, kan, kataku dulu? Kamu masih termasuk orang baik," kata Aldo yang tetap terlihatsantai. "Perasaanmu kan udah agak sembuh sekarang, cobalah bicara sama Pia. Udah berapa lama
Leave a Comment