• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Studi
Pertanian Yang Tidak Lagi Sexi
Oleh : Adi Surya(Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kab Sumedang 2007-2009)Mahasiswa Fisip Universitas Padjadjaran
Ada sebuah ironi ketika bangsa ini dikenal sebagai negaraagraris,ternyata tidak berbanding lurus dengan minat calon mahasiswa padastudi pertanian. Setidaknya data pada hasil Seleksi Nasional Masuk PerguruanTinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2008 menunjukkan masih terdapat 2.894 kursikosong pada program studi bidang pertanian di 47 perguruan tinggi negeri.Sedangkan pada tahun 2009,data dari panitia SNMPTN trend tersebut terusberlangsung dengan banyaknya bangku kosong yang masih tersedia di 42PTN yang menyebutkan studi pertanian salah satu yang tidak populer. Bisadibayangkan ketika kebutuhan pangan kita sudah tidak ada lagi yangmengurus dan mengembangkannya. Sementara negara-negara lain berlomba-lomba mengembangkan bidang pertanian sebagai bargaining ekonomi dalamera globalisasi.Tidak dapat disangkal sampai hari ini sektor pertanian masihmerupakan sektor andalan bagi perekonomian Indonesia. Hal ini bisa dilihatdari sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto, penyerapan tenaga kerja,penerimaan devisa, pengurangan kemiskinan dan ketahanan pangan. Erakejayaan sektor pertanian menuai berkah pada zaman swasembada panganpada tahun 1984. Gelar sarjana pertanian begitu bergengsi. Namun, memasukilompatan jauh ke era industrialisasi,sektor pertanian ikut tenggelam digilaslaju pembangunan pabrik-pabrik yang menggusur lahan-lahan pertanian.
 
Sektor pertanian mau tidak mau terkena stigma sebagai pekerjaan orangmiskin.
Image 
-nya lekat dengan pekerjaan yang tidak memiliki prospek kedepan.Konstuksi paradigma seperti ini tidaklah muncul dari ruang kosong. Kitaturut mendekonstruksi dan memberi simbol-simbol sektor pertanian menjaditidak menarik. Padahal, sektor pertanian merupakan penyedia bahan baku bagiindustri,selain itu produk pertanian merupakan kontributor komoditas eksporyang cukup penting dan penyedia lapangan kerja untuk mengurangipengangguran. Faktor pentingnya sektor pertanian dikalahkan oleh derap lajuindutri yang di satu sisi juga menunjukkan perkembangan yangsignifikan.Sektor industri telah berhasil meningkatkan investasi,mendongkrakpertumbuhan ekonomi,peningkatan pendapatan per kapita dan kesempatankerja yang lebih bervariasi. Meskipun demikian, untuk negara Indonesia yangmayoritas penduduknya adalah bertani,maka fokus pada pengembanganpertanian adalah harga mati.Salah satu dari sekian banyak permasalahan yang menyandera sektorpertanian adalah SDM yang minim. Perguruan tinggi sebagai pencetak ahli-ahli pertanian menghadapi situasi dimana fakultas pertanian tidak diminatioleh calon mahasiswa. Artinya, kita akan menghadapi krisis SDM bidangpertanian di masa datang. Sementara negara-negara lain sudahmengembangkan variasi-variasi produk pertaniannya. Kita terbenam dalamlumpur paradigma yang menganggap untuk bisa mengembangkan pertaniantidak perlu kuliah di perguruan tinggi.Ada beberapa faktor penyebab untuk bisa menjawab kenapa programstudi pertanian sepi peminat.
Pertama
, adanya
image 
negatif yang mengaitkanpertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek cerah untuk menjaminmasa depan. Mulai dari keluarga sebagai pranata terkecil,orang tuamensosialisasikan anak-anak harus menjadi dokter, pilot, polisi dan bidang
 
kerja lain yang non-pertanian. Pilihan bertalian dengan ekspektasi. Memilihjalan menjadi sarjana pertanian dianggap sama dengan memilih mendapatstatus kemiskinan dan pengangguran. Kedua,sektor non pertanian lebihmenjanjikan lapangan pekerjaan dan jaminan kesejahteraan yang lebihbervariasi. Hal ini bisa kita lihat dengan mata telanjang di kolom lowongankerja di berbagai media massa yang sangat jarang membutuhkan lulusan darifakultas pertanian.Pada tahun 2008, ada 940 perusahaan/jasa membutuhkantenaga kerja, tetapi hanya 3 (tiga) perusahaan atau sekitar 0,31 persen daritotal perusahaan/jasa yang membutuhkan tenaga kerja di bidang sarjanapertanian.Ketiga,pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah berjalansetengah hati.Pemerintah lebih memihak pada sektor industri yang dianggaplebih cepat memacu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, polarisasi pembangunankota dan desa juga turut menyumbang makin ditinggalkannya sektor pertanian.Kota identik dengan kemakmuran dengan sektor industrinya.Sedangkan desaidentik dengan daerah miskin yang tidak punya masa depan bagi pencarikerja.Padahal jika sektor ini berkembang dan didukung penuhpemerintah,maka akan menarik gerbong minat calon mahasiswa dan lulusanpertanian untuk bekerja di sektor pertanian.Keempat,peran universitas yang belum mampu melakukan transformasidalam pengembangan sektor pertanian. Lulusan-lulusan pertanian cenderungmemiliki kemampuan yang homogen hanya di seputar penguasaan teori.Menurut hasil Survey Subdirektorat Kurikulum dan Program Studi yangdilansir tahun 2005, seorang lulusan sarjana pertanian setidaknya dituntutmemiliki 8 kompetensi penting, yakni kompetensi umum di sektor pertanian,mengerti dan menguasai kearifan lokal daerah yang menjadi domisili iaberkarir, piawai memanfaatkan ICT, memiliki kemampuan penyelesaianmasalah yang baik, berjiwa enterpreneur, memiliki pengetahuan bisnis,komunikatif dan mampu bekerja sama serta memiliki jiwa leadership.Melihat peta permasalahan di atas kita pertama-tama melihat
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...