Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
WS RENDRA

WS RENDRA

Ratings: (0)|Views: 3,621 |Likes:
INDONESIA'S INSPIRATION
INDONESIA'S INSPIRATION

More info:

Published by: Hendra Manurung, S.IP, M.A on Aug 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

 
W.S Rendra
”DALAM kaitan introspeksi-retrospeksi, sepanjang 60 tahun ini, Anda pernahmenemukan seorang Rendra yang macam apa?”Pertanyaan itu dijawab Rendra sambil merunduk tersipu: “Rendra yang dimanjakanAllah, tapi kadang-kadang penuh kelengahan dalam dirinya. Banyak kesalahan sayakepada keluarga, kerabat, handai-tolan. Mudah-mudahan sisa umur saya bisa dipakaiuntuk memerbaiki kesalahan itu.”Itu dikatakannya di padepokannya di Cipayung, Depok, 7 November 1995. Hari itumerupakan hari jadinya yang ke-60, yang ditandai dengan acara tahlilan, makanmalam, dan aneka hiburan yang disajikan oleh keluarga besar Bengkel Teater.Rendra adalah sebuah nama, dengan banyak julukan dan kepandaian: penyair,pengarang cerpen dan esai, penulis lakon, aktor, sutradara teater, pemimpin kaumurakan, budayawan, ayah 11 anak dari tiga istri, pembaca puisi yang memesona,pelaku protes yang menggetarkan, pejuang demokrasi yang tak jera dicekal, si”Burung Merak” yang manja dan kenes.Rendra memang bukan hanya seorang seniman. Sejak kepulangannya dari New York,setelah belajar teater selama empat tahun di sana, 1968, namanya menjadi gunjingankhalayak ramai. Karya pentasnya yang pertama yang belakangan disebut sebagaiteater ”mini kata” mengundang gegap kontroversi. Sejak itu, pertunjukan drama-dramanya selalu dibanjiri penonton. Tiga pementasannya,
Menunggu Godot
(1969),
Kasidah Barzanji
, dan
Oedipus Rex 
(1970), dinilai merupakan puncak-puncak
1
 
pencapaian artistiknya. Taman Ismail Marzuki (TIM) pun berkibar menjadi sebuahpusat kesenian yang menarik perhatian.Dan Rendra tak pernah berhenti menjadi pusat perhatian. Ia meninggalkan agamaKatolik yang dianut dengan taat oleh orangtuanya. Ia masuk Islam, dan mengawiniSitoresmi sebagai istri kedua. Sitoresmi diajaknya hidup seatap dengan Sunarti,istri pertama yang telah memberinya lima anak (1970). Ia pun menghebohkan denganPerkemahan Kaum Urakan-nya di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, Oktober 1971.Lalu, Desember 1973, di tengah maraknya gerakan-gerakan protes mahasiswa, Rendradengan Bengkel Teater-nya mementaskan
Mastodon dan Burung Kondor 
yangmenggemparkan karena muatan kritik sosialnya yang tajam dan berani, menurutukuran masa itu. Sejak itulah, ia berkenalan dan menjadi akrab dengan pelarangandan pencekalan, dimulai dari kota tempatnya dibesarkan, Yogyakarta.Rendra memang berubah, menjadi dramawan yang menggelora dengan semangatantikemapanan, dan menjadi penyair protes yang galak. Drama-drama dan sajak-sajaknya dianggap mewakili hati nurani kaum yang tertindas. Karena itu, selainmendapatkan pemberangusan, termasuk meringkuk di dalam bui (1978), ia jugamendapatkan keplok yang riuh dari para pengagumnya.Penyair yang memopulerkan acara pembacaan puisi itu telah menjadi simbol kekuatanmoral. Simbol perjuangan demokrasi, yang menuntut terselenggaranya daulat rakyatdan bukan daulat tuanku yang feodalistik dan otoriter.Dan ia, hingga usianya mencapai 60 tahun, tetap konsisten: mengritik dan dicekal.Sekurang-kurangnya, sajak-sajak yang akan dibacakannya di muka umum harus ditelitioleh pihak keamanan, dan konon harus disetujui oleh ”Pusat” terlebih dahulu: manayang boleh dibacakan, dan mana yang harus dilarang.Menurut penyair yang mengaku ”berumah di angin” itu, usia 60 tahun adalah waktuyang tepat untuk melakukan introspeksi. Itu antara lain dilakukannya denganmemberikan ceramah budaya di TIM, Senin kemarin, dan pembacaan puisi bekerjasama dengan Majalah
Gatra
di tempat yang sama, Rabu dan Kamis pekan ini.Sambil mempertimbangkan bahwa pekan ini akan menjadi pekan Rendra, kamimengangkatnya untuk Laporan Utama kali ini. Tiga bagian tulisan mencobamenggambarkan kembali tiga wajah sang Burung Merak: sebagai seorang pejuangdemokrasi yang lantang, sebagai seniman yang tetap kreatif dan produktif, dansebagai sebuah pribadi yang penuh warna.”Secara umum, kita menilai dia itu positif,” komentar Asisten Sosial Politik KassospolABRI, Mayor Jenderal TNI Syarwan Hamid. Artinya meminjam jargon iklan yang kinipopuler, Rendra memang oye.Yudhistira ANM Massardi.
(Sumber : GATRA,18 November 1995 ( No.1/II ) Rubrik : LAPORANUTAMA,MUKADIMAH)
2
 
GATRA: Laporan Utama 18 November 1995
KARMA SEORANG PENYAIR BERNAMA RENDRA
Memasuki usia 60 tahun, penyair dan dramawan Burung Merak tampak makin arif. Tapiia diakui sebagai pejuang demokrasi yang konsisten.RENDRA naik pentas lagi pekan ini, ia membacakan pidato kebudayaannya di GedungGraha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pidato itu sekaligusmerupakan langkah introspeksinya. Saya ingin meninjau kembali. Kita semua inginperbaikan. Kita semua berjuang, katanya. Penyair dan dramawan Indonesia terkemukaitu ingin mengajak seluruh masyarakat untuk mempertanyakan kembali sejumlah hal,dalam konteks kebudayaan. Misalnya , tentang demokrasi, partisipasi rakyat, sikapbernegara, jalannya pemerintahan, dan lain-lain. Kedewasaan bersama akan kitalihat, katanya. Saya juga akan menekankan pentingnya pendewasaan tentara. Tentarapun harus dewasa karena tentara kita itu lain dari tentara di negara lain. Tentara dinegara lain dibentuk oleh pemerintah atau partai. Tentara kita dibentuk oleh rakyat,dengan konsensus Saptamarga.Saya akan berbicara mengenai karma tentara, katanya lagi. Tentara itu, mulai dariSaptamarga, mereka sudah menyatakan mau membela Pancasila. Jadi tidak mungkintentara itu menindak orang yang memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan yangberadab. Dan mereka juga tidak mungkin menghalangi perjuangan untuk keadilansosial dan demokrasi.Maka, menurut Rendra, jika menyebal dari karma itu, tak mustahil tentara akanberlaku fasis, dan berperan secara tak jelas.Sebagai budayawan, Rendra pun melihat rakyat juga perlu didewasakan. Di mataRendra, rakyat masih belum memiliki emansipasi individu. Tanpa adanya emansipasiindividu, bagaimana mungkin menciptakan daulat manusia sebagai jembatan menujukedaulatan rakyat. Pada gilirannya, rakyat gampang memuja birokrasi. Akibatnya,pemerintah kedudukannya menjadi lebih tinggi dari rakyat. Mestinya rakyatlah yangmempunyai negara, bukan sebaliknya, katanya.Begitu pun, ia menolak gerakan massa yang bertujuan melancarkan revolusi. Kecualiyang karismatik. Misalnya, seperti ikatan cinta kasih pada massa Gandhi di India dulu.Jadi bukan ikatan program politik yang rinci. Karena gerakan massa politik selalumembuat dikotomi antara kawan dan lawan. Massa boleh saja memihak, tapi takberarti yang berdiri di seberang sana itu adalah lawan, ujar Rendra.
3

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Elmaa N. Liza liked this
shintashinta liked this
Fauzil Shin liked this
armitridesi liked this
Sinta Sirait liked this
Arinto MauLana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->