/  15
 
(
 A
dvokasi
 R
ehabilitasi
 IM 
unisasi
 A
qidah yang
erpadu
 E 
fektif &
 A
ktual)
GERAKAN MISIRAHASIALEMBAGA SALIBIS
(BAGIAN KE I)
Kita sering terlalu menyederhanakan, mengganggap sepi, tidak peduli, terlalumenggantungkan kepada keyakinan—tanpa banyak berbuat—bahwa Allah SWTpasti akan mengalahkan kebathilan dan memenangkan yang haq. Padahal Ali binAbi Thalib r.a. sendiri pernah berujar,
“Kebathilan yang diorganisir dengan baik akan mampu mengalahkan al-haq yang tidak diorganisir.” 
Ini diucapkannyaempatbelas abad yang lalu.
Penyusun ; Diki Candra – Sekjen ARIMATEA
- 1
 
(
 A
dvokasi
 R
ehabilitasi
 IM 
unisasi
 A
qidah yang
erpadu
 E 
fektif &
 A
ktual)
T
idak ada Islamisasi .
Tidak ada perintah dalam ayat Al-Qur’an untuk melakukan peng-Islam-an semuaumat manusia. Dalam setiap ayatnya Al-Qur’an memerintahkan hanya untukdisampaikan atau diberitakan saja.
A
da Kristenisasi.
Sebaliknya Bibel membebani Gereja/lembaga kekristenan melakukan misipenyebaran agama (religion spreading) demi memperbesar populasi umat denganberbagai cara, dimana penyebaran tersebut dengan beban target agar semua umatmanusia menjadi murid Yesus. Salah satu contoh ayat dalam bentuk kalimatperintah (
imperatif 
) adalah ;
“Karena itu pergilah
 jadikan lah semua bangsamuridku
 
 , baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.
(Matius 28:16-20, Markus 16:14-16, dan Kisah Rasul 1:6-8).Konsep dan perintah babel untuk menjadikan semua umat manusia jadi muridnya (pengikut Yesus), terbukti dilapangan sudah diakuiPdt. Dr. A.A.Yewangoe, Ketua Umum PGI, di Majalah Kristen Narwastu, no.2, Agustus 2003, hal15 ;
“Memang tidak perlu dibantah, ada juga gereja yang melakukan kristenisasi.
Ini aneh, sementara tokoh sentral kristiani sendiri mengakui ada kristenisasi, tapitokoh-tokoh Islam Liberal, membela tidak ada kristenisasi.
S
umber Konplik.
Sisi terakhir inilah yang seringkali menimbulkan konflik sosial bahkan politis, akibatperbedaan konsep dan perintah masing-masing sesuai kitab-sucinya. Kristianimemiliki tugas menjadikan semua bangsa muridnya. Bahkan perintah untukmengkristenkan tersebut menjadi satu-satunya amanat agung dalam bibel.Sementara Islam, juga pemeluk agama lainnya, sudah pasti akan mempertahankandiri dengan berbagai cara dari serbuan program pelaksanaan amanat agungtersebut. Melihat kondisi diatas, semua sudah pasti tahu, tidak mungkin bila tidakterjadi gesekan.
Penyusun ; Diki Candra – Sekjen ARIMATEA
- 2
 
(
 A
dvokasi
 R
ehabilitasi
 IM 
unisasi
 A
qidah yang
erpadu
 E 
fektif &
 A
ktual)
A
manat agung = Imperialisme Agama.
Penyebaran agama bukanlah istilah baru, tetapi sudah menjadi fenomena sejarahdunia, khususnya yang berhubungan dengan keberadaan agama-agama samawi(
revelation religion
), terutama Kristen dan Islam. Agama Kristen berpayung padaistilah ”memberitakan kabar baik” (
 pemberitaan Injil 
), dan Agama Islam bertopangpada istilah ”Syiar Islam”. Penyebaran agama Kristen pada awalnya disebarkandengan cara-cara tradisional (
memberitakan dari individu ke individu dankhususnya ke komunitas Yahudi di Palestina
), tapi akhirnya menumpang padasistem kolonialisme (
era penjajahan negara-negara Eropa ke Asia dan Afrika
),sedangkan Islam tersebar karena peranan para pedagang, saudagar dan pelautyang berkelana untuk membangun interaksi bisnis, persis seperti yang dilakukanNabi Muhammad SAW. Bahwa pada masa itu ada peperangan itu lebih disebabkankarena penolakan dari masyarakat non muslim yang tidak menghendaki Islammenjadi agama bagi masyarakat diwilayahnya.Dalam konteks penyebaran agama Kristen, perkawinan antara ”misi” dengan”kolonialisme” menghasilkan istilah ”imperialisme agama, yang selalu dikatakanoleh kalangan gereja sebagai kristenisasi masa lalu (
yang berbeda dengan masakini 
). ”Kebetulan pada saat itu misi Kristen dilakukan bersamaan juga dengan masakolonialisme”, demikian argumentasi sebagian besar tokoh-tokoh gereja. Kritenisasimasa lalu yang berbau kolonialisme ini dianggap sebagai sesuatu yang di luarkemauan gereja (by accident), begitulah fihak gereja berusaha membebaskan diridari tuduhan semacam ini (exoneration). Benarkah imperialisme waktu itu faktorkebetulan ?, dan apakah imperialisme agama itu sekarang tidak ada lagi ?.Dengan menyimak kalimat perintah ;
“Karena itu pergilah jadikan lah semua bangsamuridku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” 
.Itu sudah sangat eksplisit adanya perintah yang mengawinkan antara ”misi” dengan”kolonialisme” menghasilkan yang akan menghasilkan istilah ”imperialisme agama”. Dengan berbagai bentuk semangat tersebut diatas maka tidaklah aneh bila RobertS. Speer, seperti yang dikutip oleh AWF Idenburg (
Idenburg, Gedenkboek ARP 
, 187,
Penyusun ; Diki Candra – Sekjen ARIMATEA
- 3
 
Salah satu implementasinya, sampai semuaanggota gereja diberikan dorongan untukmelakukan gerakan misi. Di sebelah kiri adalahkartu anggota gereja GBI Keluarga Allah,dimana ditulis motto dengan kalimat ;
“Selamatkan Jiwa Berapapun Harganya”.
Biladisederhanakan dari sisi umat Islam, bahasanyaakan menjadi; Murtadkan umat muslim,walaupun harus dibayar mahal” 

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...