yang mencoba menjembatani antara praktik dan teori dalam bidang pendidikan (Dimyati,2000:171-172).
Action research
merupakan penelitian tentang suatu realitas sosial dan bermaksud untuk melakukan perbaikan fenomena realitas sosial. Dalam model penelitian ini,si peneliti bertindak sebagai
observer
sekaligus sebagai
partisipan. Action research
sebagai salah satu metode penelitian mempunyai ciri sebagai berikut(1) sebagai suatu kegiatan perbaikan yang merupakan suatu program berdasarkan penelitian,(2) pelaku kegiatan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu pelaku penelitian yang berusaha mendapat “teori mendasar” dan kelompok petugas yang bertugas sehari-hari didalam lembaga yang bersangkutan, (3) berusaha mengumpulkan informasi tentang sistem perilaku maupun komponen dalam kegiatan yang lengkap dan manfaat dalam perbaikansosial, (4) berusaha untuk dapat menyusun tipe perilaku (tindakan) umum yang bermanfaatdalam perbaikan sosial, (5) merupakan alat untuk membuat masyarakat sadar akan kekuatanyang mereka miliki secara utuh dan rinci, (6) menghasilkan laporan yang berisi tentang data perilaku, konsep, dan teori “mendasar” awal yang berisi sifat kronologis, dan (7) a
ctionresearch
menghasilkan dua faedah ganda, yaitu yang pertama adalah lembaga yang menjadisasaran penelitian dapat tumbuh menjadi lembaga perbaikan realitas sosial dan yang keduaadalah pelaku penelitian memperoleh pengertian mendalam tentang realitas sosial yangmereka teliti (Dimyati, 2000: 175-176).Tujuan
action research
adalah melakukan perbaikan realitas sosial berdasarkan datakualitatif yang telah diperoleh dan berdasarkan pendekatan non-positivistik. Metode yangsering digunakan adalah studi dokumentasi, observai dan partisipasi observasi sertawawancara.
Action research
didahului oleh penelitian pendahuluan (eksplorasi) yang bertujuan untuk mendapatkan berbagai permasalahan lapangan dan berbagai kemungkinan pemecahannya. Penelitian pendahuluan ini menghasilkan suatu kesepakatan tentang permasalahan riil yang perlu segera diatasi serta desain
action
yang kemudian diubahmenjadi proposal perbaikan keadaan (Dimyati, 2000:176).Seorang peneliti bisa menyampaikan pemecahan masalah berdasarkan praktik setelahia memperhitungkan pola perilaku umum, adat, norma, dan sistem nilai yang berlaku dilapangan. Dalam praktiknya, peneliti dapat melakukan partisipasi observasi yang bergunauntuk menyusun rapor, namun peran peneliti terikat batasan-batasan, yakni (1) keterlibatanhanya sebatas memberikan pemecahan masalah, tidak ikut kompetisi, (2) tetap berpegang pada etika penelitian, tidak memihak, dan (3) peneliti sebagai pendorong pemecahanmasalah, tidak mengambil posisi pemimpin dalam masyarakat.3.
Kendala yang Dihadapi Guru untuk Melakukan PTK
Menurut Zubaidai (2000), sedikitnya ada lima kendala yang dihadapi guru untuk melakukan PTK.
Pertama,
kendala yang berhubungan dengan lemahnya pemahaman konsepdan prinsip-prinsip PTK. Pihak yang mengalami kendala ini dapat dikelompokkan menjadidua, yaitu kelompok guru dan kelompok calon guru (masalah LPTK). Kelompok gurumemerlukan pembelajaran yang lebih intensif melalui berbagai pertemuan guru, sepertiMGMP tingkat sekolah dan pelatihan-pelatihan guru, baik proyek maupun swadana.Sedangkan untuk kelompok calon guru, perlu kiranya materi PTK dijadikan bagian dari matakuliah penelitian (dimasukkan dalam kurikulum LPTK).
Kedua,
kendala yang berhubungan dengan PTK sebagai strategi pengembangan profesi guru. Mengingat pentingnya PTK sebagai strategi pengembangan profesi guru, perlukiranya pihak-pihak kakanwil/kakandep Dikbud menginstruksikan agar setiap unit pelaksana3
Leave a Comment
Bagus....
these are very good
aku minta artikel yamh ni bisa gak??? kalo boleh kirim ke e-mailku andra_galih87@yahoo.com terima kasih