Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Poligami Muhammad - Diantara Ummul Mukminin, Berahi Seks Dan Wahyu - By Miryam Ash

Poligami Muhammad - Diantara Ummul Mukminin, Berahi Seks Dan Wahyu - By Miryam Ash

Ratings: (0)|Views: 0|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Banyak pihak mengatakan bahwa Surat An Nisaa dan Al Ahzaab adalah dua diantara 114 Surat Allah yang paling telak menegatifkan moralitas Allah dalam kehidupan keluarga Muslim dan kemanusiaan. Ya, pernyataan yang mungkin ada banyak kadar kebenarannya.
Banyak pihak mengatakan bahwa Surat An Nisaa dan Al Ahzaab adalah dua diantara 114 Surat Allah yang paling telak menegatifkan moralitas Allah dalam kehidupan keluarga Muslim dan kemanusiaan. Ya, pernyataan yang mungkin ada banyak kadar kebenarannya.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Nov 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2014

pdf

text

original

 
 
Poligami Muhammad: Diantara Ummul Mukminin, Berahi Seks Dan Wahyu
 Muhammad tidak terbiasa untuk disanggah dan ditolak. Ia haram dibantahi istri apalagi berkali-kali seperti ini. Dia tidak bisa mengalah dan membiarkan orang lain merongrong harga dirinya sebagai Nabi. Apalagi mengizinkan pihak-pihak istrinya mengungkit-ungkit hal yang ada berkaitan dengan denyut syahwatnya. Kini ia terpaksa tunjuk perkasa membela
diri secara otoriter dengan jurus “pukulan dari langit”. Ia berkata, “Jangan melukai hatiku
mengenai Aisha, karena wahyu tidak turun kepadaku diranjang-ranjang manapun kecuali
diranjang Aisha”.
 
Uiih! Um Salama kaget dan terdesak sesaat! Tentu saja ia tidak menyangka bahwa  Muhammad akan melakukan intimidasi atas nama wahyu-Allah yang hanya turun keranjang  Aisha.
 
Oleh: Miryam Ash
 Banyak pihak mengatakan bahwa Surat An Nisaa dan Al Ahzaab adalah dua diantara 114 Surat Allah yang paling telak menegatifkan moralitas Allah dalam kehidupan keluarga Muslim dan kemanusiaan. Ya, pernyataan yang mungkin ada banyak kadar kebenarannya. Apa yang disampaikan dan diperintahkan Allah dalam kancah KAWIN-MAWIN misalnya sungguh membingungkan, kontradiktif, tidak beradab, tidak masuk akal, tidak adil, bahkan kejam dan jahat, khususnya bagi pihak perempuan! Kita dapat mengulasnya amat panjang dengan rintihan kebatin. Tetapi disini kita hanya mau menyingkapkan dan mempersoalkan secuil contoh saja.
Pertama-tama,
 Surat An Nisaa 3 memerintahkan para lelaki untuk berpoligami,
 
“kawinilah wanita
-wanita yang kamu senangi, DUA,
TIGA atau EMPAT”. Segera terlihat
 bahwa ayat ini jelas merupakan ayat pendorong poligami karena dimulai dengan DUA wanita, bukan SATU, padahal sistem mulia monogami-lah yang seharusnya Allah dorong dan teguhkan sebagai fitrah hidup berpasangan yang Dia jadikan sejak semula (QS.75:39, 35:11, 53:45, dll).
Kedua
, sesudah mendorong iklim berpoligami seperti diatas, namun apabila ada lelaki yang was-was tidak bisa berlaku adil kepada para istrinya (perempuan merdeka), maka si lelaki
tersebut tetap diberi “jalan
 
 pintas keluar” untuk mengawini satu perempuan merdeka atau/dan
sejumlah perempuan
 budak, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka
(kawinilah) seorang saja, atau budak-
 budak yang kamu miliki”. Jalan pintas ini adalah semacam “poligami
 
mix” yang dinyatakan halal, namun jelas lebih menjijikkan, mengingat
 budak-budak perempuan --pihak yang paling lemah ini-- masih dieksploitasikan sex-nya dengan cara melegalkan mereka untuk dikawini secara murahan tanpa usah berkeadilan atau syarat-syarat apapun, dan ini melekat menjadi hukum Allah Islamik yang kekal. Padahal 600 tahun sebelumnya, Yesus Al-Masih dalam InjilNya justru telah membebaskan semua pihak dari perhambaan (Yohanes 15:15).
Ketiga
, setelah mendorong “poligami resmi” dengan alternatif “poligami
-
mix”, datang lagi
wahyu kontradiktif pada Surat An Nisaa yang sama dimana Allah berbalik menegasi atau menolak semua usaha berpoligami! Satu dan lain hal karena Allah MEMASTIKAN bahwa tak ada manusia yang bisa berlaku ADIL terhadap para istri yang dinikahinya,
“Dan kamu sekali
-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-k 
atung” (QS. An Nisaa : 129).
 Jikalau pembatasan jumlah istri (hingga 4, seperti ayat 3 diatas) tidak dikenakan kepada
Muhammad dengan hadirnya “hukum
-
ajaib” (33:50,51) yang mengecualikan dirinya, maka
tidak demikian halnya dengan tuntutan keadilan yang harus Muhammad berikan untuk setiap istri yang dikawininya! Muhammad diberi pengecualian dengan axioma-mati bahwa ia sebagai nabi mutlak bisa berbuat adil seadil-adilnya kepada seluruh umat, apalagi kepada  para istrinya! Dia-lah Al-Amin yang harus membuktikan keadilannya yang sempurna dikalangan istrinya. Namun semua Muslim tahu bahwa bukan saja tak ada pria-poligami yang  bisa berlaku adil, bahkan Muhammad sendiripun telah mendemonstrasikan ketidak-adilannya secara terbuka dikalangan istri-istrinya! Jadi kembali kita menyaksikan betapa hukum akan saling berbenturan dalam realitas, sekali ada pengecualian yang tanpa dasar. Sesungguhnyalah, tak ada nabi manapun yang dikecualikan dari hukum-Tuhan bagi umatNya. Semakin dia nabi yang makin tinggi derajatnya, semakin dia diharuskan menggenapi dan mencontohkan praktek hukum yang dikenakan bagi umatnya. Anomali hukum yang diizinkan justru memacu Muhammad ber-skandal liar dalam kehidupan seks-nya yang tidak satupun bisa menjadi mercu-suar keteladanan bagi kekudusan keluarga. Dan balik membantah kenabian Muhammad dan azaz kesempurnaan Allah yang tanpa cacat!
Keempat
, sekalipun poligami dihalalkan, namun inipun diharamkan oleh Muhammad untuk diberlakukan kepada anak putrinya Fatimah. Dan ini betul-betul memperkosa rasa dan substansi keadilan ilahiah!
 
"Banu Hisham bin Al-Mughira telah meminta kepada saya untuk mengizinkan mereka mengawinkan putri mereka kepada Ali bin Abu Talib, namun saya tidak memberi izin, dan tidak akan memberinya kecuali Ali bin Abi Talib menceraikan putri saya untuk mengawinkan  putri mereka, sebab Fatima adalah bagian dari tubuh saya, dan saya benci apa yang dia
 bencikan, dan apa yang melukainya, melukai saya pula”
 (HSM.62.157)
Kelima,
 semua istri dari Muhammad diberi gelar istimewa yang tercatat di surga, dan disebut
sebagai “Ibu dari orang
-
orang beriman”, Umm’l Mikminin
 (Surat al-Ahzab 33:6). Namun Muhammad dan Muslim tidak terlalu sensitif akan konsekwensi gelar tersebut. Sebab dengan  posisi dan gelar surgawi itu maka para ibu orang-orang mukmin lalu tidak boleh menikah dengan siapapun lagi walau mereka sudah jadi jandanya Muhammad yang sudah tiada. Aisha misalnya diharuskan menjadi janda seumur hidupnya tatkala justru berumur dewasa 18 tahun! Begitu pula posisi dan gelar ini sekaligus memunculkan terjadinya kerancuan bahwa Aisha (putri dari Abu Bakr) misalnya, otomatis telah menjadi ibunda dari bapaknya. Dan Hafsah, putri dari Umar b. al-Khattab, menjadi wanita mulia yang menurunkan moyangnya, termasuk Ismail dan Ibrahim! Wujud dan kerangka dari poligami ala Muhammad sungguh kacau dan tidak berserasi dengan hakekat surgawi. Apalagi bila hal-hal ini diproyeksikan
sampai ke surga Islam kelak, dengan “intervensi” 72 bidadari yang muda belia dan selalu
 perawan. Tak ada yang bisa membayangkan bagaimana posisi Muhammad diantara bidadari dan ummul mukminin ini, katakanlah yang paling menyolok saja, bagaimana Muhammad  bisa digandengkan dengan 72 bidadari versus Aisha (istri paling favorit) versus Sauda bint
Zama’h (istri yang di
-sia-siakan, lihat dibawah) ... Sejarah hidup Muhammad segera tampak menjadi sebuah CONTOH ketidak-adilan yang
sempurna dalam memperlakukan para istrinya, menurut kuantitas dan kualitas “perhatian, cinta kasih, nafkah dan giliran seks” yang harus diberikan sama kepada setiap mereka. Da
n lebih dari itu beliau justru telah mendemonstrasikan suatu perkosaan terhadap keadilan  poligamis itu tanpa rasa bersalah, melainkan membiarkan itu terus begitu dan malah mensyukurinya diam-diam dalam keluarga haremnya! Kedengaran seperti fitnah? Maaf,  bukan fitnah, tetapi fakta keras!
Kita menunjuk kepada kasus Sauda bint Zama’h misalnya, yang dikawini Muhammad 1
 bulan (!) setelah kematian Khadijah. Ia dikatakan sebagai istri yang bertampang biasa, gemuk dan berumur (walau tidak pernah diketahui berapa umurnya). Ia tidak pernah mendapat gairah dan perhatian Muhammad. Nabi malahan sudah siap mau menceraikannya. Dan kalau akhirnya tidak jadi dicerai, itu hanya karena Sauda mati-matian memohon kepada Nabi agar ia jangan sampai dicerai dengan imbalan bahwa ha
k “giliran seks” baginya akan
 dialihkan kepada Aisha yang lebih dicintainya! (Qurtubi, Al-Tabari, Abu Dawud vol.2 no.2130
hal.572). Status Sauda serentak menjadi “
 stateless marriage
” yang paling memprihatinkan!
Dan batin Nabi Allah tidak merasa berurusan. Sebaliknya, bukan rahasia lagi bahwa Aisha adalah isteri yang paling TOP FAVORIT bagi Muhammad (Sahih Bukhari 3:47:755 dll). Namun ini sekaligus mendatangkan konsekwensi  bagi Muhammad untuk mempertanggung-
 jawabkan bukti “keadilan poligamisnya” dalam
tuntutan Allah (Surat 4:3). Sebab kita tahu dimana-mana Islam berslogan-ria tentang hukum keadilan. Dan Muhammad selalu disebut-sebut pejuang keadilan yang berdiri di garis paling
depan. Jadi Muhammad harus mampu memperlihatkan bagaimana mengoperasikan “keadila
n
domestik” nya diantara para istrinya yang begitu banyak itu, sekaligus bangga bisa berkata kepada dunia secara spesifik: “Belajarlah kalian kepadaku, sebab hidup berkeluargaku, dalam
seksualitas dan keadilan-poligamisku adalah cermin dari moral yang supr 
a”. Bukankah Yesus

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->