• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
BULLETIN KHUSUS KORBAN LUMPUR PORONG SIDOARJOEDISI 01 / TAHUN 2008
Berita Lumpur LapindoKemana Media Massa Berpihakhalaman 2
Boleh Subyektif Asal Liputannya Obyektifhalaman 6
Pemerintah Pusat & LapindoMencla - menclehalaman 7
Menantang GanasnyaLumpur Lapindohalaman 8
Potret Korbanhalaman 10
Sana - Sini halaman 12
TIDAK
ada satu orang warga Porong yangpernah membayangkan jika suatu waktukawasan itu akan lenyap. Barangkali jugatidak pernah mau yang berangan-angankalau hidup mereka menderita danmenghuni kamp-kamp pengungsian yangsangat tidak layak dari berbagai sudutpandang kemanusiaan.Sungguh sulit untuk membayangkan bagiorang waras bahwa korban Lapindo masihtetap gagah dan terkendali kejiwaanmaupun emosinya. Tetapi sayang, apa yangdibayangkan sebagai tragedi kemanusiaanitu tidak juga meluluhkan hati para petingginegara, termasuk si pembuat masalah: PTMinarak Lapindo Jaya.Dalam dua tahun lebih, korban Lapindosangat tidak menikmati hidup merdeka.Jauh seperti yang digembar-gemborkan olehpetinggi negara, entah itu presiden maupunwakil rakyat. Kondisi para korban jugasebenarnya jauh dari apa yang seringkaliditayangkan oleh Lapindo melalui iklanpariwara di media massa (koran dan televisi)lokal maupun nasional.Media massa, seperti halnya yangdikatakan oleh korban, tidak adil dari segipemberitaan. Mereka, para korban itu telahmenganggap para wartawan telah terbelisisi kemanusiaannya. Tidak semua media.Tetapi celakanya, media-media yangdimaksud berada di Surabaya dan cukupdekat Sidoarjo, demikian juga dengantelevisi.Sosok wartawan, bagi korban Lapindosudah bukan lagi pahlawan. Mereka tidaklebih dari penyokong kekuasaan yang terusmenikmati pundi-pundi harta. Banyakpernyataan korban justru dipelitir yangujungnya mendukung keputusan Lapindo.Keputusan ganti rugi menjadi sangatpanjang dan rumit, sebenarnya salahsatunya ada campur tangan oknum-oknumwartawan. Ada banyak kepentingan yangterlibat dalam masalah lumpur Lapindo.Sekarang ganti rugi menjadi andalanLapindo. Ada pemaksaan dengan berbagaidalih kemanusiaan yang coba diiklankanoleh Lapindo melalui media massa. Padahal,apa yang ditawarkan dan dikatakan sebagaisolusi bijak itu juga tidak bijak-bijak amat.Malah cenderung merugikan para korban.Lapindo berusaha memanfaatkan kondisikejiwaan korban yang nyaris putus asa.Hebatnya lagi beberapa media massa justrumendukung penuh siasat itu. Sayang...
Ganti Rugi
DAFTARISI
 
S
udah dua tahun lebih bencanalumpur Lapindo terjadi. Dalamkurun waktu itu fenomena lumpurdan penderitaan warga korban semburanlumpur terus menjadi “komoditas” bagimedia massa. Hal ini terbukti hampirsetiap hari berita lumpur Lapindomuncul, baik di media cetak nasionalmaupun lokal.Permasalahannya adalahbagaimanakah media massa mengemaspemberitaan lumpur Lapindo? Karena,dalam proses pembuatan berita—mulaidari pemilihan peristiwa mana yang layak liput, siapa yang hendak dijadikannarasumber, pengumpulan fakta dilapangan hingga pemilihan kata/kalimat yang digunakan dalam penulisan— bergantung pada subjektifitas pembuatberita (wartawan) dan kebijakanperusahaan media yang bersangkutan.Subjektifitas itu berdampak padaperistiwa yang sama bisa dimaknai secaraberbeda oleh masing-masing media.Misalkan, dalam kasus semburan lumpurdi daerah Porong, ada media yangmemaknai semburan tersebut sebagaikesalahan manusia (
human error 
)— kesalahan PT. Lapindo—maka dalammenyebut peristiwa itu media yangbersangkutan menggunakan kata“bencana lumpur Lapindo”.Tetapi, ada juga media yangberanggapan bahwa itu adalah fenomenaalam, sehingga mereka memberi labelsebagai peristiwa “lumpur porong” atau“lumpur Sidoarjo”. Mereka tidak menim-pakan kesalahan pada Lapindo, tapi men- gemasnya sebagai peristiwa alamsemburan lumpur yang terjadi di daerahPorong-Sidoarjo.Ketika berita tersebut sampai padapembaca, secara tidak sadar pembaca ter-pengaruh oleh realitas—yang sebenarnyasengaja—dibentuk oleh pembuat berita,bukan pada realitas yang sebenarnya ataufakta di lapangan.Untuk itulah kami melakukan peneli-tian agar dapat mengetahui bagaimanamedia-media di Indonesia mengonstruksiatau membingkai pemberitaan terkaitdengan lumpur Lapindo. Pembingkaianterhadap media, akan diketahui bagai-mana sikap media terhadap isu atau be-rita yang dikemasnya. Sikap media ini jikaditelusuri akan menunjukkankeberpihakan media itu padapermasalahan yang diangkatnya.Ada banyak kemungkinan: Berpihak kepada korban, pro kepada Lapindo,selalu menyalahkan Lapindo, mengritisikebijakan pemerintah pusat atau daerah,netral dan mengajukan solusi ataspersoalan yang muncul, atau banyak lagikemungkinannya.Penelitian ini dilakukan terhadap 3media nasional, yaitu: Harian Kompas,Media Indonesia, dan Seputar Indonesia,dan juga 3 media lokal yaitu: Jawa Pos,Surya, dan Surabaya Post. Penelitian iniakan berlangsung selama 6 bulan (hinggaDesember 2008 mendatang). Dua minggusekali kami akan mengamati enam mediatersebut. Hingga akhir tahun 2008, akantersaji 12 edisi newsletter yang salah satuisinya hasil penelitian ini.Untuk edisi perdana, pengamatanberita Lapindo pada enam media itudilakukan antara 14 Juli 2008 hingga 20 Juli 2008. Metode penelitianmenggunakan perangkat framing yangdikembangkan oleh Gamson. Berikuturaiannya:
Selama periode riset
(14-20 Juli 2008),Kompas memuat berita mengenai Lapindosebanyak 6 kali. Kompas cenderung padapemberitaan penderitaan korban lumpurLapindo, mulai dari lambatnya prosespengesahan peraturan Presiden No. 14Tahun 2007, berbagai usaha wargaporong dalam memperjuangkan nasib,angka ganti rugi Lapindo untuk pengusaha korban lumpur yang dirasakanterlalu kecil, hingga terabaikannyapersoalan Lapindo oleh para pasangancalon Gubernur-Wakil Gubernur Jatimdalam isu yang mereka usung selamakampanye.Kompas mencoba membangun empatipembacanya dalam setiap pemberitaan
2
TEROPONG
EDISI 1 / TAHUN 2008
SOMASI
PENANGGUNG JAWAB:
KETUA LPPM UNAIR - Dr. Bambang Sektiari L, DEA
PIMPINAN REDAKSI:
Yayan Sakti Suryandaru
REDAKTUR PELAKSANA:
Adhi Wicaksana
REPORTER:
Gandha Widyo Prabowo. - Didik Ardian Purbaya
PERISET:
Alfian Dharmawan - Dian Rivia - Putri Aisiyah
DESAIN:
Alfian Hanafi
SEKRETARIS REDAKSI
: Nofi Kuswindasari
Alamat Redaksi:
Gedung Lembaga Penelitian Kampus C Unair, Jl Mulyorejo Surabaya (60115)Telp. (031) 5995246, 5995247, 5995248, Fax. (031) 5962066
(Penerbitan Bulletin ini atas kerjasama LPPM Unair dengan Yayasan TIFA)
Berita Lumpur Lapindo,
Kemana Media Massa Berpihak
 KOMPAS 
:
Membangun empatikepada korban lumpur.
 
tentang Lapindo. Ini tampak dalamparagraf-paragraf pemberitaan.
“Sejak tanggul penahan lumpur Lapindo jebol pada 10 Februari 2008,ribuan warga dari 3 desa, yakni Kedung Cangkring, Pejarakan, dan Besuki mengungsi ke bekas jalan tol Gempol di Kabupaten Pasuruan. Di sana mereka mendirikan tenda-tenda darurat (WargBesuki tuntut Perpres Ganti Rugi, 14 Juli 2008).“Penyelesaian dengan mekanisme business to business terkendala nilai ganti rugi antara yang diminta perusahaan- perusahaan terkait dan yang disanggupi Lapindo”.“Setelah satu perusahaan yang belummenerima ganti rugi adalah PT. Oriental Samudra Karya. Pemilik perusahaantersebut, Johny Osaka, mengatakan, pihaknya belum bisa menerima harga  yang ditawarkan Lapindo sebesar Rp 15 Miliar. “Jumlah itu masih jauh dibawahnilai aset saya yang hancur akibat lumpur” (Lapindo Belum Bayar Ganti Rugi 20 perusahaan, 16 Juli 2008).
Kompas membawa pembaca padarealitas yang dihadapi korban lumpur saatini. Serangkaian fakta dan kutipan-kutipan yang dihimpun dari narasumber,hampir keseluruhan mengarah padabagaimana peristiwa lumpur Porong telahmembawa penderita panjang bagi warga yang menjadi korban.Bingkai pro korban lumpur jugadigunakan Kompas ketika mengulasseputar proses revisi perpres 14/2007 yang memakan waktu lama danbagaimana perjuangan yang dilakukanwarga korban lumpur agar Perprestersebut segera disahkan.
“Kemarin, warga yang sebelumnya menginap di kawasan Tugu Proklamasi dan Lapangan Monumen Nasional (Monas) berjalan kaki sambil membawa ransel dan terpal menuju bundaran Hotel Indonesia (HI). Sambil membawa poster,sejumlah warga yang sebagian besar buruh tani itu meminta-minta kepada  pengguna jalan dan pejalan kaki”.(Korban Samburan Lumpur Lapindo Mengemis di Jakarta, 17 Juli 2008)“Warga berharap, tindakan itu (Blokade jalan eks Tol Porong-Gempol)akan menggugah Presiden SBY untuk segera menandatangani peraturanPresiden tentang ganti rugi dengan ketiga desa tersebut. “(Warga Tiga Desa Kembali Blokir Bekas Jalan Tol, 17 Juli 2008).
Dan, isu terakhir yang diusungKompas adalah wacana penyelesaianpersoalan lumpur Lapindo terkaitpelaksanaan Pilgub Jatim 2008. Kompasmerujuk pada sebuah kesimpulan bahwapara calon Gubernur Jawa Timur yangmaju pada Pilkada 2008, seluruhnyatidak memiliki komitmen yang tegasuntuk berpihak pada rakyat korbanlumpur.
“Dalam debat cagub-cawagub Jatim,tidak ada jawaban tegas dari seluruhkandidat ketika ditanya masalahkomitmen mereka untuk membantu korban lumpur. Ini terjadi karena semua  pasangan ingin bermain aman dankesadaran bahwa kewenangan pemerintah provinsi Jawa Timur untuk kasus ini akan terbatas” (Korban Lumpur Lapindo Kecewa kepada Cagub, 20 Juli 2008).
Harian Seputar Indonesia
dalampemberitaannya tentang lumpur Lapindolebih tertarik pada permasalahan hukumLapindo. Sindo lebih berminatmembangun realitas bahwa belum tentuLapindo bersalah dalam kasus semburanlumpur ketimbang mengeksposebagaimana warga Porong menderitaakibat sembutan lumpur.
“Lebih lanjut Ritonga mengatakan,kejaksaan sangat serius dalam menangani  perkara tersebut. Namun, berkas  penyelidikan Polda Jatim belumsepenuhnya menyebutkan semburanlumpur itu diakibatkan pengeboran olehLapindo. Dia mengatakan, berkas  penyelidikan itu berisi keterangan 12 saksi ahli yang berbeda. Tiga ahli mengatakan bahwa semburan akibat  pengeboran, tetapi sisanya berpendapat akibat bencana alam” (Kejagung  perintahkan Kaji Black Box Dvilling Lapindo, 15 Juli 2008).“Ketidakjelasan status hukum kasus semburan lumpur Lapindo hingga kini membuat nasib korban terombang-ambing. Untuk itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus segera memperjelas apakah kasus tersebut karena human error, fenomena alam,adalah bencana alam” (Status HukumLapindo tidak jelas, 17 Juli 2008).
Sikap Sindo dalam memaknai aksiBlokade eks jalan tol Porong – Gempololeh warga korban lumpur juga berbedadengan media lainnya. Meski sama-samamerepresentasikan media nasional,namun terdapat perbedaan frame(pandangan).Kompas menganggap blokade jalansebagai satu bentuk perjuangan yangharus didukung dan dimaklumi, namunSindo memaknainya sebagai tindakan yang merugikan kepentingan umum.Indikasi tersebut tampak pada pemilihan judul “Lagi, Warga Tiga Desa Blokade Jalan” (Kamis, 17 Juli 2008), penggunaankata “lagi” dalam judul menunjukkanblokade jalan hal yang sering dilakukandan membuat jenuh bahkan jengkelmasyarakat lainnya.Foto yang menampilkan gambar pipabesar melintang di tengah jalan danderetan kendaraan yang terhentiperjalanannya menguatkan kesan aksiwarga tersebut merugikan.Sindo juga membangun sebuah
reasoning 
(alasan) bawa aksi blokadetersebut bersifat negatif dan tidak terlalupenting untuk dilakukan karena sebagianwarga telah melakukan aksi di Jakartadengan tuntutan yang sama.
“Meski saat ini sudah ada perwakilanmereka (warga) di Jakarta untuk memperjuangkan kepastian ganti rugi,
3
EDISI 1 / TAHUN 2008
TEROPONG
 SOMASI
Seputar Indonesia :
Lumpur Porong Belum TentuKesalahan Lapindo.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...