• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Satu arah
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
Oleh : Roni Basa
Condet, 24 Rabiul Uula 1430 H 
Di tengah riuh rendah obrolan hadirin, suara Pak Daryono serasaterbenam jauh dalam kegundahan kolektif warga Desa Gandasari.Ruangan berukuran tidak lebih dari 35 meter persegi terasa sesak terisi belasan orang. Ibu- ibu kader desa dan penggerak lembagakeswadyaan masyarakat duduk mengelompok di sudut ruangan,berhimpit dengan meja, kursi dan lemari besi tempat dokumen. Meskipun furnitureruangan sudah ditata tumpukan vertikal sedemikian rupa agar memaksimalkan fungsiruang, nyatanya kantor lembaga keswadayaan masyarakat Gandasari tetap terasa sesak.Bapak-bapak berumur separuh baya duduk seperempat lingkaran, menyambung batasakhir kelompok ibu-ibu. Perwakilan tokoh kelompok muda duduk berjarak di belakanglingkaran bapak-bapak, hampir menempel tembok ruangan. Jarak antara bapak-bapak dantokoh kelompok muda hanya dibatasi oleh jajaran dua asbak rokok yang terbuat daripapan kayu berukuran 20 sentimeter.Agar rembug warga lebih interaktif dan partisipatif, duduk setelah batas akhir kelompok bapak-bapak ialah tim fasilitator yang selama ini mendampingi masyarakat. Tim fasilitatormembuat lingkaran menjadi sempurna. Hanya ada gulungan kertas plano, spidol danselotip kertas memisahkan tim fasilitator dan kelompok ibu-ibu. Pak Daryono sebagaikoordinator lembaga keswadyaan masyarakat duduk di tengah tim fasilitator. Kemejawarna biru gelap yang dikenakan tampak kontras dengan dinding kantor berlapis gandakertas plano dibelakangnya. Duduk bersimpuh menghadap baris terdepan bapak-bapak.Malam hangat bercampur asap rokok. Asap rokok menguap halus dari belakang barisanbapak-bapak, bersumber dari tiga batang rokok tersulut milik kelompok muda. Ibu-ibutidak terganggu sebagai perokok pasif. Salah seorang fasilitator perempuan tidak kuasamenahan desakan nikotin yang merayapi saluran pernapasan yang segera menuju jantungnya dalam hitungan detik. Suara batuk tertahan menyadarkan dua orang perokok segera agar mematikan bara rokoknya.Rembug warga ini untuk kesekian kalinya setelah pemilihan ulang anggota lembagakeswadayaan. Komposisi keanggotaan menunjukan wajah-wajah baru, namun masihdidominasi oleh anggota lama dari kepengurusan sebelumnya. Pemilihan ulang dilakukanuntuk menyelamatkan komitmen menanggulangi kemiskinan partisipatif. Tidak adaprosesi kampanye, tidak juga ada pemasangan baliho, poster dan pamflet agitatif-manipulatif selama proses pemilihan anggota lembaga. Tidak selayaknya calon-calonlegislatif; kaum ‘populis’ yang bermasalah dengan eksistensinya. Seluruh anggota dipiliholeh warga sebab rekaman jejak perilaku kesehariannya di tengah kehidupanbermasyarakat. Mereka relawan. Tidak ada imbalan apapun, tidak memiliki materiapapun, tidak bertendensi apapun. Mereka benar-benar relawan sejatinya. Manusia-manusia jernih bagai buih dengan gemerlap intan dari jiwa sucinya.
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
Rembug warga kali ini membicarakan langkah-langkah langsung untuk memperbaikikelembagaan, re-orientasi program kerja dan memperbaiki kualitas transparansipengelolaan kegiatan. Begitu setidaknya yang dikemukakan Pak Daryono pada awalpertemuan, sambil bersandar lunglai pada tembok.Kelelahan akibat pekerjaan siang hari tadi tergambar jelas pada wajah bayanya. Berjualangorengan keliling harus dijalani kembali. Anak laki-lakinya tidak memungkinkan jaditulang punggung keluarga sementara ini. Anaknya dirumahkan oleh pabrik sebabkebijakan penghematan ongkos produksi guna mengimbangi naiknya harga suku cadangmesin. Anaknya dirumahkan sebab terkalahkan oleh mesin pabrik. Masa tua Pak Daryonotertawan untuk menghamba mahsyuk kepada Tuhan.Percayakah ada manusia relawan seperti itu?, percayakah ada sekelompok manusia di luarsana yang merelakan dirinya untuk yang lainnya?. Percayakah bahwa nilai-nilai luhurkemanusiaan mampu meretas kemiskinan?, percayakah kesadaran kritis akanmenumbangkan keangkuhan sang kuasa, apapun bentuknya?. Percayakah bahwa hiduptidak melulu tentang hal lahiriah?, percayakah suara nurani tak terpungkiri untuk arungihari demi hari?.Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya. Dengan tegas saya menjawab “saya bersaksibahwa mereka benar-benar nyata”.* * *Setelah koordinator sebelumnya terindikasi tidak terbuka, bahkan menyimpangkan danamilik warga, pelaksanaan program kerja pengentasan kemiskinan menjadi terhambat.Warga tidak mudah begitu saja mempercayai lembaga swadaya. Masa lalu lembagakeswadayaan Gandasari ialah coreng-moreng wajah kerelawanan warga.Membangun kembali kepercayaan warga kepada lembaga keswadayaan bukan perihaladministratif. Proses audit oleh auditor independen, pelaksanaan rembug untuk meninjauulang dan merefleksikan kegagalan bersama warga, belum juga membuahkankepercayaan. Relawan warga khawatir, ketidakpercayaan warga kepada lembaganya akanmengakibatkan ketidakpercayaan pada potensinya sendiri. Potensi yang juga modal sosialuntuk mengatasi permasalahan kehidupannya sendiri, menjadi mandiri.Kesemua keprihatinan dan kepedihan yang terjadi dalam kehidupan tidak menjadikananggota lembaga keswadayaan bergeming menatap masa depan. Ada banyak wargamiskin di Gandasari perlu diperjuangkan di masa datang. Mereka berkesadaranmenjadikan masa lalu sebagai pelajaran bagi masa depan. Mereka bersepakat tidak akanmelupakan masa lalu demi masa depan. Mereka menolak mengingkari masa lalu.Pengingkaran terhadap masa lalu juga berarti pengingkaran terhadap masa depan.Pada pertemuan sebelumnya, pertemuan internal pengelola lembaga keswadayaan, hal inidirefleksikan nilainya. Masa lalu ditilai oleh mereka tidak pernah ada jika ia tidak memberikan masa depan bagi esok hari. Jikapun masa lalu diakui ada, hanya untuk menutupi luka, maka masa depan hanya akan berbuah dendam. Dan dendam akanmenutup mata hati.
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
The past is never dead, it is not even past. This past, moreover, reaching all the way back into the origin, does not pull back but presses forward, and it is, contrary to what onewould expect, the future which drives us back into the past.Seen from the viewpoint of man, who always lives in the interval between past and future,time is not a continuum, a flow of uninterrupted succession; it is broken in the middle, atthe point where "he" stands; and "his" standpoint is not the present as we usuallyunderstand it but rather a gap in time which "his" constant fighting, "his" making a standagainst past and future, keeps in existence.The first thing to be noticed is that not only the future "the wave of the future" but also thepast is seen as a force, and not, as in nearly all our metaphors. Action being things to bedo. Action that has a meaning for the living has value only for the dead, completion onlyin the minds that inherit and question it.If action
is emphasized exclusively to the detriment of reflection, the word is converted intoactivism. Action can not living in the jail wich called “area between past and future”.
Malam hangat bercampur asap rokok bergerak maju. Suara batuk tertahan akibat sisa bautembakau rokok menyadarkan saya. Tim fasilitator semenjak tadi memberi tanda kepadasaya untuk berbicara. Cukup lama rupanya saya tertegun.Pak Daryono memberi ruang agar saya duduk bersamanya. Relawan warga memperbaikiposisi duduknya. Kelompok ibu-ibu membuka lembaran baru buku catatan, bersiapmenulis pernyataan. Kelompok muda malu segan membersihkan ceceran abu rokok yangmeleset tertampung asbak papan kayu berukuran 20 sentimeter.Saya duduk disebelah kanan Pak Daryono. Kali keenam saya berada di tengah-tengahmanusia-manusia yang memiliki kebesaran jiwa, kemurnian hidup. Kembali saya tertegun,sampai usapan halus Pak Daryono dipunggung memberi rasa nyaman untuk berbicara.Namun, saya tetap tidak dapat berbicara. Segala jiwa saya luruh, segala keberanian sayamembeku di ujung hela nafas. Terasa sesak dada, lalu detik selanjutnya air mata menetes.Terisak saya sampaikan betapa saya merasa terhormat dapat bersama mereka, belajarbanyak untuk menyikapi masa lalu, berbuat adil kepada masa depan.Ada ruang “antara” masa lalu dan masa depan yang masih diberikan kesempatanmendiami kehidupan. Ruangan “antara” tidak menenggelamkan hidup pada area masalalu, namun sulit mengawali penjelajahan masa depan. Ruangan “antara” bukanlah masakini. Setiap perbuatan dalam ruang “antara” tidak berfungsi memperbaiki kondisi, hanyamenegaskan eksistensi.Aksi;perbuatan berdasar nurani dengan kesadaran akan memberi arti lebih bagi kehidupandalam ruang “antara”. Ia akan bergerak satu arah bersama masa lalu dan masa depan,bahkan masa lalu dan masa depan senyatanya bergerak satu arah. Dan itu bukan masa kini.Yang perlu dilakukan selanjutnya ialah mendengarkan kembali nurani dalam gerak satuarah masa lalu dan masa depan. Nurani akan menunjukan arah lebih baik, meskipun akanada jalur satu arah lainnya.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...