Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
35Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kelembagaan Lingkungan Hidup

Kelembagaan Lingkungan Hidup

Ratings: (0)|Views: 2,205 |Likes:
Published by Agus Sugiyono
Pemerintah terus mengupayakan adanya keseimbangan antara pembangunan dengan
kelestarian lingkungan hidup. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pembentukan
kelembagaan.
Pemerintah terus mengupayakan adanya keseimbangan antara pembangunan dengan
kelestarian lingkungan hidup. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pembentukan
kelembagaan.

More info:

Published by: Agus Sugiyono on Aug 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2013

pdf

text

original

 
 1
Kelembagaan Lingkungan Hidup di Indonesia
*)
 
Agus Sugiyono
**)
 
Abstrak
Pemerintah terus mengupayakan adanya keseimbangan antara pembangunan dengankelestarian lingkungan hidup. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pembentukankelembagaan. Kelembagaan ini sangat penting sebagai alat untuk mengatur danmengendalikan para pelaku ekonomi di pasar. Efektivitas kelembagaan lingkunganhidup dapat dilihat dari kinerja instansi pemerintah dan LSM, perangkat hukum danperaturan perundang-undangan, serta program-program yang dijalankan pemerintahdalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup dan melaksanakan pembangunanberkelanjutan. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut kelembagaan lingkunganhidup di Indonesia.
 
Kata kunci: lingkungan hidup, kelembangaan, hukum
1. Pendahuluan
Pembangunan disamping dapat membawa kepada kehidupan yang lebih baik jugamengandung resiko karena dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkunganhidup. Untuk meminimalkan terjadinya pencemaran dan kerusakan tersebut perludiupayakan adanya keseimbangan antara pembangunan dengan kelestarian lingkunganhidup. Peningkatan kegiatan ekonomi melalui sektor industrialisasi tidak bolehmerusakkan sektor lain, misalnya pembangunan pembangkit listrik tidak boleh merusak lahan pertanian. Konsep keselarasan antara pembanguan dengan kelestarian lingkunganhidup sering disebut pembangunan yang berwawasan lingkungan dan akhir-akhir ini lebihdikenal dengan pembangunan berkelanjutan (
sustainable development 
). Secara umumpembangunan berkelanjutan mempunyai ciri-ciri:- tidak merusak lingkungan hidup yang dihuni manusia- dilaksanakan dengan kebijakan yang terpadu dan menyeluruh- memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.Pemerintah Indonesia sudah memulai memperhatikan pengelolaan lingkungan hidupsejak tahun 1972. Pada tahun tersebut Pemerintah Indonesia menyongsong KonferensiLingkungan Hidup Sedunia I yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia pada bulan Juni
*)
Tugas Matakuliah Ekonomi Lingkungan, 2002
**)
Peneliti BPPT dan saat ini sedang melanjutkan studi S3 bidang ekonomi di UGM
 
 2
1972. Tetapi pada saat itu Pemerintah Indonesia belum mengenal lembaga khusus yangmenangani masalah lingkungan hidup.Konferensi Stockholm mulai berupaya melibatkan seluruh pemerintah di duniadalam proses penilaian dan perencanaan lingkungan hidup, mempersatukan pendapat dankepedulian negara maju dan berkembang untuk menyelamatkan bumi, menggalakkanpartisipasi masyarakat serta mengembangkan pembangunan dengan memperhatikanlingkungan hidup. Sehubungan dengan hal tersebut, Konferensi Stockholm mengkaji ulangpola pembangunan konvensional yang selama ini cenderung merusak bumi yang berkaitanerat dengan masalah kemiskinan, tingkat pertumbuhan ekonomi, tekanan kependudukan dinegara berkembang, pola konsumsi yang berlebihan di negara maju, serta ketimpangan tataperekonomian internasional.Sebagai tindak lanjut konferensi tersebut, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres)No.16/1972 Pemerintah Indonesia membentuk panitia antar departemen yang disebutdengan Panitia Perumus dan Rencana Kerja Bagi Pemerintah di Bidang Lingkungan Hidupuntuk merumuskan dan mengembangkan rencana kerja di bidang lingkungan hidup.Program kebijakan lingkungan hidup tertuang dalam Butir 10 Bab II GBHN 1973-1978dan Bab 4 Repelita II. Keberadaan lembaga yang khusus mengelola lingkungan hidupdirasakan mendesak agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup baik di tingkat pusatmaupun di daerah lebih terjamin. Tiga tahun kemudian, Presiden mengeluarkan KeppresNo.27/1975. Keppres ini merupakan dasar pembentukan Panitia Inventarisasi dan EvaluasiKekayaan Alam dengan tugas pokoknya adalah menelaah secara nasional pola-polapermintaan dan penawaran, serta perkembangan teknologi, baik di masa kini maupun dimasa mendatang serta implikasi sosial, ekonomi, ekologi dan politis dari pola-polatersebut.Penyusunan Rancangan Undang Undang (RUU) Lingkungan Hidup dimulai padatahun 1976 disertai persiapan pembentukan kelompok kerja hukum dan aparatur dalampengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang kemudian menjadi UndangUndang (UU) No.4/1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan LingkunganHidup. Dengan adanya UU ini kesadaran masyarakat Indonesia akan arti penting untuk memelihara lingkungan hidup mulai tumbuh. Untuk menindaklanjuti undang-undangtersebut kemudian ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No.29/1986 tentang AnalisisMengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang merupakan pedoman pelaksanaan suatu
 
 3
proyek pembangunan. Setiap proyek yang diperkirakan memiliki dampak pentingdiharuskan melakukan studi AMDAL. Pada tahun 1997 Pemerintah Indonesia telahmemperbarui UU No.4/1982 dengan UU No.23/1997 tentang Pengelolaan LingkunganHidup.Berdasarkan Keppres No.23/1990 dibentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) yang bertugas melaksanakan pemantauan dan pengendaliankegiatan-kegiatan pembangunan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup.Kemudian, sejalan dengan perkembangan masalah pengelolaan lingkungan hidup,pembentukan Bapedal diperbaharui dengan Keppres No.77/1994, dan kemudiandiperbaharui lagi dengan Keppres No.196/1998 dan Keppres No.10/2000. Melalui KeppresNo.2/2002 telah ditetapkan Perubahan Keppres No.101/2001 tentang Kedudukan, Tugas,Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara serta KeppresNo.4/2002 telah ditetapkan perubahan atas Keppres No.108/2001 tentang Unit Organisasidan Tugas Eselon I Menteri Negara. Keppres tersebut berisi:- Berdasarkan ketentuan Pasal 56 A Keppres No.2/2002 antara lain dinyatakan bahwatugas, fungsi dan kewenangan Bapedal yang ditetapkan berdasarkan peraturanperundang-undangan yang berlaku dialihkan ke Menteri Negara Lingkungan Hidup.- Dalam rangka otonomi daerah seperti telah ditetapkan dalam UU No.22/1999 tentangPemerintahan Daerah dinyatakan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan hiduplebih ditekankan pada daerah, khususnya kabupaten/kota.- Pemerintah Daerah tetap mempertahankan bentuk badan dalam pengelolaan lingkunganhidup, yaitu Bapedal Daerah (Bapedalda) dan tidak diubah menjadi bentuk kelembagaan lain agar memiliki kemampuan koordinasi antar unit dalam PemerintahDaerah.Perubahan peraturan perundang-undangan seperti dijelaskan sebelumnya akanmempengaruhi bentuk kelembagaan lingkungan hidup. Perubahan tersebut ditujukan untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelumnya.Kelembagaan yang baru diharapkan dapat menjadi lebih mempunyai efektif dan efisien,karena kelembagaan memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkanpembangunan berkelanjutan.

Activity (35)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Agus Sugiyono added this note
Terima kasih Pak Fathur atas komentarnya.
saya setuju dengan adanya pemeliharaan lingkungan hidup karna itu jg akan sangat berpengaruh pada kebiasaan masyarakat kita untuk ikut terbiasa hidup bersih dan memperhatikan lingkungan sekitarnya
Putu Paserang liked this
Budi Khoironi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->