Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kultivasi dan Bioproses Mikroalga Species Porphyridium cruentum

Kultivasi dan Bioproses Mikroalga Species Porphyridium cruentum

Ratings: (0)|Views: 79 |Likes:
Published by Baswantara
Kegiatan kultivasi mikroalga dan proses ekstrasi mikroalga tersebut sehingga diperoleh bio bahan bakar. Spesies mikroalga yang digunakan adalah Porphyridium cruentum.
Kegiatan kultivasi mikroalga dan proses ekstrasi mikroalga tersebut sehingga diperoleh bio bahan bakar. Spesies mikroalga yang digunakan adalah Porphyridium cruentum.

More info:

Published by: Baswantara on Nov 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2014

pdf

text

original

 
 Kelompok 3 : Maududi Jamal (C54063543), Dea Fauzia Lestari (C54080013), Anstayn Numberon (C54080017), Lovedrian Ariston (C54080018), Arif Baswantara (C54080027), Bagus Bastian (C54080030), Fahrulian (C54080038), Sri Hadianti (C54080039), Ikhsan Ashari (C54080045), Meilani Pamungkas (C54080048), Danu Adrian (C54080068)
KULTIVASI DAN BIOPROSES MIKROALGA UNTUK PRODUKSI MINYAK
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
1.
 
Pendahuluan
Mikroalga adalah jenis tanaman ganggang yang memiliki ukuran mikro. Menurut pigmen yang terkandung dalam tubuh mikroalga, ada empat kelompok mikroalga yang sejauh ini dikenal di dunia, yakni diatom (
 Bacillariophyceae
), gang-gang hijau (
Chlorophyceae
), ganggang emas (
Chrysophyceae
), dan ganggang biru (
Cyanophyceae
). Keempat kelompok mikroalga tersebut  bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku  bioenergi. Di perairan terdapat ratusan jenis mikroalga. Namun belum banyak yang dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan  bioenergi
.
Keberadaan mikroalga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya  pemanasan global. Mikroalga mampu  berfotosintesis dan mereduksi jumlah karbondioksida yang berada di alam. Industri-industri yang menghasilkan karbon dengan jumlah yang besar bisa menggunakan mikroalga ini untuk mengurangi dampak pemanasan akibat karbondioksida buangan. Beberapa alasan mikroalga baik dikembangkan di Indonesia karena beberapa hal, yaitu keanekaragaman mikroalga yang tinggi di Indonesia, potensi geografis dengan  perairan laut tropis yang luas dan sinar matahari yang melimpah, kemampuan untuk memfiksasi CO
, berpotensi sebagai sumber  bioenergi yang ramah lingkungan dan  berkelanjutan, tidak ada konflik dengan lahan untuk pangan. Kultivasi merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu yang terkontrol. Kultivasi bertujuan untuk menyediakan spesies tunggal  pada kultur masalmikroalga untuk tahap pemanenan. Teknologi  bioproses adalah teknologi yang berkaitan dengan segala operasi dan proses yang memanfaatkan mikroorganisma baik dalam fasa hidupnya maupun produk-produk enzimnya. Teknologi bioproses merupakan gabungan antara bioteknologi dan teknik kimia (Lischer, 2009). Pengembangan kultivasi dan bioproses dilakukan mulai dari skala laboratorium oleh mahasiswa hingga penerapan yang dilakukan di industri sebagai wujud  pemanfaatan CO
 buangan dari pabrik. Ada tahapan-tahapan penting yang harus dilakukan dalam kultivasi dan bioproses untuk produksi miyak yang akan menunjang keberhasilan kegiatan ini. Tujuan dari dari kultivasi dan bioproses mikroalga adalah untuk mendapatkan sumber energi alternatif sebagai solusi dari  berkurangnya cadangan bahan bakar fosil yang sangat vital bagi kelangsungan kehidupan.
Daftar Pustaka
Lischer, K. 2009. Apa Itu Teknologi Bioproses. http://lischer.wordpress.com/2009/07/25/apa-itu-teknologi-bioproses/ [Diunduh 4 Januari 2012]
 
 Kelompok 3 : Maududi Jamal (C54063543), Dea Fauzia Lestari (C54080013), Anstayn Numberon (C54080017), Lovedrian Ariston (C54080018), Arif Baswantara (C54080027), Bagus Bastian (C54080030), Fahrulian (C54080038), Sri Hadianti (C54080039), Ikhsan Ashari (C54080045), Meilani Pamungkas (C54080048), Danu Adrian (C54080068)
KULTIVASI MIKROALGA
Porphyridium cruentum
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
1.
 
Pendahuluan
Mikroalga adalah jenis tanaman ganggang yang memiliki ukuran mikro. Menurut pigmen yang terkandung dalam tubuh mikroalga, ada empat kelompok mikroalga yang sejauh ini dikenal di dunia, yakni diatom (
 Bacillariophyceae
), gang-gang hijau (
Chlorophyceae
), ganggang emas (
Chrysophyceae
), dan ganggang biru (
Cyanophyceae
). Porphyridium cruentum adalah mikroalga merah bersel satu yang termasuk kelas Rhodophyceae, hidup bebas atau  berkoloni yang terikat dalam mucilago. Senyawa mucilago dieksresikan secara konstan oleh sel membentuk sebuah kapsul yang mengelilingi sel. Mucilago merupakan  polisakarida sulfat yang bersifat larut dalam air (Borowitzka & Borowitzka, 1988). Beberapa alasan mikroalga baik dikembangkan di Indonesia kareana  beberapa hal, yaitu keanekaragaman mikroalga yang tinggi di Indonesia, potensi geografis dengan perairan laut tropis yang luas dan sinar matahari yang melimpah, kemampuan untuk memfiksasi CO
,  berpotensi sebagai sumber bioenergi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, tidak ada konflik dengan lahan untuk pangan. Pengembangan kultivasi dan ekstraksi dilakukan mulai dari skala laboratorium oleh mahasiswa hingga penerapan yang dilakukan di industri sebagai wujud pemanfaatan CO
  buangan dari pabrik. Ada tahapan-tahapan  penting yan harus dilakukan dalam kultivasi yang akan menunjang keberhasilan kegiatan ini. Tujuan dari dari kultivasi mikroalga adalah untuk mendapatkan sumber energi alternatif sebagai solusi dari berkurangnya cadangan bahan bakar fosil yang sangat vital  bagi kelangsungan kehidupan.
2.
 
Bahan dan Alat
a.
 
Bahan Kultivasi yang digunakan:
 
Mikroalga spesies
 Porphyridium cruentum;
 
 
Air laut 1000 mL;
 
Pupuk NPK;
 
Alkohol 70 %  b.
 
Alat Kultivasi yang digunakan :
 
Toples kultur;
 
Selang udara dan pemberat;
 
Lampu;
 
Mesin aerator;
 
Mikroskop;
 
Hemositometer;
 
Pipet tetes Gambar 1.
 Porphyridium cruentum
 
3.
 
Metode
Crude oil 
 adalah hasil dari proses ektraksi mikroalga yang sebelumnya di kultivasi. Kultivasi adalah suatu teknik untuk menumbuhkan mikroalga dalam lingkungan tertentu yang terkontrol Tujuannnya untuk menyediakan spesies tunggal pada kultur masal mikroalga untuk tahap pemanenan. Dalam kegiatan kultivasi terdapat beberapa tahapan.Berikut diagram alir proses kultivasi.
 
 Kelompok 3 : Maududi Jamal (C54063543), Dea Fauzia Lestari (C54080013), Anstayn Numberon (C54080017), Lovedrian Ariston (C54080018), Arif Baswantara (C54080027), Bagus Bastian (C54080030), Fahrulian (C54080038), Sri Hadianti (C54080039), Ikhsan Ashari (C54080045), Meilani Pamungkas (C54080048), Danu Adrian (C54080068) Gambar 2. Diagram alir proses kultivasi mikroalga Teknik sterilisasi dilakukan untuk membersihkan peralatan dan media yang akan digunakan untuk kultivasi, sehingga mikroalga yang dikultivasi dapat terhindar dari gangguan. Teknik ini terdiri dari  beberapa prosedur, yaitu sterilisasi ruang yang berguna untuk membersihkan ruangan  beserta rak yang berada di dalamnya. Ruangan dan rak harus dibersihkan dengan disinfektan sebelum dikeringkan, dan disemprotkan alcohol 70% ke seluruh ruangan. Sprayer yang berisi alcohol 70% ditaruh di samping pintu ataupun dalam ruangan yang dapat digunakan untuk mensterilkan tangan sebelum masuk ke dalam ruangan. Kemudian sterilisasi peralatan dengan melakukan cara khusus, seperti menutup erlenmeyer dan tabung reaksi dengan menggunakan alumunium foil, dan  pipet tetes dibungkus dengan alumunium foil. Peralatan yang tahan panas disterilkan dengan
autoclav
 (suhu 121
C) selama kurang lebih 15 menit atau oven (suhu 105
C) selama kurang lebih 5 jam. Sterilisasi  peralatan yang tidak tahan panas dilakukan  perendaman dalam larutan HCl 10% selama dua hari, kemudian dibilas dengan air tawar. Selain itu, dapat direndam dengan chlorine 150 mg/L selama 12-24 jam, kemudian dinetralisir dengan 40-50 mg/L Na-Thiosulfat dan dibilas dengan air tawar hingga bau klorin hilang. Setelah itu dilakukan sterilisasi media cair. Media cair yang disterilkan dengan saringan bertingkat 50µm, 10 µm, 5 µm, 2 µm. kemudian, dilewatkan media cair tersebut pada sinar UV. Media cair yang telah disaring dimasukkan dalam wadah tahan  panas dan ditutup dengan menggunakan alumunium foil dan disterilisasi dengan
autoclave
. Untuk mendapatkan sterilisasi 10 L cairan, media cair dipanaskan hingga suhu 121
C selama kurang lebih 1 jam. Media cair dalam jumlah besar disaring dengan saringan  bertingkat. Kemudian, dilanjutkan dengan chlorine 15-20 ppm dan diaerasi selama 2-3 hari hingga bau chlorine hilang. Sterilisasi toples pembiakan harus dibersihkan dengan cara menyikat bagian dasar dan sisi toples hingga bersih. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya  bakteri yang mengganggu pertumbuhan mikroalga. Kedua, teknik kultivasi mikroalga Kultivasi mikroalga dipengaruhi pengaruh internal (genetic, umur, dan ukuran) serta  pengaruh external (suhu, kualitas, kuantitas nutrient, intensitas cahaya, pH, aerasi, dan salinitas). Media tumbuh mikroalga yang telah disediakan disimpan di dalam toples, kemudian mikroalga yang telah diisolasi dimasukan dan diberikan cahaya. Aerator dinyalakan agar terjadi pengocokan nutrien dan gas setiap 24 jam sekali. Setelah 7 hari mikroalga dapat dipindah dalam wadah yang lebih besar. Gambar 3. Kultur mikroalga dalam media yang telah disterilisasi Selama kultur dlakukan sampling agar  bisa diketahui laju pertumbuhan dan Sterilisasi Isolasi Aerasi Sampling Pemanenan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->