• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
1 July 2009 | 12 komentar Kategori:Fiqh dan Muamalah
Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kitaMuhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telahmemasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulanRajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini,kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.
Rajab di Antara Bulan Haram
Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajabsebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,ُنيّدلا َكِلَذ ٌمُرُح ٌةَعَبْَأ َهْِ َضْَْاَو ِتاَوَسلا َقََخ َمْَي ِا ِَِ ِف اًرْهَش َرََ َْثا ِا َدْِ ِُهلا َدِ ِإ ْُَسُْَأ نِهِف اُِْظَ ََف ُّَْلا
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalamketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulanharam. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirikamu dalam bulan yang empat itu.”
(Qs. At Taubah: 36)Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah punmenciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan.Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai denganmunculnya hilal.Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukanoleh Ahli Kitab.”
(Latho-if Al Ma’arif 
, 202)
 
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi
 shallallahu ‘alaihiwa sallam
bersabda,ٌتَِلاََُ ٌةَثََث ، ٌمُرُح ٌةَعَبْَأ َهْِ ، اًرْهَش َرََ َْثا ُةَسلا ، َضْَاَو ِتاََسلا َقََخ َمْَي ِِَئْَهَ َاَدَْا ِدَ ُَزلا ََْعَشَو ىََُج َنْَب ىِلا َرَُ ُَجََو ، ُمرَُْلاَو ِةِْلا وُذَو ِَدْعَْلا وُذ 
“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit danbumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram(suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram.(Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) danSya’ban.”
(HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3)Muharram; dan (4) Rajab.
Di Balik Bulan Haram
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la
rahimahullah
mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama
, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orangJahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua
, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebihditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat
 Zaadul Maysir 
, tafsir surat At Taubah ayat 36)Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan,sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram.Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasadi dalamnya.” (
 Latho-if Al Ma’arif 
, 214)Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulanharam, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanyaakan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (
 Latho-if Al Ma’arif 
, 207)
Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?
Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebutyang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulanRajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnyamelemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam
 Latho-if Al Ma’arif 
(hal. 203).
 
Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab
Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukumyang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukumini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalahharamnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulanRajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudahdimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukumtersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diketahui dari satu orangsahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal adafaktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentangdihapusnya hukum tersebut.” (
 Lathoif Al Ma’arif 
, 210)Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan
‘atiiroh
atau
 Rojabiyyah
(karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak.Kebanyakan ulama berpendapat bahwa
‘atiiroh
sudah dibatalkan hukumnya dalamIslam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi
 shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,ََرِَ ََو ََرَف َ
“Tidak ada lagi faro’ dan ‘atiiroh.”
(HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976).Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akandisembahkan untuk berhala-berhala mereka.Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanyaada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab danmelakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atausemacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajabsebagai ‘ied.‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied(sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum musliminhanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘iedselain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,اًدْِ َِَي َ ْَِ ، ِّُ ٍَجَ ِمَِص نَ َهْَي ََ َو ِْََ ُا َص ِلا ََ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.”
(HR. ‘Abdur Rozaq, hanya sampai padaIbnu ‘Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dariIbnu ‘Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi
 shallallahu ‘alaihi wa sallam
)Ibnu Rajab
rahimahullah
mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaummuslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakanoleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...