• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Ketika mendengar ungkapan "politik global" yang ada di benak kita adalah percaturan perebutankekuasaan, hegemoni dan pengaruh di dunia global antara kekuatan-kekuatan besar di dunia.Percaturan tersebut kadang berupa proses politik yang melibatkan banyak negara, lembagainternasional dan kepentingan kelompok tertentu. Percaturan tersebut juga kadang terjadi dengandiwarnai pertempuran antar kekuatan militer yang menyimpan banyak kepentingan di belakangnya,seperti yang kita saksikan dalam pertempuran-pertempuran di Afghanistan dan Iraq. Seperti sebuahnegara, dunia global telah mempunyai dinamika politiknya sendiri.Seperti kata Marly Cardor (2001), pada masa perang dingin yang terjadi adalah perang antar negara-negara besar di dunia global. Negara, masih kata Marli, mempunyai wilayah territorial geografisyang mudah dikenali, sehingga perang yang terjadi sifatnya terbatas. Masa paska perang dingin yangditandai dengan disintegrasinya Uni Soviet, lahir pola tatanan sistem internasional denganmunculnya sistem bipolar dengan lahirnya Amerika Serikat sebagai negara adi kuasa, kini duniamengenal corak dalam percaturan internasional yang dikenal dengan politik global. Isu politik globaladalah bukan suatu yang baru dalam percaturan politik internasional karena pada dasarnya bibitpolitik global telah muncul sejak didirikannya league of nation dengan pionernya Woodrow Wilson,dengan konsep-konsep open government, self-determination dan juga konsep collective securityyang kemudiaan dikembangan menjadi sebuah paradigma baru yang dikenal dengan paradigmaidealisme, kemudian muncul paradigma yang intinya pengembangan dari idealisme seperti halnyaliberalisme dan internasionalisme yang mengangkat isu-isu global.Tragedi 11 September 2001 ditandai dengan difokuskannya isu global kepada agenda perangmelawan terorisma "War against Terorism", perang baru yang terjadi adalah antar kekuatan-kekuatan besar dunia dan bukan lagi antar negara tertentu. Perang itu ternyata lebih komplekskarena yang terjadi tidak hanya pertempuran-pertempuran antar kekuatan bersenjata yang menelanbanyak korban sipil, tapi juga perebutan otoritas, pengaruh, hegemoni dan perebutan sumberekonomi dan pasar internasoinal serta perang peradaban dan kultur di dunia global yang tak lagiterbatasi oleh wilayah territorial. Maka sering dikatakan bahwa berakhirnya perang dingin adalahmulainya era globalisasi dalam arti sesungguhnya.
Peta Kekuatan Politik Global
Globalisasi telah menciptakan berbagai masalah dan kepentingan yang sifatnya global, intrastateatau bahkan suprastate. Banyak masalah yang tidak lagi bisa diatasi sendiri oleh sebuah negarasecara unilateral sehingga kerjasama internasional yang sifatnya multilateralisme menjadi pilihansuatu negara. Begitu banyak kepentingan-kepentingan yang tidak lagi bisa dipenuhi kecuali melaluiperan kekuatan global atau melibatkan unsur suprastate. Terkadang justru kepentingan sebuahnegara sendiri tidak akan bisa terpenuhi kecuali dengan mengkondisikan external sebagai supportkepentingan domestik. Maka politik global tidak lain adalah pergulatan global dalam mewujudkankepentingan para aktor yang menjalankannya.Siapa yang berperan dalam permainan politik global ini? Peta atau format politik dunia berikut aktorglobalnya dapat digambarkan sebagai berikut:Pertama, negara-negara yang dipetakan secara dikotomis, yaitu negara-negara negara-negara besardan negara-negara kecil, negara-negara maju dan negara-negara berkembang, negara-negara yangkuat dan yang lemah secara ekonomi, negara-negara yang kuat dan yang lemah secara militer,negara-negara yang berdiri sendiri atau yang bergabung dengan negara lain, dan lain sebagainya.Kedua, organisasi-organisasi antar-pemerintah (IGO atau Inter-Governmental Organizations), sepertiASEAN, SAARC, NATO, European Community dan lain sebagainya.Ketiga, perusahaan internasional yang dikenal dengan Multinational Corporations (MNC) atauTansnational Corporations atau Global Firms. Perusahaan-perusahaan ini dengan modalnya yangbesar dan bersifat deteritorialis meluaskan jaringannya ke segala penjuru dunia. Pemerintahkhususnya negara-negara berkembang merasa perlu mendapatkan modal dan teknologinya.Fenomena pengaruh George Soros terhadap kebijakan politik global merupakan contoh dari peran
 
perusahaan internasional dalam percaturan politik global.Keempat, organisasi internasional atau trans-nasional yang non pemerintah (INGO, InternationalNon-Governmental Organizations) seperti Palang Merah Internasional didirikan tahun 1867,Workingmen's Association (Socialist International) tahun 1860an, International Women's League forPeace and Freedom. Yang konvensional seperti: Vatikan, Dewan Gereja-gereja Sedunia, RabiyatulIslamiyah. Yang moderen seperti Amnesty International, Green-peace International, WorldConference on Religion and Peace, World Federation of United Nations Associations, Trans-parencyInternational, Worldwatch, Human Rights Watch dan Refugee International. Organisasi global inilebih tepat disebut aktivis profesional. Pendapat umum dan kebijakan dunia ternyata banyak sekalidipengaruhi oleh organisasi aktivis ini. Gagasan-gagasan mereka banyak disalurkan melalui mediamassa elit dunia, seperti International Herald Tribune, The Guardian, Time dan The Economist.Kelima, organisasi-organisasi non-formal, rahasia, dan setengah rahasia. Umpamanya: mafia,teroris, pembajak, penyelundup, preman global, tentara bayaran, hacker komputer dan mungkinjuga organisasi semacam Al-Qaeda.
Peta Kepentingan dalam politik global
Dalam percaturan politik global pengaruh negara-negara maju sangat kuat. Ini kerena merekamempunyai kepentingan dalam dunia global yang sangat besar, baik itu ideologis sepertikepentingan dunia Barat untuk mengekspor demokrasi seperti yang dikatakan oleh Francis Fukuyamabahwa liberal demokrasi akan menjadi kulminasi percaturan ideologi dunia, ekonomis sepertikepentingan untuk mendapatkan sumber mineral dan bahkan pasar untuk menjual produk dan bahanbaku. Kepentingan keamanan untuk menciptakan tatanan global yang melindungi keamanannyadengan melakukan pengawasan senjata juga merupakan salah satu kepentingan Barat yang amatvital. Sebagaimana mengutip thesis clash of civilization-nya Samuel Huntington bahwa konflik yangakan datang pada akhirnya akan menjadi konflik antara the west vs the rest, yang ini menunjukkankepentingan kultur new nation yang kerapkali dibanggakan oleh America Serikat sebagai kebanggaanbudaya (cultural dignity) masyarakat Barat yang menjadi simbol peradaban dunia juga menjadi salahsatu kepentingan yang mereka perjuangkan. Infrastruktur yang mereka miliki seperti mediakomunikasi, transportasi dan modal yang besar semakin memperbesar peran mereka dalampercaturan politik global.Hegemoni Barat dalam percaturan politik global yang sedemikian kuat ini, sehingga menjadikanmereka sebagai aktor utamanya telah menimbulkan persepsi kuat bahwa sebenarnya yang terjadiadalah munculnya kolonialisme dan imperialsme baru. Seperti halnya kebijakan-kebijakan luarnegeri AS, khususnya paska 11/9 sangat jelas terlihat bahwa ia ingin menjadikan sistem dunia yangmendukung dan menguntungkan bagi kepentingan negaranya. Isu nuklir dan senjata pemusnahmassal (WMD) ataupun terorisme telah menjadi argumentasi global untuk menekan sebuah negaraatau kelompok tertentu.Di lain pihak, negara-negara berkembang dibuat tergantung dengan sistem hutang internasionalseperti IMF dan Bank Dunia, masyarakat berkembang dijadikan kecanduan dengan produk teknologimaju melalui konsumerisme yang disiarkan oleh media-media massa. Belum lagi perusahaan-perusahaan internasional milik negara-negara maju yang menguasai hampir semua lini utamaperekonomian dunia. Bahkan dalam skup nasional saja, banyak perusahaan-perusahaan lokal dalamsebuah negara yang terpaksa gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan internasionalyang bermodal besar dan menguasai teknologi yang mutakhir. Di bidang eksplorasi dan penambangansumber mineral di negara-negara berkembang, terjadi monopoli oleh perusahaan-perusahaan asingsehingga terkesan bahwa hasil mineral mereka dirampas oleh perusahan-perusahaan asing dan parapenguasa setempat.Di sektor sosial kebijakan negara-negara maju juga tidak kalah penting. Gagasan-gagasan yangmendukung kemajuan dan reformasi sektor sosial dikembangkan sedemikian rupa oleh LSM-LSM yangdidukung oleh nagara-negara donor yang notabene dari negara mau atau Barat. Kebanyakangagasan-gagasan yang diusung adalah untuk mendukung terwujudnya nilai-nilai demokrasi sepertiliberalisme, feminisme, internasionalisme, institutionalisme, global civil society, neo idelisme dandemokratisasi ke level grass root. Gagasan itu yang diterminologikan oleh Steven Lamy sebagai neo-liberalisme dan neo-idealisme.
 
Fenomena percaturan politik global yang selama ini berlangsung telah menimbulkan kekhawatirandari berbagai kalangan yang existensinya merasa terancam. Hegemoni demokrasi yang dianggapperpanjangan dari kapitalisme dalam sekup global telah membuat pengap kekuatan ideologis lainyang selama ini kontra demokrasi, seperti komunisme dengan sosialismenya. Kekuatan lain sepertinasionalisme juga terancam akan terlindas oleh hegemoni demokrasi global ini. Inilah yangmenimbulkan kekhawatiran kuat dikalangan nasionalis bahwa ancaman baru neo-kolonialisme akansegera muncul menguasai, menindas dan menjajah mereka kembali. Kalangan agamawan semakinkuatir terhadap tergesernya norma-norma yang mereka perjuangkan selama ini di masyarakat akanlambat laun pudar digantikan norma-norma sekuler yang didakwahkan secara terus-menerus olehsistem informasi global.Kekhawatiran-kakhawatiran tersebut telah menyebabkan kanalisasi kekuatan baru yang juga bersifatglobal. Kekuatan ini ingin melakukan counter balance terhadap kekuatan global yang diciptakanoleh blok Barat. Kekuatan ini juga sadar bahwa tidak mungkin mengimbangi kekuatan global yangada saat ini kecuali dengan kekuatan global juga. Kekuatan ini juga yakin bahwa kalau mereka tidakbertindak, maka mereka akan tertindas dan terjepit oleh kekuatan globalisme Barat. Sementara itumenghadapi Barat dengan konfrontatif adalah sia-sia karena kekuatan Barat yang sedemikian kuat.Kanalisasi kekuatan baru inilah yang kemudian mengkristal menjadi kekuatan destruktif, yang olehmedia massa diistilahkan dengan terorisme, radikalisme, tradisionalisme dan fundamentalisme.
Bangsa Indonesia menjadi korban atau pemeran
Dalam percaturan politik global, dimana sebenarnya posisi bangsa Indonesia? Meskipun mungkinbanyak juga hal-hal positif yang bisa dirasakan oleh bangsa Indonesia dari dinamika percaturanpolitik global saat ini, namun rasanya lebih banyak lagi dampak-dampak negatif yang telahdirasakan oleh bangsa kita, baik pemerintahnya maupun masyarakatnya. Bangsa kita lebih banyakmenjadi korban percaturan politik global ataukah menjadi pemeran.Rasanya sejauh ini bangsa kita lebih banyak menjadi korban dari pada menjadi pemeran dalampercaturan politk global. Suatu contoh, belitan hutang luar negeri (debt trap) yang tidak kunjunglepas, nilai tukar mata uang kita yang terus terpuruk, perusahaan-perusahaan asing yang menguasailadang-ladang mineral kita, tenaga kerja kita yang dibeli secara murah di luar negeri, aset-asetpenting kita juga tidak sedikit yang dikuasai oleh kekuatan asing dan bahkan kebutuhan dasarseperti beras di negeri kita yang subur itu juga telah tergantung pada pasar asing. Di lain pihakbangsa kita juga ternyata sama sekali tidak resistan dengan kekuatan-kekuatan destruktif globalseperti gerakan terorisme, sparatisme, radikalisme dan bahkan jaringan obat terlarang global. Inimenunjukkan betapa nasionalisme bangsa kita sebenarnya telah banyak terkikis olehinternasionalisme.Bisakah kita mentransformasikan diri dari korban menjadi pelaku dalam politk global? Jawabannyaterletak pada kemampuan kita mentransformasi sistem politik, sistem ekonomi, serta --yangterpenting-sejauh mana bangsa kita ini bisa mengatasi potensi konflik etnis, agama, ras, danmasalah pemerataan kekayaan diantara rakyat kita sendiri.Untuk turut menjadi aktor utama dalam arus globalisasi diperlukan sumber daya manusia yangmumpuni, dan itu berarti dimulai dari pendidikan yang memadai untuk membentuk tenaga manusiayang berpotensi, yang pertama untuk pengembangan ekononi negara karena diantara salah satutuntutan globalisasi adalah daya saing ekonomi. Yang dari sini bila itu dapat terwujud akanmemperkecil dependensi negara pada badan-badan moneter internasional, dengan begitu kebijakanotonomi nasional akan terwujud, dan apa yang disebut kesejahteraan rakyat, melalui pemerataandistribusi penghasilan, juga stabilitas nasional akan dapat terkedepankan. Dengan demikianpendidikan adalah permulaan yang penting demi menuju kemajuan suatu negara.
Disampaikan dalam Seminar HUT IMASI, tanggal 12 Maret 2005 dengan tema "Pandangan BangsaIndonesia Menyikapi Dinamika Politik Global" di Aula Budaya Nusantara, KBRI Islamabad.
Posted by Kamilia at2:41 PM Labels:Politics 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...