You are seeing our new document Reader view. Click here to revert. Feel free to leave us feedback on this feature .
×
  • Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Republik Kuliner(section 2; to have or to be)
Oleh : Roni Basa
Cisitu -Bandung, 19 Djumadil Uula 1430 H 
Bulan penuh tanggal 14 hijriah, meski garis tepinya terpenggal melintang sederet awankelabu kecil. Sinar rembulan menyentuh kulit wajahmu, sebagian cercah lainnyamemantul kembali dari siku bingkai kacamatamu; ialah cahaya yang berhasil lolos daripekatnya gemawan yang menutupi sang bulan. Pertemuan kali pertama semenjak duatahun yang lalu, setelah badai membawamu memutuskan meninggalkan -mimpi-kita.Jelita, kamu masih seperti itu. Alis yang berada satu inchi di atas garis bingkaikacamatamu, pernah dulu aku setarakan dengan getaran rasa tiap membayangkankecantikan bidadari. Dan indah mata bulat itu, beserta bulu lentiknya, pernah dulu akuserupakan pohon surgawi, agar teduhnya selalu menyertai perjalanan mimpi yang tengahkita perjuangkan.Dara, kamu masih seperti itu. Dagu megahmu yang juga bagian tidak terpisah dari hangatsenyum, yang jika kau persembahkan keceriaan, maka semesta seakan bergerak dalamharmoni kesejukan. Dan bibir meruahmu, berwarna merah basah, pernah dulu akubayangkan khuldi, yang jika aku harus menuai ragam jenis kutukan untuk setiap kalimenciumnya, maka aku akan berbahagia menjadi manusia paling terkutuk.Keseluruhan wajahmu, setiap harinya, aku selipkan dalam untaian doa agar mimpi kitakembali nyata. Dinda, kamu masih seperti itu. Mempesona.Aku duduk tepat dihadapanmu, mencoba untuk menyembunyikan kepayang selama ini.Aku hirup dalam-dalam harum wewangian yang merajai tubuhmu, mencoba untuk menyimpannya, kelak diberikan kepada kehidupan setiap hari. Aku berusaha kerasmengingat tiap detik pertemuan kita kali ini. Tidak aku siakan tiap detik pertemuan initerlepas dari pemahaman otak kananku, hingga kelak aku dapat membuka kembali ingatanpengingatnya.Retak lamunanku setelah
Tenderloin hot plate
yang kamu pesan dan
Calamary fresh salad 
untuk aku, di sajikan bagi
candlle lights dinner 
kita. Baru beberapa penggal dialogsemenjak jumpa kita tepat di bawah anak tangga memasuki kemegahan Republik Kuliner;salah satu tempat favoritku menjamu tetamu agung, sepertimu.Memecah kebisuan pertanyaan pramusaji, “ Maaf Mas, perlu saya pesankan minum?”.“Capuccino dingin tambah satu sendok gula kan?” jawabmu, sekaligus memastikan jugaapa yang mungkin aku pesan. Aku hanya bisa tersenyum. Tanpa sanggahan, akumengiyakannya. Ingatanmu masih tersisa untuk aku –dan mungkin kita- tampaknya.“Dan lemon squash tentunya….” , aku melanjutkan memesan untukmu. Masih banyak ingatan aku untuk kita, pasti.
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
    of 00

    Leave a Comment

    You must be to leave a comment.
    Submit
    Characters: ...
    You must be to leave a comment.
    Submit
    Characters: ...