Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
28Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Strategi Petani Dalam Pengelolaan Resiko Pada Usahatani Cabai

Strategi Petani Dalam Pengelolaan Resiko Pada Usahatani Cabai

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 3,509 |Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

 
 
1
Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 8, Nomor (4): 1299-1311
STRATEGI PETANI DALAM PENGELOLAAN RESIKO PADA USAHATANICABAI
 
Witono Adiyoga dan T. Agoes Soetiarso
 
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu no 517, Lembang-Bandung 40391
 
ABSTRAK. Adiyoga, W. dan T. A. Soetiarso. 1997. Strategi petani dalam pengelolaan resiko padausahatani cabai
. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapiresiko usahatani dan implikasinya terhadap usaha perbaikan atau perancangan teknologi baru. Survaidilaksanakan pada bulan Desember 1995 sampai Januari 1996 di sentra produksi cabai Brebes, Jawa Tengah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola tanam dominan (bawang merah dan cabai- bawang merah - padi) serta memilih sistem produksi tumpang gilir (bawang merah dan cabai) merupakanpencerminan strategi pengelolaan resiko
ex ante
yang ditempuh petani. Sementara itu, strategi pengelolaan resiko
interactive
dilaksanakan melalui penggunaan masukan (pupuk dan pestisida) yang cenderung berlebih, karenapetani menganggap kedua jenis masukan tersebut bersifat mengurangi resiko. Sedangkan jika terjadi kegagalanyang mengganggu sumber pendapatan keluarga dan keberlanjutan usahatani, petani cenderung memilih menjualsebagian aset yang dimilikinya sebagai manifestasi strategi pengelolaan resiko
ex post 
. Beberapa implikasi pentingdari penelitian ini adalah: (1) perancangan teknologi harus mempertimbangkan cabai sebagai salah satu komponendalam sistem produksi tumpang gilir, (2) perbaikan teknologi harus lebih diarahkan untuk meningkatkan ketahanansistem terhadap kejutan yang terjadi pada akhir musim, sekaligus meningkatkan respon sistem terhadap kejutanpada awal atau pertengahan musim, (3) proses perancangan teknologi harus melibatkan berbagai simulasi agro-ekosistem (lingkungan produksi) yang dihadapi petani, dan (4) berdasarkan asumsi bahwa petani pada umumnyapenolak resiko, rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian-pengujian teknologi, secara implisit harusmengandung informasi mengenai variabilitas dan ketidak-simetrisan distribusi probabilitas luaran.Kata kunci: Cabai; Tumpang gilir; Resiko; Usahatani.
ABSTRACT. Adiyoga, W. and T. A. Soetiarso. 1997. Farmers’ strategy in managing risk on hot pepper farming
. The objective of this study was to identify hot pepper farmers’ risk management strategy and itsimplications on the effort for improving and generating new technology. A survey was conducted in Brebes, CentralJava from December 1995 to January 1996. Results show that farmers’ decisions to adopt the existing dominantcropping pattern (shallot and hot pepper - shallot - rice) and to choose sequential cropping system (shallot and hotpepper) are part of their ex ante risk management strategy. As the season progresses, farmers employ their interactive risk management method by using inputs (fertilizers and pesticides) intensively, even tends to beexcessive, since those two input are perceived by farmers as risk reducing. Meanwhile, when their crop fails, themain ex post risk management method used by farmers is mostly to sell some of their assets. Some importantimplications resulted from this study are: (1) new technology should be designed by considering hot pepper as acrop in sequential cropping system, not as a crop for monoculture, (2) in designing technology, more emphasisshould be placed on increasing system resistance to late season shocks, while increasing system responsivenessto early and mid-season shocks, so that the technology can provide farmers with greater flexibility, (3) the processof technology design should involve more simulations on farmer’s circumstances, and (4) assuming that mostfarmers are moderately risk averse and most crop yield distributions are asymmetric, design of trials should provideinformation for documenting not only the variability, but also the skewness of distributions.Key words: Hot pepper; Sequential cropping; Risks; Farming.
 
 
2
Program pengembangan usahatani cabai merah tidak lagi semata-mata ditujukan untukmeningkatkan produksi per hektar, tetapi lebih ditekankan kepada pencapaian sasaran peningkatanpendapatan petani. Pendekatan yang dipilih untuk mencapai sasaran tersebut adalah pengembanganusahatani yang berorientasi agribisnis (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Salah satu prinsip yang menempatiurutan pertama dalam pengembangan agribisnis adalah ketersediaan teknologi baru tepat guna danberkelanjutan. Dalam menerima teknologi baru tersebut, petani sebenarnya dihadapkan kepada ketidak-pastian yang menyangkut kesesuaian teknologi dengan sumberdaya dan kemampuan manajerial yangmereka miliki. Antisipasi petani terhadap kegagalan usahatani merupakan faktor penting dalam prosespengambilan keputusan. Strategi yang ditempuh dalam menghadapi ketidak-pastian ini dapatmengkondisi-kan perilaku petani jika dihadapkan kepada pilihan atau alternatif baru. Oleh karena itu,informasi yang menyangkut strategi pengelolaan resiko sangat diperlukan agar teknologi baru yangdikembangkan dapat berdampak optimal.Ketidak-mungkinan untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi luaran usahatanimenghadapkan petani kepada resiko atau ketidak-pastian usaha. Di samping itu, karakteristik petani diIndonesia didominasi oleh skala usaha kecil, struktur non-perusahaan dan kesempatan yang sangatterbatas untuk melakukan diversifikasi usaha. Sebagai akibat dari struktur yang ada, resiko usahatanilebih banyak terkonsentrasi di pihak petani kecil secara individual (Barry, 1984). Sementara itu,rendahnya elastisitas harga dan pendapatan yang dihadapkan kepada ketidak-pastian iklim serta faktor lain yang tidak dapat dikontrol, dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi tajam untuk harga luaran.Terlebih lagi, petani secara individu tidak memiliki atau memiliki kapasitas yang sangat terbatas dalammempengaruhi harga-harga masukan dan luaran. Kombinasi dari berbagai faktor yang mengandungketidak-pastian ini menempatkan petani pada posisi sulit untuk memperbaiki tingkat efisiensi dankesejahteraannya (Zavaleta et al., 1984).Lima sumber utama resiko usaha di sektor pertanian adalah: (a) resiko produksi atau teknis, (b)resiko pasar atau harga, (c) resiko teknologi, (d) resiko legal atau sosial, dan (e) resiko karena kesalahanmanusia (Sonka dan Patrick, 1984). Kelima sumber resiko tersebut dapat menimbulkan efek jangkapendek maupun jangka panjang terhadap usahatani. Variabilitas pendapatan tahunan dapatmengganggu usahatani terutama dikaitkan dengan kemungkinan kekurangan modal tunai untuk musimtanam tertentu. Dengan demikian, berbagai resiko di atas dapat menimbulkan variabilitas kelayakanusaha serta ukuran keragaan usahatani jangka panjang lainnya.Respon petani terhadap resiko dapat dikategorikan menjadi: (a) usaha yang diarahkan untukmengendalikan kemungkinan timbulnya resiko, dan (b) tindakan yang ditujukan untuk mengurangidampak resiko (Jolly, 1983). Dalam usaha mengontrol sumber resiko, pengambil keputusan harusmemilih himpunan distribusi probabilitas yang paling mungkin dihadapi. Keputusan-keputusan yangdiambil dapat berupa: pemilihan jenis usaha, diversifikasi usaha, pemilihan pasar, keikut-sertaan dalamprogram pemerintah dan penentuan skala usaha. Sementara itu, jenis respon yang kedua tidakberdampak langsung terhadap distribusi probabilitas yang dihadapi pengambil keputusan. Padadasarnya, respon tersebut sangat berpengaruh terhadap kapasitas usahatani untuk tetap bertahanmenghadapi kondisi yang kurang menguntungkan atau untuk memanfaatkan peluang seoptimal mungkindalam kondisi yang menguntungkan. Strategi yang ditempuh dapat meliputi pemilihan struktur finansial,pencadangan dana tunai dan peningkatan produktivitas atau efisiensi unit usahatani.Respon petani terhadap goncangan/kejutan yang dihadapi usahatani dapat dibedakan menjadi:(a) respon sebelum terjadi goncangan --
ex ante
, (b) respon pada saat terjadi goncangan --
interactive
,dan (c) respon setelah terjadi goncangan --
ex post 
(Matlon, 1991). Respon yang pertama dirancanguntuk mempersiapkan usahatani agar tidak berada pada posisi yang terlalu rawan pada saat goncanganterjadi. Respon pada saat terjadi goncangan melibatkan realokasi sumberdaya agar dampak resikoterhadap produksi dapat diminimalkan. Sedangkan respon setelah goncangan diarahkan untuk
 
 
3
meminimalkan dampak berikutnya. Ketiga jenis respon tersebut saling bergantung satu dengan yanglainnya (respon yang satu merupakan fungsi dari respon yang lain). Dengan demikian, pendekatan sistemyang dinamis diperlukan agar perilaku petani dalam mengelola resiko dapat tergambarkan secara lebihlengkap.Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa petani pada umumnya berperilaku sebagai penghin-dar/penolak resiko (Binswanger, 1980; Dillon dan Scandizzo, 1978). Perilaku tersebut mengindikasikanbahwa petani lebih menyukai perencanaan usahatani yang dapat memberikan rasa aman walaupunharus mengorbankan sebagian pendapatannya. Sampai sejauh mana proposisi tersebut berlaku untukpetani cabai merah di Indonesia yang masih dikategorikan subsisten dalam penggunaan masukan(Adiyoga dan Soetiarso, 1994) merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Terlebih lagi jika dikaitkandengan impli-kasinya terhadap usaha pengembangan teknologi baru. Berdasarkan uraian tersebut,diduga strategi petani dalam menghadapi resiko dapat dikelompokkan menjadi strategi pengelolaanresiko yang bersifat ex ante, interaktif dan ex-post dan implementasi strategi ini secara langsungtercermin pada teknik budidaya cabai yang dilakukan petani.Penelitian ini bertujuan untuk (a) mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapi resikousahatani yang berkaitan dengan variabilitas luaran, biaya produksi dan harga luaran, dan (b) mengiden-tifikasi berbagai implikasi dari faktor resiko dalam usaha pengembangan teknologi baru usahatani cabai.
METODOLOGI PENELITIAN
 Pemilihan lokasi dan responden penelitian :
Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagai sentraproduksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun.Mengacu pada Data Bank (LEHRI dan ATA-395, 1992), kabupaten Brebes, Jawa Tengah ditetapkansebagai lokasi penelitian. Kriteria yang sama digunakan untuk memilih unit lokasi penelitian yang lebihkecil, yaitu kecamatan Wanasari (desa Tegal Gandu dan Cisalam). Penelitian dilaksanakan dari bulanDesember 1995 sampai dengan Januari 1996. Target populasi dari penelitian ini adalah petani yangmenanam/mengusahakan cabai merah dari tahun ke tahun. Berdasarkan kriteria tersebut, 20 orangpetani responden dipilih secara acak sederhana.
Pengumpulan data :
Data yang diperlukan akan diperoleh melalui penelitian survai. Rancangan survai yang digunakanadalah rancangan perbandingan grup statis --
static group comparison design
(Kidder dan Judd, 1986).Melalui rancangan ini, penelitian diarahkan untuk memperoleh penjelasan dan interpretasi hubunganantara berbagai peubah yang diamati. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survaipendahuluan dan (b) survai utama. Survai pendahuluan mencakup kegiatan: pemilihan lokasi danresponden, uji coba kuesioner dan pengumpulan data sekunder. Sedangkan survai utama diarahkanuntuk menghimpun data primer melalui wawancara dengan penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaanyang disusun terutama mencakup: (a) karakteristik petani responden, (b) aspek budidaya dan polatanam, (c) masukan dan luaran usahatani, dan (d) perilaku petani dalam mengelola resiko. Untukmemperoleh konfirmasi mengenai data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompokdengan responden kunci (penyuluh, kontak tani, petani andalan) juga dilaksanakan.

Activity (28)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Suharto Se liked this
Ancul Speed liked this
Nilam Chietha liked this
Novita R. Husain liked this
sht2010 liked this
cokie12345 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->