Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
51Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Karakterisasi Usahatani Sayuran Organik Di Jawa Barat - Status Dan Prospek

Karakterisasi Usahatani Sayuran Organik Di Jawa Barat - Status Dan Prospek

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 4,984 |Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

 
 
1
Buletin Ristek Balitbangda Jawa Barat, vol 1, no 1, 2002
KARAKTERISASI USAHATANI SAYURAN ORGANIK DI JAWABARAT: STATUS DAN PROSPEK
Witono Adiyoga
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung-40391
ABSTRAK. Adiyoga, W. Karakterisasi usahatani sayuran organik di Jawa Barat: Status dan prospek
.Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sistem produksi sayuran organik (ex
isting organic vegetable production system
) di Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapang dan wawancara intensif dengan beberapa responden, yaitu Pertanian Organik Terpadu Tidusaniy (Yayasan Bakti Dua Insan Waliyyulloh),Perintis Pertanian Organik Cisarua (Yayasan Bina Sarana Bhakti) dan Pertanian Organik Wieke Lorentz(Lembang), yang terpilih atas rekomendasi Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ketiga usahatani secara konsisten melakukan daur ulang hara pada bahan-bahan organik,rotasi tanaman, polikultur, pengolahan tanah minimal serta menghindarkan penggunaan material kimiawi, baikberupa pupuk maupun pestisida. Beberapa hal yang menjadi perhatian utama bagi produsen sehubungandengan kesuburan tanah adalah: membangun dan memelihara ketersediaan bahan organik dalam tanah,mengembangkan aktivitas biologis tanah, serta memelihara keremahan tanah. Sementara itu, berkaitan denganproteksi tanaman, prioritas perhatian produsen secara berturut-turut adalah: (a) pengendalian gulma, (b)pengendalian hama, dan (c) pengendalian penyakit. Hasil observasi di ketiga usahatani organik secara umummemberikan gambaran bahwa status pertanian organik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukupbaik, walaupun kontribusinya terhadap produksi total sayuran relatif masih kecil (diperkirakan masih < 1%).Prospek pengembangan sayuran organik juga cenderung menjanjikan, sebagaimana diindikasikan oleh masihbanyaknya permintaan yang belum dapat dipenuhi karena adanya keterbatasan pasokan. Berkaitan dengansistem produksi sayuran organik, beberapa hal yang diidentifikasi memerlukan dukungan penelitian adalah: (a)pengelolaan gulma, (b) perencanaan usahatani dan perancangan integrasi ekosistem, (c) pengelolaan kesuburanorganik terapan, dan (d) kualitas nutrisi dalam hubungannya dengan kultur praktisKata kunci: Usahatani organik; Daur ulang hara; Bebas material kimiawi, Pengendalian gulma
ABSTRACT. Adiyoga, W. dan M. Ameriana. Characterization of vegetable organic farms in West Java:Status and prospect
. The objective of this study was to characterize organic farms or existing organic vegetableproduction system in West Java. Data were collected through field observations and intensive interviews with threeorganic farms. Those were Tidusaniy Integrated Organic Farming (Yayasan Bakti Dua Insan Waliyyulloh), CisaruaPioneer Organic Farming (Yayasan Bina Sarana Bhakti) dan Wieke Lorentz Organic Farm (Lembang), selectedbased on the recommendation from the Indonesian Organic Farming Network. Results show that those farmsconsistently implement organic nutrient recycling, crop rotation, multiple cropping, minimum tillage, and avoid theuse of chemical fertilizers and pesticides. Issues of greatest concern on soil fertility are building and maintainingorganic matter levels, developing soil biological activity, and reducing soil compaction. Meanwhile, issues of greatest concern on plant protection are weed management, pest management and disease management,respectively. Characterization shows that the status of vegetable organic farms in Indonesia is still in the stage of development as reflected by a relatively small contribution to the total vegetable supply (it is estimated less than1%). The prospect of organic farming in Indonesia is quite promising, as indicated by increasing demand thatcould not be fulfiled, because of supply shortage. With regard to the vegetable organic production system, someareas that have been identified of requiring research support are: (a) weed management, (b) whole farm planningdesign and ecosystem integration, (c) applied organic fertility management, and (d) nutritional quality inrelationships to growing practices.Key words: Organic farming; Nutrient recycle; Free chemical material; Weed management.
 
 
2
Selama periode 1970'an, fokus kebijaksanaan pembangunan pertanian diarahkanpada upaya peningkatan produksi, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai swa-sembada pangan. Kebijaksanaan tersebut bertumpu pada paradigma revolusi hijau yangmengandalkan intensifikasi penggunaan input moderen. Berbagai perubahan sebagai dampakkebijaksanaan ini tidak dapat dipungkiri telah memberikan beberapa pengaruh positif (terutama peningkatan produktivitas) serta mengurangi risiko usahatani (Ranaweera et al.,1993). Namun demikian, di dalam perkembangannya, perubahan-perubahan di atas ternyatamengandung biaya eksternal yang sangat signifikan berkaitan dengan aspek keberlanjutanusahatani (masalah generasi kedua revolusi hijau). Biaya eksternal tersebut diantaranyaadalah semakin menipisnya lapisan atas tanah (
topsoil 
), terkontaminasinya air tanah, semakinmeningkatnya biaya produksi per unit, semakin tingginya ketergantungan petani terhadapinput eksternal, dan kecenderungan semakin menurunnya keaneka-ragam hayati (Lynam &Herdt, 1989; Waibel and Setboonsarng, 1993).Memasuki periode tahun 2000, kebijaksanaan pembangunan pertanian diarahkan untukmencapai ketahanan pangan berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan sistemagribisnis. Sebagaimana dirumuskan oleh Kantor Menko Ekuin dan PSP, LP-IPB (2000), sistemagribisnis terdiri dari empat sub-sistem (agribisnis hulu, pertanian primer, agribisnis hilir danlembaga jasa) yang terintegrasi secara fungsional. Pengembangan sistem agribisnis tersebutkemudian dikonsepsikan sebagai suatu proses perubahan dengan tahapan: (a) agribisnisberbasis sumberdaya, (b) agribisnis berbasis investasi dan (c) agribisnis berbasis inovasi.Pendekatan sistem ini juga disertai dengan visi masa depan pertanian yang didukung olehteknologi tinggi, bioteknologi dan teknologi informasi. Sasaran dari pendekatan sistem sertaberbagai perangkat pendukung di atas pada dasarnya adalah untuk melakukan spesialisasi,mekanisasi, pemisahan, pentahapan serta pengendalian seluruh proses produksi yangmengarah pada industrialisasi pertanian. Dengan demikian, integrasi vertikal dari fungsi-fungsiproduksi, prosesing dan distribusi diperkirakan akan semakin meningkat -- perluasan cakupankegiatan mulai dari perancangan plasma nutfah sampai pembentukan preferensi konsumen --yang disertai pula dengan semakin meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi biologisdan teknologi informasi pada semua tingkatan di dalam sistem pertanian (Ikerd, 1997).Melalui pendekatan ini dimungkinkan tercapainya sistem pertanian yang lebih efisien --populasi petani yang cenderung semakin menurun, tetapi mampu menjamin ketahananpangan lebih banyak orang dengan kualitas yang lebih baik dan biaya yang lebih rendah.Namun demikian, perlu dicermati pula bahwa kebijakan di atas memiliki peluang kegagalanyang cukup tinggi, terutama jika dikaitkan dengan kondisi sektor pertanian yang sedangmengalami masalah generasi kedua revolusi hijau. Pengalaman di negara maju menunjukkanbahwa industrialisasi pertanian dianggap bertanggung jawab terhadap terjadinya degradasilingkungan dan pengurasan basis sumberdaya alam. Pupuk buatan dan pestisida komersialyang merupakan elemen esensial dalam industrialisasi pertanian telah menjadi fokusperhatian berkaitan dengan peranannya sebagai salah satu sumber utama polusi lingkungan.Mengacu pada uraian di atas, pengembangan sistem agribisnis sebagai strategiutama pembangunan pertanian perlu pula didukung oleh komitmen yang tinggi untukmewujudkan pertanian berkelanjutan (
sustainable agriculture
). Dalam konteks ini, pertanianberkelanjutan berperan sebagai suatu paradigma yang digunakan untuk acuan dalamperencanaan atau pengambilan keputusan. Elemen-elemen esensial dalam pertanianberkelanjutan adalah: (a) perlindungan terhadap sistem ekologis, (b) pemerataan ataukeadilan antar generasi, dan (c) efisiensi penggunaan sumberdaya (Dunlap et al., 1992;Bosshard, 2000). Ketiga elemen tersebut merupakan isu-isu terpisah yang tidak dapatdikombinasikan secara sederhana dan masih menjadi bahan diskusi hangat, terutamamenyangkut indikator-indikator pengukurannya (Andreoli and Tellarini, 2000; Steiner, et al.,
 
 
3
2000, Lefroy, et al., 2000; Sands and Podmore, 2000). Terlepas dari tantangan kesulitanpengukuran tersebut, tampaknya sudah menjadi kesepakatan umum bahwa setiap elemen diatas tetap harus dipertimbangkan dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusankebijakan pembangunan pertanian (Pannell and Schilizzi, 1999; Clemetsen and Laar, 2000;Kniper, 2000).Produksi intensif dan permintaan sayuran sepanjang tahun, selain dihadapkan padamasalah konversi lahan produktif yang berjalan cepat (akibat kebutuhan non-pertanian yangsecara sosio-ekonomis dianggap lebih mendesak, misalnya perumahan dan industri), jugamenghadapi masalah-masalah lain meliputi polusi air tanah (akibat penggunaan material kimiawiberlebih dan tidak tertatanya sistem drainase), penurunan produktivitas lahan (akibatpengelolaan lahan yang cenderung eksploitatif, tanpa memperhatikan upaya reklamasi),tingginya tingkat residu (akibat penggunaan pestisida kimiawi yang cenderung berlebih),rendahnya kualitas produk dan tingginya kehilangan hasil lepas panen (akibat kurangdiperhatikannya proses penanganan produk dan serangan/eksplosi hama penyakit sebagaikonsekuensi terganggunya keseimbangan ekologis) (Jansen et al., 1994). Berbagai masalah inipada dasarnya merupakan indikasi bahwa sistem usahatani sayuran diduga semakin menjauhialur model pengembangan berkelanjutan. Salah satu bentuk sistem produksi yang sejalandengan prinsip pertanian berkelanjutan adalah pertanian organik. Pertanian organikdikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip dan gagasan yang diarahkan untuk: (a)mendorong interaksi konstruktif antara metode produksi dengan sistem dan daur ulang alami,(b) mendorong dan meningkatkan daur ulang biologis dalam sistem usahatani yangmelibatkan mikro organisme, flora dan fauna tanah, tanaman dan hewan, (c) memelihara danmeningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan, (d) memelihara keaneka-ragamanhayati yang terdapat di dalam sistem produksi, termasuk habitat tanaman dan hewan, (e)menggunakan seoptimal mungkin sumberdaya dapat diperbaharui yang berasal dari sistemusahatani itu sendiri, (f) meminimalkan segala bentuk polusi yang mungkin timbul dari kegiatanusahatani, (g) mempromosikan penggunaan dan pemeliharaan air secara tepat dan sehat, dan(I) mempertimbangkan dampak yang lebih luas dari kegiatan usahatani terhadap kondisi sosialdan ekologis (Ikerd, 1999; Benbrook, 1998; Fairweather, 1999).Walaupun masih berada pada skala industri kecil, pertanian organik mulai tumbuhcukup pesat sebagai salah satu alternatif sistem produksi. Sebagai contoh, di beberapanegara maju, pertanian organik telah menunjukkan kontribusi cukup signifikan terhadap sistempangan yang berlaku (10% di Austria, 7,8% di Switzerland), sedangkan di negara-negaralainnya tumbuh di atas 20% per tahun (Germany, Italy, USA, France, Japan, Singapore)(IFOAM, 1999). Beberapa negara berkembang juga mulai memiliki pasar domestik untukproduk organik (Egypt) dan mulai mengembangkan produk organik untuk ekspor (kopi dariMexico, kapas dari Uganda). Pada umumnya produk organik dijual pada tingkat premium yangcukup tinggi. Produk organik dapat dihargai 20% lebih tinggi dibandingkan dengan hargaproduk serupa yang bersifat non-organik (Lohr, 1998, Thompson, 1998). Namun demikian,profitabilitas dari usahatani organik sebenarnya sangat bervariasi, dan studi yang mempelajaripotensi jangka panjang dari premium tinggi tersebut masih sangat terbatas. Informasi serupa,khususnya menyangkut usahatani sayuran organik di Indonesia juga masih terbatas.Mengacu pada pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sistemproduksi organik sayuran yang berkembang (
existing organic vegetable production system
),khususnya di Jawa Barat.

Activity (51)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hans Machy liked this
Giska Fl liked this
greensangrilla liked this
ningra liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->