Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
19Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KH. Wahid Hasyim

KH. Wahid Hasyim

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 11,800|Likes:
Just a few good men
Just a few good men

More info:

Published by: Hendra Manurung, S.IP, M.A on Aug 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/23/2012

pdf

text

original

 
“Who says what 
to
whom
via
which channels
with
what effects
?” (The Methodology of Content Analysis of Media Messages by Harold Lasswell, 1927)
SOSOK KYAI HAJI ABDUL WAHID HASYIM
Sifat Manusiawi Sang Tokoh di Mata KH. Syaifuddin ZuhriKH. Abdul Wahid Hasyim lahir pada tanggal 1 juni 1914 di Tebuireng Jombang.Membidani terbitnya majalah bulanan bernama “Suluh Nahdlatul Ulama” yangdiasuh dan dikemudikan dari tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Majalah inimenjadi mimbar dan sekaligus menara Nahdlatul Ulama (NU). Melalui penerbitanmajalah inilah, KH. Abdul Wahid Hasyim mengakui rasa simpatinya pada karya-karya KH Saifuddin Zuhri yang tersebar di berbagai media NU seperti “Berita NUdi Surabaya, Majalah bulanan “Suara Ansor NUdi Surabaya, Majalah bulanan “Trompet Pemuda” terbitan Ansor NU Cabang Kudus, Majalah bulanan berbahasa Jawa “Panggugah” diterbitkan Konsulat NU Banyumas dan Mingguan“Pesat” yang berisi berita-berita politik populer di Semarang.Dari sinilah KH A. Wahid Hasyim kemudian meminta KH Syaifuddin Zuhri untuk menulis dalam “Suluh NU” yang diasuhnya. Selama hampir 3 kemudian KHSyaifuddin Zuhri secara tetap, membantu menulis dalam “Suluh NUhinggadilarang terbit oleh pemerintahan militer Jepang pada tahun 1942 M.
 
 Awalnya, KH. Abdul Wahid Hasyim berkiprah sebagai Ketua LembagaPendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama pada tingkat Cabang Jombang, kemudianmelompat menjadi Ketua Pengurus Pusat Ma’arif NU dan berkantor di Surabaya.Dalam
 Mengenalnya Dekat 
Semenjak berkenalan, KH Syaifuddin Zuhri sering sekali menyertai KH. A WahidHasyim dalam perjalanan perjuangan, menghadiri pertemuan politik, mengunjungitokoh-tokoh ulama dan pemimpin pemimpin ormas dan lain sebagainya.Semenjak tahun 1939 KH. A Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai KetuaMIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi NU, Muhammadiyah,PSII, PII, Al-Irsyad, Persis. Sehubungan dengan jabatannya di MIAI, KH A.Wahid Hasyim juga kemudain duduk pula dalam kepemimpinan PresidiumKorindo (Kongres rakyat Indonesia), sebuah proyek perjuangan bersama GAPI(Gabungan Partai Politik Indonesia).Hampir seluruh kota-kota di pulau Jawa mereka singgahi salama zaman pendudukan militer Jepang dan zaman Revolusi fisik (1945-1949), baik untuk urusan politik maupun pertahanan TAir selama perang kemerdekaan.Selama kurang lebih 14 tahun KH Syaifuddin Zuhri memperoleh kesempatanuntuk mengenal lebih dekat KH A. Wahid Hasyim. Sehingga KH A. WahidHasyim telah memberi bekas mendalam bagi pertumbuhan karakternya sebagaiseorang pemuda yang berusia sekitar 25 tahun.Perkenalan ini terus berjalan hingga 5 hari sebelum KH A. Wahid Hasyim wafat pada tanggal 19 April 1953 dalam usia 39 tahun. Wafat ketika sedang malakukantugas selaku Ketua Umum Pengurus Besar NU (partai politik yang berusia 2 tahunsetelah memisahkan diri dari partai Masyumi).Musibah itu terjadi tatkala KH A. Wahid Hasyim mengalami kecelakan mobil didesa Cimindi dekat Cimahi Bandung dalam perjalanan menuju ke Sumedang.Pada hari wafatnya KH A. Wahid Hasyim telah lebih dari 7 tahun menjalani puasa
 
sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang dilarang oleh Islam untuk menjalani puasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Tasriq)
 Makanan dan Pakaian
KH A. Wahid Hasyim termasuk orang besar yang tidak pernah menyusahkan dirimaupun orang lain dalam masalah makanan. Tentang makanan Nabi Besar Muhammad SAW bersabda, ”Kami adalah golongan orang-orang yang makan bilamerasa lapar dan jika makan pun tidak sampai kenyang.”Jika kebetulan dalam perjalanan KH A. Wahid Hasyim harus makan dalam sebuahrestoran dan memesan berbagai jenis makanan ”kelas berat” aneka ragam, makatujuannya hanyalah untuk menyenangkan teman dalam perjalanan. Termasuk biladi rumah, hanyalah untuk menghormati tamu saja.Pada suatu hari KH Syaifuddin Zuhri menyertai KH A. Wahid Hasyim dalamsuatu perjalanan perjuangan ke daerah Jawa Barat. Seharian penuh keduanyadisibukkan dengan acara-acara yang sangat padat, sekalipun demikian, KH A.Wahid Hasyim tetap berpuasa (sunnat). Ketika tiba di hotel, waktu sahur telahdatang, sementara KH Syaifuddin Zuhri baru menyadari kelengahannya. KHSyaifuddin Zuhri lupa menyediakan santapan sahur bagi KH A. Wahid Hasyim.Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelasteh bagian KH Syaifuddin Zuhri ketika sore. Dengan sebutir telur dan segelas tehitulah KH A. Wahid Hasyim bersahur. Padahal bila KH A. Wahid Hasyim maulebih dari itu, KH Syaifuddin Zuhri masih bisa membelikannya di sebuah warungdekat hotel yang masih melayani para pembeli. Di sana masih bisa dipesan nasigoreng, sate ayam, gado-gado dan sebagainya. Namun KH A. Wahid Hasyim tidak memperdulikan tawaran KH Syaifuddin Zuhri.Jawaban KH A. Wahid Hasyim hanya, ”Ah besok toh lapar juga sepanjang hari.”Sebutir telur itu bahkan hendak dibagi dengan KH Syaifuddin Zuhri, demi”keadilan Sosial” katanya. Tetapi tentu saja KH Syaifuddin Zuhri tolak, toh KHSyaifuddin Zuhri tidak selalu puasa sunnat serutin KH A. Wahid Hasyim. Sambilmenyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH A. WahidHasyim berucap, ”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”yang dimaksud adalah pada hari kiamat kelak.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->