http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
cakra bagaskara manjer kawuryan
Dear,Made Gede Yuliasa WiwahaAtas tindakan lo terhadap apa yang kita bangun selama ini, surat ini gw sampaikan. Suratyang bersemangat sama saat pertama kali kita membangun sebuah ruang untuk memungkinkan kita berbagi satu sama lain, ruang dialog. Keyakinan atas kekuatannyabagi setiap penyelesaian soal-soal seputar kehidupan membuat kita nyaman untuk beradadidalamnya.. Lo bisa memahami surat ini sebagai salah satu pertinggal ditengah-tengahberseraknya puing-puing ruangan dimaksud. Jika lo masih mempercayai bahwa musuhkebenaran bukanlah kebathilan melainkan kebenaran “yang lain”, maka mari kita bicara,mari kita berbagi kebenaran. Gw mengajak lo membincangkan tentang apa yang tengah lodan gw lakukan kepada kita.Sikap lo memutuskan hubungan kita wajar saja dilakukan, begitu juga banyak orangberanggapan, ‘normal’ bahkan menurut khalayak. Menjalin hubungan serius dengan jenislain dari manusia memang sudah lama sekali menghuni relung-relung paradigma danperspektif manusia saat dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia membutuhkaneksistensi. Persoalan ini merupakan soal klasik sepanjang sejarah manusia;eksistensi.Semenjak Darwin, Freuds, Konrad Lorens, Nietzhe sampai dengan Fromm, soal ini masihbelum selesai seutuhnya. Kebuntuan persoalan ini bukan sebab manusia besertakemanusiaan merupakan hal dinamis semata, melainkan soal keberanian menganalisisirasionalitas dalam sistem sosial. Yang dengan demikian, melanggar tabu yangtersembunyi dibalik kata-kata bermoral-dan atau ‘normatif’.Akhirnya gw bisa memahami, jenis lain dari manusia, dalam hal ini perempuan; mediayang lo butuhkan untuk mengukuhkan eksistensi kehidupan di tengah-tengah pemahamangagasan dan praktik-praktik berpasangan dalam hidup. Sebab berpasangan dengan jenislain manusia;perempuan adalah hal yang bermoral berdasar kebiasaan. Berpasangandengan jenis lain manusia, dimungkinkan untuk tetap mengukuhkan eksistensi.Mereproduksi diri dalam penjelmaan keturunan salah satunya. Manusia menjadi tergila-gila untuk mereproduksi dirinya untuk eksistensi diri, manusia menjadi tergila-gilaberpasangan dengan jenis lainnya. Manusia jadi tergila-gila bercinta.Adalah lo yang memperkenalkan gagasan instingtifitas. Versi manusia yang lo sebutsebagai kelampauan manusia. Masa-masa dimana manusia berada dalam ke-purba-anbeserta tindakan-tindakannya berdasar kepada ke-purba-annya. Untuk mengukuhkaneksistensi manusia dan kemanusiaannya, dalam versi ini, lo contohkan tindakan berburuuntuk makan, berperang untuk berkelompok dan melakukan seks untuk menjamineksistensi. Gw masih mengingat bagaimana kemudian lo bersusah payah menjelaskanpersoalan itu menjadi perspektif-terminologi-etis dengan menyebut instingtifitas jugasebagai “dorongan-dorongan organik”.Secara halus, mempertimbangkan aspek anatomi, memperhatikan kelas berbeda antaramanusia dan hewan, “dorongan-dorongan organik” itu yang lo perkenalkan gagasanselanjutnya untuk memberikan perbedaan dengan gagasan instingtifitas. Gw masih belummemahami motivasi lo saat itu hingga kesusahan sangat mendekonstruksi gagasan yang locamkan sendiri. Namun, di akhir perjalanan hubungan kita, gw baru menyadarinya, lotangah melakukan pengingkaran.
Leave a Comment