Selesai Sudah Proses Hukum Pak Harto | Hiduplah Indonesia Raya
Pak Harto kemudian digiring ke peradilan pidana dengan tuduhan korupsi. Tapi, jaksa penuntut umum tak pernah bisamenghadirkan Soeharto ke persidangan karena yang bersangkutan dinyatakan sakit dengan keterangan dokter yangsah. Upaya menggiring Soeharto ke persidangan pidana terus dilakukan bersamaan dengan desakan publik sampaiakhirnya pada Mei 2006 jaksa agung mengeluarkan surat keputusan penghentian penuntutan perkara (SKP3).Dengan SKP3 itu, berarti kasus pidana Soeharto ditutup dan dinyatakan selesai. Sebab, menurut pasal 140 ayat (1)Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), jaksa agung diperbolehkan mengeluarkan SKP3 kalau adaalasan tertentu seperti karena ternyata masalahnya bukan masalah pidana, kedaluwarsa, ne bis in idem, dan yangbersangkutan wafat.Keabsahan SKP3 tersebut semula dipersoalkan banyak pihak. Bahkan, sejumlah LSM mempraperadilankannya kepengadilan. Sebab, dalam pasal 140 (1) KUHAP itu tak tercantum "sakit permanen" sebagai alasan dikeluarkannyaSKP3.Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memang memutus SKP3 itu tidak sah. Tapi, Pengadilan Tinggi Jakarta dalamtingkat banding memutus SKP3 tersebut sah. Dengan demkian, secara hukum pidana pun, kasus Pak Harto sudahselesai atau ditutup.Gugatan Perdata LemahUntuk mengakomodasi desakan publik setelah mengeluarkan SKP3, pemerintah membelokkan kasus pidana Soehartoke kasus perdata. Pemerintah menggugat Soeharto sebagai ketua Yayasan Supersemar dan yayasan-yayasan lainnyake pengadilan dengan alasan telah melanggar hukum sesuai pasal 1365 KUH Perdata.Perbuatan melawan hukum itu, menurut kejaksaan yang menjadi pengacara negara, antara lain hanya disalurkannyadana Yayasan sebesar 15 persen untuk beasiswa.Tanpa bermaksud memengaruhi pengadilan, saya berpendapat, gugatan perdata itu pun lemah. Sebab, sejatinyakasus tersebut adalah kasus pidana yang dipaksa-paksa dibelokkan ke kasus perdata yang relnya sangat berbeda.Seseorang atau badan hukum bisa digugat perdata jika melakukan wanprestasi terhadap pihak lain.Masalahnya, wanprestasi apa yang tidak dipenuhi Soeharto dan yayasannya kepada negara? Kalau Soehartodianggap berutang, kapan berutangnya, berapa jumlahnya, apa ada bukti (seperti akta utang)?Jika Soeharto dianggap melanggar pasal 1365 karena tidak memenuhi kewajiban sesuai AD/ART yayasan, tentu yangberhak mengajukan gugatan adalah anggota dan pengurus yayasan itu, bukan negara.Padahal, kenyataannya, semua pengurus yayasan menganggap tak ada masalah apa pun dalam yayasan-yayasantersebut. Atas wanprestasi apa pemerintah menggugat perdata?Tap XI/MPR/1998Ada pula yang mengusulkan pencabutan Tap No XI/MPR/1998 dengan alasan Tap itulah yang menjadi dasar membawa Soeharto ke peradilan pidana. Haruslah diingat, dari sudut HTN, Tap MPR tersebut tidak bisa dicabutdengan Tap MPR baru.MPR yang membuat Tap No XI/MPR/1998 itu adalah MPR yang dalam struktur ketatanegaraan adalah lembagatertinggi negara yang melaksanakan sepenuhnya kedaulatan rakyat sesuai UUD 1945 sebelum amandemen.Setelah UUD 1945 diamandemen (1999-2002), MPR bukan lagi lembaga tertinggi negara yang bisa membuat Tapyang bersifat mengatur (regeling) yang setara Tap MPR No XI/MPR/1998 itu. MPR sekarang adalah lembaga negarayang kedudukannya sejajar dengan lembaga negara lain dalam hubungan horizontal fungsional.Menurut Tap MPR No I/MPR/2003 (sebagai Tap terakhir MPR sebagai lembaga tertinggi negara), Tap MPR No XI/MPR/1998 tetap berlaku sampai semua isinya dilaksanakan atau digantikan UU yang substansinya sama dengan Taptersebut.
r
r
r
r
r
r
r
r
q
Arsip
q
q
January 2008
MTWTFSS
293031
http://id.buck1.com/politik-hukum/selesai-sudah-proses-hukum-pak-harto-482 (2 of 4)28/01/2008 8:03:07
Select Month
Leave a Comment