Pilih: Ta’aruf atau Pacaran ….
Publikasi 16/08/2002 16:09 WIB
eramuslim
- Dikalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tetapi cenderung menghindari karenamenganggap gaya itu tidak lagi mutlak dilakukan pada masa pranikah. Selain dinilai tidak sesuai dengan normaagama -ini terbukti dari pengalaman sepanjang sejarah keberadaan manusia bahwa pacaran cenderung kelewat batas bahkan tidak sedikit yang amoral- juga berkembangnya pemikiran bahwa satu kesia-siaan saja berjalan bersamaorang yang belum tentu 100 % menjadi pasangannya. Ya, bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yangsaat ini berjalan bersamanya memiliki komitmen untuk tetap ‘setia’ sampai ke jenjang pernikahan,
la wong
sudahsekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhat
an
dan
take n give
yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan
gentle
, menikah! Atau setidaknya mengajukan surat lamaran ke orangtua si gadis.Berbagai dalih dan argumentasi pun meluncur untuk mengkamuflasekan ketidak
gentle
-annya itu, yang kemudiansemua orang pun tahu itu cuma
lips service
dari orang yang tidak benar-benar dewasa alias
childish
.Kedewasaan, ukurannya tidak terwakili hanya oleh umurnya yang diatas seperempat abad misalnya, tetapi juga padasikap diri,
attitude
yang tertampilkan dalam kesehariannya. Dalam dunia pekerjaan, sikap dewasa dapat dilihat dari profesionalisme kerja, termasuk didalamnya kedisplinan. Dalam hubungan interelasi, bijaksana, proporsional dalam bersikap dan berbicara bisa jadi satu parameter kedewasaan. Nah yang menjadi masalahnya kemudian, tidak sedikitorang yang seharusnya bersikap dewasa justru memamerkan sifat kekanakkan saat berkesempatan bersama pasangannya, sikap yang dipraktekkan secara tidak proporsional dari ungkapan kasih sayang dan pengorbanan.Orang terlihat dewasa mungkin hanya dari fisiknya saja, namun sisi lainnya seringkali luput dari perhatian. Padahalkedewasaan jelas meliputi beberapa aspek yang sekiranya patut diperhatikan dalam memilih pasangan yang kelak dinominasikan untuk menjadi pasangan hidup.
Dewasa secara fisik
, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsisecara optimal yang ditandai dengan produksi sperma yang baik pada pria dan produksi sel telur yang memadai padawanita. Selain perkembangan sel-sel otot tubuh menandakan –sekaligus membedakan- pria dan wanita.
Dewasasecara psikologis
, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadidalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi. Ini penting untuk diperhatikan dalam rangkamencapai tujuan-tujuan bersama dalam pernikahan.
Dewasa secara sosial-ekonomi
ditampakkan dalamkemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak sebagai suami-istri. Tentu hal ini terkaitdengan adanya pekerjaan yang jelas serta penghasilan yang tetap, serta kesadaran akan meningkatnya biayakehidupan dari waktu ke waktu seiring dengan bertambahnya anggota keluarga kelak.Berdasarkan aspek kedewasaan diatas, maka wajarlah jika disatu sisi justru ada orang yang enggan berpacaran.Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa pacaran selain tidak diajarkan dalam agama Islam karena melanggar normayang digariskan, juga dianggap ‘buang-buang waktu’, ‘wujud ketidak
gentle
-an’, ‘aktifitas sia-sia’ dan lain-lain. Namun sekedar diketahui, bahwa diluar itu ada sebagian yang memang benar-benar takut untuk mencintai, dicintaidan bahkan takut jatuh cinta. Dalam psikologi, orang-orang ini mungkin dianggap terkena sindrom
fear of intimacy
,satu kondisi yang disebabkan oleh ketakutan yang teramat sangat untuk menerima resiko kenyataan di kemudianhari. Seperti ditulis
astaga.com
, menurut psikolog
Robert W Firestone
dan
Joyce Catlett
,
fear of intimacy
iniadalah salah satu perwujudan dari pertahanan psikologis, yang lebih merupakan cermin dari pikiran dan sikapnegatif atas hal-hal yang dilihat dan dipelajarinya waktu kecil.Maka kemudian, Islam mengenal ‘pacaran’ dalam kemasan yang berbeda. Ustadz Ihsan Arlansyah Tanjung,konsultan keluarga sakinah di situs eramuslim sering mengatakan bahwa pacaran akronim dari ‘pakai cara nikah’.Ya, Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakralyakni pernikahan. Sementara proses pranikah yang dilakukan untuk saling mengenal antara calon pria dan wanita biasa disebut proses
ta’aruf
(perkenalan). Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, salingmengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang perlu dijaga dalam prosesini antar lain
nondefensif
, tidak bereaksi berlebihan pada
feedback
negatif, serta terbuka untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru,
Jujur
, tidak curang, berbohong dan punya
sense of integrity
yang kuat,
Menghormati
batas-batas, prioritas dan tujuan calon pasangan yang menyangkut diri mereka maupun tidak,Pengertian, empati, dan tidak mengubah pasangannya sedemikian rupa serta tidak mengontrol, manipulatif, apalagimengancam pasangan dalam bentuk apa pun.Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing pihak masih harus sama-sama membuka options/kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan tanpaterlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah sampai menemui orangtua
Leave a Comment