Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
36Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Status Perjanjian Internasional Dalam Tata Perundang-Undangan Nasional

Status Perjanjian Internasional Dalam Tata Perundang-Undangan Nasional

Ratings:

3.0

(1)
|Views: 14,615|Likes:
Published by Oktavia Maludin

More info:

Published by: Oktavia Maludin on Jul 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI PERJANJIAN INTERNASIONAL?- Damos Dumoli Agusman -AKIBAT HUKUM DI DALAM NEGERI PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL (TINJAUAN HUKUM TATA NEGARA)- Prof Dr. Bagir Manan, SH., M.CL. -PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945- Dr. Harjono, SH., M.CL. -STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN NTERNASIONAL DI DALAM HUKUM NASIONAL(PERMASALAHAN TEORITIK DAN PRAKTEK)- Prof. Dr. Ibrahim, SH., MH. -PRAKTEK PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM PUTUSAN HAKIM- Hj. Suparti Hadhyono -STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONALREPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA)- Prof. Dr. Mohd. Burhan Tsani, SH., MH. –
 
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi padaesensinya adalah konfirmasi.”
DAMOS DUMOLI AGUSMAN
APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASIPERJANJIAN INTERNASIONAL?
Pengesahan/Ratifikasi:Persetujuan atau Konfirmasi?
Globalisasi Hubungan Internasional dewasaini telah semakin meningkatkan persentuhandan interaksi antara Hukum Internasional danHukum Nasional di Indonesia. Interaksi kedua bidang hukum ini semakin mempertajam pertanyaan tentang arti lembaga “pengesahan”(ratifikasi, aksesi,
acceptance
,
approval 
) dalamkaitannya dengan status PerjanjianInternasional dalamHukum Nasional Republik Indonesia. Dari tataran teoritis dan praktis, pengertianlembaga pengesahan/ratifikasiternyata dipahami secara berbeda oleh kalangan ahliHukum Tata Negara danoleh ahli HukumInternasional. Lembaga pengesahan/ratifikasi itusendiri pada hakekatnya berasal dari konsepsiHukum PerjanjianInternasional yang selaludiartikan sebagai tindakan‘konfirmasi’ dari suatu Negara terhadap perbuatan hukum dari pejabatnya yang telahmenandatangani suatu perjanjian sebagai tanda persetujuan untuk terikat pada perjanjian itu.Dari sisi Hukum Perjanjian maka ratifikasi pada esensinya adalah konfirmasi. Konfirmasiini dibutuhkan karena pada era permulaan berkembangnya Perjanjian Internasionalmasalah komunikasi serta jarak geografis antar  Negara merupakan faktor yang mengharuskanadanya ruang bagi setiap Negara untumengkonfirmasi setiap perjanjian yang telahditandatangani oleh pejabatnya. Namundemikian, lembaga ini pada perkembanganselanjutnya juga mulai dikenal dan berkembang dalam hukum ketatanegaraansetiap Negara yang digunakan untuk objek yang sama yaitu Perjanjian Internasional.Lembaga pengesahan/ratifikasi dalam hukumketatanegaraan selalu diartikan sebagaitindakan persetujuan oleh suatu organ Negaraterhadap perbuatan Pemerintah untuk membuat perjanjian atau konfirmasi organ tersebutterhadap penandatanganan suatu perjanjianoleh Pemerintahnya.Bertolak dari perbedaan disiplin hukumtentang pengesahan/ratifikasitersebut diatas, makasecara tradisional, pengesahan/ratifikasiPerjanjian Internasionalselalu dilihat dari dua perspektif prosedur yangterpisah namun terkait,yaitu Prosedur Internal(Nasional) dan Prosedur Eksternal (Internasional).
Dari perspektiProsedur Internal, pengesahan/ratifikasiPerjanjian Internasional adalah masalahHukum Tata Negara, yaitu Hukum Nasional Indonesia yang mengatur tentang kewenangan eksekutif danlegislatif dalam pembuatan PerjanjianInternasional serta mengatur produk Hukum apa yang harus dikeluarkan untuk menjadi dasar bagi Indonesia melakukanProsedur Eksternal.
Sedangkan dari perspektif Prosedur Eksternal maka pengesahan/ratifikasiPerjanjian adalah perbuatan hukum untuk mengikatkan diri pada suatu Perjanjian
 
“hukum tata Negara ri tanpa sengaja mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasisebagai “persetujuan dpr” bukan “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam pasal 11uud 1945. namun dalam praktek ketatanegaraan ri, yang kemudian ditafsirkan olehundang-undang no. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional, pengertianpersetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi dpr” ketimbang “persetujuan dpr”.”
Internasional dalam bentuk ratifikasi,aksesi, penerimaan dan persetujuan
.
(
Theinternational act so named whereby a Stateestablishes on the international plane itsconsent to be bound by a treaty)
yangdiatur oleh Hukum Perjanjian Internasional.Para perumus Konvensi Wina 1969 tentangPerjanjian Internasional (Komisi HukumInternasional) menyadari adanya perbedaan inidan bahkan mengakui bahwa kedua perspektif ini selalu membingungkan. Komisi secarategas menyatakan bahwa “
Since it is clear that there is some tendency for the international and internal procedures to be confused and  since it is only international procedures whichare relevant to international law of treaties, theCommission thought it desirable in thedefinition to lay heavy emphasis on the fact that it is purely the international act to whichthe terms ratification relate in the present article.”
1
 
 Namun demikian, sekalipunmembedakannya, relasi kedua prosedur inicukup jelas bagi Komisi. Pada bagian lain,Komisi menegaskan bahwa Prosedur Internalharus dipenuhi untuk dapat dilaksanakannyaProsedur Eksternal. Komisi lebih lanjutmenegaskan bahwa berlakunya perjanjianterhadap suatu Negara ditentukan olehProsedur Eksternal bukan Prosedur Internal.Jika dalam Prosedur Eksternal pengertian pengesahan/ratifikasi adalah “konfirmasi” dari Negara maka pada Prosedur Internal pengertianini dapat berupa:a.“Konfirmasi”, yaitu organ Negara seperti parlemen memberikan konfirmasi terhadap perbuatan Pemerintah yang telahmenandatangani suatu perjanjian, atau b.“Persetujuan”, yaitu organ Negara seperti parlemen memberikan persetujuan terlebihdahulu terhadap perjanjian yang akanditandatangani oleh Pemerintah.Hukum Tata Negara RI tanpa sengajamengartikan lembaga pengesahan/ratifikasisebagai persetujuan DPRbukan
1
ILC Draft Articles on the Law of Treaties and Commentaries
, AJILVol 61, Jan 1967, hal. 285-294
“konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam Pasal11 UUD 1945.
2
  Namun dalam prakteketatanegaraan RI, yang kemudian ditafsirkanoleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000tentang Perjanjian Internasional, pengertian persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasiDPRketimbang “persetujuan DPR”. Itulahsebabnya pasal ini masih menyisakan pertanyaan mendasar tentang “apakah DPharus terlibat membuat perjanjian sebelumditandatangani atau hanya terlibat setelah perjanjian ditandatangani oleh Pemerintah?”Dalam hal ini perbedaan pengertian“persetujuandengan “konfirmasi” padalembaga pengesahan/ratifikasi menjadi sangatrelevan. Permasalahan ini tentunya akan sangatterkait dengan persoalan wewenang membuat perjanjian, apakah wewenang eksklusieksekutif atau tidak.Undang-Undang No. 24 Tahun 2000tentang Perjanjian Internasional per definisihanya mengatur tentang pengesahan/ratifikasidalam perspektif Prosedur Eksternal sehingga berkarakter “konfirmasi”, yaitu perbuatanhukum untuk mengikatkan diri pada suatuPerjanjian Internasional dalam bentuk ratifikasi
(ratification),
aksesi
(accession),
 penerimaan
(acceptance)
dan penyetujuan
(approval).
 Namun demikian Undang-Undang ini jugamengatur tentang persyaratan internal(pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undangatau Perpres) sebagai dasar konstitusionaluntuk dapat melakukan pengesahan/ratifikasidalam perspektif eksternal. Dalam Undang-Undang dan praktek Indonesia, untuk Prosedur Eksternal (yaitu penerbitan
notification
atau
instrument of ratification/ accession acceptance/approval 
oleh Departemen Luar  Negeri) hanya dapat dilakukan setelahProsedur Internal terpenuhi. Akibatnya, secara
2
Pasal 11 UUD 1945:1)Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyatmenyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain.2)Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yangmenimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupanrakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/ataumengharuskan perubahan atau pembentukkan undang-undangharus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.3)Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatudengan undang-undang.

Activity (36)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Morizz liked this
Azzahra Supriadi liked this
Satria Akp liked this
Morizz liked this
Tria F Faisal liked this
Karina Nurindah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->