Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Pengetahuan Indigenous ian Hama Penyakit Kentang Di an

Sistem Pengetahuan Indigenous ian Hama Penyakit Kentang Di an

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 2,097 |Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

 
 
1
Jurnal Hortikultura, Tahun 2000, Volume 10, Nomor (3): 226-240
SISTEM PENGETAHUAN “
INDIGENOUS 
” PENGENDALIAN HAMAPENYAKIT KENTANG DI PANGALENGAN
 
Witono Adiyoga dan Mieke Ameriana
 
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung
ABSTRAK. Adiyoga, W. dan M. Ameriana. 1996. Sistem pengetahuan
indigenous
pengendalian hama dan penyakitkentang di Pangalengan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengetahuan
indigenous
pengendalian hamapenyakit kentang agar proses pengambilan keputusan petani dapat diadaptasikan ke dalam perbaikan komponen teknologipengendalian terpadu. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (Agustus-Desember 1996). Responden yang terlibat secara intensif dalam penelitian ini adalah 15 orang informan kunci. Penelitian inimerupakan kegiatan survai yang mengkombinasikan pendekatan: observasi partisipan, wawancara dengan informan kunci,dan diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen biaya yang meningkat dengan cepat adalah pengelu-aran untuk pengendalian hama penyakit. Berdasarkan pengalamannya, petani secara lengkap dapat mengidentifikasi gejalaserangan serta faktor-faktor penyebab/stimulan untuk keempat jenis hama penyakit penting kentang (
Liriomyza, sp
.,
Phythophtora infestan
,
Pseudomonas solanacearum
, dan
Thrips palmi 
). Sistem pengetahuan
indigenous
menunjukkanbahwa petani melakukan kegiatan pemantauan secara intensif dan melaksanakan pengendalian mekanis, kultur teknis dankimiawi. Ketergantungan terhadap pengendalian kimiawi yang tercermin dari kecenderungan penggunaan pestisidaberlebih, terutama disebabkan oleh faktor resiko kegagalan panen yang tinggi serta terbatasnya alternatif pengendalianyang tersedia. Komponen pengendalian
indigenous
atau lokal yang memiliki potensi untuk mendukung perbaikanpendekatan pengendalian hama terpadu adalah sistem pemantauan yang lebih intensif, penentuan ambang kerusakan danpengambilan keputusan mengenai perbedaan perlakuan antar musim. Berbagai komponen lokal tersebut dapat diikut-sertakan dalam usaha perbaikan komponen teknologi pengendalian di lahan petani melalui pendekatan partisipatoris.Prosedur ini akan mempercepat adopsi PHT karena petani dapat merespon langsung berdasarkan hasil evaluasinya, sertamemiliki kesempatan untuk melakukan berbagai modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan produksi spesifik yangdihadapi.Kata kunci: Sistem pengetahuan
indigenous
; Pengendalian hama terpadu; Pendekatan partisipatoris.
ABSTRACT. Adiyoga, W. and M. Ameriana. 1996. Indigenous knowledge system of potato pest and disease controlin Pangalengan.
This study was aimed to fully understand indigenous knowledge system of pest and disease controlmanagement, so that farmers’s decision making can be adapted to improve the existing generated components for accelerating and increasing the adoption of IPM. This study was conducted in August-December 1996 in the highlandecosystem of Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. There were 15 key informants intensively involved andactively participate in this study. This is a survey research that combines several approaches include, participantobservation, intensive interviews with key informants, and group discussion. Results show that based on their experience,farmers are fully capable of identifying symptoms, and factors that can stimulate the development of some important pestsand diseases (
Liriomyza, sp
.,
Phythophtora infestan
,
Pseudomonas solanacearum
, and
Thrips palmi 
). Indigenousknowledge system indicates that intensive monitoring, cultural practice control and mechanical control are common practicesto farmers. At present, high dependency on chemical control method as reflected by the use of excessive pesticides ismainly caused by high risk factors in potato cultivation, and limited availability of alternative control methods. Somecomponents of indigenous control strategy that potentialy can support the improvement of integrated pest management areintensive monitoring system, determination of control treshold, and decision making to differentiate treatments for rainy anddry season planting. Those local components could be incorporated into the effort of improving IPM through the use of participatory research approach at the farmer’s field. This procedure may accelerate the IPM adoption since farmers mayrespond directly based on their own evaluation and have a chance to modify the IPM technology based on their immediateneeds.Key words: Indigenous knowledge system; Integrated pest management; Participatory approach.
 
 
2
Secara eksternal, stabilitas sistem produksi suatu komoditas pertanian dipengaruhi oleh faktor fisik (iklim), ekonomi (harga pasar) dan biologis (hama dan penyakit). Sementara itu, menurunnyastabilitas sistem produksi secara internal juga diantaranya merupakan akibat dari adanya peningkatansalinitas tanah, hilangnya bahan organik tanah dan meningkatnya penggunaan pestisida. Beberapaaktivitas yang pengaruhnya dianggap sangat potensial terhadap keberlanjutan sistem produksisayuran adalah: (a) pengendalian hama penyakit, (b) pengelolaan tanah dan pupuk, serta (c)pemeliharaan dan pemanfaatan keragaman genetik (Dumsday, et al., 1991). Penggunaan pestisidadalam pengendalian hama penyakit sayuran mendapat sorotan cukup tajam akhir-akhir ini, walaupunpada awalnya aktivitas tersebut merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan keberlanjutan jangkapendek usahatani sayuran. Pengambilan keputusan pengendalian cenderung lebih diarahkan untukmengantisipasi resiko hama penyakit dibandingkan dengan usaha untuk mengatasi serangan hamapenyakit secara aktual (Mumford, 1981). Berbagai kritik menyatakan bahwa penggunaan bahansintetis dalam aktivitas pengendalian hama penyakit dapat membahayakan kesehatan manusia dankelestarian lingkungan, serta mendorong timbulnya resistensi hama. Dalam jangka panjang,penggunaan pestisida yang tidak bijaksana bahkan dapat menimbulkan (a) berkurangnya durabilitasekologis, (b) hilangnya keseimbangan pengendalian yang bertumpu pada aspek biologis, dan (c)meningkatnya probabilitas kejadian eksplosi serangan hama penyakit (Feder, 1979).. Dalam waktu lima tahun terakhir, berbagai komponen teknologi sayuran telah dikemas menjadisuatu pendekatan pengendalian hama penyakit yang menekankan keterpaduan aspek-aspekbudidaya serta pengurangan penggunaan pestisida. Bahkan usaha pengembangan danpemasyarakatan sistem pengendalian terpadu ini juga ditempuh melalui penyelenggaraan sekolahlapang bagi petani. Khususnya untuk komoditas sayuran, teknologi anjuran pengendalian hamaterpadu (PHT) telah dirancang, baik untuk sayuran dataran tinggi (kentang, kubis dan tomat) maupununtuk sayuran dataran rendah (bawang merah, cabai dan kacang-kacangan). PHT merupakan suatukonsep, strategi dan sekaligus teknologi yang disusun berdasarkan pertimbangan serta penalaranekologis dan ekonomis, melalui rekayasa pengelolaan ekosistem yang mengacu pada prinsip-prinsipkeberlanjutan. Lebih jauh lagi, PHT merupakan suatu pendekatan holistik yang melibatkanproduktivitas, keberlanjutan usahatani, prinsip-prinsip ekologis, pengetahuan petani, organisasi sosial,keterampilan komunikasi dan kesehatan manusia.Beberapa penelitian yang mencoba mengkaji penyebaran PHT di tingkat petani mengindikasi-kan adanya kecenderungan adopsi yang relatif lambat (Marwoto, 1996). Lambatnya penyebaranmaupun adopsi teknologi ini diperkirakan karena belum optimalnya fungsionalisasi mekanisme transfer yang dilakukan oleh penyuluh, pengamat hama, kelompok tani, maupun petani yang pernah mengikutisekolah lapang PHT. Penelitian lainnya bahkan menunjukkan bahwa petani yang pernah mengikutisekolah lapang PHT ternyata tidak memperlihatkan pola pengendalian yang berbeda dengan petaniyang belum pernah mendapatkan pelatihan (Basuki, et al., 1996). Secara spesifik, penelitian inimenyarankan reevaluasi dan perbaikan komponen-komponen teknologi yang telah ada denganmenekankan keterlibatan petani dalam proses perancangannya.Sebagian besar teknologi pertanian yang digunakan di negara-negara berkembangsebenarnya adalah hasil inovasi informal dari petani-petani subsisten. Petani juga memanfaatkan ide-ide dari paket teknologi yang ditawarkan oleh lembaga penelitian dan secara selektif memilih beberapakomponen untuk dicoba sendiri. Berdasarkan pengalaman
trial and error 
, komponen-komponenteknologi yang dianggap layak akan diadopsi sesuai dengan kebutuhan serta pengetahuan lingkunganlokal usahataninya. Oleh karena itu, rendahnya adopsi komponen-komponen teknologi tertentu,sebenarnya tidak selalu disebabkan oleh petani yang bersifat konservatif atau sistem penunjang yang
 
 
3
kurang berfungsi, tetapi seringkali merupakan akibat dari karakteristik inovasi tersebut yang tidaksesuai dengan kebutuhan serta lingkungan produksi yang dihadapi petani.Berkaitan dengan hal di atas, pemahaman mengenai sistem pengetahuan
indigenous
 merupakan aspek yang bersifat instrumental dalam merancang suatu inovasi. Melalui proses yangpanjang, sistem pengetahuan
indigenous
atau lokal (PL) telah menjadi acuan petani dalammengamankan usahataninya dari berbagai kendala lingkungan spesifik lokasi. Secara turun-temurun,petani telah mengembangkan berbagai strategi untuk menghadapi organisme-organisme yang tidakdiinginkan. Metode pengendalian
indigenous
yang dilatar-belakangi berbagai pertimbangan ekologisini merupakan bahan masukan yang berguna dalam rangka perbaikan penelitian PHT.PL tidak hanya menyangkut masalah teknis, tetapi juga termasuk aspirasi, nilai, preferensi dannorma yang diterapkan petani dalam usahataninya. Dengan demikian, PL adalah basis informasi yangbersifat dinamis, karena berkembang melalui proses sosial, ekonomi dan kultural yang membentukkehidupan masyarakat pedesaan atau petani (Titikola, 1991). Berdasarkan potensinya, integrasiantara pengetahuan lokal dengan pengetahuan moderen merupakan kebutuhan yang sangat esensi,terutama dalam bidang penelitian pertanian. Isu kerusakan lingkungan dan pembangunanberkelanjutan yang semakin marak akhir-akhir ini menyebabkan para akhli ekologi dan ekonomimenaruh perhatian yang lebih besar lagi terhadap pemanfaatan PL dalam pembangunan pertanian(Norgaard, 1984). Berbagai karakteristik PL dapat memberikan gambaran, terutama bagi para ilmuwanpertanian dan penentu kebijakan, bahwa sistem pengetahuan ini bukan merupakan suatu hambatanyang perlu dihilangkan, melainkan suatu basis pertimbangan dalam memperkenalkan teknologi baruyang dirancang berdasarkan penggunaan sumberdaya efisien dan berkelanjutan.Secara berangsur semakin disadari bahwa PL perlu mendapat perhatian yang lebih besar sebagai basis penyusunan paradigma pembangunan/pengembangan. Widyastuti (1995) menggabung-kan elaborasi pengetahuan lokal dengan kegiatan koleksi sumber genetik ubi jalar di Jawa dan IrianJaya. Melalui pendekatan ini, tingkat biodiversitas ubi jalar serta preferensi petani dapat disusunsecara lebih lengkap sebagai bahan masukan untuk kegiatan pemuliaan. Pendekatan serupa jugadilakukan dalam merancang kurikulum sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu untuk ubi jalar.Penyertaan sistem PL memberikan indikasi bahwa pengelolaan tanaman terpadu (PTT) lebih cepatdiadopsi, jika diseminasinya lebih difokuskan pada pemahaman proses dan prinsip PTT, dibandingkandengan rekomendasi budidaya tertentu. Fuglie, et al. (1992) menunjukkan bahwa perpaduan antaraPL dan ilmu pengetahuan formal/moderen berhasil mempercepat adopsi teknologi pengendalian PTM(
Potato Tuber Moth
) di Tunisia. Perakitan teknologi diawali dengan pemahaman PL mengenai PTMsecara mendetil, yang mencakup persepsi petani mengenai PTM serta klarifikasi proses pengambilankeputusan petani dalam pengendaliannya. Berdasarkan informasi yang diperoleh, peneliti bersama-sama dengan petani, merakit teknologi pengendalian PTM yang menekankan metode pengendaliansecara kultur teknis. Adopsi teknologi pengendalian ini dapat menghemat devisa impor pestisidasampai 150 000 dinar per tahun. Sementara itu, petani juga dapat meningkatkan pendapatan bersihusahataninya sebesar 20 persen. Beberapa studi kasus lainnya (Sharland, 1989; Scheidegger, et al.,1989; Bebbington, 1993; Riches, et al., 1993; Mosse, 1995) juga menunjukkan potensi kontribusi PLterhadap perancangan teknologi baru dan berbagai aspek lain yang berkaitan dengan pembangunanpedesaan.Penelitian ini diarahkan untuk melakukan dokumentasi dan evaluasi sistem pengetahuan lokalyang mencakup fungsionalisasi persepsi serta cara/kebiasaan petani dalam mengendalikan hamapenyakit kentang.

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hany Capuchino liked this
Lia Yulia liked this
Sella Ble Tigan liked this
musaromadhon liked this
Gianzha Ayundha liked this
maulanifriatna liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->