Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
69Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis kebijakan pendidikan

Analisis kebijakan pendidikan

Ratings: (0)|Views: 12,872|Likes:
Published by arifmustafa

More info:

Published by: arifmustafa on Aug 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/19/2013

pdf

text

original

 
ANALISIS KEBIJAKAN UU BHP IMPLIKASINYA TERHADAP MADRASAH 
(Analisis Bab I ayat 11 dan 12 dan Bab V)
A.Pendahuluan
Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akanmenjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligusuntuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yangdibandingkan dengan manusia sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupanmaupun proes-proses pembedayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa majumundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukanoleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.Pendidikan islam (Madrasah) merupakan salah satu pilar pendidikan nasional, dalamcatatan historis merupakan pencetak militan muslim untuk merebut kemerdekaan. PendidikanIslam dalam perkembangannya dewasa ini sudah mengalami penguatan secara konstitusional,dimana Madrasah merupakan bagaian dari sub sistem pendidikan nasional. Sehingga lulusanMadrasah dapat bersaing dengan lulusan dari institusi dibawah departeman lainnya.Lahirnya UU BHP merupakan amanat dari bagian pembukaan (menimbang point C)Sisdiknas berbunyi, bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataankesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana,terarah, dan berkesinambungan.Untuk itu pemerintah perlu melakukan perbaikan pada system pendidikan dari PT sampaitingkat Dasar guna mencapai tujuan di atas. Sehingga pendidikan tersebut memelikikredibilitas dan akuntabilitas dimata public. Untuk maka satuan pendidikan itu perlu berbentuk badan hukum pendidikan. Seperti yang ditetapkan dalam sisdiknas pasal 53 ayat 1-4 yang berbunyi: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan olehPemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan1
 
 pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalamayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undangtersendiri.Undang-undung Badan Hukum Pendidikan merupakan usaha pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan serta untuk menghilangkan diskriminasi antara madrasahswasta dan negeri antara dibawah Diknas dan non Diknas serta untuk mendekatkan madrasahkepada masyarakat dan memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk ikut mengelola,mengawasi dan memberikan sumbangsih pendanaan dari satuan pendidikan. Selain itudimunculkannya uu bhp terkait dengan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh pihak swasta. Hampir semua penyelenggara pendidikan swasta dilakukan oleh badan hukum berupa yayasan. Penggunaan yayasan sebagai sebagai badan hukum menimbulkan pengelolaan ganda, yaitu oleh yayasan dan pengurus lembaga pendidikan. Dalam beberapatahun terakhir kerap muncul perselisihan antara pengurus yayasan dan pengurus lembaga pendidikan. Dengan munculnya uu bhp diharapkan menjadi solusi untuk menghilangkankepengurusan ganda tersebut.Kemunculan RUU BHP mendapat tantangan yang keras dari berbagai pihak terutamadari kalangan perguruan tinggi, mereka beranggapan bahwa BHP akan melepaskantanggungjawab pemerintah dan akan membuka komersialisasi pendidikan. Dengan demikianakan menimbulkan kesenjangan social yang semakin mencolok sedang dari segi politik akanmenghilangkan kedaulatan Negara dalam pendidikan, namun anehnya pihak madrasah tidak terlalu bereaksi terhadap munculnya uu bhp, inilah yang akan penulis uraikan dalam pembahasan serta plus-minu UU BHP bagi madrasah. Seperti yang kita ketahui madarasahlebih banyak yang berstatus swasta, serta bagaimana posisi mereka dalam BHP.
B.Madrasah Dalam Sejarah
1.Masa Hindia BelandaPendidikan Islam (baca: Madrasah) pada kemunculannya tidak bisa dipisahkan darigerakan pembaharuan Islam yang dilakukan tokoh intelektual Islam. Madarasah padamasa kolonial Hindia Belanda mulai menunjukkan proses pertumbuhan dan perkembangan, seiring didengungkannya pembaharun
1
oleh para tokoh intelektual Islam.1
Pembaharuan-pembaharuan tersebut, menurut Karl Sternbrink (1986), meliputi tiga hal, yaitu: 1.Usaha
 
Lahirnya Madrasah dilatar belakangi oleh dua faktor penting,
 pertama
pendidikan islamtradisional dianggap kurang sistematis dan kurang memberikan kemampuan praksis yangmemadai,
kedua
perkembangan madrasah-madrasah Belanda yang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat diwilayah Indonesia. Kejadian di atas akan membawadampak sekularisasi, sehingga hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi intelektualmuslim. Dari sini muncul suatu gagasan untuk mendirikan pendidikan islam yangmemberikan porsi yang sama besar terhadap pendidikan agama dan umum
2
.Kebijakan pendidikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda lebih banyak menekan pendidikan Islam (Madrasah), yang disebabkan oleh kekhawatiran pemerintahHindia Belanda, terhadap munculnya militansi muslim terpelajar. Hal ini membawakonsekuensi pendidikan Islam selalu diawasi oleh pemerintah Belanda. Denganmenerapkan kebijakan ordonansi guru, sehingga setiap guru agama diwajibkan untuk memiliki sertifikat mengajar dari pemerintah (kalau dalam istilah sekarang sertifikat guru,dalam waktu yang sama menaikan profesionalisme dan kesejahteraan bagi guru), sehinggaguru pendidikan agama yang mengusai agama secara
kaffah
belum tentu dapat mengajar,tentu mereka akan dipersulit, supaya mereka tidak menjadikan muridnya sebagai pembebas dari penjajahan. tentu hal ini membawa konsekuensi pengkerdilan pendidikanislam dan agama Islam. Pendidikan Islam pada masa ini secara metodologi dan kurikulum(tidak menyimbangkan pendidikan agama dan keduniawian) serta hasil lulusan yang tidak dapat bersaing dengan lulusan madrasah Belanda.Tokoh muslim yang pernah belajar dan mengenyam pendidikan di Timur Tengahserta pendidikan Belanda. Mulai berpikir keras untuk mencari formula yang tepat untuk memerangi diskriminasi yang dilakukan pemerintah Belanda serta pendidikan Islam yangtidak dapat bersaing dengan pendidikan Belanda. Oleh Karena itu, mereka mulaimengembangkan pendidikan Islam yang mandiri dengan penyesuaian kurikulum, system pengajaran dan kelembagaannya. Wujud nyata dari kebijakan ini banyak bermunculannya pendidikan Islam di pulau jawa, Sumatra dan Kalimantan.2.Masa Orde Lama
menyempurnakan sistem pendidikan pesantren, 2. Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan 3. Upayamenjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat. lihat A. Steenbrink Karel,
 Pesantren Madrasah Dan Madrasah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern
, Jakarta, LP3ES, hal 26-29. 1984.
23

Activity (69)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Maksuf Muham liked this
Dahlia Tambajong liked this
Fairey LuVy liked this
Fathul Anshary liked this
Cie Soeciati liked this
Dena Emarani liked this
nailanikmah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->