Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Rantai Pasokan Sayuran Dan Persepsi an Rantai Terhadap Pentingnya Keamanan Pangan _JHort

Rantai Pasokan Sayuran Dan Persepsi an Rantai Terhadap Pentingnya Keamanan Pangan _JHort

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 1,722 |Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

 
 
1
Jurnal Hortikultura, Tahun 2007, Volume XVII, Nomor (3)
 
RANTAI PASOKAN SAYURAN DAN PERSEPSI PARTISIPAN RANTAI TERHADAPPENTINGNYA KEAMANAN PANGAN
Witono Adiyoga, Azis Azirin Asandhi, Anna Laksanawati, Nurhartuti dan Ineu Sulastrini
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung 40391
Kegiatan penelitian dengan pendekatan studi kasus dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2003 untuk rantaipasokan sayuran Bandung (Kabupaten Bandung, Jawa Barat) ke Jakarta (DKI Jaya). Pengumpulan data primerdilakukan melalui wawancara dengan 16 orang responden (produsen, pengepak, pedagang pengumpul,pedagang besar/grosir pedagang eceran/ritel/supermarket) yang dipilih secara purposif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa rantai pasokan sayuran di kabupaten Bandung, Jawa Barat masih bersifat tradisional danbelum tertata dengan baik. Berikut ini adalah beberapa masalah yang terjadi di sepanjang rantai pasokanberdasarkan persepsi responden/partisipan: (a) variabilitas harga tinggi, (b) pasokan tidak stabil, (c) biayapenanganan tinggi, (d) ketidak-pastian kualitas produk, (e) respon terhadap pemesanan lambat, (f) kurangnyapengawasan kualitas di sepanjang rantai, (g) kurangnya perencanaan produksi/metode produksi konvensional,(h) tidak ada regulasi dan peraturan yang jelas, (i) kompetisi pasokan dari sentra produksi lain, (j) kurangnyainformasi pasar, (k) kurangnya transparansi dalam penentuan harga, (l) kurangnya rasa kepercayaan antarpartisipan, (m) kesulitan koordinasi antar pemasok skala kecil, dan (n) tidak ada kemampuan untuk penjejakandan penelusuran. Observasi lapangan memberikan gambaran bahwa implementasi keamanan pangan disepanjang rantai pasokan masih belum masuk ke dalam skala prioritas (
minor 
). Beberapa saran untukmendorong akselerasi penerapan sistem keamanan pangan diantaranya adalah: (a) merancang danmenetapkan kebijakan, peraturan/perundangan keamanan pangan yang komprehensif, (b) meningkatkankegiatan penelitian untuk mengembangkan
critical control points 
yang efektif dan praktis, (c) meningkatkan studipenaksiran
foodborne 
 
pathogens 
untuk mengidentifikasi titik-titik rawan di sepanjang rantai pasokan sertamenentukan batas ambang toleransi, (d) menetapkan standar ekivalensi praktek budidaya dan prosesing yangberorientasi keamanan pangan, dan (e) meningkatkan edukasi, penyuluhan dan pelatihan mengenai keamananpangan kepada semua partisipan rantai pasokan sayuran.Kata kunci: sayuran; persepsi; prioritas minor; rantai pasokan; keamanan pangan
ABSTRACT. Adiyoga, W., A.A. Asandhi, A. Laksanawati, Nurhartuti and I. Sulastrini. Vegetable supply chainand the chain participants’ perceptions on the importance of food safety
.Research activity with case study approach was carried out in July-October 2003 to examine thoroughly thevegetable supply chain from Bandung (West Java) to Jakarta (DKI Jaya). Primary data were collected throughinterviews with 16 chain participants (producer, packer, assembler, wholesaler and retailer) selected purposively.Results indicate that vegetable supply chains in Bandung, West Java are still operating traditionally. They are notwell-managed and well-developed yet. Some problems occur along the chain as perceived by participants are (a)high price variability, (b) unstable supply, (c) high handling costs, (d) uncertainty in product quality, (e) long orderresponse time, (f) insufficient quality control along the supply chain, (g) lack of production planning and outdatedproduction method, (h) no clear food safety regulation/legislation, (i) competition from other production centers,(j) lack of market information, (k) lack of transparency in price setting, (l) lack of trust between stakeholders in thesupply chain, (m) coordination difficulties between many small suppliers, and (n) no tracking and tracing ability.Further field-observation suggests that the implementation of food safety along the supply chain is notconsidered as major priority yet. Some suggestions to accelerate the adoption of food safety system are: (a) todesign and establish comprehensive policy, regulation and legislation on food safety, (b) to increase researchactivities in developing effective and practical critical control points that can easily be implemented at all levels,(c) to conduct risk-assessment studies of foodborne pathogens to identify production points or practices ofgreatest risk and to determine tolerable limits for specific foods, (d) to establish standards of equivalency forgrowing, harvesting, and processing practices that address food safety, and (e) to increase education, extensionand training on food safety for all participants along the vegetable supply chain.Key words: vegetable; perception; minor priority; supply chain; food safety
 
 
2
Kurangnya perhatian terhadap keamanan pangan merupakan salah satu kontributor signifikanterhadap insiden gangguan kesehatan manusia, terutama di negara-negara berkembang. Di negarasedang berkembang, 70% kematian yang terjadi pada kelompok anak-anak di bawah usia lima tahundiperkirakan disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi secara biologis (Unnevehr and Hirschhorn,2001). Keamanan pangan merupakan isu yang semakin mendapat perhatian karena adanyakecenderungan global peningkatan risiko kesehatan di dalam sistem pangan.Direktur Departemen Pembangunan Berkelanjutan dan Kesehatan Lingkungan WHO meng-ungkapkan delapan penyakit akibat makanan menyebar cukup luas di Indonesia dan negara-negaraAsia Tenggara. Kedelapan penyakit tersebut adalah gastroenteritis, hepatitis, sepsis, gagal ginjal,kematian janin, retardasi, penyakit syaraf, dan kanker. Pada beberapa kasus, kekhawatiran akankeamanan pangan ini disebabkan oleh infeksi dan intoksikasi mikrobial, serta dampak toksik pestisida,polusi tanah, kontaminasi logam berat, dan alergi (van Ravenswaay and Hoehn, 1997). Penyebab lainyang juga memacu insiden
foodborne illness 
adalah tingkat kebersihan lingkungan dan makanan yangrendah, kotornya sumber air minum, kontaminasi makanan, pengolahan yang tidak sempurna, sertapemanasan yang terlalu sering dan dengan suhu tinggi (Curtis, Cairncross and Yonli, 2000).Tujuan paling fundamental dari sistem keamanan pangan adalah menekan atau mengurangiinsiden
foodborne illness 
. Insiden penyakit ini dapat dicegah jika penanganan tepat guna untukmeminimalkan atau menghindarkan kontaminasi dilakukan pada setiap mata rantai dari produsen kekonsumen. Upaya untuk mengeliminasi
foodborne illness 
harus dilakukan secara kumulatif dankolaboratif antara produsen, pengolah/prosesor, distributor, pengecer dan konsumen (Zuurbier, 1999).Dalam kaitan ini, pemerintah harus mengambil inisiatif serius untuk mengurangi
foodborne illness 
 melalui penelitian, regulasi dan edukasi. Tujuan lain dari sistem ini adalah memelihara keyakinan/ kepercayaan publik terhadap keamanan pangan dan pasokan pangan, yang secara langsung akanterbentuk dari tingkat keberhasilan mengurangi risiko terkena penyakit (Blaine and Powell, 2001).Keyakinan publik terhadap keamanan pangan adalah barang publik. Keyakinan publik tersebutmendukung konsumen dalam memilih diet yang beragam dan sehat, tanpa terkendala olehkekhawatiran akan keamanan pangan. Masyarakat perlu ketenangan berdasarkan pengetahuanmereka bahwa makanan yang dikonsumsinya aman dan pemerintah serta semua pihak yang secarakomersial terlibat di dalam sistem pangan telah berupaya maksimal untuk mewujudkan keamananpangan (Caswell, 1998; Morris and Young, 2000; Taylor, 2002).Sayuran dapat dibudidayakan pada kisaran kondisi agroklimat yang sangat beragam danmenggunakan berbagai jenis input serta teknologi. Oleh karena itu, kerusakan biologis, kimiawi danfisik cenderung bervariasi secara signifikan dari satu unit produksi/area ke unit produksi/area lainnya.Pada kondisi permintaan konsumen yang tinggi terhadap keamanan produk, produsen juga harusmelakukan kajian risiko berkenaan dengan penggunaan pupuk organik maupun inorganik. Logam berattelah diidentifikasi sebagai masalah keamanan produk yang mungkin ditimbulkan oleh penggunaanpupuk inorganik atau sintetis. Sementara itu, pada penggunaan pupuk organik, kontaminasi mikrobialmerupakan risiko utama yang harus diwaspadai (Canadian Horticultural Council, 1998; Henneberry,Piewthongngam and Qiang, 1999). Semua jenis sayuran segar, sampai batas-batas tertentumengandung mikroorganisme yang beberapa diantaranya bersifat patogen (bakteri, parasit, virus atau jamur). Masalah keamanan pangan terjadi karena konsumen pada umumnya tidak dapat secaralangsung mengetahui tingkat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh mikro-organisme tersebut (vanRavenswaay and Hoehn, 1997). Disamping beberapa indikasi yang relatif jelas (berbau kurang enak,perubahan warna – keduanya disebabkan oleh non-patogen mikroorganisme), konsumen juga seringdihadapkan pada ketidak-pastian dalam menentukan apakah sayuran yang akan dibeli mengandungrisiko kesehatan akibat patogen atau faktor lain (misalnya residu pestisida). Pihak penjual jugacenderung menghindarkan hal-hal yang dapat mengkaitkan isu keamanan pangan dengan produk yangdijualnya. Konsumen juga tidak memiliki informasi lengkap menyangkut keamanan produk yang dibeli,karena tidak adanya insentif langsung bagi produsen untuk memberikan informasi tersebut.
 
 
3
Salah satu isu penting yang menjadi perhatian pada saat ini adalah bagaimana cara terbaikyang dapat ditempuh untuk mencapai sasaran terwujudnya pasokan sayuran aman. Walaupun regulasiyang mengatur produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran dapat memperbaiki tingkat keamananpasokan dan mengurangi risiko kesehatan, regulasi ini juga dapat meningkatkan beban biaya bagiprodusen dan berpotensi meningkatkan harga sayuran (Baines et al., 2000; Morris and Young, 2000).Dalam hal ini, upaya yang harus ditempuh adalah merancang regulasi agar dapat memaksimalkanmanfaat peningkatan keamanan sayuran – menyeimbangkan manfaat marjinal dari produk sayuranyang lebih aman dengan biaya marjinal yang harus dikeluarkan untuk mencapai sasaran keamananproduk sayuran tersebut. Sementara itu, penerapan konsep keamanan pangan juga tidak mungkindapat dilakukan secara instruksional (
top-down 
). Keberhasilan penerapannya sangat bergantung padatingkat kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan yang kemudian akan tercermin daripermintaan terhadap produk pangan/sayuran bersih/aman. Sehubungan dengan itu, kegiatan penelitianini diarahkan untuk menghimpun informasi sampai sejauh mana persepsi mengenai pentingnyakeamanan pangan dari semua aktor yang terlibat di sepanjang rantai penawaran sayuran.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan studi multi tahun (2003-2006) di bawah payungkerjasama penelitian Indonesia-Belanda (HORTIN). Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2003 oleh tim peneliti interdisiplin. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yangdiarahkan untuk mendapatkan informasi/gambaran detil suatu fenomena yang terjadi dalam satu unitsosial tertentu. Penggunaan metode ini memungkinkan diperolehnya informasi pendahuluan sebagaibahan masukan (atau perancangan hipotesis) untuk perencanaan studi lebih lanjut.Studi kasus ini dilaksanakan untuk rantai pasokan sayuran Bandung (Kabupaten Bandung,Jawa Barat) ke Jakarta (DKI Jaya). Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara denganmenggunakan daftar pertanyaan, serta pencatatan atau pendokumentasian berdasarkan observasilapangan. Partisipan rantai pasokan yang dilibatkan secara purposif sebagai responden adalahsebanyak 16 partisipan yang terdiri dari: (a) petani produsen sayuran – 4 orang, (b) perusahaanpengepakan sayuran – 2 perusahaan, (c) pedagang pengumpul sayuran desa/antar wilayah – 4 orang,(d) pedagang besar/grosir sayuran – 4 orang, dan (e) pedagang eceran/ritel – 2 supermarket diJakarta. Partisipan tersebut mewakili beberapa saluran pemasaran dominan yang menjembatani aliranproduk sayuran dari produsen ke konsumen. Parameter yang diamati dalam penelitian ini mencakup:(a) elemen atau partisipan/pelaku/aktor dalam rantai penawaran - fungsi, peranan dan keterkaitan/ hubungan, (b) nilai tambah yang dihasilkan atau dilakukan oleh setiap elemen, (c) peta rantaipenawaran, (d) aspek praktek keamanan produk sepanjang rantai penawaran, dan (e) aspek praktekpengelolaan kualitas produk sepanjang rantai penawaran. Data yang berhasil dihimpun dianalisisdengan menggunakan statistika deskriptif dan analisis isi.
HASIL DAN PEMBAHASAN1. Deskripsi Rantai Pasokan Sayuran
Secara konsepsual, rantai pasokan sayuran juga merupakan suatu sistem ekonomi yangmendistribusikan manfaat serta risiko diantara partisipan yang terlibat di dalamnya. Setiap mata rantaidihubungkan oleh
shared information 
dan penjadwalan resiprokal, jaminan kualitas produk sertakomitmen volume transaksi. Keterkaitan dari berbagai proses yang terjadi dapat menciptakan nilaitambah produk sayuran, namun menuntut setiap partisipan rantai untuk mengkoordinasikan aktivitas-nya sebagai suatu proses perbaikan yang berkelanjutan. Biaya yang terjadi pada satu mata rantaiditentukan secara signifikan oleh tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh mata rantai lain.

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Adi Parimartha liked this
mazterijo liked this
Endi Singarimbun liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->