Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
20Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Studi Lini Dasar an Teknologi PHT Pada Tanaman Cabai Di Jawa Barat

Studi Lini Dasar an Teknologi PHT Pada Tanaman Cabai Di Jawa Barat

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 6,596|Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research
Published by: vicianti1482 on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2013

pdf

text

original

 
 
1
Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 9, Nomor (1): 67-83
 STUDI LINI DASAR PENGEMBANGAN
 
TEKNOLOGI PENGENDALIANHAMA TERPADU PADA TANAMAN CABAI DI JAWA BARAT
 
Witono Adiyoga, Rofik Sinung B., Yusdar Hilman dan Bagus K. Udiarto
 Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung 40391
ABSTRAK. Adiyoga, W., Basuki, R.S., Hilman, Y. dan Udiarto, B.K. 1997. Studi lini dasar pengembanganteknologi pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai di Jawa Barat.
Penelitian dilaksanakan pada bulanOktober 1995 sampai Pebruari 1996 untuk memperoleh data dasar bagi pengembangan teknologi pengendalianhama terpadu (PHT) pada tanaman cabai di Jawa Barat. Hasil penelitian menyarankan agar perbaikan teknologiusahatani cabai lebih diarahkan untuk memperbaiki sistem produksi cabai tumpangsari (misalnya dengan bawangmerah). Ketergantungan terhadap cara pengendalian kimiawi tercermin dari penyemprotan rutin yang dilakukanoleh petani dengan frekuensi penyemprotan dan konsentrasi yang tinggi. Disamping itu, pencampuran 2 - 6 jenispestisida juga merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sebagian besar petani. Pertimbangan resiko merupakanalasan utama yang melatar-belakangi pola penggunaan pestisida tersebut. Oleh karena itu, faktor resiko perludipertimbangkan sebagai salah satu kriteria dalam melakukan evaluasi kelayakan komponen teknologi. Berdasar-kan pertimbangan bahwa efektivitas komponen-komponen teknologi PHT sangat dipengaruhi oleh kebersamaansuatu komunitas untuk menyepakati sistem pengelolaan yang terkoordinasi, penelitian ini juga menyarankanpembinaan dini kelompok tani.Kata kunci: Penelitian; Pengendalian hama terpadu; Tumpangsari; Resiko; Usahatani.
ABSTRACT. Adiyoga, W., Basuki, R. S., Hilman, Y. and Udiarto, B. K. 1997. Baseline study for developingintegrated pest management (IPM) technology on hot pepper in West Java.
This study was aimed to obtain adatabase for the development of IPM on hot pepper in West Java and conducted from October 1995 to February1996. The findings of this study suggested that research geared to improve hot pepper farming should put moreemphasis on intercropping system. High dependency on the use of pesticides as the main pests and diseasescontrolling method was reflected from routine spraying carried out by farmers. In addition, mixing 2 - 6 kinds of pesticide was also quite common among farmers. Production risks were considered by farmers as the main reasonfor practicing such pattern of pesticide use. Therefore, risk factor should be used as an important criterion for assessing the feasibility of IPM components. Considering the IPM system that is mostly effective if members of acommunity agree to coordinate their practices, this study also suggested to strengthen the existing farmer groupsprior to the dissemination of various IPM components.Key words: Research; Integrated pest management; Intercropping; Farming; Risk.
 
 2
Potensi dan peluang ekonomi komoditas cabai memotivasi petani untuk mengusahakankomoditas tersebut secara lebih intensif. Kendala sumberdaya lahan yang tercermin dari sempitnya luaslahan garapan cenderung mendorong petani menggunakan masukan berlebih untuk memacuproduktivitas usahatani (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Khusus untuk penggunaan pestisida, pengeluaranyang dialokasikan oleh petani cabai merah di daerah Kemurang Kulon (Brebes) dapat mencapai 51% daritotal biaya produksi (Basuki, 1988). Sebagian besar petani di daerah Brebes dan Tegal jugamencampurkan 3 atau 5 macam pestisida dengan konsentrasi penggunaan 2 atau 3 kali lipat darirekomendasi. Volume penyemprotan yang tinggi (600-1900 l/ha) disertai pula dengan intervalpenyemprotan 2 atau 3 hari sekali (Sastrosiswoyo dan Suhardi, 1988). Sementara itu, penggunaanpestisida berlebih diduga dapat menimbulkan resistensi hama sasaran dan resurgensi hama sasaran.Petani pada umumnya memiliki pengetahuan yang tidak sempurna (
imperfect knowledge
) padasaat mengambil keputusan mengenai kapan dan bagaimana menggunakan pestisida (Norgaard, 1976).Persepsi yang kurang tepat mengenai perkembangan harga masukan dan luaran, harapan/ramalan yangmeleset mengenai hasil panen serta pemahaman yang kurang baik tentang teknologi budidaya adalahsebagian faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ketidak-efisienan penggunaan pestisida. Konse-kuensi dari keterbatasan pengetahuan tersebut adalah timbulnya kecenderungan penggunaan pestisidaoleh petani yang semata-mata ditujukan untuk kepentingan asuransi (Mumford, 1981; Carlson, 1970).Menyadari dampak negatif kecenderungan ini terhadap aspek ekologis maupun ekonomis, pemasyara-katan program pengendalian hama terpadu sayuran dataran rendah di tingkat petani dirasakan sangatmendesak untuk segera ditangani.Filosofi pengendalian hama terpadu telah diterima secara luas di kalangan para peneliti danpengambil kebijakan, namun demikian penerapannya di tingkat petani masih tergolong rendah (Norton,1982). Program pengendalian hama terpadu di Indonesia memberikan penekanan pada peranan kunciyang dipegang oleh petani (Baharsjah dan Rasahan, 1994). Agar kapasitas sistem PHT selalu dapatmenyesuaikan diri dengan perubahan kondisi/situasi serta peningkatan kompleksitas ekonomis,agronomis dan ekologis, maka pengembangannya harus selalu mempertimbangkan perkembanganpengetahuan dan ketrampilan petani. Oleh karena itu, penerapan konsep PHT perlu diawali denganmenghimpun informasi mendalam tentang lingkungan produksi usahatani.Lingkungan produksi usahatani tidak saja berpengaruh terhadap keputusan petani dalammenentukan teknologi yang sekarang sedang digunakan, tetapi juga berkaitan erat respon petaniterhadap perubahan-perubahan teknologi. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan produksi alami,ekonomi eskternal, ketersediaan sumberdaya, sasaran petani, interaksi sistem usahatani, deskripsiteknologi budidaya dan identifikasi faktor-faktor kendala. Informasi dasar ini perlu dihimpun dan dikajisebagai langkah awal upaya penerapan PHT beserta komponen teknologi pendukungnya di tingkatpetani. Pada dasarnya, usaha untuk mengadaptasikan teknologi tertentu dalam suatu sistem usahatani(
farming system
) yang kompleks merupakan langkah yang lebih bijaksana dan lebih mudah ditempuh,dibandingkan dengan meminta kesediaan petani untuk mengubah sistem usahataninya agar dapatmengakomodasi suatu teknologi baru (Rhoades, 1984). Berkaitan dengan kebutuhan pengembanganteknologi pengendalian hama terpadu, diduga cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yangdiusahakan secara intensif (
high cost input 
) dan menekankan penggunaan metode kimiawi dalammengendalikan hama penyakit.Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun informasi dasar usahatani cabai dan mengidentifikasipotensi serta kendala pengembangan sistem PHT.
 
 3
METODE PENELITIAN
Pemilihan lokasi dan responden penelitian :Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagaisentra produksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ketahun. Kabupaten Cirebon dan Majalengka terpilih mewakili ekosistem dataran rendah, sedangkankabupaten Garut mewakili ekosisten dataran tinggi. Target populasi penelitian ini adalah petani yangmenanam cabai dari tahun ke tahun. Petani responden dipilih secara acak dan ukuran contoh ditetapkandengan formula Krejcie dan Morgan (1970), sehingga diperoleh responden sebanyak 60 orang untuksetiap lokasi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 1995 sampai bulan Pebruari 1996.Pengumpulan data :Data yang diperlukan diperoleh melalui survai multidisiplin. Pendekatan ini dipilih untukmemperoleh gambaran kualitatif dan kuantitatif mengenai lingkungan, pelaku dan keragaan usahatanicabai. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survai pendahuluan -- penjelesaianperijinan, pemilihan lokasi dan responden, uji coba kuesioner dan pengumpulan data sekunder, serta (b)survai utama -- menghimpun data primer melalui penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaan yang disusunterutama mencakup: (a) karakteristik petani responden, (b) aspek budidaya dan pola tanam, (c) masukandan luaran usahatani, (d) struktur biaya pendapatan, (e) lingkungan produksi alami, (f) lingkunganproduksi ekonomi, (g) ketersediaan sumberdaya, (h) kelembagaan dan (i) kendala sistem produksi.Untuk memperoleh konfirmasi data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompokdengan orang kunci (penyuluh, kontak tani, dsb) juga dilaksanakan. Analisis data :Data yang dihimpun dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dianalisis secara deskriptif (tabulasi).Sementara itu, data yang berasal dari respon pertanyaan-pertanyaan terbuka diolah dengan mengguna-kan analisis isi.
HASIL DAN PEMBAHASANKarakteristik Petani Responden
Kisaran usia 41-60 tahun ternyata mendominasi struktur umur petani responden (> 50%) diketiga lokasi penelitian. Di lain pihak, struktur umur muda (20-30 tahun) menunjukkan persentase yangrendah (< 15%). Penelitian terdahulu menunjukkan adanya inkonsistensi mengenai hubungan antara usiadengan tingkat adopsi. Sebagai contoh, Jamison dan Lau (1982) menemukan adanya hubungan positif antara usia dengan probabilitas adopsi, sedangkan Chinnappa (1980) membuktikan tidak adanyapengaruh peubah usia terhadap tingkat adopsi. Walaupun demikian, usia sasaran perubahan (petani)tampaknya masih perlu diperhatikan dalam merakit atau menyebarkan teknologi baru, terutama kemung-kinan interaksinya dengan peubah-peubah lainnya.Di ketiga lokasi penelitian, pendidikan formal dominan yang dimiliki petani responden adalahsekolah dasar (> 75%). Bahkan persentase petani responden yang tidak selesai sekolah dasar ternyata juga cukup tinggi (> 15%). Salah satu generalisasi yang diungkapkan oleh Rogers (1962) menyatakanbahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin cepat pula yang bersangkutan menerima

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Kaninumbaru liked this
cokie12345 liked this
Muh Afiq liked this
Muh Afiq liked this
De PriMa liked this
oentoro_doc7343 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->