Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
40Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Publik Sektor Pertanian

Kebijakan Publik Sektor Pertanian

Ratings: (0)|Views: 3,111 |Likes:
Published by Iwan Nugroho
Iwan Nugroho. 2005. Aspek Kelembagaan dalam Kebijakan Sektor Pertanian. LINTASAN EKONOMI, Majalah Ilmiah FE- UNIBRAW (Juli 2005) XXII(2):162-176. ISSN 0216-311X. National accredited journal
Iwan Nugroho. 2005. Aspek Kelembagaan dalam Kebijakan Sektor Pertanian. LINTASAN EKONOMI, Majalah Ilmiah FE- UNIBRAW (Juli 2005) XXII(2):162-176. ISSN 0216-311X. National accredited journal

More info:

Published by: Iwan Nugroho on Aug 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2013

pdf

text

original

 
 
2
 
 Aspek Kelembagaan dalamKebijakan Sektor Pertanian
1
 
Iwan Nugroho
2
 
 Abstract
The development of agricultural sector is facing a serious problems, i.e. a plant productionsystem is levelling off and an economic value relative to labor force share is being relativelylow. Such problems have yielded unsustainability of agricultural production system, povertythreat and food security instability.Conceptual framework of sustainable agricultural development is reliability of investmentaccumulation. The investment covers social, economical, natural and human capital in aninstitutional building approach. Implementation of the approach is an effective public policyin agricultural sector. In this case, bureaucracy system operates in transparency, accountableand participative management. Private sector is highly active to find opportunity and realize aneconomic growth. Meanwhile, people and farmer interest is accommodated in a rationalproblem solving methodology. As a result, investment flows would be realized to supportagricultural development programs, poverty alleviation, and disparity elimination.Keywords: Agriculture, investment, sustainability
Pendahuluan
Kerangka aksi bagi pembangunan pertanian berkelanjutan telah dirumuskan. KonperensiRio (
United nation Conference on Environment and Development 
, UNCED) pada tahun 1992telah menghasilkan agenda 21, yang merupakan pernyataan kongkrit masyarakat duniamenghadapi keadaan dan tantangan pada abad 21. Sektor pertanian memperoleh perhatiandalam
section 
2 bab 14, yakni
 promoting sustainable agriculture and rural development 
.Terakhir, dalam World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Johanesburg, 2 hingga4 September 2002, sektor pertanian menjadi sorotan di antara lima (diberi akronim WEHAB)kerangka aksi, yakni
water 
,
energy 
,
health 
,
agriculture 
dan
biodiversity 
. Secara umum, untuk mencapai sasaran pembangunan dalam abad ke depan (
millenium development goal 
, MDG),sektor pertanian menempati posisi sangat penting dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomidan tenaga kerja (yang
sustainable 
) dalam kerangka pengentasan kemiskinan dan ketahananpangan.Namun demikian, kerangka aksi tersebut mungkin menjadi paradoks bagi pembangunanpertanian. Keadaan ekonomi, sosial dan lingkungan di Indonesia untuk mendukungimplementasi aksi-aksi pembangunan pertanian berkelanjutan menyimpan tanda tanya besar.Terlalu lebar
gap 
antara fakta dan harapan kesejahteraan yang ingin dicapai.Secara nasional sektor pertanian menyumbang 20 persen Produk Domestik Bruto (PDB)dan 37 persen tenaga kerja (Anonim, 2002; data Tabel IO diolah, Lampiran 1). Data tersebutmenunjukkan bahwa sektor pertanian beroperasi tidak efisien, karena jumlah tenaga kerjanyaterlalu banyak dibanding proporsi pendapatan atau nilai tambahnya (PDB). Hal ini berimplikasibahwa sektor pertanian menyimpan permasalahan yang besar dan sangat kritikal bagikeberlanjutan pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Tercermin bahwa petani bukan
1
Naskah diterbitkan pada majalah LINTASAN EKONOMI, Majalah Ilmiah FE- UNIBRAW (Juli 2005) XXII(2):162-176. ISSN 0216-311X.
2
 
Dr. Ir. Iwan Nugroho, MS adalah dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Widyagama Malang. Email:iwanuwg@mailcity.com
 
 
3
 
hanya miskin, namun tidak ada insentif berinvestasi bagi keberlanjutan produksi. Hal tersebutsejalan dengan bukti-bukti empiris (Lampiran 2). Pada komoditi padi dan jagung yangmenampung jumlah petani cukup signifikan, pertumbuhan produksi nasional telah mengalamikejenuhan, bahkan produksi tebu dan kedele mengalami penurunan lebih drastis. Ilustrasisingkat tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian menghadapi permasalahan
sustainability 
sistem produksi, ancaman kemiskinan, dan terganggunya upaya-upayapeningkatan ketahanan pangan.Tulisan ini mencoba menelaah kebijakan pembangunan sektor pertanian berkelanjutandalam sudut pandang kelembagaan.
Sektor Pertanian dan Sumberdaya Publik 
Konsepsi pembangunan berkelanjutan yang dikembangkan Bank Dunia adalah apa yangdikenal
sustainability as opportunity 
. Konsep ini berangkat dari definisi (Serageldin, 1996):
sustainability is to leave future generations as many opportunities as we ourselves have had, if not more 
. Maknanya, pembangunan akan
sustainable 
jika di dalamnya memberikan generasimendatang
income 
disertai
opportunity 
pertumbuhan
capital 
(minimal sama dengan generasisekarang) yang dapat diperlihatkan dengan relatif lebih tinggi
capital 
per kapita dibandinggenerasi sekarang (Gambar 1). Modal-modal itu dapat dilukiskan sebagai
human 
 
capital 
 (investasi dalam pendidikan, kesehatan, atau gizi),
social 
 
capital 
(fungsi dan keberadaankelembagaan dan budaya dalam masyarakat),
natural 
 
capital 
(fungsi dan keberadaansumberdaya alam dan lingkungan) dan
man-made 
 
capital 
(investasi dalam aspek fisik).
time
Gambar 10.1.
Sustainability 
dan kenaikan
stock 
 
capital 
per kapita (Serageldin, 1996)
 Yang menarik untuk dikaji dari modal-modal tersebut dan menentukan tingkat
sustainability 
adalah tidak terhindarkannya substitusi dari salah satu diantaranya. Pergeserankomposisi modal khususnya pada negara berkembang memiliki gambaran spesifik. Pada tahapawal pembangunan, kenaikan aset-aset fisik dan
human capital 
adalah fenomena palingumum. Pembangunan fisik di wilayah kota dan peningkatan tingkat pendidikan sebagianpenduduk bahkan teramat cepat. Namun demikian hal ini berjalan eksklusif hanyamendukung perluasan mekanisme pasar dibanding memberi pengaruh kepada kesejahteraan.Modal sosial mengalami degradasi sehingga menurunkan
community enforcement 
. Menurut
3
 
Social capital 
merupakan jalinan ikatan-ikatan budaya,
governance 
, dan
social behaviour 
yang membuat sedemikian rupasehingga fungsi dan tatanan sebuah masyarakat adalah lebih dari sekadar jumlah individunya.
Social capital 
dan wujudnyasebagai kelembagaan inilah sumber dari legitimasi berfungsinya tatanan masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,keberlanjutan pembangunan, maupun untuk kepentingan mediasi terhadap konflik dan kompetisi (Serageldin, 1996). Upayamembangun
social capital 
adalah cermin peningkatan
equity 
,
social cohesiveness 
, dan partisipasi masyarakat. Hal ini dapatdilakukan dengan membangun kerjasama dan koordinasi bersama yang kuat antar individu-individu dari beragam disiplin,organisasi kemasyarakatan (misalnya LSM),
 private sector 
, dan pemerintah pada tingkat lokal, regional hingga nasional, sehinggamembentuk sinergi dalam mendukung keberlanjutan pembangunan pertanian.
 
CapitalSocialSocialCapital NaturalCapital
 
 NaturalCapitalHumanCapitalMan-madeCapitalHumanCapitalMan-madeCapital
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->