Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal

Makalah Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal

Ratings: (0)|Views: 55|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Oct 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

 
Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam@2007 
1
Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam
Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisriStainta 2007 
Pengantar
Pemahaman tentang politik ekonomi negara Islam sangat diperlukan untuk memahmai politik ekonomi kebijakan fiskal Islam. Sebab politik ekonomi merupakangaris kebijakan ekonomi yang melandasi kebijakan-kebijakan ekonomi negara sepertihalnya kebijakan fiskal. Menurut an-Nabhani, politik ekonomi merupakan tujuanyang ingin dicapai oleh hukum-hukum yang dipergunakan untuk memecahkanmekanisme mengatur urusan manusia.
1
Jadi politik ekonomi dalam kebijakan fiskalmeliputi dua hal, yaitu (a) hukum-hukum yang dipergunakan, dan (b) tujuan yangingin dicapai dengan hukum-hukum tersebut.Dari sisi tujuan hukum, tujuan kebijakan fiskal Islam tidak dapat dilepaskandari tujuan syariat Islam. Muhammad Husain Abdullah menyebutkan ada delapantujuan luhur syariat Islam, yaitu; memelihara keturunan, akal, kemuliaan, jiwa, harta,agama, ketentraman/keamanan, dan memelihara negara.
2
Sementara itu dalamkonteks kebijakan keuangan negara, Zallum sangat menekankan bahwa kebijakankeuangan negara Islam bertujuan untuk mencapai kemaslahatan
3
kaum Muslimin,memelihara urusan mereka, menjaga agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi,tersebarnya risalah Islam dengan dakwah dan jihad fi sabililillah.
4
 
1
Taqiyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam, (An-Nidlam al-Iqtishadi fil Islam), alih bahasa Moh. Maghfur Wachid, cet. v, (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hal. 52. Pendapatsenada juga dikemukakan oleh Abdurrahman al-Maliki dalam bukunya “Politik Ekonomi Islam (terjemahan)”.Menurut al-Maliki, politik ekonomi merupakan target yang menjadi sasaran hukum-hukum yang menanganipengaturan perkara-perkara manusia. (Lihat Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam, (As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla), alih bahasa Ibnu Sholah, cet. i, (Bangil: Al-Izzah, 2001), hal. 37.
2
Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam, (Dirasat fi al-Fikri al-Islami), alihbahasa Zamroni, cet. i, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), hal. 80.
3
Dengan adanya tujuan mencapai kemaslahatan atau kebaikan bagi kaum Muslimin, bukan berartikemaslahatan menjadi tolak ukur kebijakan fiskal. Tetapi yang dimaksud dengan kemaslahatan bagi kaumMuslimin adalah segala hal yang menurut syara’ baik bagi umat, dan untuk mencapai kemaslahatan tersebutkebijakan fiskal yang ditempuh harus didasarkan kepada syara’ itu sendiri bukan didasarkan kepada kemaslahatan.
4
Lihat Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan di Negara Khilafah, (Al Amwal fi Daulah Al Khilafah),cet. i, alih bahasa Ahmad S. dkk, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), hal. 4, 5, 13, 14, 28, 30, 34, 36, 50, 67,138, ,139.
 
Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam@2007 
2Menurut an-Nahbani dan al-Maliki, politik ekonomi Islam adalah jaminanatas pemenuhan seluruh kebutuhan pokok (al-hajat al-asasiyah/basic needs) bagisetiap individu dan juga pemenuhan berbagai kebutuhan sekunder dan luks (al-hajatal-kamaliyah) sesuai kadar kemampuan individu bersangkutan yang hidup dalammasyarakat tertentu dengan kekhasan di dalamnya.
5
Dengan demikian titik beratsasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada permasalahanindividu manusia bukan pada tingkat kolektif (negara dan masyarakat).
6
Menurut al-Maliki, ada empat perkara yang menjadi asas politik ekonomi Islam. Pertama, setiaporang adalah individu yang memerlukan pemenuhan kebutuhan. Kedua, pemenuhankebutuhan-kebutuhan pokok dilakukan secara menyeluruh (lengkap). Ketiga, mubah(boleh) hukumnya bagi individu mencari rezki (bekerja) dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan dan meningkatkan kemakmuran hidupnya. Keempat, nilai-nilai luhur (syariat Islam) harus mendominasi (menjadi aturan yang diterapkan)seluruh interaksi yang melibatkan individu-individu di dalam masyarakat.
7
 Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa politik ekonomikebijakan fiskal Islam adalah menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warganegara (Muslim dan non Muslim/kafir dzimmi) dan mendorong mereka agar dapatmemenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kemampuanyang mereka miliki. Politik ekonomi inilah yang menjadi garis dasar kebijakan fiskalIslam dan akan sangat terlihat dalam fungsi alokasi dan distribusi.Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal KonvensionalBerbeda dengan politik ekonomi kebijakan fiskal Islam, politik ekonomikebijakan fiskal konvensional seperti yang diterapkan di Indonesia menempatkanpertumbuhan ekonomi sebagai asas atau sasaran yang harus dicapai perekonomiannasional.
8
Dalam pembahasan RAPBN hingga menjadi APBN antara pemerintah dan
5
Taqiyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif…, hal. 52. Abdurrahman al-Maliki,Politik Ekonomi Islam, hal. 37.
6
Taqiyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi…, hal. 53. Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam, hal 37.
7
Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam, hal. 37.
8
Revrisond Baswir dkk, Pembangunan tanpa Perasaan: Evaluasi Pemenuhan Hak Ekonomi Sosial danBudaya, cet. ii, (Jakarta: ELSAM, 2003), hal. 2-3.
 
Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam@2007 
3DPR, termasuk pandangan para pengamat ekonomi, salah satu isu sentralnya adalahpertumbuhan ekonomi. Misalnya, mantan Menteri Keuangan Boediono dalam RakerKomisi IX DPR-RI tanggal 4 Mei 2004 menyatakan keyakinannya sasaranpertumbuhan ekonomi 4,8% untuk periode tahun 2004. Boediono memprediksikanpada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,0%–5,5%. Ia optimis angkapertumbuhan tersebut dapat dicapai dalam tahun mendatang.
9
Sementara itu dalampidato kenegaraan Presiden RI di hadapan DPR pada tanggal 18 Agustus, mantanPresiden Megawati menyatakan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi yangmendasari RAPBN 2005 adalah 5,4%.
10
 Adapun argumentasi pemerintah, DPR, dan pengamat ekonomi yangmenempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai sasaran utama kebijakan fiskal (dalamkerangka lebih luas kebijakan makro ekonomi), yaitu untuk menuntaskan berbagaipermasalahan krusial ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran. Misalnya,Boediono menekankan seandainya angka pertumbuhan ekonomi 5,0% - 5,5% dapatdicapai, tingkat pertumbuhan sebesar itu masih belum memadai untuk mengurangikemiskinan dan pengangguran di Indonesia.
11
Maksudnya, agar kemiskinan danpengangguran dapat dikikis secara berarti diperlukan pertumbuhan ekonomi yanglebih tinggi. Pendapat serupa juga dikemukakan mantan Menko PerekonomianDorodjatun, bahwa untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran diperlukanpertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dorodjatun mencontohkan untuk menampungtenaga kerja baru sebanyak 2,5 juta orang dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar7%.
12
Hanya saja untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi pemerintahharus realistis. Ketua Panitia Anggaran DPR, Abdullah Zainie berpendapat angka
9
Boediono, Keterangan Menteri Keuangan tentang Rencana Kerja Pemerintah, Kerangka EkonomiMakro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2005, http://www.fiskal.depkeu.go.id
10
Central for Banking Crisis Indonesia, Defisit Anggaran RAPBN 2005 Rp 16,9 Trilyun, 16 Agustus2004, http://www.cbcindonesia.com
11
Boediono, Keterangan Menteri Keuangan.
12
Gatra Online, Djatun: Empat Langkah Kurangi Kemiskinan, 17 Oktober 2003, http://www.gatra.comMenurut perhitungan FE UI yang dikemukakan oleh Khatib Basri, dalam beberapa tahun terakhir setiappertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen akan menyerap 200 – 250 ribu tenaga kerja. Berdasarkan perhitungan ini,pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45% hanya akan menyerap 1.090.000 – 1.350.000 tenaga kerja. (Lihat M. KhatibBasri, Kembali ke Dasar Prinsip Ekonomi, 5 Juli 2004, http://www.kompas.com) Menurut Mubyarto, hubunganpertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan tidak lurus dan tidak konsisten. (Lihat Mubyarto, Kemiskinan,Pengangguran, dan Ekonomi Indonesia, 4 Agustus 2003, http://www.ekonomipancasila.org)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->