Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
26Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahtera Dakwah Salafiyah Di Indonesia

Bahtera Dakwah Salafiyah Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 1,035 |Likes:
Published by abu abdirrahman
dakwah salafiyah, dakwah salaf, dakwah salaf di indonesia, salafy, salafi, salafushshalih
dakwah salafiyah, dakwah salaf, dakwah salaf di indonesia, salafy, salafi, salafushshalih

More info:

Published by: abu abdirrahman on Jul 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

 
1
Bahtera Dakwah Salafiyah di Lautan Indonesia 
September 19th, 2005 10:32 am (Nasehat
 
)Risalah ini merupakan tulisan ustadz kami, ustadz Arifin Badri
- hafidhohullahu-
. Beliaumerupakan seorang penuntut ilmu yang sekarang sedang mengambil studi Doktor (S3) diUniversitas Islam Madinah, Madinah, Arab Saudi.Risalah ringkas ini mencoba mengulas satu sisi kecil fenomena bahtera dakwah salafiyah di negeriini. Tulisan ini tidak hanya sekedar bercerita, akan tetapi berisikan nasehat yang sangat bergunabagi kita para penuntut ilmu, bahkan bagi orang yang awam sekalipun. Semoga kita semua dapatmengambil pelajaran dari risalah ini dan menerima setiap kebenaran yang tampak di hadapan kita.
Judul Asli :
Bahtera Dakwah Salaf di Lautan Indonesia*
Penulis :
Ustadz Arifin Badri, Lc., MA.Adalah sikap yang bijak dalam segala urusan, bila kita selalu mengevaluasi setiap perbuatan dansikap yang pernah kita lakukan, guna mengembangkan keberhasilan dan meluruskan kesalahan,sehingga hari-hari kita selalu bertambah baik, bila dibanding hari-hari sebelumnya. Dan padakesempatan ini, saya mengajak semua orang yang berkepentingan dengan dakwah salafiyyah diindonesia untuk sedikit
menoleh
kebelakang, guna menilik kembali, lalu mengevaluasi perjalanandakwah islamiyyah ini.Umar bin Khatthab rodhiallahu’anhu pernah berkata, yang artinya :
 Bermuhasabahlah (introspeksi dirilah) sebelum kalian dihisab (Riwayat At-Tirmizi dan Ibnu AbiSyaibah).
 Hal ini saya anggap penting dan sangat mendesak untuk bersama-sama kita lakukan, karena sayamerasa, dan setiap orang telah merasakan adanya berbagai aral dan berbagai badai yang sedangmenerpa bahtera dakwah ini.Bahkan pada akhir-akhir ini semakin banyak badai dan ombak yang menerpa, bila tidak segeradiluruskan laju bahtera ini, saya takut akan oleng dan tenggelam.Sungguh indah dan tepat sekali permisalan yang telah diberikan oleh Rasulullahshollallahu’alaihiwasallam, tatkala beliau bersabda:Artinya:
Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan (syariat) Allah dan orang-orang yangmelanggarnya, bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal / bahtera, sehinggasebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal tersebut, dan sebagian lainnyamendapatkan bagian bawahnya, sehingga yang berada dibagian bawah kapal bila mengambil air,maka pasti melewati orang-orang yang berada diatas mereka, kemudian mereka berkata:seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada diatas kita. Nah apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa, dan bila mereka mencegah
 
2
orang-orang tersebut, niscaya mereka telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan merekasemuapun akan selamat (HR. Bukhori).
 Bila kita amati dan renungkan realita dakwah salaf di negeri kita, kita akan melihat adanya berbagaikekurangan yang mesti dibenahi, dan menurut hemat saya, ada enam permasahan yang sepututnyakita pikirkan bersama, kemudian kita bersama-sama mencarikan solusi baginya, keenampermasalahan tersebut adalah :1.
 
Tidak sistematis dalam belajar dan mengajar.2.
 
Sikap tidak jujur terhadap diri sendiri.3.
 
Kedudukan uang transportasi bagi seorang da’i.4.
 
Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliran-aliran) yangberseberangan dengan Ahlus sunnah wal jama’ah.5.
 
Ketidak mampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan argumentasi lawan.6.
 
Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan para ulama’.Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan keenam permasalahan tersebut satu persatu :
Tidak Sistematis Dalam Belajar dan Mengajar
 Bila kita membaca nasehat-nasehat para ulama’ -baik ulama’ terdahulu maupun ulama’ zamansekarang- dalam perihal menuntut ilmu, maka kita akan dapatkan mereka menganjurkan kita untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan kemudian yangkurang penting dan seterusnya, ini yang disebut dalam bahasa arab . Sehinggasetiap orang yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu, maka dia harus bisa memilah, ilmu apa yangpaling penting dan paling mendesak untuk ia pelajari, maka dengan ilmu itulah ia memulai belajar.Dan setelah ia mengetahui ilmu yang paling penting, lalu iapun harus bisa memilah-milahpembahasan-pembahasan ilmu tersebut, sehingga ia harus mendahulukan hal-hal prinsip dalam ilmutersebut, sebelum ia mempelajari hal-hal lainnya.Sebagai contoh, ilmu yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim, adalah ilmu tauhid,maka ilmu inilah yang pertama kita pelajari. Dan ketika kita hendak memulai belajar ilmu tauhid,maka kita harus tahu, dari bagian ilmu tauhid yang mana kita harus memulai? Apakah kita mulaidari mempelajari permasalahan tauhid uluhiyyah, ataukah tauhid rububiyyah, ataukah tauhid asma’was shifat?Mungkin ada yang berkata, “Bagaimana, saya bisa melakukan hal ini, sedangkan saya adalahpemula atau orang awam, yang belum tahu apa-apa?”. Nah inilah sumber permasalahan yang inginsaya tekankan. Sebagai tholibul ilmi pemula, terlebih-lebih masyarakat awam, tentunya ia tidak akan mampu melakukan hal ini dengan sendiri, oleh karena itu, disini datanglah peran paraasatidzah dan du’at, mereka dituntut untuk mengarahkan dan membimbing murid-murid mereka,masing-masing disesuaikan dengan kemampuannya. Nah, kewajiban inilah yang saya rasa telahbanyak dilalaikan oleh para asatidzah dan du’at-du’at kita, sehingga terjadilah kekacauan, danberbagai fitnah di masyarakat.Sabda Rasululllah Shollallahu’alaihiwasallam, yang artinya:
 Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami,apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan. (Diriwaratkan oleh Imam Bukhori tanpamenyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdadydalam kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).
 
 
3Sebagai contoh nyata, pada kurang lebih 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksimahasiswa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah ), berkumpullah sekitar 50 orang thullabulilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah –termasuk saya sendiri- menghubungi beberapasyeikh yang sedang menjalankan test muqabalah tersebut, guna memohon agar sebagian merekasudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji e 50 tkhullab tersebut.Alhamdulillah, salah seorang syeikh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syeikhtersebut bernama ”Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqiil”, dan ketika beliau sudah tibadipesantren yang dimaksud, maka beliau langsung menguji ke 50 thullab satu demi satu. Diantarapertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :
“Sebutkan rukun-rukun sholat!”
.Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban,walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memberanikandiri untuk menjawab, dan berkata ”Diantara rukun sholat adalah berwudlu sebelumnya”. Syeikhtersebut kemudian bertanya kepada salah seorang mereka, ”Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid’ahataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata “Ahlul bid’ah lebihkafir dibanding yahudi”. Tatkala syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawabantersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini, danberkata: ”Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf?!, siapakah yang mengajari kaliandemikian?!.Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramahdan berkata: “Sesungguhnya syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqiil telah dipengaruhioleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yangrumit”.Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukunsholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ahbanyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran???Contoh lain, beberapa saat lalu, ramai terjadi fitnah antara masyarakat dengan syabab yang telahkenal pengajian salaf, dalam masalah beradzan diluar masjid, iqomah tanpa menggunakan pengerassuara, menentukan waktu-waktu shalat dengan menggunakan matahari, mengenakan pakaian gamisdi lingkungan yang tidak kenal gamis, seperti di kampus, dll.Contoh lain, setiap kali sampai ke Indonesia sebuah kitab baru, terutama yang ditulis oleh ulama’-ulama’ zaman sekarang, seperti Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi, Ali Hasan, Masyhur HasanSalman, atau yang lainnya, kita langsung ramai-ramai membacakan kitab tersebut, dan marak diadakan daurah-daurah membahas kitab tersebut, dan tatkala ada kitab baru lagi, maka kitapunramai-ramai pindah ke kitab tersebut, dan begitulah seterusnya. Bukan berarti tidak dibenarkanuntuk membaca kitab tersebut, akan tetapi, sistematis dalam belajar dan mengajar harus tetapdijaga.Contoh lain, tatkala ada salah seorang dari ustadz, atau da’i yang sedang ditahzir, maka disetiapkota, dan setiap majlis, pembicaraan dan materi kajiannyapun berhubungan dengan ustadz tersebut,baik yang pro ataupun kontra, sibuk dengan isu seputar permasalahan tersebut, dan melailaikanilmu.Sikap yang tidak punya pendirian ini, bagaikan buih lautan yang diombang-ambingkan oleh angin,kemana angin berhembus, maka kesanalah buih menuju. Oleh karena itu tidak heran kalau keilmuanyang terbentuk dari cara pendidikan dan dakwa seperti ini, tidak kokoh, sebagaimana lemahnyabuih lautan yang tidak pernah tetap pada sebuah pendirian.

Activity (26)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
joko_tm02 liked this
munirmusa liked this
B'MAZ liked this
canicacu liked this
Riza Fahlefi liked this
Nera Il Kobah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->