Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
33Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Evaluasi Awal Budidaya Tomat Dataran Rendah-medium

Evaluasi Awal Budidaya Tomat Dataran Rendah-medium

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 9,822|Likes:
Published by vicianti1482

More info:

categoriesTypes, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/21/2012

pdf

text

original

 
 
1
Buletin Penelitian Hortikultura, Tahun 1992, Volume XXI, Nomor (3)
 
EVALUASI AWAL BUDIDAYA TOMAT DATARAN RENDAH/MEDIUM
Witono Adiyoga, Suwandi, Budi Jaya dan Rustaman E.S.
*)
 
ABSTRACT
 Adiyoga, W., Suwandi, Budi Jaya, Rustaman, E.S. 1992. The Preliminary Evaluation of Mid-Low Land Tomato CulturalPractices at the Farmer’s Level. One of the alternatives for increasing farmer’s income in rice based cropping pattern is toinclude a crop which has high economic value in the pattern itself. Tomato as a crop which can thrive under a wide range of environmental condition, seems compatible wit the farmer’s need. This paper is concerned with the evaluation of mid-lowland tomato cultural practices through collecting the information about the existing technology, input-output and farmer,circumstances. A survey was conducted in Pandeglang, Serang, Cianjur and Cicalengka, West Java. The results showedthat the performance of the other farms in Pandeglang and Serang. It was indicator by higher yield per hectare and lower cost per unit output. The fact that farmers in all areas were still preferred to use local varieties should be taken intoconsideration in reviewing the compatibility of recommended varieties with the market demand. Much more technicalexperiments are needed to increase the resource use efficiency. Creating low cost technology will make a greater contribution of vegetables, especially tomato, to the stability of farmer’s income in the mid-low land areas.
Pilihan petani terhadap berbagai alternatif teknologi tidak saja dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiologis tetapi tergantung pula kepada dorongan (insentives) dan kesempatan (opportunities) untukmemperbaiki pendapatan serta meningkatkan kondisi sosialnya. Sementara itu, faktor lain yang jugaberperan cukup penting adalah faktor resiko yang terkandung dalam kesempatan-kesempatan ekonomidi atas. Dengan demikian, bantuan teknis yang ditujukan untuk mengadakan perubahan konstruktif harus memperhatikan insentif, kesempatan dan resiko yang dihadapi secara individu.Non-adopsi, adopsi parsial dan adopsi yang lambat dari suatu rekomendasi penelitianmerupakan indikasi ketidak-sempurnaan konsep serta prosedur penelitian. Fenomena ini sering disalah-tafsirkan sebagai “akibat dari perilaku petani yang tidak rasional”. Berdasarkan penelitian-penelitianterdahulu justru dibuktikan bahwa sesungguhnya petani telah bertindak rasional dalam mengelolausahataninya sesuai dengan prioritas dan lingkungan produksi yang dihadapi. Pengalamanmenunjukkan bahwa seringkali paket teknologi yang dirancang negara-negara berkembang kurangmemperoleh tanggapan dari petani. Norman dan Hays (1971), menunjukkan bahwa hal ini disebabkanoleh digunakannya “pendekatan atas ke bawah” (top down approach). Pendekatan ini didasari olehgagasan bahwa alih teknologi dari negara maju akan memberikan keuntungan bagi negara berkembangtanpa memperhitungkan sasaran, metoda dan infrastruktur yang tersedia bagi petani. Di lain pihaksebenarnya “pendekatan bawah ke atas” (bottom-up approach memperhitungkan kendala-kendala yangdihadapi petani dalam proses perbaikan teknologi. Dengan demikian, pendekatan ini akanmemperbesar peluang diterimanya teknologi baru yang direkomendasikan kepada petani. Diusulkanpula oleh Norman dan hays (1979), bahwa agar suatu teknologi baru dapat diterima maka harusmemenuhi persyaratan : (1) layak secara teknis dan ekonomis; (2) dapat diterima ditinjau dari aspeksosial; (3) mampu diakomodasikan berdasarkan infrastruktur yang ada.Evaluasi mengenai teknologi budidaya di tingkat petani dapat memacu program penelitianmelalui penekanan terhadap topik spesifik tertentu sebagai titik fokus penelitian. Informasi, tentangkelayakan atau kendala pengembangan usahatani di tingkat petani, akan menjembatani senjangketerpaduan antara penelitian dan petani (research/farmer linkage). Langkah ini pada akhirnyadiharapkan dapat : (1) meningkatkan efisiensi penelitian sehingga hasil-hasil penelitian yang ada dapatdigunakan secara lebih mudah, lebih cepat serta mencakup kelompok sasaran (target group) yang lebihluas; (2) memberikan kemudahan untuk merancang topik penelitian yang secara implisit diusulkan sertaditunjang oleh petani.
*)
Masing-masing Staf Peneliti Balithort Lembang
 
 
2
METODE PENELITIAN
Penelitian ini memanfaatkan metode penelitian evaluasi formatif yang diarahkan untukmengamati dan meneliti teknologi budidaya tomat di tingkat petani serta mencari bahan masukan bagiperbaikan program penelitian. Sejalan dengan sasaran penelitian dan metode yang digunakan, makapenelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 1986. Lokasi penelitian adalah beberapasentra produksi tomat dataran rendah/medium di Jawa Barat (Pandeglang, Serang, Cianjur danCicalengka) yang dipilih secara pursposif berdasarkan potensi produksinya. Sementara itu, petanicontoh dipilih melalui pengambilan contoh acak sederhana.Cakupan informasi yang dihimpun melalui penelitian ini meliputi:(1)
 
Inventarisasi kultur teknis yang dilakukan petani termasuk data input outputnya.(2)
 
Inventarisasi lingkungan produksi yang dihadapi oleh petani yaitu :-
 
lingkungan produksi alamiah-
 
lingkungan produksi eksternal ekonomis-
 
sasaran petani
HASIL DAN PEMBAHASANTeknologi budidaya tomat di tingkat petaniVarietas dan seleksi benih
Masalah utama dalam pertanaman tomat di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan varietasunggul dalam artikata berpotensi hasil tinggi, berkualitas buah baik dan tahan terhadap serangan hamadan penyakit penting seperti penyakit layu bakteri (
Pseudomonas solanacearum
), penyakit busuk daun(
Phytopthora infestans
) dan hama ulat buah tomat (
Heliothis sp.
). Pencarian varietas unggul tomat terusdilakukan oleh Badan Litbang Pertanian dengan cara-cara pemuliaan antara lain dengan melakukanseleksi, introduksi dan persilangan-persilangan.Dari hasil instruksi, Badan Litbang Pertanian telah mendapatkan 3 varietas unggul selamaPelita III yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah yaitu AV-33(Intan), VC-11-1 (Ratna) dan AV-15 (Berlian). Ketiga varietas tersebut telah dilepas ke petani melaluiSK Menteri Pertanian dan dinyatakan sebagai varietas unggul baru yang mampu berproduksi tinggiserta tahan terhadap serangan penyakit layu. Namun sayangnya ketiga varietas ini peka terhadappenyakit busuk daun.Berdasarkan pengamatan di lapangan, pemanfaatan varietas tomat untuk varietas-varietasyang telah dilepas di atas ternyata masih rendah. Desa Citalahap dan Sukasari di KabupatenPandeglang dengan ktinggian berkisar antara 100 – 300 m di atas permukaan laut merupakan salahsatu sentras produksi tomat yang diobservasi. Varietas tomat yang digunakan oleh petani adalah tomatlokal dengan nama lokal Cipanas. Pada kisaran ketinggian tempat yang serupa, petani di desaSukamanah Kabupaten Serang juga menanam varietas tomat yang sama tetapi lebih dikenal sebagaitomat sayur. Morfologi tanaman tomat yang ditanam di kedua kabupaten ini adalah sama.Di Desa Cikarayak dan Sukamanah Kabupaten Cianjur dengan kisaran ketinggian antara 400-600 m di atas permukaan laut, petani menggunakan varietas tomat yang disebut sebagai tomatIR/tomat Lamdbouw/tomat PS. Pada kenyataannya, pertanaman tomat di lapangan menunjukkanheterogenitas yang tinggi. Berdasarkan morfologi tanaman, diduga adanya sifat-sifat varietas Intan,Ratna dan Berlian yang telah dicampur atau tercampur dengan varietas lain. Sementara itu, di desaWarungkondang dapat dijumpai petani yang menanam varietas Gondol. Pengamatan pemanfaatanvarietas di sentra produksi lain yaitu Cicalengka/Rancaekek Kabupaten Bandung, menunjukkan bahwapetani banyak menanam varietas tomat dengan nama setempat tomat Bogor/tomat Hijau.Pada umumnya petani menggunakan benih tomat yang diproduksi sendiri. Proses seleksi danpembuatan benih tomat oleh petani dapat dijelaskan sebagai berikut: pemilihan buah tomat yang baik
 
 
3
dan sudah matang dari tanaman yang sehat – dibijikan – direndam selama 1-3 hari – dicuci –dikeringkan – disimpan untuk pertanaman berikutnya. Tampaknya petani kurang memperhatikankeseragaman tanaman atau buah sehingga heterogenitas ini muncul di lapangan. Ketidakseragaman inidapat disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petani atau ada pula petani yang dengan sengajamencampur varietas-varietas yang ditanam berdasarkan pertimbangan kemudahan pasar.
Kultur teknisPengolahan tanah
Berdasarkan hasil kunjungan ke petani tomat dataran rendah/medium, yaitu di KabupatenPandeglang, Serang, Cianjur dan Cicalengka ternyata lahan yang biasa digunakan untuk penanamantomat adalah lahan padi sawah, baik lahan yang berpengairan teknis maupun non teknis. Waktupenanaman tomat di keempat kabupaten tersebut bervariasi, namun petani umumnya menanam tomatpada musim kurang hujan atau merencanakan penanaman tomat yang hasilnya diperkirakan panenpada bulan Ramadhan menjelang hari Raya. Pada umumnya frekuensi penanaman tomat dilaksanakanhanya satu kali dalam satu tahun untuk suatu areal lahan tertentu setelah tanaman padi sawah.Sedangkan pada rotasi tanaman yang biasa dilaksanakan adalah Padi – Tomat/Palawija – Padi.Praktek-praktek pengolahan tanah untuk pertanaman tomat di keempat kabupaten tersebut,pada umumnya relatif sama, artinya pengerjaan tanah selalu dilakukan dan “
zero tillage
” tidak dijumpai.Terdapat dua macam cara pengolahan tanah yaitu: pengolahan tanah yang dicangkul secarakonvensional penuh dan pengerjaan tanah awal yang dilaksanakan dengan menggunakan tenagahewan atau mesin traktor tangan. Di daerah Pandeglang dan Serang, cara-cara pengolahan tanah yangdilakukan petani tidak berbeda, yaitu kombinasi dari pembajakan dengan menggunakan tenaga hewandan pencangkulan biasa. Sementara itu, di daerah Cianjur, beberapa petani melakukan pengolahantanah awal dengan menggunakan mesin traktor tangan yang dilanjutkan dengan pengerjaan tanahsecara manual. Walaupun demikian cara pengerjaan tanah secara “
full manual 
” nampaknya masih jugadominan di keempat daerah tersebut, terutama bagi petani kecil yang mengelola lahan untukpertanaman tomat dengan luas kurang dari 100 tumbak (1/7 ha). Selanjutnya suatu hal yang menarikdalam kegiatan pengolahan tanah terjadi/dijumpai di daerah Cicalengka, dimana pengerjaan tanah awalsampai terbentuknya bedengan untuk pertanaman tomat sebagian besar dikerjakan denganmenggunakan tenaga hewan.Fase akhir dari pengolahan tanah diantaranya adalah pembuatan guludan yang berbentukbedengan dengan ukuran tertentu. Terdapat variasi dalam ukuran pembuatan bedengan, akan tetapiukuran bedengan antara 80-100 cm lebih sering dijumpai pada penanaman tomat di dataran rendah.Bentuk dan ukuran bedengan tersebut umumnya digunakan pada sistem penanaman tomat denganbarisan ganda. Sedangkan ukuran bedengan yang lebih lebar hanya ditemukan pada salah seorangpetani di daerah Cicalengka, yaitu selebar 120 cm yang digunakan untuk sistem penanaman tomat tigabaris dalam satu bedengan.Dipandang dari aspek pengolahan tanah, tampaknya cara yang dilakukan oleh petani diCicalengka yaitu dengan menggunakan tenaga hewan sampai siap membentuk bedengan-bedengan,merupakan cara pengolahan yang paling efisien.
Cara Bertanam Tomat
Pada umumnya petani membuat persemaian tomat secara sederhana. Tempat persemaiandisiapkan terlebih dahulu atau bersamaan dengan saat penyiapan lahan. Tanah di persemaiandicampur denagn pupuk atau dicampur dengan abu sisa pembakaran. Selanjutnya benih tomat disemaiatau ditabur agak jarang. Di semua sentra produksi yang diobservasi, praktek penyapihan tanamantomat/bibit tomat atau pembumbunan pada saat tanaman masih kecil tidak pernah dilaksanakan, sepertihalnya kebiasaan para petani di dataran tinggi. Lamanya benih tomat di persemaian umumnya berkisar antara 3-4 minggu, bahkan dapat pula mencapai 40 hari seperti yang dilakukan oleh petani di Serang.Berdasarkan keterangan yang diperoleh, lamanya tanaman di persemaian tergantung dari tingkat

Activity (33)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dicky Hardani liked this
Dhianie Mamet liked this
Noberth Mau liked this
Kmood liked this
Ganjar Darmawan liked this
ningra liked this
Muh Afiq liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->