3.
Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur
dalam Pasal 11 UUD1945
, yang kemudian diatur
dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan LuarNegeri
dan dijabarkan lebih lanjut dalam
UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional.
4.
UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastianhukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasionaloleh Pemerintah RI.
Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yangtercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional danKonvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telahberlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjianinternasional.
Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasionalIndonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari suduttata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2sebagai berikut:(a)HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungansistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluardan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan iniberkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN(transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalamlingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagaiHN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukanhubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori)(b)HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagaikeseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“di-inkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun denganmempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untukditerapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.
PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME?
5.Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukumnasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme,dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjianinternasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untukmengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yangdiratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan.Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikandasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang HubunganDiplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.
Komentar Prof. Swan Sik: