Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Trilogi Kemiskinan - YB Mangunwijaya

Trilogi Kemiskinan - YB Mangunwijaya

Ratings: (0)|Views: 1,394 |Likes:
Published by eets
Adalah cendekiawan yang berumah di pinggir Kali Code. Ia memahami orang miskin tidak sekedar teoritik, tetapi melalui hidup dan kumpul bersama mereka. Ini hasil wawancara di pondoknya di bulan Mei 1986. Berkisah tentang pandangan dan pengalamannya. Dimuat dalam buku Seri Esensia: Transformasi Masyarakat Indonesia dengan editor Denny J.A dan diterbitkan oleh ‘Kelompok Studi Proklamasi’ pada Agustus 1986 dalam kerja sama dengan Asia Foundation – disalin sesuai dengan yang tertulis dalam buku tersebut
Adalah cendekiawan yang berumah di pinggir Kali Code. Ia memahami orang miskin tidak sekedar teoritik, tetapi melalui hidup dan kumpul bersama mereka. Ini hasil wawancara di pondoknya di bulan Mei 1986. Berkisah tentang pandangan dan pengalamannya. Dimuat dalam buku Seri Esensia: Transformasi Masyarakat Indonesia dengan editor Denny J.A dan diterbitkan oleh ‘Kelompok Studi Proklamasi’ pada Agustus 1986 dalam kerja sama dengan Asia Foundation – disalin sesuai dengan yang tertulis dalam buku tersebut

More info:

Published by: eets on Aug 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2010

pdf

text

original

 
Y.B. Mangunwijaya: Trilogi Kemiskinan*
Jika ada trilogi pembangunan, maka ada pula trilogi kemiskinan yang mencakup: kemiskinan,kriminalitas dan pelacuran. Inilah tritunggal yang ada di kalangan masyarakat bawah. Yaitu suatudunia yang kejam dan penuh penderitaan. Walaupun demikian, kita masih cenderung melihatnyasecara romantic, dengan belas kasihan dan menjadikannya sebagai obyek diskusi ilmiah belaka.
Akar Historis
Sebenarnya kemiskinan di Asia sekarang ini, masih merupakan kelanjutan dari struktur lama – pribumi dan tradisional – yang telah berlangsung berabad-abad. Bahkan ribuan tahun. Sejak dulu,Asia ini menjadi wilayah kaum bandit. Dengan masuknya kapitalisme barat, maka banditisme inisemakin sistematis, semakin ilmiah dan semakin teknologis.Perpaduan kapitalisme barat dan banditisme Asia pun terjadi di Indonesia. Kita ternyatamasih berada dalam hokum rimba, baik hukum rimba pribumi yang telah berumur ribuan tahun,ataupun hokum rimba kapitalisme yang
sophisticate
.Generasi sekarang ini ingin melawan dan merintis struktur-struktur yang baru. Perintisan inidapat dilihat melalui proklamasi kemerdekaan dan pembuatan sistem baru. Tapi proklamasi kita ituhanya berumur sepuluh tahun. Setelah itu kembali lagi berlaku banditisme internasional yangberpadu dengan banditisme pribumi Asia.
Pemihakan
 Jika kita pandang secara dialektika historis, untuk merubah struktur lama ini memang akanmembutuhkan kurban. Tapi kurban yang terjadi adalah akibat pertentangan antara maksud baik danmaksud buruk, antara mereka yang berada di barisan
The New Emerging Forces
melawan merekayang berada di barisan
The Old Establishing Forces
. Mereka yang berada di barisan lama, memangpunya kekuatan yang hebat sekali. Hal ini disebabkan tradisi mereka yang telah mengakar. Dandidukung oleh pusat-pusat kekuasaan dunia.
Masalahnya hanyalah, kita berpihak di mana?
Kitatahu bahwa Bung Karno berpihak di barisan
The New Emerging Forces
. Sebenarnya sebagai seoranginsinyur adalah wajar jika Bung Karno memihak kepada
The Old Establishing Forces
. Hatta danSyahrir pun sebagai seorang profesional bisa melakukan hal yang sama.
Tapi mereka justrumelawan arus
dan berpihak pada
The New Emerging Forces
. Jika akibat pilihan ini mereka dipenjara, ya … bagi mereka tak masalah. Pengalaman eksistensial dan kesadaran pribadi membuatmereka berani melakukan pilihan.
Bagaimana dengan kita?
 
Berbagai Cara
Dalam konteks kompleks seperti sekarang, perlawanan terhadap struktur lama menuntutberbagai cara. Banyak yang mengatakan cara saya memihak kawan-kawan yang miskin di Kali Codemelalui hidup bersama ini bersifat pinggiran dan tidak langsung ke sumbernya. Mereka yangmemahami demikian, tidak memahami konteks. Saya memang bukan orang partai, saya tidak punyapasukan bersenjata. Bagi agamawan seperti saya, wajar jika jalur yang ditempuh bertumpu padakekuatan moral. Tapi jangan dikira kekuatan moral itu tidak lebih kuat dari buldozer. Jelas, tindakanseseorang harus sesuai dengan keahlian dan keterbatasannya. Realistis. Justru filosofi inilah inti dariefektivitas politik praktis. Saya tidak ahli membuat strategi dan organisasi sebagaimana mereka yang
 
mengaku berpolitik praktis lainnya. Saya hanya meneladani rohaniwan seperti Mahatma Gandhiataupun Marthin Luther King, yang berjuang tanpa kebencian dan kekerasan. Saya hanya kancilpenunjuk jalan. Harimau dan Ular silahkan menggunakan kesempatan ini. Namun janganmengharapkan Kancil meraung-raung seperti Harimau. Jangan mengharap saya berbuat melebihikapasitas saya. Tidak bisaDan memang menangani kemiskinan yang terjadi di Indonesia tidak bisa dilihat secara teknispraktis. Karena kemiskinan itu sendiri adalah permukaan dari lautan yang begitu luas. Hal ini sangatmenyulitkan, terutama dalam kebudayaan kita.
Menolong orang miskin bukanlah tradisi nenekmoyang kita
. Itu adalah hal yang baru. Orientasi masyarakat kita adalah ke atas. Orang besar dalamsejarah kita selalu
minteri 
orang kecil. Mereka tidak menolong, bahkan menarik upeti dan menipu.Terus terang saja, jika ada gerakan menolong orang miskin di masyarakat kita sekarang ini, itu bukanlahir dari kebudayaan kita. Kita harus akui bahwa gerakan itu datang dari Barat. Apakah misalnya,kerajaan Mataram pernah punya kebutuhan mendirikan palang merah? Jika ada panglima yang takbisa merebut Batavia, maka ia dibunuh oleh Sultan Agung. Itulah cirri kebudayaan lama kita.
Perikemanusiaan adalah konsep yang datang dari Barat.
Nilai-nilai luhur dalam Pancasila, memangdirumuskan pribumi, tapi pribumi yang telah dididik oleh pendidikan modern. Pancasila tidak datangdari keratin.Karena kompleksitas masalah kemiskinan tersebut, penanggulangannya pun kompleks pulayang mencakup berbagai cara. Para ekonom, politisi, teknikus dan rohaniawan terlibat dalamcaranya sendiri-sendiri. Yang penting, orang-orang miskin itu menjadi subyek perubahan pula. Bukansebagai obyek yang didekati melalui angka-angka.Namun ekonom, politisi, teknikus dan rohaniawan yang kita harapkan adalah posisi merekasebagai pribadi.
Bukan dalam golongan atau kelas
. Karena, golongan atau kelas itu tidak homogen.Ada yang baik dan buruk. Memberi analisis atau menaruh harapan pada golongan atau kelashanyalah mempermudah analisis situasi.
Yang selalu berlaku sebagai pejuang adalah pribadi-pribadi
. Yaitu para sahabat dan handai taulan yang berada dalam mata rantai
The New EmergingForces
.
Masalah Sistem
 Perdebatan tentang kemiskinan umumnya selalu dihubungkan dengan sistem sosial yangmelingkupinya.
Perdebatan ini biasanya hanya menjadi sport intelektual atau cenderungmengarah pada klobotisme
. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kebijaksanaan resmi yang tidakterlalu memperhatikannya. Terlebih lagi dari pihak yang berwenang terlalu gemar dengan etiketpermukaan.
Pohon kelapa diberi etiket pohon rambutan. Jika kit abaca etiketnya, memang kitaberkesimpulan bahwa itu pohon rambutan. Tapi jika kita lihat batangnya, daunnya, buahnya,ternyata sebenarnya itu pohon kelapa
. Sistem yang berlaku dalam masyarakat kita dikatakanbersandar pada nilai-nilai luhur Pancasila. Tapi jika kita teliti lebih dalam, kok mirip-mirip sistemkapitalisme yang ganas, bahkan ditambah pula sistem politik politik yang ketat. Slogan-slogan ituternyata memang bukan realitas.
Pengembangan Masyarakat
 
 
Kita menyaksikan banyaknya Lembaga Pengembangan Masyarakat yang terjun langsung kegolongan miskin. Mereka melibatkan cendekiawan ataupun mahasiswa yang memang
concern
 terhadap pengembangan masyarakat tersebut.Saya tergerak pula melakukan hal yang serupa melalui cara yang saya mampu dan sayayakini. Barangkali cara yang saya tempuh berbeda dengan cara yang ditempuh organisasi formalseperti lembaga-lembaga pengembangan masyarakat tersebut.Pertama-tama yang saya lakukan adalah
hadir dan hidup bersama mereka. HADIR!
Itulahyang utama. Yang lainnya itu sekunder. Sebenarnya saya pun bisa melakukan aksi ekonomi dansebagainya, tapi kemudian tidur di tempat yang mewah dan empuk. Tapi saya memilih hidup dipinggir Kali Code ini bersama mereka,
dan sekedar hadir
.Sesudah hadir, kita lalu membuat yang kecil-kecil saja. Dan saya memang punya resepsendiri. Jika kita mulai dengan kotbah tentang pembangunan, perubahan besar-besaran, itu hanyaberakhir dengan ngomong-ngomong saja.
Saya justru memulai dengan mendekati anak-anak disini.
Mereka diasuh, diberikan pelajaran, dibuatkan lomba dan sebagainya. Tapi melalui anak-anak,saya bisa langsung mengambil hati ibunya. Dan langsung pula mengambil perhatian ayahnya. Orangtua mereka disini banyak yang bandit dan pelacur. Tapi walaupun mereka di sini banyak yang banditdan pelacur, toh … tetap sayang dengan anak-anak mereka sendiri. Terlebih lagi mereka menjadibandit dan pelacur bukanlah semata-mata pilihan bebas mereka. Justru lebih banyak dipaksakeadaan. Ketika anak-anak membuat kegiatan, ora tua mereka pun akhirnya turut berpartisipasi.Dan akhirnya antara saya dan orang tua mereka pun terjalin hubungan batin.
Hubungan batin itulahkunci untuk mendekati. Karena, melalui hubungan batin ini lahirlah kepercayaan dan cinta
. Sayatidak dianggap orang asing yang mau
minteri 
mereka.Setelah itu saya buatkan suasana agar dalam kehidupan sehari-hari, mereka melakukanmusyawarah.
Musyawarah!
Untuk mengusahakan ini susahnya bukan main. Dari pengalaman sayasendiri, hal ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Karena,
bandit dan pelacur di sini palingtidak suka musyawarah.
Untuk keperluan tersebut, yang pertama saya lakukan adalah
membangun permandianumum. Ternyata cukup efektif. Ketika mereka antri untuk mandi, mereka mulai berbicara satusama lain.
saling bicara mulai dari utang-piutang, gossip dan sebagainaya.
Lalu muncul kebutuhanuntuk komunikasi
.Permandian umum punya fungsi lain pula. Di tempat ini kekecewaan kehidupan sehari-haridan tekanan batin bisa tersalur secara wajar.
Melalui gosip, mereka bisa keluarkan uneg-uneg yangmengganjel
,baik gosip tentang suaminya, pacarnya dan segala macam. Setelah selesai mandi, tubuhdan perasaan mereka bisa rileks kembali. Tak perlu psikiater.Begitu pula tentang sex. Orang-orang miskin ini kan susah menyalurkan gairah sex mereka.Padahal hiburan utama orang yang berangkat dewasa adalah sex. Mereka mau nonton bioskop, ya ngga punya uang. Mau nonton deklamasi penyair, ya … sekarang mesti bayar. Paling hebat ya …mendengar radio dan nonton televisi umum. Jika gairah sex ini begitu tegang, ditutup-tutupi, wah … justru berbahaya.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Onk Imoek Imoek liked this
tellmewhat03 liked this
buru_buku liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->