Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Engkau Ada Karena Cinta-Nya PDF

Engkau Ada Karena Cinta-Nya PDF

Ratings: (0)|Views: 16 |Likes:
Published by RulHas SulTra

More info:

Published by: RulHas SulTra on Dec 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2014

pdf

text

original

 
 
Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya 
 |
Perspektif Pemikiran Sufisme
 
25/01/13 
1
Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]
Engkau Ada karena Cinta dan
Nû
-Nya
Subyek cinta ketuhanan merupakan salah satu topik yang menyedot perhatian pada masa awal sejarah pergerakan sufi. Para sufisme mengidentifikasikan cinta
(„Ishq)
sebagai satu kualitas esensial dari Tuhan sebagaimana disebutkan dalam sejumlah ayat al-Quran. Ayat al-Quran yang menjadi rujukan dan paling sering dikutip untuk hierarki cinta ini ialah surah al-Maidah [5] ayat 54 yang berbunyi
“Dia mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-N
ya”.
 Pada taraf Tuhan, cinta dapat disebut sebagai kekuatan motif bagi aktivitas kreatif Allah. Ibnu
„Arabi menyatakan “
Perkawinan terjadi karena hasrat mendapatkan keturunan, hal itu mirip dengan hasrat Allah pada saat alam belum tercipta. Karena cinta, Dia mengalihkan hasratnya untuk menciptakan.
1
 Pada bagian lain, seraya menafsirkan ayat al-Quran,
“Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada”
 (Q.S. al-Hadid [57]: 4), Ibnu Araby menjelaskan bahwa makna cinta Allah untuk dikenal. Cinta-Nya kepada manusia berarti Dia tidak pernah melepaskan perhatian-Nya dari mereka. Kaum sufi dalam memahami cinta kasih antara Tuhan dengan hamba-Nya dan antara mereka dengan-Nya tidak menyetujui adanya takwil. Ibnu Taimiyah berkata:
Cinta kasih adalah haq dan jelas, pandangan ini disepakati oleh sesama kaum salaf dahulu dari ulama ahlisunnah, ahli hadis, kaum sufi dan lain-lain serta sepakat juga bahwa Allah-lah sumber cinta segala cinta dan padanya terdapat cinta haqiqi.
2
 Kaum sufi berpendapat bahwa cinta mereka kepada Allah tidak sebagaimana mencintai manusia. Bagi mereka, cinta merupakan  jaringan murni yang memiliki kaitan erat dengan penciptaan di jagat ini dan merupakan rahasia diantara rahasia-rahasia-Nya.
3
 Al-Quran dalam menyebutkan kata
al-Hubb
 (cinta) acapkali dikaitkan dengan cinta Allah kepada manusia dan juga sebaliknya. Firman-Nya,
“Wahai Muhammad, katakanlah:
 jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian
semua dan akan mengampuni dosa kalian”
 (Q.S. Ali Imran [3]: 31). Ketika menceritakan tentang Nabi Musa as, Allah berfirman,
 
“Dan Aku limpahkan kasih sayang dari
-Ku untukmu dan supaya kamu diasuh atas pengawasan-
Ku”
 (Q.S. Thaha : 39). Adapun yang sasarannya terhadap kaum muslimin keseluruhan ialah,
“Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang
yang bertakwa”
 (Q.S. al-Taubah : 4). Sungguhpun demikian, cinta Allah terhadap seorang hamba tidak mungkin disamakan dengan cinta seorang hamba terhadap Allah. Uraian di atas nampak bahwa pada dasarnya kaum sufi melihat cinta sebagai unsur yang paling mendasar dalam penciptaaan alam dan sebagai penyebab paling dominan dalam  penciptaan makhluk. Firman-Nya:
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali
menyembah kepada-
Ku”
 (Q.S. Al-Dzariyat : 56). Ibnu Abbas menafsirkan kata
al-
„ibadah
 dengan kata
al-Makrifah
. Sedang makrifah sendiri merupakan barometer dari cinta seseorang. Oleh karenanya, barang siapa yang banyak mengetahui tentang Allah, maka cintanya juga sejauh pengetahuannya itu.
4
 Dalam hal ini kaum sufi berpegangan pada ayat:
1
 Ahmad Najib Burhani,
Sufisme Kota
 (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), cet I, hal. 135
2
 
Thiblawy Mahmud Saad,
Tasawuf menurut Ibnu Taimiyah
terjemahan Ahmad Fauzi Hamid (Kuala
Lumpur: Darul Nu‟man, 1995), cet I,
hal. 234-235
 
3
 Ahmad Bahjat,
 Pledoi Kaum Sufi
 terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49
4
 Ibid, hal. 49-50
 
 
Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya 
 |
Perspektif Pemikiran Sufisme
 
25/01/13 
2
Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]
“Wahai orang 
-orang beriman, barang siapa yang salah seorang dari kalian murtad, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum dimana Allah akan mencintai mereka dan
mereka akan mencintainya”.
 (Q.S. al-Maidah : 54) Allah
Ta‟ala
dapat dikenali di alam nyata ini dengan melalui pengenalan sifat-sifat-Nya yang terlihat pada pandangan makhluk-Nya. Semua yang terlihat pada mata kita di dunia ini menunjukkan wujud Tuhan yang seharusnya kita mengenalinya. Untuk melihat Dzat-Nya yang bersifat
haq
 dan
qadim
 tidak mungkin di dunia ini, karena kita tidak terlengkapkan dengan kuasa untuk melihat Dzat-Nya. Insya Allah nikmat ini akan dirasakan oleh orang-orang beriman kelak di akhirat. Jadi, hakikat penciptaan Tuhan agar kita sebagai makhluk mengenali, lalu Menyembah-Nya.
Abu Sa‟id al
-Maihani, ketika dibacakan penggalan ayat di atas (
 
ُهبِحُ
 
ب هِحُ و
) berkata:
“Demi kebenaran cinta
-Nya kepada mereka, maka sesugguhnya tiada Dia mencintai kecuali diri-Nya sendiri. Dalam suatu pengertian bahwa segalanya dan sesungguhnya tidak ada dalam  perwujudan selain-Nya. Maka barang siapa yang tidak mencintai kecuali kepada diri-Nya,  perbuatan diri-Nya dan ciptaan diri-Nya, dia belum melewatkan cintanya kepada Dzat-Nya.
5
 Begitulah kaum sufi dalam melihat alam semesta. Mereka melihat cinta sebagai undang-undang yang mengatur wujud, disamping sebagi sebab dari wujudnya jagad raya ini. Cinta merupakan sulaman yang membuat kehidupan terbentang luas dengan diwarnai kemulian. Kaum sufi berpandangan, Allah telah menciptakan manusia dengan kekhususan cinta-Nya sekaligus memberikan sebagian cinta-Nya kepada mereka.
6
 Terkait keterangan di atas, ahli sufi ada yang mengatakan bahwa aku mengenali Allah dengan Allah, yaitu pengenalan yang berlaku dalam cahaya-Nya dengan cahaya-Nya dan hakikat penciptaan manusia itu adalah rahasia cahaya itu.
7
 Di kalangan sufi, istilah cahaya
(nûr)
 biasanya dinisbahkan kepada Muhammad Saw, sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammadiyah. Nur Muhammad dalam filsafat tasawuf ialah  paham bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad inilah segala yang lain diciptakan. Falsafah Nur Muhammad pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi bernama Sahl Abdullah al-Tusturi selanjutnya dikembangkan oleh al-Hallaj, Ibnu
Araby dan Abdul Karim al-Jili.
8
 Ar-Rumi juga memandang cinta sebagai motif Allah menciptakan sesuatu dengan
cara menafsirkan firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw: “Hanya
karenamu aku ciptakan berlapis-
lapis langit”. Nabi
Muhammad Saw adalah keutuhan manifestasi cinta yang melalui dan demi dialah alam diciptakan. Dalam syairnya, al-Rumi mengungkapkan:
9
 
Cinta mendidihkan laksana buih, Cinta meluluhlantahkan gunung menjadi pasir. Cinta menghancurkan langit beratus keping
5
 Zuhair Syafiq al-Kubby,
 Imam al-Ghazali berbicara tentang Mahabbah, Rindu, tenteram dan Ridha
 (Semarang: Surya Angkasa, 1995), cet. I, hal. 64-65
6
 Ahmad Bahjat,
 Pledoi Kaum Sufi
 terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49
7
 Abdul Qadir Jailani,
 Rahasia Sufi
 (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1999), cet. II, hal. 108
8
 Sahabuddin,
 Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah
 (Ciputat: Logos Wahana Ilmu, 2002), cet. II, hal.36-37
9
 William C. Chittick,
Tasawuf di Mata Sufi
 (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 121-122
 
 
 
Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya 
 |
Perspektif Pemikiran Sufisme
 
25/01/13 
3
Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]
Cinta mengguncang bumi. Cinta murni diberikan kepada Muhammad
 Karena cinta, Allah berfirman kepadanya, “hanya untukmu”.
  Karena hanya dialah tujuan cinta  Dia mengungguli semua nabi.
“Jika bukan karena cinta yang murni,
 
 Mengapa Aku ciptakan langit?”
 
“Kuletakkan anak tan
 gga langit di ketinggian  Karena itu kamu dapat memahami tangga-
tangga cinta”
 
Sepanjang sejarah, pembahasan Nur Muhammad pasti berkait-berkelindan dengan  pembicaraan tentang kejadian atau penciptaan alam. Dalam kaitan ini, sangat boleh jadi Nur Muhammad dapat dipersentuhkan dengan teori Plotinus tentang asal-usul alam semesta. Alam dipandang sebagai wujud yang dihasilkan atau dipancarkan dari hakikat kesejatian Tuhan secara kekal. Alam tidak lagi dipandang sebagai wujud yang diciptakan dari materi yang ada sejak semula; kekal bersama-sama dengan Tuhan sebagaimana pandangan Plato. Alam juga tidak lagi dipandang sebagi wujud keseluruhan dan kesempurnaanya kekal  bersama-sama dengan Tuhan sebagaiman anggapan Aristoteles.
10
 Nur Muhammad sejatinya adalah nur Ilahi sebagai manifestasi cinta-Nya yang melalui dia dan demi dialah segala sesuatu diciptakan.  Nur Muhammad sebagai daya kosmik yang mengatur segala yang ada di dunia ini. Dalam hubungan ini, R.A. Nicholson menjelaskan:
Tentu saja Tuhan adalah pencipta dunia, tetapi ia tidak lagi memerintah dunia dalam arti langsung. Ia bersifat transenden mutlak dan karena gerakan dan lapis-lapis langit tidak sesuai dengan kesatuannya, maka fungsi ini ditugaskan kepada seorang yang memerintah lapisan-lapisan itu, yaitu Muta. Muta tidak identik dengan Tuhan karena ia harus seorang ciptaan... (Ia) mewakili jiwa arketip dari Muhammad sebagai manusia luhur  yang diciptakan sesuai dengan banyangan Tuhan, dianggap sebagai suatu daya kosmik tempat bergantung tata susunan dan pemeliharaan alam semesta
.
11
 Patut dicatat bahwa bagaimana pun juga kultur Yunani memiliki sebuah pengaruh yang menonjol terhadap pertumbuhan peradaban Islam termasuk dalam konteks ini. Namun
menarik untuk mengutip pandangan Ibrahim Madzkor, yakni “Dunia Islam mampu
menyusun filsafat untuk dirinya sendiri yang berjalan seiring dengan nilai pokok agama dan kondisi sosialnya. Tidak sesuatu pun yang dapat lebih menolong untuk mengenal dan mengetahui hakikat filsafat ini kecuali harus mempelajari dan menjelaskannya
.
12
 Terlepas dari uraian ini, Allah menciptakan dunia melalui cinta. Karena itu, cinta menghasilkan keragaman yang memenuhi alam semesta. Dia tidak pernah berhenti mencintai makhluk ciptaan-Nya. Dengan demikian, Dia tidak pernah berhenti menciptakan mereka dan ini membuat alam semesta selalu berada dalam sifat perubahan dan pasang surut. Segalanya  berbaur dalam cinta karena sifat kasih sayang Allah-lah yang menciptakan mereka.
13
 
10
 Sahabuddin,
 Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah
 (Ciputat: Logos Wahana Ilmu, 2002), cet. II, hal. 47
11
 Ibid, hal. 45-46
12
 Ibid, hal. 48
13
 William C. Chittick,
Tasawuf di Mata Sufi
 (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 122
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->