Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
39Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Ketimpangan an Antardaerah Di Indonesia

Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Ketimpangan an Antardaerah Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 2,377 |Likes:
Published by panjull

More info:

Published by: panjull on Aug 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

 
 1
Parallel Session IA : Fiscal Decentralization12 Desember 2007, Jam 13.15-14.45Wisma Makara, Kampus UI – Depok
DAMPAK DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DANKETIMPANGAN PENDAPATAN ANTARDAERAH DI INDONESIA
Joko WaluyoFakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta Abstrak
Ruang lingkup penelitian ini adalah studi tentang pertumbuhan ekonomi dan ketimpanganpendapatan antar propinsi, dan kawasan sejak diberlakunya otonomi daerah di Indonesia (tahun2001 -2005). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak desentralisasi fiskal terhadappertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan antardaerah. Metode penelitian yangdigunakan adalah model ekonometrika persamaan simultan dengan menggunakan data panel antar propinsi. Ketimpangan pendapatan antardaerah didekati dengan menggunakan indeks tertimbangWilliamson. Asumsi utama yang digunakan dalam model penelitian adalah tidak ada keterkaitanantar daerah (tak ada migrasi penduduk antardaerah, pergerakan modal dan barang antar daerah).Teknik estimasi yang digunakan adalah
Two Stage Least Square (TSLS.)
Evaluasi terhadap kualitasmodel dilakukan dengan menggunakan RMSE, MAE, MAPE, dan TIC. Data yang digunakan dalampenelitian ini adalah data atas dasar harga konstan tahun 2003 dan berupa data level pada tingkatpropinsi. Sumber data utama berasal dari publikasi Biro Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, danDepartemen Keuangan.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal berdampak meningkatkanpertumbuhan ekonomi relatif lebih tinggi di daerah pusat bisnis dan daerah yang kaya sumber daya alam daripada daerah bukan pusat bisnis dan miskin sumber daya alam. Mekanismetransfer dana PKPD selama ini (UU No. 33 tahun 2000) lebih menguntungkan bagi daerah yangkaya sumber daya alam melalui mekanisme bagi hasil SDA. Alokasi dana bagi hasil SDA untukinvestasi sektor kunci dalam perekonomian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.Mekanisme DBHP lebih menguntungkan daerah kota yang merupakan pusat bisnis dan industri,karena basis pajak daerahnya lebih tinggi. Sedangkan daerah-daerah yang miskin SDA danbukan pusat bisnis dan industri mengandalkan penerimaan daerahnya dari DAU, dan DAK. Disamping itu desentralisasi fiskal akan berdampak mengurangi ketimpangan pendapatanantardaerah terutama antara daerah-daerah di Pulau Jawa dengan Luar Pulau Jawa dan AntaraKawasan Barat Indonesia (KBI) dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini disebabkan olehmekanisme equalizing transfer melalui dana PKPD akan mengurangi pembangunan yang bersifat jawa sentris. Tidak banyaknya SDA (Minyak, gas, dan kehutanan) yang terdapat di Pulau Jawaberdampak terhadap penerimaan dana bagi hasil SDA Pulau Jawa relatif lebih kecil daripadadaerah kaya SDA di luar Pulau Jawa. Walaupun diimbangi dengan lebih baiknya penerimaandana bagi hasil pajak dan adanya DAU, dan DAK.
Kata Kunci : Desentralisasi Fiskal, Otonomi Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, danKetimpangan pendapatan antardaerah.JEL : H77, R11, R12
 
 2
Latar Belakang
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukan konsep baru di Indonesia, sudah diatur dalam UURI No. 5 tahun 1975 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Dalam prakteknya kebijakanotonomi daerah dan desentralisasi fiskal selama pemerintahan orde baru belum dapat mengurangiketimpangan vertikal dan horisontal, yang ditunjukkan dengan tingginya derajat sentralisasi fiskal danbesarnya ketimpangan antardaerah dan wilayah (Uppal dan Suparmoko, 1986; Sjahfrizal, 1997).Praktek internasional desentralisasi fiskal baru dijalankan pada 1 Januari 2001 berdasarkan UU RI No.25 tahun 1999 yang disempurnakan dengan UU RI No. 33 tahun 2000 tentang perimbangan keuanganantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Prinsip dasar pelaksanaan desentralisasi fiskal diIndonesia ialah “
Money Follows Functions
”, yaitu fungsi pokok pelayanan publik didaerahkan, dengandukungan pembiayaan pusat melalui penyerahan sumber-sumber penerimaan kepada daerah.Berdasarkan pasal 5 UU No. 33 tahun 2000 sumber-sumber penerimaan daerah adalahpendapatan daerah dan pembiayaan. Pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD),dana perimbangan dan lain-lain pendapatan. Dana Perimbangan keuangan Pusat-Daerah (PKPD)merupakan mekanisme transfer pemerintah pusat-daerah terdiri dari Dana Bagi Hasil Pajak danSumber Daya Alam (DBHP dan SDA), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK).Dana pembiayaan daerah berasal dari Sisa Lebih Anggaran daerah (SAL), pinjaman daerah, danacadangan daerah dan privatisasi kekayaan daerah yang dipisahkan. Besarnya PAD dan pembiayaandaerah dapat diklasifikasikan sebagai dana non PKPD, karena berasal dari pengelolaan fiskal daerah.Khusus pinjaman daerah pemerintah pusat masih khawatir dengan kondisi utang negara, sehinggabelum mengijinkan penerbitan utang daerah.Idealnya semua pengeluaran pemerintah daerah dapat dicukupi dengan menggunakan PAD-nya,sehingga daerah menjadi benar-benar otonom. Selama tahun 2001 – 2003 peranan PAD terhadappengeluaran rutin dan total pengeluaran APBD semakin menurun. Menurunnya peranan PAD terhadappengeluaran rutin dan pengeluaran total dalam APBD mengindikasikan bahwa terjadi peningkatanperanan mekanisme transfer dari pemerintah pusat melalui dana perimbangan (Mahi, 2005). Tujuanutama pemberian dana perimbangan dalam kerangka otonomi daerah untuk pemerataan kemampuanfiskal pada tiap daerah (
equalizing transfer 
) (Ehtisham, 2002). Secara umum dana PKPD terdiri daribantuan umum (
block grant
) dan bantuan khusus (
spesific grant
) (Davey, 1998). Penggunaan DAU,DBHP dan DBH SDA
(block grants)
diserahkan pada kebijakan masing-masing daerah. Pada awalpenerapannya DAU banyak dimanfaatkan untuk membiayai pengeluaran rutin terutama untuk belanjapegawai sebagai dampak pengalihan status pegawai pusat menjadi pegawai pemda (Isdijoso, danWibowo, 2002). Sedangkan penggunaan DAK
(spesific grants)
telah ditentukan oleh pemerintah pusatdengan kewajiban daerah penerima harus menyediakan 10% dana pendamping.Kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) mempunyai tujuan utama untuk memperkuat kondisi fiskaldaerah dan mengurangi ketimpangan antar daerah (
horizontal imbalance
). Melalui kebijakan bagi hasilSDA diharapkan masyarakat daerah dapat merasakan hasil dari sumber daya alam yang dimilikinya.Hal ini karena selama pemerintahan orde baru hasil SDA lebih banyak dinikmati oleh pemerintah pusat(Devas, 1989). Mekanisme bagi hasil SDA dan pajak bertujuan untuk mengurangi ketimpangan vertikal(
vertical imbalance
) pusat-daerah. Walaupun Indonesia terkenal sebagai daerah yang kaya akan SDAtetapi persebarannya tidak merata di seluruh daerah. Daerah kaya SDA misalnya Riau, KalimantanTimur, Aceh, dan Irian Jaya akan mendapatkan dana bagi hasil yang relatif lebih besar jikadibandingkan dengan daerah lain yang miskin sumber daya alam. Pada sisi yang lain Jakarta dan kotabesar lainnya akan memperoleh dana bagi hasil pajak (PBB, BPHTB, dan PPh) yang cukup besar,sebagai konsekuensi terkonsentrasinya pusat bisnis di kota metropolitan. Phenomena seperti ini akanberdampak terhadap meningkatnya ketimpangan fiskal antar daerah, yang pada akhirnya melaluikebijakan ekspansi pengeluaran pemerintah daerah dapat meningkatkan ketimpangan pendapatanantardaerah dan wilayah.
 
 3
Dana Alokasi Khusus (DAK) bertujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yangmerupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Di samping itu tujuan pemberian DAKadalah untuk mengurangi
inter-jurisdictional spillovers
, dan meningkatkan penyediaan barang publik didaerah (Mahi, 2002 (c)). Dalam perspektif peningkatan pemerataan pendapatan maka peranan DAKsangat penting untuk mempercepat konvergensi antar daerah, karena dana diberikan sesuai denganprioritas nasional, misalnya DAK untuk bantuan keluarga miskin. Dalam jangka panjang danadekonsentrasi dan dana tugas pembantuan yang merupakan bagian dari anggaran kementeriannegara/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan yang menurut peraturan perundang-undangan menjadi urusan daerah akan dialihkan menjadi DAK (Pasal 107 UU No. 33 tahun 2000).Meningkatnya penerimaan daerah melalui pemberian dana PKPD dan pengumpulan dana nonPKPD pada satu sisi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi pada sisi yang lain dapatmemperburuk ketimpangan antardaerah. Peningkatan penerimaan daerah akan memberikankeleluasaan untuk mendesain kebijakan yang dapat memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi.Alokasi anggaran daerah untuk investasi akan meningkatkan kapital stok daerah dan memperluaskesempatan kerja, sehingga akan meningkatkan kapasitas ekonomi daerah yang pada akhirnya akanmeningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi berdampak terhadapkonsumsi dan tabungan (investasi) masyarakat sehingga akan memperbesar basis pajak daerah.Dampak selanjutnya yaitu terjadi peningkatan penerimaan pajak dan retribusi daerah, sehinggapenerimaan daerah akan meningkat. Pada sisi yang lain kondisi
endowment factors
setiap daerah yangberbeda berdampak terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah, dan berpotensi memperparahketimpangan antardaerah dan wilayah. Terjadinya migrasi tenaga kerja dan pergerakan modal kedaerah
core
, serta tidak berjalannya mekanisme
trickle down effect
akan berdampak meningkatkanketimpangan antardaerah (Myrdal, 1957, dan Hirchman, 1958). Hubungan antara pertumbuhanekonomi, ketimpangan pendapatan, investasi, konsumsi, dan mekanisme transfer dana PKPD dan nonPKPD terjadi dalam hubungan simultan (Dartanto, dan Brodjonegoro, 2005). Permasalahan inimerupakan topik utama yang akan di bahas dalam penelitian ini.Keberhasilan pencapaian tujuan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal untuk meningkatkanpertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan antardaerah sangat dipengaruhi oleh kondisiekonomi makro daerah. Mengingat pentingnya pertumbuhan ekonomi daerah dan permasalahanketimpangan antardaerah maka penyusun mengajukan judul penelitian sebagai berikut: “DampakDesentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan Antardaerah diIndonesia Tahun
 
2000 – 2005.”
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka pertanyaan yang menarik untuk diajukan dalam penelitianini adalah:1.
 
Bagaimanakah dampak desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesiaselama tahun 2000 – 2005 ?2.
 
Bagaimanakah dampak desentralisasi fiskal terhadap ketimpangan pendapatan antardaerah diIndonesia selama tahun 2000 - 2005 ?
Tinjauan Pustaka
Desentralisasi fiskal adalah suatu proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebihtinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan yangdilimpahkan. Desentralisasi fiskal merupakan konsekuensi logis dari diterapkan kebijakan otonomidaerah. Prinsip dasar yang harus diperhatikan adalah
money follow functions
, artinya penyerahan ataupelimpahan wewenang pemerintah membawa konsekuensi anggaran yang diperlukan untuk

Activity (39)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Daryono Soebagyo liked this
Rhyena Aulia liked this
Oswar Mungkasa liked this
Shareefa Ann liked this
Muhammad Imam liked this
Joey Kurniawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->