http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
cakra bagaskara manjer kawuryan
Erich Fromm (Fear Of Freedom. 1942), mengisahkan seorang anak laki-laki yang patuhterhadap ajaran dari kedua orang tuanya. Kepatutan bagi seorang anak untuk patuh dantaat kepada manusia yang lainnya, yang telah menjadikannya ada sebagai manusia. Padasaat yang berbeda, dalam dimensi waktu yang berbeda, anak ini tumbuh dan berkembangbersama manusia yang lainnya, proses kehidupannya menjadikan ia memilikikebebasannya sendiri atas hidupnya. Kepatuhannya terhadap orang tuanya tidak lantasberkonfrontasi dengan kebebasannya sebagai individu. Dia tetaplah seorang anak darikedua orang tuanya.Menjadi “anak baik” bagi seorang anak di hadapan orang tuanya memerlukan kepatuhanyang berkonfrontasi langsung dengan nilai kebebasan. Untuk usia nya itulah yangdimaknai sebagai kebebasan; patuh dan taat, pilihan menjadi hanya satu yaitu patuh.Meskipun dengan demikian, kepatuhan sebagai manifestasi ‘kebebasan’ bagi seorang anak akan bergerak dinamis saat ia beranjak dewasa dan bukan hal yang tidak mungkin, ia akanmelakukan konfrontasi berdasar pemahamannya terhadap nilai kebebasan individual yangdidapatnya dari hal-hal eksternal di luar sana.Tanpa bermaksud menjadi anti etika saya menceritakannya kembali.Kisah lainnya yang diungkapkan oleh Fromm, seorang Asia tidak lantas menjadi hilangidentitas ke-asia-annya saat ia ke Eropa, makan dengan menggunkan garpu dan pisauuntuk keperluan konsumsinya. Ia tetaplah seorang Asia.Tanpa bermaksud menjadi cauvinism saya menceritakannya kembaliFromm lebih lanjut menegaskan
“Human existence begins when the lack of fixation of action by instincts exceeds a certain point; when the adaptation to nature loses itscoercive character; when the way to act is no longer fixed by hereditarily givenmechanisms. In other words, human existence and freedom are from the beginninginseparable. Freedom is here used not in its positive sense of "freedom to" but in itsnegative sense of "freedom from", namely freedom from instinctual determination of hisactions. This concept of instinct should not be confused with one which speaks of instinct as a physiologically conditioned urge (such as hunger, thirst, and so on), the satisfactionof which occurs in ways which in themselves are not fixed and hereditarily determined.”
Fromm seakan ingin memberikan penjelasan lebih mengenai arti penting kebebasan.Baginya bukan “kebebasan untuk” yang terpenting dicermati dalam kemanusiaan manusia,namun, “kebebasan dari” yang selayaknya dicermati bagi keberlangsungan kemanusiaanmanusia.Fromm memodelkan kebebasan menjadi apa yang dikatakannya sebagai “
static freedom,;such an adaptation to patterns as leaves the whole character structure unchanged and implies only the adoption of a new habit
,
it does not arouse new drives or character traits
.”
Cerita seorang Asia yang berada di Eropa merupakan gambaran kondisi ini. Alatyang digunakan seorang Asia untuk makan tidak lantas menjadikannya menjadi seorangEropa, seorang Arab atau seorang dari benua lainnya.
Leave a Comment