ayah meninggalkan kami tanpa kabar berita, kuberanikan juga diri ini untuk menanyakanhal ini pada ibu. Sungkan rasanya aku bertanya soal ayah lagi, bagiku ayah sudah tiada.Entah benci pada sosok seorang ayah seperti ayahku, entah juga berusaha menganggapayah tidak ada dalam garis kehidupan kami. Sebenarnya dengan menanggung bebanseberat ini membuatku lebih dewasa dari usiaku saat itu. Semenjak umur 10 tahun tak jarang aku membantu ibu berjualan gorengan di sore hari di stasiun kereta api, tak jarangdikejar preman dan dipalak, setelah itu ibu sangat khawatir membiarkanku berjualan distasiun, sebagai gantinya aku menitipkan sebagian daganganku di warung-warung dekatrumah. Dari rumah ke rumah menawarkan jasa jahitan ibu, berharap mendapat pelangganuntuk ibu. Kalau ku ingat perjuanganku untuk sekolah dulu mungkin tidak sebandingdengan perjuangan anak-anak di
Laskar Pelangi
menanggung beban yang berat, namunitulah hidup tak pernah dikira-kira. Rasa sakit ibu yang bertahun-tahun mengajarkan akuuntuk lebih menghargainya dari apapun. Bahkan mengutamakan perasaannya daripada perasaanku sendiri. Aku hanya ingin ibu bahagia dalam panjangnya rona derita hidupnya,aku hanya ingin ibu selalu tersenyum walaupun ku tahu dalam senyumnya masih tersisaluka./“Ibu,..Saat ayah pergi dulu, mengapa ibu tak menahannya??”/ sedikit gugup kutanyakanhal ini pada ibu, aku khawatir jika lukanya kembali terasa perih sekali./”Asri, Apakah seseorang yang telah buta mampu melihat orang-orang di sekelilingnya??Tentu saja jawabannya tidak, mungkin matanya buta namun hatinya tidak, dia masih bisamerasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Saat ayahmu pergi, Ayahmu tidak butasama sekali, dia masih bisa melihat Ibu dan kamu. Namun Hatinya tidak di sini, hatinyadan pikirannya sudah melayang jauh untuk wanita lain. Lalu apa ada alasan lainmenahannya untuk tidak pergi??//Aku terenyuh dengan jawaban ibu, sebenarnya aku menyesal menanyakan masalah ayah pada ibu lagi, aku yakin hatinya sangat sakit. Aku terbiasa merasakan perubahan emosiibu dan kepedihan yang ibu rasakan, aku ingat malam itu ayah melangkah keluar rumahdengan tas besar berisi semua baju-bajunya. Ibu mengikutinya dari belakang sambilmenarik lengan ayah. Ibu menangis tapi tidak meraung-raung apalagi sambil berteriak,ibu terus saja memperingatkan ayah bahwa masih ada aku yang sangat membutuhkankasihsayang ayahnya./”Pak,..ingat Allah pak,..ingat anak kita Asri pak,..ibu terisak di samping ayah yang tidak memperdulikannya, sekarang aku baru tahu mengapa ibu mengingatkan ayah untuk tidak pergi demi aku. Seorang sahabatku berkomentar tentang kejenuhannya dengan banyaknya pemberitaan trend kawin cerai dalam dunia entertainment bahkan sudahmenjalar pada kita seperti virus yang menggerogoti diam-diam./”Jika orangtua bercerai, masing-masing dari ibu dan ayah bisa melaluinya dan tetap bisa
survive
, tapi anak yang menjadi korban cerai apa mereka bisa
survive
sepertiorangtuanya?? Rasanya tidak, kalaupun bisa tentu banyak dipengaruhi berbagai faktor misalnya perbedaan usia, waktu me
recovery
hatinya tentu akan relatif berbeda untuk
Add a Comment