• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Orang-orang pasar
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
Oleh : Roni Basa
 Lembang, 13 Rabiul Uula 1430 H 
Suhu pagi ini terasa lebih menusuk persendian tulang, membuattubuh terasa ngilu digerakkan. Kebekuan menjalari hampirseluruh saraf psikomotorik. Beberapa hari ini cuaca memangkurang memungkinkan orang untuk beraktifitas tangkas. Sejak pukul dua dinihari hujanrintik terus mengguyur, tidak lebat, namun hujan turun dengan konsisten, hawa dinginyang biasanya diakibatkan kabut dan embun digantikan oleh dinginnya air hujan yangmembahasi tiap jengkal jalanan tanah.Saya memutuskan untuk sementara berdiam lebih lama di sudut bangku rendah, yang jugaberfungsi sebagai alas keranjang sayur agar tidak langsung bersentuhan dengan tanah. Baukhas sayuran segar yang mengelilingi tidak cukup mengganggu saya untuk menikmatidengan seksama perjalanan kehidupan orang-orang pasar pagi ini. Sedikit saja yangmengganggu kenyamanan saya, sandal jepit yang berlumur lumpur tanah sampai batastelapak kaki.Dingin mulai menjalari mata kaki saat hiruk pikuk petani dari desa pedalaman turun daritruk dan bak terbuka. Berjejal mereka dengan hasil kebun-tani, buah dan sayur segarsegera disambut spontan oleh pedagang pasar. Bandar pasar langsung mengambil peran,berbekal kalkulator terbungkus plastik dan buku kumal setengah basah, mulai ia mencatathasil alam yang turun dan langsung membagi jatah pada pedagang. Petani dari desapedalaman menyudut di warung kopi, hanya supir truk merangkap ketua kelompok mereka tinggalkan untuk berurusan dengan bandar pasar.Petani perempuan dari desa pedalaman lebih senang untuk menjual hasil taninya sendiri.Dengan sepatu bot semata kaki, dengan ujung kain terlipat sampai pinggang, petaniperempuan dari desa pedalaman bergerak tangkas menurunkan hasil tani lalu menyebarmasuk, menyeruak lebih dalam di tengah kesibukan pasar, di bawah pijar lampu pasarsepanjang lorong-lorong peti pedagang. Dibantu oleh beberapa buruh gendong harian,pekerjaan mempersiapkan
lapak 
dagang terasa mudah bagi mereka.Preman pasar tak mau ketinggalan terlibat, kesulitan untuk memposisikan diri mengambilpungutan tanpa alasan, lantas memfungsikan diri sebagai juru parkir. Cukup efektif rupanya untuk menjadi alasan memasang tarif parkir di atas rata-rata setelahnya, belumlagi ‘uang keamanan’ dari bandar pasar dan ketua kelompok petani.Sepagi ini konsumen belum datang. Orang-orang pasar masih sibuk menyiapkandagangannya.
 Lapak 
, timbangan, keranjang-keranjang buah dan sayur ditata sedemikianrupa agar memudahkan pembeli melihat lebih dekat kualitasnya.Kesibukan yang sama diperlihatkan oleh Pak Udeh, pedagang pasar, yang saya kenalibeberapa bulan ini. Dengan isterinya, Pak Udeh telah menghabiskan paruh usianyaberjualan di pasar. Sayuran yang dibawanya dari desa nun jauh di pegunungan Lembangadalah hasil tani keluarganya, dari lahan yang disewakan orang kota. Menurut Pak Udeh,di desanya hampir seluruh lahan pertanian dimiliki orang kota, penduduk setempathanyalah petani penggarap.
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
Kewajiban membayar uang sewa lahan tentunya perihal yang harus dipenuhi oleh petanipenggarap dari lahan di desanya sendiri. Pagi ini Pak Udeh hanya membawa sayur darihasil taninya. Menanam buah-buahan memerlukan perawatan yang tidak murah, danwaktu yang cukup lama. Pak Udeh harus cermat untuk menentukan kapan untuk menanamapa, termasuk juga kecermatan melihat kebutuhan pembeli. Pernah beberapa kali Pak Udeh lalai memperkirakan kebutuhan konsumen, hasilnya, buah-buahan dari hasil taninyatersisa banyak alias tidak terjual maksimal. Jika sudah begitu, Pak Udeh menyerahkannasib ekonominya pada pengepul yang akan membeli hasil tani dengan harga yang rendah.Pagi ini Pak Udeh mengawali kesibukannya dengan memanjatkan doa bersama sang isteri.Doa bagi kesuksesan puteri keduanya yang tengah mengajukan skripsi di sebuahPerguruan Tinggi. Semoga hasil taninya pagi ini mampu membayar cicilan uang kuliahdan biaya skripsi puterinya. Semoga kelak puterinya menjadi seorang dokter yang mampudibanggakan oleh keluarga dan bermanfaat bagi orang lain khususnya orang-orang kecilseperti petani dan orang-orang pasar. Harapan besar, semoga anak cucunya kelak menikmati kehidupan lebih baik daripada mereka, menegakkan kembali
marwah
keluarga.Demikian doa yang sanggup saya dengar dari riuh rendah suara mereka di tengah hiruk pikuk kesibukan orang-orang pasar. Sayur-sayuran pun lantas dipersiapkan.Sebungkus nasi terbungkus daun pisang lengkap dengan ikan asin dan sambal ditawarkankepada saya. Pak Udeh dan isteri memang tidak pernah membeli sarapan paginya daripedagang lain, puteri mereka telah mempersiapkan kebutuhan sarapan dan kopi untuk Pak Udeh dari rumah. Lebih ekonomis dan terjamin gizinya menurut Pak Udeh. Saya ucapkanterima kasih atas nasi bungkusnya, segera saya buka, dingin memang namun wangi daunpisang segera menggugah selera. Disela kesibukan isteri Pak Udeh bercengkrama hangatdengan orang-orang pasar, masih sempat beliau menyediakan segelas teh hangat untuk saya. Sudah hampir tiga puluh tahun isteri Pak Udeh setia mengabdikan dirinya bagiseorang suami, tidak pernah terfikir untuk meninggalkannya. Cinta pertamanya ialah Udehmuda pada empat puluh tahun yang lalu dan akan begitu selamanya, begitu katanya sambiltersipu malu disebuah kesempatan bercerita.Orang-orang kota belum lagi datang ke pasar untuk membeli sayur dan buah orang-orangpasar. Pagi masih terlalu dini bagi orang-orang kota untuk menyibakkan selimut, apalagidi tengah cuaca sedingin pagi ini. Setelah sibuk seharian menjalankan aktifitas merekasebagai karyawan, buruh pabrik, eksekutif, profesional, pegawai negeri atau swasta danlainnya, tentunya orang-orang kota tidak akan bersegera bangun pagi layaknya orang-orang pasar.Orang-orang pasar seperti Pak Udeh dan keluarganya sedikit saja punya waktu untuk beristirahat. Memastikan sayuran terjual seluruhnya memerlukan waktu sampai dengansiang nanti, merapihkan tempat berjualan merupakan pekerjaan selanjutnya sebelumberanjak pulang. Di rumah, lahan tani dan kebun mereka telah menunggu untuk diair-i dandipastikan mendapatkan pupuk juga terbebas dari ilalang. Pekerjaan menanam danmemelihara lahan tani akan berlanjut sampai dengan petang, tepat saat adzan asharmemanggil. Waktu untuk bercengkrama bersama keluarga baru tersedia selepas maghribsampai dengan dunia dalam berita di TVRI selesai. Selanjutnya, beristirahat untuk mempersiapkan tubuh bangun lebih pagi sebab pasar menunggunya.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...