Bencana yang seringkali terjadi Jawa Barat tidak hanya menimbulkan kerugian harta benda,tetapi juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Bencana gempa bumi yangbaru saja terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 15:19:24 WIB di sepanjang kawasan pantai yangtermasuk ke dalam wilayah selatan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Gempa dengan magnitudo gempa 6,8 SR menurut BMG, dan 7,7 Mw menurut USGS (AmerikaSerikat), telah menimbulkan kerugian yang sangat besar, dimana sedikitnya 437 orang menjadikorban, lebih dari 24314 orang mengungsi dan menyebabkan kerugian harta benda lebih dari Rp.500 milyar, untuk wilayah Jawa Barat saja (data hingga 22 Juli 2006).Peristiwa bencana tersebut tidak mungkin dihindari, tetapi yang dapat kita dilakukanadalah memperkecil terjadinya korban jiwa, harta maupun lingkungan. Banyaknya korban jiwamaupun harta benda dalam peristiwa bencana yang selama ini terjadi, lebih sering disebabkankurangnya kesadaran dan pemahaman pemerintah maupun masyarakat terhadap potensikerentanan bencana serta upaya mitigasinya.Mengamati fenomena-fenomena di atas, pertanyaan mendasar yang muncul adalahapakah kita yang hidup di wilayah rawan bencana alam harus selalu mendapatkan kerugian yangbesar, dalam hal korban jiwa maupun harta benda, dalam setiap kejadian bencana? Apakahpembangunan yang ada justru makin memperparah dampak bencana akibat tidak diperhatikannyakaidah-kaidah kebencanaan dalam pelaksanaan pembangunan? Pembangunan semestinyabukanlah proses modernisasi saja tetapi harus juga memperhatikan peningkatan kualitas hidupdari berbagai aspek seperti ekonomi, sosial dan lingkungan yang harus dijalankan dalampelaksanaan pembangunan secara seimbang, diantaranya dengan memperhatikan kaidah-kaidahkebencanaan dalam pelaksanaan pembangunan. Agar dapat maju dan bersaing dengan bangsalain, bagi kita yang hidup di daerah rawan bencana, sudah seharusnya memiliki kebijakan, strategi,perencanaan atau program-program yang dilakukan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaanmenghadapi bencana.
Manajemen Bencana
Banyaknya peristiwa bencana yang terjadi dan menimbulkan korban jiwa serta kerugianharta benda yang besar baik di Jawa Barat maupun di Indonesia, telah membuka mata kitabersama bahwa manajemen bencana di negara kita masih sangat jauh dari yang kita harapkan.Selama ini, manajemen bencana dianggap bukan prioritas dan hanya datang sewaktu-waktu saja,padahal kita hidup di wilayah yang rawan terhadap ancaman bencana. Oleh karena itupemahaman tentang manajemen bencana perlu dimengerti dan dikuasai oleh seluruh kalangan,baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta.Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan danpenanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal sebagaiSiklus Manajemen Bencana (seperti terlihat dalam Gambar Siklus Manajemen Bencana), yangbertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3)memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangikerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.