(
A
dvokasi
R
ehabilitasi
IM
unisasi
A
qidah yang
T
erpadu
E
fektif &
A
ktual)
A
manat agung = Imperialisme Agama.
Penyebaran agama bukanlah istilah baru, tetapi sudah menjadi fenomena sejarahdunia, khususnya yang berhubungan dengan keberadaan agama-agama samawi(
revelation religion
), terutama Kristen dan Islam. Agama Kristen berpayung padaistilah ”memberitakan kabar baik” (
pemberitaan Injil
), dan Agama Islam bertopangpada istilah ”Syiar Islam”. Penyebaran agama Kristen pada awalnya disebarkandengan cara-cara tradisional (
memberitakan dari individu ke individu dankhususnya ke komunitas Yahudi di Palestina
), tapi akhirnya menumpang padasistem kolonialisme (
era penjajahan negara-negara Eropa ke Asia dan Afrika
),sedangkan Islam tersebar karena peranan para pedagang, saudagar dan pelautyang berkelana untuk membangun interaksi bisnis, persis seperti yang dilakukanNabi Muhammad SAW. Bahwa pada masa itu ada peperangan itu lebih disebabkankarena penolakan dari masyarakat non muslim yang tidak menghendaki Islammenjadi agama bagi masyarakat diwilayahnya.Dalam konteks penyebaran agama Kristen, perkawinan antara ”misi” dengan”kolonialisme” menghasilkan istilah ”imperialisme agama”, yang selalu dikatakanoleh kalangan gereja sebagai kristenisasi masa lalu (
yang berbeda dengan masakini
). ”Kebetulan pada saat itu misi Kristen dilakukan bersamaan juga dengan masakolonialisme”, demikian argumentasi sebagian besar tokoh-tokoh gereja. Kritenisasimasa lalu yang berbau kolonialisme ini dianggap sebagai sesuatu yang di luarkemauan gereja (by accident), begitulah fihak gereja berusaha membebaskan diridari tuduhan semacam ini (exoneration). Benarkah imperialisme waktu itu faktorkebetulan ?, dan apakah imperialisme agama itu sekarang tidak ada lagi ?.Dengan menyimak kalimat perintah ;
“Karena itu pergilah jadikan lah semua bangsamuridku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”
.Itu sudah sangat eksplisit adanya perintah yang mengawinkan antara ”misi” dengan”kolonialisme” menghasilkan yang akan menghasilkan istilah ”imperialisme agama”. Dengan berbagai bentuk semangat tersebut diatas maka tidaklah aneh bila RobertS. Speer, seperti yang dikutip oleh AWF Idenburg (
Idenburg, Gedenkboek ARP
, 187,
Penyusun ; Diki Candra – Sekjen ARIMATEA
- 3
Add a Comment