dikemukakan, di antara-nya: pendekatan biografi sastra, sosiologi sastra, psikologi sastra,antropologi sastra, historis, dan mitopoik, termasuk pendekatan model Abrams, yaituekspresif, pragmatik, mistik, dan objektif.
3.2.1. Pendekatan Biograf is
Menurut Wellek dan Warren (1962: 75), model biografis dianggap sebagaipendekatan yang tertua. Pendekatan biografis merupakan studi yang sistematis mengenai proseskreativitas. Subjek kreator dianggap sebagai asal-usul karya sastra, arti sebuah karya sastra dengandemikian secara relatif sama dengan maksud, niat, pesan, dan bahkan tujuan-tujuan tertentupengarang. Penelitian harus mencantumkan biografi, surat-surat, dokumen pentingpengarang, foto-foto, bahkan wawancara langsung dengan pengarang. Karya sastra padagilirannya identik dengan riwayat hidup, pernyataan-per-nyataan pengarang dianggapsebagai suatu kebenaran, biografi mensubordinasikan karya. Oleh karena itu, pendekatanbiografis sesungguhnya merupakan bagian penulisan sejarah, sebagai historiografi.Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk meiukiskan masyarakat di tempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar dialaminya secaranyata. Oleh karena itulah, seperti juga ilmuwan dari disiplin yang lain dalam mengungkapkangejala-gejala sosial, pengarang juga dianggap perlu untuk mengadakan semacam 'penelitian' yangkemudian secara interpretatif imajinatif diangkat ke dalam karya seni. Oleh karena itu pula,dalam kaitannya dengan aktivitas kreatif dibedakan tiga macam pengarang, yaitu: a)pengarang yang mengarang berdasarkan pengalaman langsung, b) pengarang yang mengarangberdasarkan keterampilan dalam penyusunan kembali unsur-unsur penceritaan, dan c)pengarang yang mengarang berdasarkan kekuatan imajinasi. Meskipun demikian, proseskreativitas pada umumnya didasarkan atas gabungan di antara ketiga faktor tersebut.Manusia, dan dengan sendirinya pengarang itu sendiri, adalah makhluk sosial.Meskipun sering ditolak, dalam kasus-kasus tertentu biografi masih bermanfaat. Dalam ilmusastra, biogran pengarang, bukan
curriculum vitae,
membantu untuk memahami proseskreatif, genesis karya seni. Biografi memperluas sekaligus membatasi proses analisis.Dalam ilmu sosial, pada umumnya biografi dimanfaatkan dalam kaitannya dengan latarbelakang proses rekonstruksi fakta-fakta, membantu menjelaskan pikiran-pikiran seorangahli, seperti: sistem ideologis, paradigma ilmiah, pandangan dunia, dan kerangka umumsosial budaya yang ada di sekitarnya.Dikaitkan dengan pemahaman sosiologi ilmu pengetahuan (Berger danLuckmann, 1973: 85—86), pada dasarnya hanya sebagian kecil dari keseluruhanpengalaman yang berhasil tersimpan dalam kesadaran manusia. Biografi merupakansedimentasi pengalaman-pengalaman masa lampau, baik personal, sebagai pengalamanindividual, maupun kolektif, sebagai pengalaman intersubjektif, yang pada saat-saattertentu akan muncul kembali. Tanpa sedimentasi, individu tidak dapat mengenalibiografinya. Melalui sistem tanda, khususnya sistem tanda bahasa, sedimentasipengetahuan ditransmisikan ke dalam aktivitas yang berbeda-beda. Moral, religi, karyaseni dalam berbagai bentuknya, dan sebagainya, merupakan hasil seleksi sedimentasipengalaman masa lampau. Makin kaya dan beragam isi sedimentasi yang berhasil untuk direkam, makin lengkaplah catatan biografi yang berhasil dilakukan.Apabila analisis sosiologis berusaha memahami struktur biografi sebagai bagianintegral subjek kreator dalam struktur sosial, analisis sastra secara otonom memahaminyasebagai gejala yang komplementer, pengarang sebagai depersonali-sasi. Sejak lahirnya