http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
cakra bagaskara manjer kawuryan
Di
scene
ini semestinya instrumen piano lagu roman picisan dengan lirik “cintaku tak harus, miliki dirimu…meski perih mengiris, iris segala janji” terdengar mengiringi akhirpernyataanmu. Setelah itu, sang lelaki terlihat seperti tertimpa satu ton beton bertulang dikepalanya. Mati. Sebab cintanya tidak menjadikannya mampu memiliki wanita pujaannya.Tidak dramatis, tapi justru humoris. Betapa tidak, mencintai dan memiliki menjadi sebuahlogika kausalitas. Sebab mencintai maka memiliki, atau sebaliknya, sebab memiliki makamencintai.Negasi logika kausalitas mencintai tidak harus memiliki, tidaklah lantas berujung padasikap pasive-captive. Bukan sebab kekalahan atas proses perjalanan panjang berakhirpesimisitas. Mencintai tidak harus memiliki, adalah sebuah dikotomi konsepsi memiliki
(to have)
dan menjadi
(to be)
. Keduanya perihal yang berbeda dan perbedaannyamendasar.
Loving also has two meanings, depending upon whether it is spoken of in the mode of having or in the mode of being. Its meaning is wider and more fundamental. To have is adeceptively simple expression. Every human being has something: a body, clothes,shelter—on up to the modern man or woman who has a car, a television set, a washingmachine, etc. Living without having something is virtually impossible.
that loving is about having something?.
Jika mencintai berarti pula memiliki, maka sudah selayaknya cinta itu adalah sesuatu yangdapat dimiliki. Sesuatu –entah apapun itu- yang dapat dimiliki oleh seseorang. Jika duaorang saling mencintai, lantas menyebutnya juga saling memiliki, maka keduanya menjadisesuatu yang juga dapat dimiliki oleh yang lainnya. Keduanya saling memiliki, memilikihal yang entah apapun itu.Menjadi
(to be)
mewakili segala pengalaman kemanusiaan manusia dalam berkehidupan.Menjadi, secara sederhana merupakan proses, tidak harus berujung pada memiliki,dimiliki atau kepemilikan. Sebagai pengalaman, menjadi
(to be)
, pada prinsipnya, tidak dapat dideskripsikan. Pada pemahaman inilah, mencintai tidak harus memilikimenemukan kerangka dasar konsepsinya. Akan jauh berbeda bagi seorang manusia padasaat ia mencintai-memiliki
(to have)
dan saat ia mencintai-menjadi
(to be)
.
If the idea of love is more real than the experience of loving, one can say that love as anidea is permanent and unchangeable. But when we start out with the reality of humanbeings existing, loving, hating, suffering, then there is no being that is not at the same timebecoming and changing. When a couple cannot get over the yearning for the renewal of the previous feeling of loving, one or the other of the pair may have the illusion that a new partner (or partners) will satisfy their longing. They feel that all they want to have is love. But love to them is not an expression of their being; it is a goddess to whom they want tosubmit. They necessarily fail with their love.
“Aku tidak mencintaimu untuk memiliki”, selaku menyapu senyap. “Aku mencintaimuagar menjadi…..”“Itu artinya….?”, kamu kerutkan kening flatmu.
Leave a Comment