Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
null

null

Ratings: (0)|Views: 486|Likes:
Published by susastra

More info:

Published by: susastra on Aug 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2012

pdf

text

original

 
ObituaryDami N. Toda(1942-2006)
Photo: Private doc.
DALAM sebuah lawatan kesenian Fakultas Sastra UI ke Yogyakarta di awal1970-an, Dami dengan suara tenornya yang lengking mengiris, berduet dengan saya.Bukan gentar atas ratusan pasang mata taruna Akademi Militer Nasional (AMN) yangmenyaksikan persoalan saya waktu itu, tetapi tuntutan estetik Dami yang untuk ukuransaya sebagai mahasiswa sangat sulit dipenuhi. Masa itu saya lebih mengandalkan alam dan penghayatan, tetapi dia meminta teknik dan pembangunan khalayak. Tepuk riuhmenyambut pertunjukan kami, tetapi terus terang, masa itu tak banyak yang dapat saya pahami dari Dami: ia mengangankan sesuatu yang sangat jauh dan membicarakan yang bukan main pelik bagi mahasiswa yang kurang makan, membaca, dan pengalaman sepertisaya. Juga, dalam kuliah seminar sastra yang dipimpin Lukman Ali almarhum, Dami selaludatang dengan bahan sanggahan yang telak, bahkan keras. Kalimat dalam makalahnya bertingkat-tingkat, pemikirannya bahkan sering bertumpuk, sehingga sulit dipahami. Akantetapi, ketika kami berperan dalam drama
 RT Nol RW Nol 
Iwan Simatupang, secaraintensif di bawah pimpinannya berlatih—walau tetap masih samar memahami aturan main,apalagi Stanislavski—sangat saya hargai tuntunan dan kemampuannya mendidik. Iacermat, menyeluruh, dan selalu menegaskan kelebihan setiap anggota, bukankekurangannya. Begitulah, misalnya, bagaimana ketika almarhum ibu saya JuliaSarumpaet-Hutabarat—waktu itu mahasiswa di Sastra Inggris FSUI—mengejar-ngejar 
 
sampai ke panggung menuntut agar saya memusatkan perhatian pada kuliah, namun Dami penuh bijaksana dan entah cara apa melunakkan hati ibunda.Sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara yang disekolahkan secara primitif (meminjam istilah kakak kandung Dami, Tjole Matias, terima kasih), dengan orang tuamiskin dan buta huruf namun berdarah bangsawan, tidaklah mengherankan bila Damimenjadi besar dengan hasrat membimbing “membangun khalayak”: kakak kandungayahnya adalah raja pertama di Manggarai, Kraeng Bagung, sedangkan kakeknya, KraengWanggur, adalah panglima yang dipenjara bertahun-tahun karena sangat menentangBelanda. Walau Dami mudah berairmata bila dipukul dan diganggu kakak-kakaknya, padanyatanya dia adalah pemain depan yang dipuja-puja di sekolahnya. Jangan-jangan, dayakritisnya, kemampuannya menganalisis sastra dan berbagai hal, serta instingnya yang tajam bermula dari latihan menendang dan merebut bola ini, dengan tentu saja dongeng dantuturan lisan tentang perjuangan nenek moyangnya melalui bibir ayah dan ibunya sertadasar pendidikan yang ketat namun manusiawi dari para pastor Belanda yang diterimanyadi seminari kecil dan seminari tinggi di Flores.Daftar riwayat hidup terlampir menyatakan kepada kita kepenuhan Dami terhadapsastra. Sejak muda dia rutin menyuarakan kegelisahan dan kegembiraannya, yang sangatsaya kenang dan hingga kini tajam bahkan relevan adalah: “Teori hanya
ilmu
. Metodehanya
 jalan
. Aliran hanya
arus
. Percuma saja seorang menguasai metode, teori secarasempurna tanpa diimbangi ketajaman menangkap bias-bias yang diberikan sebuah duniasastra. Metode ataupun aliran bukan
 penebus
untuk menjamin
keselamatan mutu
sebuahkritik sastra” (
 Hamba-hamba Kebudayaan
, 1984: 28-29). Soal wawasan estetik amat penting baginya.”Iwan Simatupang pada novel, Sutarji C. Bachri pada puisi, dan Rendraserta Putu Wijaya pada drama, baginya adalah pahlawan pembaharu.”Krisis eksistensi,masalah identitas, persoalan sosial, hingga pengajaran sastra secara berulang diungkapnyamelalui tulisan dan kritiknya yang menunjukkan perhatian dan wawasannya yang luas. Diasering gregetan menyaksikan perkembangan kehidupan sastra dan kritik di Indonesia.Bukan hanya sastra, sebenarnya. Kesenian secara umum ikut diperjuangkannya. Hinggadia secara penuh mengajar di Universitas Hamburg sekalipun, laporan-laporannya yangmenarik dan membuka wawasan perihal tokoh dan masalah dunia, pendidikan, sertakunjungan para budayawan dan sastrawan menunjukkan perjuangannya yang tak pernah berhenti. Walau dia geli menyaksikan kekenesan di Indonesia perihal sistem, birokrasi, pangkat, gelar, dan lainnya, diam-diam ia terus mengamati dan menuliskannya, diam-diamdan dengan kebesaran hati ia menanggapi perkembangan sastra dan budaya di Indonesia,dan mengamalkannya.Kalau dipikir-pikir, Dami yang diam dan pengamat, tidak pernah secara frontalmenampik apalagi melawan ini, boleh dibilang adalah seniman yang serba bisa. Puisi yangditulisnya mengungkit perbincangan dengan penciptanya, menyuarakan sangsi dankepastiannya. Penguasaan teologi, filsafat, mitologi, sejarah, apalagi tradisi oral leluhurnyamenuntut kita berpikir banyak untuk memahami obsesinya. Sebagai orang teater, yang juga menulis, bermain, dan menyutradarai, saya ingat betul bagaimana ia sangat meyakinikebaruan Rendra dan Putu Wijaya dalam dunia teater Indonesia. Namanya orang teater,Dami yang gemar bekerja sama dan suka berbagi ini bagaimana pun disuburi kisah tentangnenek moyangnya. Ia menyimpan ingatan semua tuturan itu, dan sebagai generasi pertama berpendidikan di Manggarai, tak heran, dalam masa liburannya di Jerman, ia mencari pasti
 
masa lalu nenek moyangnya itu. Dia mempertanyakan sejarah Manggarai yang ditulis paraahli Barat dan membandingkannya dengan tradisi lisan yang membesarkannya. Ternyata,menurut penelitiannya, Manggarai tidak pernah dijajah oleh Bima! Demikianlah Dami,seorang keturunan raja menjelaskan kedudukannya dan meluruskan sejarah yang menjadihaknya.Walau bila datang ke Jakarta ia berusaha bertelepon atau mampir ke rumah,sebagai sahabat lama, tidak selalu kami bertukar kabar. Tetapi, itu menjadi intensif sebelum tahun 2005, ketika Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)mengundangnya berbicara di konferensi HISKI di Palembang pada Agustus 2005 dansebelumnya pada 20 Mei 2005 bersama PDS H.B. Jassin dan IndonesiaTera meluncurkan bukunya
 Apakah Sastra?
Buku tebal itu dipersembahkannya untuk “Mengenang H.B.Jassin sebagai Lambang Pengabdian Abadi Sastra Nasional Indonesia” sekaligusmerupakan “Harga Diri dan Penjaga Abadi Jatidiri Sastra Nasional Indonesia”.Persembahan itu secara gamblang menyatakan sikap dan cita-cita Dami mengenai sastradan bangsa Indonesia. Bukunya yang sangat padat dan dengan gaya bertuturnya yanghampir selalu berkelindan itu juga menjadi cerminan persoalan sastra kita. Surat-suratnyaselalu penuh dengan penjelasan, kiriman pikiran, pertimbangan, banyak cerewet lainnya,kesenian dan kebudayaan, teori, kritik, sampai ke soal pengajaran sastra yang amburadul.Belajar dari semua yang ditulis Dami, melalui kabar 
email 
-nya dan contoh tulisanyang diharapkannya dapat diterbitkan untuk “menjawab tantangan diskusi konferensiHISKI soal pengajaran/pembelajaran sastra sejak SD”, menurut saya, nyatalah sikapvisionernya, sebagai pemain depan memikirkan gelindingan bola sastra Indonesia. Untuk membangun sastra di Indonesia, katanya perlu menolong guru. Katanya, perlu memberiruang pada siswa.Pada ziarahnya ke Lourdes, Prancis Selatan, di bulan Mei 2005, Dami mendoakansemua orang yang dicintainya dan segala kerja yang menjadi tujuan hidupnya. Lalu dia pergi ke Flores menghadiri upacara keluarga dengan pakaian kebesaran segala, lanjutmenghadiri konferensi HISKI, apalagi ketika di Jakarta ia menggilir numpang tidur  bersama semua saudaranya. Di sini, menjadi tampak, bahwa tahun 2005 adalahkesempatannya berpamit.Akhirnya, saya mengingat kembali tuntutannya ketika bernyanyi di Yogyakarta.Orang baik yang tidak pernah memandang harta itu, yang memberi tanpa mengingatkondisi dirinya, pekerja keras yang tak berhenti berharap itu, mungkin dengan semuakenangan ini bisa dipahami melalui petilan sajaknya “Madah Pagi”. Dalam madah ini kita jadi mengenal “hamba kebudayaan” yang menemukan makna hidup dalam penyerahan dankehendak “berkarya” untuk memuliakan Tuhannya: ”terpujilah Engkau yang mengalirkandarah/dalam tubuh melafaskan madah di mulutku/terpujilah Engkau selamanyaterpujilah/Engkau yang membuka Waktu hingga amal/berjalan di atasnya terpujilahEngkau/selamanya terpujilah Engkau yang/menggerakkan tangan untuk  berkarya/terpujilah Engkau selamanya terpujilah/Engkau yang memasang usia danmemetiknya/pada kesaksian waktu terpujilah Engkau/selamanya” (
 Buru Abadi
, 2005: 17).
Jakarta, May 30, 2007Riris K. Toha-Sarumpaet

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
hajjahh liked this
ajijiwo liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->