Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Das Solo Final

Das Solo Final

Ratings: (0)|Views: 785 |Likes:
Published by frangkysmith

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: frangkysmith on Aug 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2011

pdf

text

original

 
1
PENGUATAN KELEMBAGAANDALAM PENGELOLAAN DAS SOLO
 Oleh : Ismatul Hakim
 RINGKASAN 
 Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo merupakan sumber kehidupan bagimasyarakat di Pulau Jawa baik yang berada di bagian hulunya, bagiantengahnya maupun bagian hilirnya. DAS Solo memberikan manfaat bagi pengairan lahan pertanian (sawah), pemenuhan hajat hidup masyarakat sehari-hari (mandi, cuci, kakus) bagi masyarakat pedesaan, dan bagi pemenuhan kebutuhan industri dan jasa (air) di perkotaan. Akan tetapi kondisi DAS Solo saat ini sudah sangat kritis sejalan dengan kemampuan dayadukungnya sebagai penampung saluran air di musim hujan dan kekeringan dimusim kemarau. Hal ini akibat kondisi land use (penggunaan lahan) yangsudah over capacity, sehingga mengakibatkan tingginya tingkat sedimentasidan erosi tanah di bagian atasnya di sepanjang aliran DAS Solo. Sehingga pengelolaan DAS Solo harus tetap memperhatikan kondisi fisik ekosistemnyadari hulu sampai hilir. Oleh karena itu, penanganan DAS Solo mulai daritahap perencanaan, pengelolaan, penggunaan lahan sekitarnya danmonitoring-evaluasinya harus terintegrasi. Pengelolaan DAS Solo dari sisiteknologi, management dan kelembagaannya sudah relatif lebih intensif dibandingkan dengan DAS-DAS lainnya di tanah air, dimana sudah besar investasi dalam bentuk proyek dan Bantuan Luar Negeri yang dikeluarkansejak peristiwa banjir tahun 1966 yang melanda karesiden Surakarta. Dengan adanya desentralisasi pembangunan, maka terdapat kecenderunganadanya tarik menarik kepentingan antara berbagai instansi yang terlibat dalam pengelolaan DAS Solo pada setiap sektor dan tingkatan pemerintahan(pusat dan daerah). Setelah keluarnya UU Kehutanan No. 41 Tahun 1999, pengelolaan DAS tidak memiliki payung hukum dan peraturan yangmengaturnya. Sehingga kecenderungannya setiap sektor dan instansi bekerjasendiri-sendiri tergantung kepentingannya, meskipun saat ini sudah ada pembagian kerja antara instansi seperti Departemen Kehutanan, DepartemenPekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri (di pusat). Akan tetapi banyak muncul permasalahan di daerah dalam kaitannya dengan batasan wilayahadministratif (propinsi dan kabupaten), sehingga perlu dikembangan sistimkolaborasi dalam pengelolaan DAS dan sistim koordinasi yang baik antaraberbagai instansi terkait (multi-stakeholder). Oleh karena itu, kunci utamakeberhasilan dalam pengelolaan DAS Solo adalah penguatan kelembagaannyasehingga antara instansi terkait terjadi kesepahaman, sinergitas dankebersamaan dalam pengelolaan DAS Solo. Dalam kaitannya dengan kondisi kekritisan yang meningkat di banyak DAS diseluruh tanah air, dengan mengambil contoh pengelolaan DAS Solo sudahsaatnya di tingkat pusat dibentuk Badan Khusus yang bertanggung jawab
 
2
dalam pengelolaan DAS yang sifatnya lintas instansi dan pada setiap tingkat dengan menggabungkan bagian/kegiatan yang ada kaitannya denganPengelolaan DAS seperti Dep. Kehutanan, Dep. Pertanian, Dep. PekerjaanUmum, Dep. Dalam Negeri dan Kantor Meneg Lingkungan Hidup. Jika setiap instansi berjalan sendiri-sendiri maka masyarakat akan terkotak-kotak, sehingga menjadi tidak berdaya. Keberhasilan kita merehabilitasi lahandan hutan tergantung dari sampai dimana tingkat partisipasi masyarakat didalamnya, terutama dalam kaitannya dengan kesinambungan kegiatannyasetelah proyek selesai. Untuk itu salah satunya adalah denganmemberdayakan potensi SDM lembaga-lembaga yang mengakar di pedesaanseperti pondok pesantren, kelompok tani, kelompok swadaya masyarakat (KSM) dan lain-lain.Kata Kunci : Kelembagaan, multi-stakeholder, land use, partisipasi, Pondok Pesantren, Kelompok Tani, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
I. PENDAHULUANA.
 
Latar Belakang
Sungai (Bengawan) Solo di Pulau Jawa memiliki peranan danfungsi yang sangat strategis sebagai penyangga kehidupanmasyarakat di Pulau Jawa terutama bagi penduduk yang tinggal disekitar kawasan sepanjang aliran sungainya. Secara teknis (fisik)Bengawan Solo berfungsi memberikan kesuburan dalammenunjang pengairan areal sawah dan daerah pertanian disepanjang sungai dan memenuhi kebutuhan air untuk kehidupansehari-hari penduduk bahkan masyarakat di perkotaan.Semakin tinggi laju pembangunan sektoral (industri dan jasa) danperkotaan, semakin meningkatkan ketergantungan masyarakatluas terhadap keberadaan Bengawan Solo. Ketergantunganmasyarakat dan tuntutan pembangunan yang demikian tinggi padasaat ini telah menyebabkan semakin kritisnya kondisi BengawanSolo. Karenanya, ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Soloharus semakin memperoleh perhatian khusus dari semua pihak.Lebih-lebih setelah era Otonomi Daerah, pengelolaan DAS yangsebelumnya hanya melibatkan beberapa instansi pemerintah saja,saat ini harus melibatkan banyak pihak terutama PemerintahDaerah baik Propinsi maupun Kabupaten.Dengan adanya Otonomi Daerah, maka bentangan DAS Soloyang hulunya ada di Kabupaten Pacitan dan bagian hilirnya ada diKabupaten Gresik secara administratif terbagi pada 2 (dua)
 
3wilayah propinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan terbagi pada20 kabupaten, diantaranya adalah : Kabupaten-kabupaten Pacitan,Klaten, Boyolali, Semarang, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen,Wonogiri, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Blora, Tuban,Bojonegoro, Lamongan dan Gresik. Yang menjadi masalahutama dalam hal ini adalah seberapa jauh kepedulian danperhatian Pemerintah Daerah terhadap keberadaan kondisi,peranan dan fungsi DAS bagi kehidupan masyarakat dankesinambungan pembangunan di daerahnya. Hal ini harusmendapatkan perhatian semua pihak agar ekosistem DAS Solodapat terjaga dengan baik.Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman para stakeholder(pihak terkait) dalam pengelolaan DAS Solo harus ditingkatkan.Tanpa adanya kesamaan pandangan, pengetahuan danpemahaman mengenai fungsi ekosistem DAS Solo, tidak mungkin akan muncul kesadaran dari para pihak terhadaptanggung jawab dan wewenangnya dalam pengelolaan DAS Solo.Sementara ini masing-masing instansi masih sibuk dengankepentingan (proyek) sendiri-sendiri. Peran para stakeholderterutama Balai Perencanaan dan Pengelolaan DAS (BP2DAS)Solo di bawah Departemen Kehutanan, Balai Penyelidikan SungaiSolo di bawah Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah(sekarang Departemen Pekerjaan Umum), dan Badan PengelolaanSumberdaya Air, Dinas Hutbun di bawah Pemerintah Propinsidan Pemerintah Kabupaten dalam membangun kebersamaansangat penting. Jika tidak ada semangat kolaborasi dankebersamaan dalam Pengelolaan DAS Solo maka penduduk danpembangunan yang sangat tergantung pada fungsi DAS solo akanmenjadi korban dari bahaya banjir, erosi dan longsor yang seringterjadi bahkan menyebabkan biaya tinggi yang tak terdugasebelumnya (
external costs
) termasuk korban jiwa yang tidak ternilai harganya. Dalam menghadapi saat-saat musim hujandengan intensitas dan frekwensi yang sangat tinggi (Desemberdan Januari), maka tingkat kewaspadaan masyarakat dan parapihak harus ditingkatkan (
early warning system
).Penanganan masalah DAS semakin kurang terkoordinasi denganbaik oleh semua pihak terkait terutama setelah ditetapkannya UUNo. 41 tahun 1999 dimana penanganan tentang DAS secara teknis

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
greensangrilla liked this
Endang Susanti liked this
Gatot Suharjono liked this
irwana_2010 liked this
eshajc liked this
eshajc liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->