• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Berlomba Menjadi Kutu LoncatPolitik 
Oleh : Adi SuryaKetua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) SumedangMahasiswa FISIP UnpadDalam dunia politik dikenal diktum “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang kekal hanyalah kepentingan”. Mungkin prinsip ini yang menjadi penjelassementara dari hengkangnya beberapa politikus dari satu parpol ke parpollainnya menjelang pemilu. Dalam politik memang semua hal bisa terjadi,bahkan yang tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh kita. Coba bayangkanada politikus yang berpindah ke partai yang memiliki perbedaan ideologis yangcukup kontras. Fenomena lompat pagar ini diyakini oleh beberapa pihaksebagai bentuk pragmatisme elit dan cukup untuk menjelaskan bahwamotivasi untuk menjadi abdi rakyat hanya bungkus palsu untuk menutupiborok perilaku haus kekuasaan. Walaupun dunia politik adalah dunia yangtidak bisa ditebak arahnya, namun ada seperangkat aturan berupa etikapolitik untuk mengawal politik tetap berada dalam rel normatifnya.Saat ini ada beberapa politikus yang memiliki hobi menjadi petualang didunia politik yakni Zaenal Ma’arif yang lepas dari PPP pindah ke PartaiDemokrat dan tercatat juga 14 anggota FPBR, 11 menyeberang ke PPP.Mantan pendiri Partai Demokrat Vince Rumangkang, bahkan kini menjadiKetua Umum Partai Barisan Nasional (Barnas). Di Hanura ada Fuad Bawazier yang sebelumnya bergabung di PAN, kini menjadi dedengkot partai pimpinan
 
Wiranto. Ada juga Djafar Badjeber yang mulanya di PBR, kini menjadi salahsatu Ketua DPP Partai Hanura. Aktor Anwar Fuady yang dulu dekat denganPartai Golkar, kini menjadi caleg Partai Hanura. Gusti Randa yang pernahmenjadi caleg dari PKB juga pindah ke Hanura. Tentunya masing-masing darimereka yang memutuskan pindah, memiliki alasan-alasan bergabung denganpartai lain.Untuk menjelaskan apa sebenarnya motivasi dari para kutu loncattersebut, kita akan menggunakan teori motivasi sebagai konstruk pikiran(
cognitive construct 
) dari Albert Bandura. Di sini, Bandura (1977), menjawabbahwa manusia belajar melalui lingkungan sosialnya dengan menggunakankonstruk pikiran. Konstruk pikiran manusia bersumber dari dua hal ,pertama, gambaran masa depan (
 future outcome
) seperti keinginan, cita-cita,harapan, mimpi-mimpi yang melahirkan munculnya dorongan tertentu bagitingkah laku. Atau dengan bahasa yang lebih mudah, ketika seseorangmenentukan masa depan, ia akan terdorong mencapainya denganmenghasilkan tingkah laku untuk meraih masa depan tersebut. Kedua,penetapan dan substansi tujuan (
setting goals),
yaitu pilihan seseorangterhadap tujuan di balik gambaran masa depannya agar dapat dievaluasi.Dengan kata lain, seseorang menetapkan tujuan substansial dalamberaktifitas sehingga mendorong dirinya menampilkan tingkah laku tertentu.Kutu loncat secara sederhana dapat didefenisikan sebagai perilakuseorang politikus yang dianggap kurang konsisten dengan pilihan politiknyadan cenderung berpindah-pindah tanpa alasan yang prinsipil dari partai yang
 
satu ke partai yang lainnya. Biasanya kutu loncat tidak mempersoalkanapakah partai yang baru dimasuki bertentangan secara ideologi atau prinsipdengan dirinya sendiri. Kutu loncat memang lekat dengan perilaku negatidalam etika politik. Hal ini lebih disebabkan karena kebanyakan alasanpindah parpol tidaklah dianggap sebagai hal yang prinsipil. Jarang sekalipolitisi di tengah jalan pindah dikarenakan tidak sepaham dengan ideologipartai. Kebanyakan dikarenakan tidak lagi merasa diakomodir oleh partainya yang lama dan ada kecenderungan untuk pindah ke partai yang sedang naikdaun ataupun partai baru yang dianggap bisa memuluskan jalan menujulingkaran kekuasaan. Ada juga yang dikarenakan kalah dalam pertarunganmemperebutkan pengaruh di partai, yang paling banyak karena tidakdimasukkan ke dalam daftar caleg sehingga memunculkan aroma oportunisme, pindah hanya demi mengejar keuntungan pribadi.Dalam memilih alat perjuangan politik berupa partai, tentunya politisisudah memiliki pertimbangan matang dan uji kecocokan sebelummemutuskan untuk bergabung. Baik itu dari segi ideologi, cara berjuang, nilaidan norma partai. Hal-hal tersebut terlebih dahulu disesuaikan secara sadardengan nilai-nilai dan keyakinan . Jadi motivasi pindah parpol karena alasanideologis, akan sangat tipis kemungkinannya menjadi faktor determinan.Seandainya pun alasan kutu loncat politik diakibatkan oleh hal yang prinsipil,pertanyaan berikutnya adalah kenapa baru lompat pagar menjelang momenpemilu ?.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...