Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
membuat diktat selesai

membuat diktat selesai

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 2,013 |Likes:
Published by elroyen
contoh diktat unfinished
contoh diktat unfinished

More info:

Published by: elroyen on Aug 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2011

pdf

text

original

 
BAB I
PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA
1. Latar Belakang
Pada hakikatnya kebudayaan (termasuk di dalamnya sastra dan seni)eksistensinya sama tuanya dengan manusia, dan ia terus berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat pendukung kebudayaan itu. Kebudayaan bangsa cukup tuausianya, meskipun pengertian “Indonesia” itu politis baru lahir pada peristiwa SumpahPemuda tanggal 28 Oktober 1928. Perjalanan budaya bangsa Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, sejak kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia (secara bergelombang) daratan Asia Tenggara ke kepulauan Nusantara ini.
2. Sastra Indonesia Masa Prasejarah
Gelombang pertama nenek moyang bangsa Indonesia (yang tergolong homosapiens) yang dating di Nusantara ialah manusia wajak atau Wajakensis sekitar 40.000tahun yang lalu. Mereka memiliki kebudayaan meramu atau kebudayaan palaselith-mesolitik. Tingkat peradabannya masih rendah sekali, hidup mengembara sebagai pemburu dengan cara meramu (food gathering), yaitu mengumpulkan makanan-makananseperti binatang buruan, umbi-umbian, buah-buahan, dsb. yang mereka dapatkan darialam. Peralatan mereka masih sederhana, berupa tombak dan panah dari tulang (boneculture), kapak (pabble) dan belati (flake) dari batu yang belum diasah/diperhalus.Mereka mendiami gua-gua dan juga hidup di tepi pantai (jokkonmoddinger). Kemudiandatang rumpun bangsa Papua Melanosoid dari daerah pegunungan Backson-Hoabinh,dekat teluk Tonkin, di daratan Indocina, yang menyebar di Nusantara bagian timur sampai Australia dan Pasifik. Mereka masih berkebudayaan meramu, tapi peralatanmereka yang dinamakan Backson-Hoabinh berupa kapak Sumatra dan kapak pendek serta flake, sudah diperhalus/diasah-lazim disebut pebble dan flake. Mereka juga mngenal bone culture. Menurut van Paursen dalam Strategi Kebudayaan (1976:34-35) orang
 
 primitif ini hidup dalam tahap kebudayaan mistis, di mana dalam kehidupannya manusiamerasa dirinya terkepung/terikat oleh kekuatan gaib yang ada di alam sekitarnya.Dalam alam pikiran mereka yang amat sederhana, alam dahsyat sehingga merekatunduk pada alam. Untuk melepaskan diri dari rasa takut pada alam yan serba gaib itumanusia memuja kekuatan atau dunia gaib dari alam itu dengan berbagai upacarakepercayaan, antara lain dengan media bahasa serupa mantra dan mitos bentuk awal darisastra yaitu sastra lisan. Sedangkan untuk mengenal dan menguasai dunia luar (binatang- binatang buruan, dll.) manusia primitif berimajinasi dengan lambing-lambang visualdengan bentuk garis dan warna, sehingga terciptalah lukisan. Misalnya lukisan babiterkena tombak dan diberi warna merah yang terdapat di gua Leang-leang, SulawesiSelatan.Lukisan babi di gua Leang-leang itu dianggap bentuk awal dari seni lukis yangdiciptakan oleh nenek moyang kita dari kebudayaan meramu. Bagi seniman purba,lukisan magis tersebut menunjukkan ada hubungan keajaiban antara gambar dengankenyataan lambang dengan yang dilambangkan. Maka lukisan babi yang terkena tombak itu mengandung magi bahwa, nantinya orang dapat menangkap babi dengan tombak.Selain mengenal seni, mereka (sejak Homo Wajakensis) sudah mengenal pula tradisi penguburan, yaitu kepercayaan kepada roh nenek moyang yang meninggal. Gelombangterakhir nenek moyang bansa Indonesia yang menyebar, secara merata di pulau-pulau Nusantara ialah rumpun bangsa Austronesia atau Melayu Polinesia. Rumpun bangsaAustronesia yang datang pertama kali di pulau-pulau Nusantara ialah Proto Melayu atauMelayu Tun sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Mereka berkebudayaan masa bercocok tanam atau kebudayaan neolitik. Peradabannya cukup maju : hidup menetap denganmendirikan rumah di atas tiang, pandai bertani (menanam padi dengan sistem irigasi), peralatannya berbentuk kapak persegi seperti pacul, beliung, kapak, tarah, dll. yangterbuat dari batu yang diasah. Dalam bidang kesenian mereka sudah pandai membuatkerajinan tangan berupa gelang dan manik-manik kalung dari batu indah, pakaian dariserat-serat kayu yang ditenun dan dibatik (cap), serta membuat periuk belangan dantembikar dari tanah liat. Di samping itu mereka juga pandai beternak, hidup bermasyarakat punya organisasi kemasyarakatan, berkebudayaan laut yaitu menjadinelayan dan pelaut dengan memakai perahu bercadik.
 
Bahasa yang mereka pergunakan ialah bahasa Austronesia. Menurut penelitianKern (1989) daerah penyebarannya amat luas, dari Madagaskar di barat sampai pulauPaska dari bumi timur, dan dari Formosa di utara sampai Selandia Baru di selatan,mencakupi bahasa-bahasa di Nusantara (Indonesia), bahasa-bahasa Polynesia, Melanesiadan Micronesia (Sukmono, 1973 : 58). Dari hasil penelitian Kern (dengan teori perbandingan bahasa) dan Haine Gelderen (teori kapak persegi) terdapatlah titik temu bahwa, asal bangsa Austronesia itu di daerah Yunan, Cina Selatan, tempat berhulunyasungai-sungai Mekong, dan sungai-sungai besar lainnya di Asia Tenggara. Rumpun bangsaAustronesia terakhir yang datang ke kepulauan Nusantara ialah Deutro Melayuatau Melayu Muda, pada masa 500 tahun sebelum masehi. Mereka berkebudayaan perundagian yaitu pandai menuang logam dan membuat alat-alat dari logam. Karenakebudayaan logam ini asalnya/pusatnya di Dongso (daerah Tenkin, Indocina) makadisebut juga kebudayaan DongsonDengan kebudayaan yang dimilikinya itu nenek moyang kita dapat mebuat peralatan dan kesenian dari logam seperti kapak corong, candrasa, nekara, moko, dll. dari perunggu yang diberi pola hiasan yang indah (motif flora dan fauna), di samping jugamembuat arca dan perhiasan seperti manik-manik, gelang, kalung (dari perunggu dankaca), dan uang logam. Selanjutnya, mereka juga mengenal kebudayaan megalitik (arsitektur bangunan dari batu besar), seperti menhir, punden berundak-undak, keranda,kubur batu dan dolmen, yang kesemuanya erat berkaitan dengan religi (kepercayaan) pada pemujaan roh nenek moyang. Sedangkan khasanah budaya dan nilai-nilai budayaserta adat-istiadat dari kebudayaan-kebudayaan terdahulu tetap mereka warisi danlestarikan. Kebudayaan rumpun bangsa Austronesia inilah yang menjadi dasakebudayaan Indonesia selanjutnya, sebagaimana dikemukakan oleh Sukmono (1973:80),“Oleh karena bangsa Austronesia inilah yang menjadi nenek moyang langsung dari bangsa Indonesia, dapatlah sekarang dikatakan, bahwa kebudayaan-kebudayaan yangdibawa oleh mereka ke negeri kita itu adalah yang dapat kita namakan kebudayaanIndonesia, kebudayaan bangsa kita yang menjadi dasar untuk perkembangan melanjutkansampai kini”. Nilai dan Unsur Budaya Kuntjaraningrat dalam Kebudayaan, Metalitet danPembangunan membagi kebudayaan atas kebudayaan idial, kebudayaan kelakuan, dankebudayaan fisik. Tergolong dalam idial ini adalah nilai budaya dan tingkatan-

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
husien oh liked this
susi_n10tangsel liked this
Ira Widiyastuti liked this
Hendri Syuhada liked this
r0nal liked this
Nik Rakib liked this
Futago Desy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->