Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor

Ratings: (0)|Views: 114|Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Alfian Nur Qurnain, Rr. Hapsari .,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Alfian Nur Qurnain, Rr. Hapsari .,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on Dec 04, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/21/2014

pdf

text

original

 
Pengaruh Teknik Pembelajaran
 Quantum Teaching
Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda 1001
Pengaruh Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor Alfian Nur Dzul Qurnain
Program Studi S1 Pend. Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: alfiannurdzulqurnain@yahoo.co.id 
Rr. Hapsari Peni. A. T
 
Abstrak 
 Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan teknik  pembelajaran
Quantum Teaching
dengan siswa yang diajar menggunakan Model Pembelajaran Langsung pada mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor, (2) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi  berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah pada mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor kelas X TEI, (3) mengetahui ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah
quasi experiment 
 dengan
design
 penelitian “
 Nonequivalent Control Group
 Design”
. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TEI 1 sebagai kelas kontrol dan X TEI 2 sebagai kelas eksperimen SMK Negeri 1 Jetis. Kemudian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara teknik pembelajaran
Quantum Teaching
dan Model Pembelajaran Langsung, perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi  berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestsi rendah, serta untuk mengetahui interaksi model  pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa dilakukan analisis varian dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan, dengan taraf signifikansi yang ditentukan sebesar
α = 0.05 dan
kriteria uji tolak H
0
  jika
 p-value (taraf signifikan hasil perhitungan)
< 0.05. Menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang menggunakan teknik pembelajaran
Quantum Teaching
lebih tinggi atau berbeda secara signifikan dibanding dengan hasil belajar siswa yang menggunakan Model Pembelajaran Langsung yaitu nilai
 P-value
 
= 0.001 lebih kecil dari α = 0,05 ;
(2) hasil  belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih baik atau berbeda secara signifikan dengan nilai
 p-value =
0.015,
 p-value
lebih kecil dari α = 0.05 ; dan
(3) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa dengan nilai
 p-value
= 0.002,
 p-value
lebih kecil dari α = 0,05.
 
Kata Kunci:
 
Quantum Teaching,
Model Pembelajaran Langsung, Motivasi Berprestasi,
Quasi Experiment,
Hasil Belajar
Abstract
The reseach aim to: (1) determine differences in learning outcomes between students who are taught using
Quantum Teaching
learning techniques with students who are taught using
 Direct Learning Model 
 on applying microprocessor system lesson, (2) determine whether there is difference in learning outcomes between student who have high achievement motivation with students who have low achievement motivation on apllying microprocessor system TEI class X lesson, (3) determine whether there is interaction between the model of learning and achievement motivation on learning outcomes. The research method used is
Quasi Experimental Design
 with research design
“Nonequivalent Contro
l Group
 Design”.
The subjects in this reseach were students of X TEI 1 class as control class and student of X TEI 2 class as experimental class of SMKN 1 Jetis. Then to find out the difference of learning outcomes between
Quantum Teaching 
 learning techniques and direct learning models, different in learning outcomes between students who have high achievement motivation and student who have low achievement motivation, and to investigate the interaction model of learning and achievement motivation on students learning outcomes with anova analysis. The results showed, with a significance level set at
α = 0.05 and test criteria reject
H
0
if the
 p-value (significance level calculation)
 < 0.05. Show that: (1) student learning outcomes using
Quantum Teaching 
 higher or significantly different compared with the learning outcomes of students who use the Direct Learning Model with
 p-value
 =
0.001 is less than
α = 0.05 ;
(2) learning outcomes of students who have high achievement motivation better or significantly different by
 p-value
= 0.015,
 p-value
less than α = 0.05 ;
(3) there was an interaction between the model of learning and achievement motivation on learning outcomes of student with
 p-value =
0.002,
 p-value
less than α = 0.05.
 
Keyword:
Quantum Teaching 
, Direct Learning Model, Achievement Motivation,
Quasi Experiment 
, Learning outcomes
 
 
Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010 1002
PENDAHULUAN
Kondisi jam pelajaran yang lama tentu membuat suasana belajar di dalam kelas menjadi sangat menjenuhkan, apalagi jika jenis pelajaran yang disampaikan adalah pelajaran yang bersifat teori. Ditambah lagi motivasi berprestasi dalam diri siswa yang tentunya beraneka ragam, ada siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi juga ada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Motivasi berprestasi menurut Mohamad Nur (2001:27) adalah keinginan untuk mengalami keberhasilan dan peran serta dalam kegiatan dimana keberhasilan bergantung pada upaya dan kemampuan seseorang. Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan mudah menyerah meskipun menghadapi masalah yang memiliki  peluang untuk gagal diselesaikan. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan diterima)cenderung memilih mitra yang ramah. Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran. Bisa dibayangkan bagaimana jika siswa dengan motivasi rendah mendapat pembelajaran yang menjenuhkan dengan durasi jam belajar yang lama, tentunya hasil belajar yang didapat siswa dengan motivasi berprestasi rendah akan semakin jauh dengan yang diharapkan. Berangkat dari permasalahan tersebut peneliti mecoba menerapkan teknik pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa mampu melewati kegiatan belajar di kelas dengan durasi jam belajar yang lama dengan penuh suka cita dan menyenangkan, selain itu motivasi berprestasi dalam suatu pelajaran juga ikut meningkat dan  berdampak pada hasil belajar yang maksimal. Maka pada
 penelitian ini peneliti mengangkat judul ”Pengaruh
Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem
Mikroprosesor”.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1) Apakah ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan dengan teknik pembelajaran
Quantum Teaching
dan kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran?; (2) Apakah ada perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol?; (3) Apakah ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar? Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui  perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan dengan teknik pembelajaran
Quantum Teaching
dan kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Langsung pada standar kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor kelas X TEI;
 
(2)
 
Mengetahui perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol; (3)
 
Mengetahui ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
 
Pada penilitian ini dipilih teknik pembelajaran
Quantum Teaching
karena teknik ini dinilai peneliti mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Quantum
adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Kata
quantum
 berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, dengan demikian
Quantum Teaching
adalah pengubahan  bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar (DePorter,2003:3). Dalam teknik pembelajaran
Quantum Teaching
tidak hanya cara mengajarnya atau pembawaannya yang diperhatikan, namun penataan lingkungan kelas (konteks)  juga sangat diperhatikan dengan pemasangan poster ikon,  poster afirmasi penataan bangku, penggunaan musik, keakraban antara guru dengan siswa juga dijalin untuk menghilangkan jurang antara guru dengan siswa yang selama ini banyak terlihat di dalam dunia pendidikan. Hal ini sesuai dengan azas
Quantum Teaching
yaitu
 Bawalah  Dunia Mereka ke Dunia Kita.
 Hal-hal seperti inilah yang membedakan teknik pembelajaran
Quantum Teaching
dengan model pembelajaran yang lain, sehingga dapat diduga siswa akan lebih nyaman di kelas, keluh kesah siswa entah tentang pelajaran atau masalah sosial juga dapat tersampaikan pada guru. Berikut disajikan sintak teknik pembelajaran
Quantum Teaching.
Tabel 1. Sintak Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Tahap Perilaku Guru
Tahap 1: Tumbuhkan Berarti menumbuhkan minat belajar siswa dengan cara memberitahukan manfaat materi yang akan dipelajari. Bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa dan menimbulkan pertanyaan "Apa Manfaatnya
 
Pengaruh Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda 1003
Bagiku" (AMBAK) dalam diri siswa. Tahap 2: Alami Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh mereka. Memberikan  pengalaman baru pada siswa dengan cara melakukan  percobaan untuk membuktikan suatu konsep. Pengajar juga memberikan masalah atas konsep yang telah diperoleh sebagai bahan diskusi kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Hal ini dapat menciptakan kerjasama antar siswa dan memberikan kebebasan siswa untuk berfikir. Tahap 3:  Namai Guru menyediakan kata kunci, data, nama saat minat memuncak. Sehingga membuat siswa penasaran dan  penuh pertanyaan mengenai pengalaman. Tahap 4: Demonstrasikan Guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk dapat menunjukkan kemampuannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil percobaan dan diskusi sehingga memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Tahap 5: Ulangi Guru menunjukkan kepada siswa cara
 – 
cara mengulang materi dan menegaskan bahwa mereka  benar-benar tahu akan apa yang dipelajari. Merekatkan gambar keseluruhan. Dalam tahap ini dapat dilakukan dengan mengajarkan ke kelompok lain atau mengerjakan soal
 posttest 
 Tahap 6: Rayakan Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan menambatkan pengalaman belajar dengan asosiasi positif. Dapat berupa pujian, bernyanyi  berama atau tepuk tangan.
(DePorter, 2003:88). Jika penataan lingkungan kelas sudah cukup maka  pelajaran dimulai dengan alur sesuai sintak yaitu (1) Tahap Tanamkan Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
. Guru menumbuhkan siswa dengan menampilkan video yang berisi berbagai aplikasi mikroprosesor dalam berbagai bidang sehingga mampu menumbuhkan motivasi berprestasi siswa untuk mempelajari mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor (Fase 1
Quantum Teaching 
); (2) Fase 3 MPK Tahap Alami Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
: (a) Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok besar (anggotanya seluruh kelas) untuk mengurangi resiko belajar, kemudian guru memberikan video terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan selanjutnya siswa diminta untuk memperhatikan video tersebut dan mencatat informasi yang didapatkan, siswa diperbolehkan saling bertukar informasi dengan teman-teman satu kelas. (Fase 2
Quantum Teaching 
); (b) Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok yang lebih kecil (mengurangi resiko), terdiri dari 4-5 orang. Pengelompokkan ini dibagi-bagi sesuai kemampuan modalitas siswa yang diketahui dengan mengerjakan instrumen modalitas yang terdapat pada lampiran buku ajar. Kemudian guru kembali memberikan video terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan dan meminta siswa memperhatikan dan merangkum dari hasil menyimak video tersebut. (Fase 2
Quantum Teaching 
); (3) Fase 4 MPK Tahap Namai Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
. Guru membimbing siswa menyelesaikan masalah yang diberikan untuk mempertegas informasi yang mereka dapat dengan memperhatikan kelompok-kelompok modalitas. Untuk kelompok visual guru menjelaskan dengan gambar-gambar melalui media
 powerpoint
dan membuat rangkuman. Untuk kelompok auditorial guru menjelaskan secara lisan. Untuk kelompok kinestetik guru memberikan perumpamaan dengan mengaitkan pada kehidupansehari-hari, misalkan untuk menjelaskan
 
 berapa kapasitas memori yang mampu ditangani oleh suatu mikroprosesor jika memiliki jumlah penyemat 4 saluran , maka dengan membuat kartu A0-A4 dimana  pada kartu A0 memiliki bobot dst. Maka didapat  jumlah total yang menunjukkan jumlah kapasitas memori yang mampu dialamati.(Fase 3
Quantum Teaching 
); (4) Fase 5 MPK Tahap Demontrasikan Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
. Guru meminta siswa sesuai kelompoknya mempresentasikan informasi yang diperoleh dengan media
 powerpoint 
 guna menambah  pemahaman. (Fase 4
Quantum Teaching 
); (5) Fase 5 MPK Tahap Ulangi Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
: (a) Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan (Fase 5
Quantum Teaching 
); (b) Guru membantu siswa untuk mengkaji ulang hasil yang diperoleh siswa. (Fase 5
Quantum Teaching 
); (c) Guru membagi lagi kelompok-kelompok kecil tersebut menjadi individu, sehingga walaupun resiko besar namun setidaknya setiap individu sudah memiliki bekal informasi dari kelompok besar dan kelompok kecil tadi, kemudian guru mengadakan evaluasi. (Fase 5
Quantum Teaching 
); (6) Fase 6 MPK Tahap Rayakan Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching 
: (a) Memberi  penghargaan kepada siswa dan merayakan atas  penampilan penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan dengan menyanyi  bersama, bertepuk tangan bersama atau pemberian  permen. (Fase 6
Quantum Teaching 
); (b) Dengan melibatkan siswa menutup pelajaran dengan berdoa dan merapikan laboratorium bersama-sama untuk menjalin kemitraan dan kerjasama dengan siswa. (Fase 6
Quantum Teaching 
) Yang membedakan teknik pembelajaran
Quantum Teaching
dengan model pembelajarn yang lain adalah adanya upaya mengurangi resiko belajar yaitu dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari  pengalaman dan informasi dalam kelompok besar terlebih dahulu (anggota seluruh kelas) baru dibagi-bagi menjadi kelompok kecil sehingga modal informasi yang diperoleh siswa semakin banyak sehingga kelak pada saat evaluasi untuk tiap individu siswa akan menjadi lebih siap karena telah memiliki modal informasi yang banyak Selain itu yang membedakan adalah pada pembagian kelompok kerja dilakuakan pengukuran modalitas terlebih dahulu, sehingga siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan modalitas yang dimiliki siswa.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->