Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Isu

Isu

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 648 |Likes:
Published by K/l

More info:

Published by: K/l on Aug 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

 
REKONSTRUKSI KEBIJAKAN POLITIK DESENTRALISASIDAN OTONOMI DAERAH SERTA IMPLEMENTASINYAI.PENDAHULUAN
Masih dalam suasana memperingati hari kemerdekaanRepublik Indonesia, hari ini tanggal 22 Agustus 2008 kita hadir dalam rangka penyampaian RAPBN 2009 dengan agendaPembangunan Daerah. Peringatan kemerdekaan yang ke-63tahun ini sekaligus kita peringati pula bersamaan dengan satuabad Kebangkitan Nasional dan satu dekade Reformasi.Keseluruhan semangat peringatan itu melebur dalam satusemangat yaitu semangat kebangsaan, kebangkitan, kemajuandan kemandirian bangsa Indonesia.Satu abad yang lalu, di tahun 1908, bangsa inimendeklarasikan tekad untuk bangkit sebagai bangsa yangmerdeka, maju dan jaya. Selanjutnya, tahun 1928,
Jong Java,Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatera
serta segenappemuda dari berbagai daerah di bumi Nusantara dengansemangat kebangkitan, berikrar Sumpah Pemuda: Satu Nusa,Satu Bangsa dan Satu Bahasa yaitu Indonesia. Kemunculanpemuda-pemuda tersebut tidak lain merupakan refleksi politikdengan pijakan kedaerahan yang tersebar di KepulauanNusantara.Kebangkitan Nasional 1908 merupakan tonggak sejarahpenting yang membawa bangsa ini hadir dalam wujud sosoknegara bangsa. Selama kurun waktu dua puluh tahun yaitusejak 1908 hingga 1928, nilai-nilai kebangkitan
establish
menjadi etos kebangsaan yang digemakan dalam persatuanIndonesia untuk bangkit dari kungkungan penjajahan dankesadaran akan kebutuhan bersama akan perlindungan sertakeadilan dalam memperoleh hak pendidikan dan hakkesejahteraan ekonomi. Tujuh belas tahun kemudian, tahun1945, nilai-nilai kebangsaan itu semakin mantap dalam wujudnilai-nilai kesatuan yang diringi dengan kemampuan diplomasidan berorganisasi. Nilai-nilai kesatuan itu telah melahirkanNegara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus1945.
1
 
Sejarahpun berlanjut, pada Mei 1998, gerakan reformasi ditahun 1998 melakukan koreksi untuk menata kembaliperjalanan kehidupan berbangsa. Sebuah gerakan yangdilandasi semangat untuk mengkritisi paradigma pengelolaannegara yang sentralistik, tak demokratis, kurang menunjukkannilai-nilai keadilan dan kerakyatan. Yang diharapkan olehgerakan reformasi adalah agar negara atau pemerintahanterkelola dengan baik, hak-hak azasi manusia dapat terjamin,kualitas pelayanan masyarakat meningkat dalam iklim yangdemokratis, menuju negara kesejahteraan. Dalam kaitan itupula maka pilihan politik berdasarkan kehendak rakyat adalahdesentralisasi, dimana daerah harus menjadi aktor sentraldalam pengelolaan republik.Sekarang, setelah hampir sewindu dicanangkannyaagenda Otonomi Daerah pada 1 Januari 2001, ternyata kitapunmendapati bahwa Otonomi Daerah yang sebenarnya memberiharapan baru, pada kenyataannya belum terlihat nyatamembawa perubahan berarti. Oleh karenanya, peringatan satuabad Kebangkitan Nasional saat ini sesunguhnya masihmembawa pesan pada kita bahwa diperlukan penanganancerdas untuk membawa negeri ini menjadi maju dan nyamanbagi semua anak bangsa.Presiden RI akan menyampaikan pidato tentangpembangunan daerah dan pembangunan nasional yangdiselenggarakan di daerah dalam RAPBN 2009, besertakebijakan-kebijakan penting pemerintah khususnya yangmenyangkut daerah dan dalam hal hubungan pusat dandaerah. Untuk itu kami menyampaikan ucapan terima kasih danpenghargaan yang tinggi kepada Saudara Presiden, demikian juga kepada Saudara Wakil Presiden, para Pimpinan LembagaNegara, Anggota Kabinet Indonesia Bersatu serta para DutaBesar Negara Sahabat dan para undangan yang hadir dalamacara Sidang Paripurna Khusus DPD-RI ini.Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih danselamat datang kepada para pemangku kepentingan daerahyakni para Gubernur, Bupati/Walikota; serta Pimpinan DPRDProvinsi, Kabupaten dan Kota dari seluruh Indonesia.Kehadiran para pemimpin pemerintahan dan pemangkupembangunan di tingkat pusat maupun daerah saat ini untuk
2
 
mendengarkan secara langsung penjelasan Presiden mengenairencana kebijakan pembangunan di daerah, serta berbagaikebijakan pemerintah pusat mengenai daerah.Sidang Paripurna Khusus DPD RI Tahun 2008, kali inimengambil tema
Rekonstruksi Kebijakan PolitikDesentralisasi dan Otonomi Daerah serta Implementasinya
.Tema ini sengaja diangkat berdasarkan kesadaran terhadaprealitas selama rentang waktu 8 tahun implementasi kebijakanotonomi daerah yang dipandang bukan saja masih belumoptimal melainkan mengalami hambatan struktural dan kulturalakibat kebijakan dan perilaku para pihak yang terkait. Danberdasarkan permasalahan itu, DPD RI menganggap perludilakukan berbagai upaya perbaikan kebijakan danimplementasinya ke arah yang lebih menjamin tercapainyatujuan otonomi daerah.
II.EVALUASI KRITIS KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASIOTONOMI DAERAH
Adalah kenyataan yang secara jujur harus kita akuisebagaimana kita saksikan dikeseharian yang terjadi di daerah,yang selama ini diamati, diawasi dan dicermati oleh seluruhAnggota DPD dalam tugas konstitusionalnnya, bahwa secaraagregasi, yang muncul kepermukaan ialah distorsi akan maknadesentralisasi. Munculnya distorsi makna dalam implementasiotonomi daerah ini lebih disebabkan karena beberapa faktor.
Pertama
, adanya in-konsistensi antara kebijakan dasadesentralisasi dengan kebijakan-kebijakan pemerintahanlainnya, termasuk di dalamnya pada level operasional. Setelahkeluarnya UU tentang Pemerintahan Daerah (mulai dari UUNo.22 Tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004),maka idealnya seluruh kebijakan (UU, PP) baik yang sudahberlaku sebelumnya maupun produk setelahnya, seyogyanyadilakukan penyesuaian dengan kebijakan dasar pengelolaandaerah itu. Namun kenyataannya masih demikian banyakproduk perundangan-undangan yang belum disinkronkan.Demikian juga dengan kebijakan operasional dalam bentukkebijakan teknis, terlebih lagi dalam implementasinya, masihmenunjukkan semacam keengganan untuk menjalankanagenda pembangunan sesuai dengan prinsip dasar kebijakanotonomi daerah. Contoh inkonsistensi dalam hal kewenangan
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ardillah Almaruf liked this
Budi_Tompul_9139 liked this
Sasa Annisa liked this
AchyarMdiah liked this
AchyarMdiah liked this
Bunda Echa liked this
Abu Sari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->