Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
lap kir

lap kir

Ratings: (0)|Views: 482|Likes:
Published by veranova88

More info:

Published by: veranova88 on Aug 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2010

pdf

text

original

 
192
Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan 
Budi Daya Jagung dan Diseminasi Teknologi
M. Akil dan Hadijah A. Dahlan
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
PENDAHULUAN
Jagung menempati posisi penting dalam perekonomian nasional karenamerupakan sumber karbohidrat dan bahan baku industri pakan danpangan. Di samping bijinya, biomas hijauan jagung diperlukan dalampengembangan ternak sapi. Kebutuhan jagung dalam negeri untuk pakansudah mencapai 4,9 juta ton pada tahun 2005 dan diprediksi menjadi 6,6 juta ton pada tahun 2010 (Ditjen Tanaman Pangan 2006). Peluang ekspor semakin terbuka mengingat negara penghasil jagung seperti Amerika, Argentina, dan Cina mulai membatasi volume ekspornya karena kebutuhan jagung mereka meningkat.Penelitian oleh berbagai institusi pemerintah maupun swasta telah meng-hasilkan teknologi budi daya jagung dengan produktivitas 4,5-10,0 t/ha,bergantung pada potensi lahan dan teknologi produksi yang diterapkan(Subandi
et al 
. 2006). Produktivitas jagung nasional baru mencapai 3,4 t/ha(Hafsah 2004, Departemen Pertanian 2004). Salah satu faktor yangmenyebabkan besarnya senjang hasil jagung antara di tingkat penelitiandengan di tingkat petani adalah lambannya proses diseminasi dan adopsiteknologi. Berbagai masalah dan tantangan perlu diatasi dalam diseminasiteknologi. Teknologi yang didiseminasikan kepada petani pun harusmemenuhi sejumlah persyaratan. Selain itu, kebijakan pemerintah dalamhal diseminasi teknologi diperlukan untuk mendukung pengembanganagribisnis jagung.
TEKNOLOGI BUDI DAYA
Waktu Tanam dan Pola Tanam
Salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas jagung adalah penanaman yang sering tertunda. Pada lahan kering beriklimkering seperti di Nusa Tenggara Timur dengan curah hujan terbatas daneratik, penanaman jagung harus tepat waktu agar tanaman tidak mengalamikekeringan. Pada lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau, jagungsebaiknya ditanam segera setelah panen padi pada saat kondisi tanah masihlembab, dan sumur sebaiknya dibuat untuk menjamin ketersedian air bagi
 
193
Akil dan Dahlan 
: Budi Daya Jagung dan Diseminasi Teknologi 
tanaman. Pada lahan sawah irigasi dengan air terbatas, pola tanam padi - jagung - jagung dapat disarankan (Bahtiar 
et al.
2005).
Penyiapan Lahan
Di daerah dengan curah hujan terbatas, penanaman jagung tidak dapatditunda. Penundaan waktu tanam menyebabkan tanaman mengalamikekeringan atau bahkan gagal panen. Masalah yang dihadapi dalampenyiapan lahan adalah tanah yang keras pada saat kering, atau lengketpada saat basah. Dalam kondisi demikian, teknik tanpa olah tanah (TOT)dapat diterapkan.Cara penyiapan lahan sangat bergantung pada fisik tanah seperti tekstur tanah. Tanah bertekstur berat perlu pengolahan yang intensif. Sebaliknya,tanah bertekstur ringan sampai sedang dapat disiapkan dengan teknik olahtanah konservasi seperti olah tanah minimum (OTM) atau TOT. Keuntunganpenyiapan lahan dengan teknik olah tanah konservasi adalah dapatmemajukan waktu tanam, menghemat tenaga kerja, mengurangi pe-makaian bahan bakar untuk mengolah tanah dengan traktor, mengurangierosi, dan meningkatkan kandungan air tanah (FAO 2000). Budi daya jagungdengan teknik penyiapan lahan konservasi dapat berhasil baik pada tanahbertekstur ringan sampai sedang dan ditunjang oleh drainase yang baik(Lopez-Belido
et al 
. 1996). Pada tanah bertekstur ringan, sedang, dan berat,penyiapan lahan dengan sistem TOT dan gulma disemprot dengan herbisidaberbahan aktif glifosat sebanyak 3 l/ha, hasil jagung tidak berbedaantartekstur tanah. Di beberapa tempat, hasil jagung dengan teknologi TOTlebih baik dibanding teknik olah tanah sempurna (OTS) maupun OTM.Dalam budi daya jagung pada lahan sawah tadah hujan di Takalar,Sulawesi Selatan, teknik TOT memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingteknik OTS. Keunggulan teknik TOT di sini adalah mengurangi biaya untukpengolahan tanah dan pengairan. Hasil yang lebih tinggi dari teknik TOTdiperoleh pada kondisi lingkungan tumbuh tanaman yang lebih baik,tertama dari aspek kecukupan lengas tanah. Penanaman jagung denganteknik TOT lebih awal satu bulan dibanding OTS, sehingga sisa air setelahpadi dapat dimanfaatkan oleh tanaman jagung. Mundurnya waktupenanaman pada teknik OTS karena menunggu turunnya lengas tanahuntuk dapat diolah (Wahid
et al 
. 2002).
Varietas
Di antara komponen teknologi produksi, varietas unggul mempunyai peranpenting dalam peningkatan produksi jagung. Perannya menonjol dalam
 
194
Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan 
potensi hasil per satuan luas, komponen pengendalian hama/penyakit(toleran), kesesuaian terhadap lingkungan, dan preferensi konsumen.Kini telah banyak benih varietas unggul jagung yang dipasarkan. Darisegi jenisnya, dikenal dua jenis jagung yakni hibrida dan komposit (bersaribebas). Dibanding jenis komposit, jagung hibrida umumnya mempunyaikelebihan dalam hal potensi hasil yang lebih tinggi dan pertumbuhantanaman lebih seragam. Meskipun potensi hasilnya lebih rendah dibandinghibrida, jagung komposit unggul yang dilepas oleh Balai Penelitian TanamanSerealia (Balitsereal) berdaya hasil cukup tinggi, mencapai 7,6-8,4 t/ha.Kelebihan dari jagung komposit adalah produksi benihnya dapat dilakukandengan mudah oleh petani/kelompok tani. Dari beberapa varietas jagungkomposit yang dihasilkan Balitsereal, yang populer dewasa ini adalah Lamurudan Sukmaraga. Varietas Lamuru relatif toleran kekeringan. VarietasSukmaraga direkomendasikan pengembangannya pada tanah masam,termasuk lahan pasang surut. Varietas dengan mutu protein triptofan danlisin yang tinggi adalah Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1. Keduanyalebih sesuai dikembangkan pada daerah rawan gizi dan dapat puladigunakan untuk pakan ternak bukan pemamah biak (
monogastric 
) sepertiayam dan babi.Untuk lebih produktif dan berorientasi agribisnis, pengembangan jagungperlu dipadukan dengan upaya produksi biomas untuk pakan. Hal inisemakin penting artinya bagi wilayah-wilayah marginal, seperti agroeko-sistem lahan kering beriklim kering dan lahan sawah tadah hujan. Ada empatvarietas yang dapat menghasilkan biomas segar yang tinggi, pada umur 75hari setelah tanam (HST), yaitu Bima-1, Semar-10, Lamuru, dan Bisma (Akil2006).
Populasi dan Cara Tanam
Salah satu upaya untuk mendapatkan hasil optimum adalah mengatur populasi tanaman. Secara umum, kepadatan tanam anjuran adalah 66.667tanaman/ha. Ini dapat dicapai dengan jarak tanam antarbaris 75 cm, dan 20cm dalam barisan dengan satu tanaman per rumpun, atau jarak antarbaris40 cm dengan dua tanaman per rumpun. Bagi daerah yang kekurangantenaga kerja, jarak tanam dalam barisan 40 cm dengan dua tanaman per lubang lebih memungkinkan. Apabila penanaman jagung bertujuan untukproduksi biji dan sekaligus untuk biomas hijauan, kepadatan yang dianjurkanadalah 200.000-300.000 tanaman/ha dengan penanaman 3-4 benih per rumpun. Pemanenan secara berkala dilakukan selama 30-45 HST untukproduksi hijauan sambil menjarangkan tanaman hingga kepadatan 66.667tanaman/ha untuk produksi biji. Hal ini dianjurkan pada musim kemarau,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->