Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Soal Buku Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu Alamsjah Ratu Perwiranegara

Soal Buku Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu Alamsjah Ratu Perwiranegara

Ratings: (0)|Views: 175 |Likes:
Published by cahPamulang
Biografi "H.Alamsjah Ratu Perwiranegara, Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu", terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1995, tiba-tiba mendapat sorotan. "Kok masih ada pelaku sejarah yang membohongi sejarah," tuding Dasman Djamaluddin lewat surat pembaca di tabloid Swadesi, edisi No.1483 Tahun 1997. Sindiran itu, tentu, dialamatkan kepada mantan Menteri Agama H.Alamsjah Ratu Perwiranegara. Apa tanggapan Alamsjah terhadap "gugatan" tersebut ?
Biografi "H.Alamsjah Ratu Perwiranegara, Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu", terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1995, tiba-tiba mendapat sorotan. "Kok masih ada pelaku sejarah yang membohongi sejarah," tuding Dasman Djamaluddin lewat surat pembaca di tabloid Swadesi, edisi No.1483 Tahun 1997. Sindiran itu, tentu, dialamatkan kepada mantan Menteri Agama H.Alamsjah Ratu Perwiranegara. Apa tanggapan Alamsjah terhadap "gugatan" tersebut ?

More info:

Published by: cahPamulang on Sep 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

 
Majalah Tajuk No. 9 Tahun I, Maret 1997 halaman 54 - 57Soal Buku Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu Alamsjah Ratu Perwiranegara :"Dialah Racunnya A.K.Gani"Biografi "H.Alamsjah Ratu Perwiranegara, Perjalanan Hidup Seorang Anak YatimPiatu", terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1995, tiba-tiba mendapat sorotan."Kok masih ada pelaku sejarah yang membohongi sejarah," tuding Dasman Djamaluddinlewat surat pembaca di tabloid Swadesi, edisi No.1483 Tahun 1997. Sindiran itu,tentu, dialamatkan kepada mantan Menteri Agama H.Alamsjah Ratu Perwiranegara. Apatanggapan Alamsjah terhadap "gugatan" tersebut ?Adalah Dasman Djamaluddin menceritakan pada hari Minggu, 12 Januari 1997. iabertamu ke rumah H.Asnawi Mangku Alam, mantan Gubernur Sumatera Selatan. Dalampertemuan mereka, kisah Dasman yang mengaku tinggal di Bogor, Asnawi banyakmemberi informasi, terutama kritikannya terhadap isi buku Alamsjah.Pertama, mengenai dialog Alamsjah dengan Dr.A.K.Gani.Ketika A.K.Gani menanyakan kepada Alamsjah, "Apa saudara masih berjuang untukrepublik ?. " Alamsjah menjawab,"Sebelum saudara berjuang di Republik saya sudahberjuang."Kata Asnawi seperti dikutip Dasman, apa yang dikatakan Alamsjah itu tidaklah benardan tidak etis. Menurut Asnawi, A.K.Gani adalah orang yang dihormati di SumateraSelatan dan tokoh nasional sejak awal kemerdekaan. Oleh karena itu tidaklahmungkin Alamsjah membusungkan dada mengecilkan peranan A.K.Gani. Sayangnya, jelasAsnawi, A.K.Gani sudah tiada.Kedua, di dalam bukunya Alamsjah selalu mengklaim bahwa ia yang memimpinpertempuran lima hari lima malam di Palembang. Pengakuan Alamsjah ini menurutAsanawi, sangat tidak obyektif.Alasannya, sebagaimana telah diketahui, pertempuran lima hari lima malam diPalembang tersebut bukan pimpinan Alamsjah. Hal ini dapat dipelajari dari buku "5Hari 5 Malam Perang Rakyat Palembang" dan "Pasca Perang Kota" yang telah mendapatpengesahan dari Pusat Sejarah dan telah mendapat SK Dirjen Pendidikan Dasar danMenengah Depdikbud.Ketiga, pada kalimat atau kata-kata penempatan pasukan front tengah, front kiri,front kanan, staf komando resimen-resimen dan batalyon-batalyon, Alamsjahberbicara seolah-olah ia adalah komandan Brigade, bukan Kepala Operasi. Tidaksedikit pun Alamsjah menyinggung nama Kolonel Bambang Utoyo sebagai KomandanBrigade yang bertanggung jawab dalam masalah itu.Keempat, khusus di halaman 197, 198 dan 199 dari buku Alamsjah tersebut. Padaangka 3 (halaman 197) dikatakan bahwa terjadi pertikaian antara MenteriPertambangan Slamet Bratanata dengan Dr.Ibnu Sutowo selaku Direktur UtamaPertamina, dalam buku tersebut, katanya diselesaikan oleh Alamsjah. Benartidaknya, wallahu'alam, ujar Asnawi."Sedangkan dalam angka 5 (halaman 198 dan 199), Alamsjah yang dikatakan memimpinpertemuan tim ahli ekonomi. Ibnu Sutowo diangkat menjadi Dirut Pertamina atas usulAlamsjah," ujar Asnawi seperti dikutip Dasman Djamaluddin.Menurut ingatan Asnawi atas kejadian yang berlangsung pada tahun 1967 itu, yangbenar adalah bahwa Ibnu Sutowo telah menjadi Dirut Pertamina jauh sebelum tahun1967 atas karya Ibnu sendiri.
 
Demikian inti surat pembaca Dasman Djamaluddin terhadap buku yang ditulis SuparwanG.Parikesit dan Krisna R.Sempurnadjaja itu. Buku setebal 485 ini berisi tentangperjalanan hidup, perjuangan, dan pengabdian Alamsjah pada bangsa dan negara.Racunnya A.K.GaniAtas "gugatan" yang dialamatkan kepada dirinya, Alamsjah kelahiran 25 Desember1925 di Panagan Ratu, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara, inimengatakan. "Itu Asnawi tidak tahu apa-apa. Asnawi itu seorang perwira logistik diresimen, saya sendiri di divisi. Dan kalau mau bicara soal ini, jalan ceritanyapanjang," kata Alamsjah seperti yang ditulis dalam bukunya, pada minggu keduaOktober 1945 ia-kala itu sudah berpangkat kapten dan bertugas di Lampung-denganpengawal lebih kurang satu peleton diajak Pangeran Emir M.Noor ke daerah Palembanguntuk memeriksa perkembangan PKR (Penjaga Keamanan Rakyat) di Baturaja dan lahatsekaligus menghadiri pertemuan para tokoh bekas anggota Gyu Gun dan Heiho di PagarAlam. Apalagi ada informasi bahwa Belanda akan ikut membonceng dalam rombongantentara Sekutu.Sesudah pertemuan di Pagar Alam, rombongan mereka lebih dulu mengadakan inspeksidi Jambi. Dari Jambi menuju Palembang, rombongan terpaksa menunggu agak lama diSorulangun Rawas, karena belum dapat masuk ke Lubuk Linggau lantaran sedangterjadi pertempuran dengan Jepang.Tidak sabar menunggu, akhirnya rombongan Pangeran Emir M.Noor memutuskan untukmasuk dari Muara Rupit dengan kapal roda lambung melalui sungai Musi menujuPalembang. Dalam perjalanan melalui sungai itu, di Sekayu mereka disambut olehWedana dan pasukan di sana yang terdiri dari TKR dan Hizbullah."Tapi setelahdijamu, ternyata kami dinyatakan ditangkap dan dimasukkan ke penjara," ujarAlamsjah kepada TAJUK."Kami benar-benar diperlakukan seperti tawanan. Bahkan mungkin lebih dari itu.Bayangkan, untuk minum misalnya, kami diberikan air yang diambil dari air untukcebok di kakus. Benar-benar tindakan yang saya anggap berlebihan, mengingat merekaadalah saudara sebangsa, sedangkan kesalahan kami tidak jelas," lanjut Alamsjahsengit.Belakangan, kata Alamsjah, ternyata penangkapan mereka dilatarbelakangi olehkecurigaan dari pihak Dr.A.K.Gani, yang pada 15 November 1945 telah ditunjukPemerintah Pusat sebagai Wakil Menteri Pertahanan dan otomatis menjadi koordinatorTKR di seluruh wilayah Sumatera."Pada hari ke-21," tutur Alamsjah,"Kami baru dilepaskan dan tubuh saya dalamkeadaan penuh kudis."Lalu, suatu hari, Alamsjah mengaku belum pernah bertemu dengan A.K.Gani. Dalampertemuan itu A.K.Gani bertanya,"Apa Saudara masih ingin berjuang untuk Republik ?""Kesal sekali saya mendengar pertanyaan itu. Maka, saya jawab saja dengan ketus:Sebelum Saudara berjuang di Republik, saya sudah berjuang," jelas Alamsjahsekaligus meng-counter pernyataan Dasman.Sebetulnya, kata Alamsjah lagi, karena dalam keadaan emosi, dia tidak cukup hanyamengatakan kata-kata kasar semacam itu."Saya sebetulnya ingin membunuh dia karenasaking marahnya. Jadi, kalau Asnawi mengatakan apa yang saya katakan itu tidaketis, memang dialah racunnya Dr.A.K.Gani. Siapa yang tidak marah ditahan begitu,badan sampai kudisan, disuruh minum air kakus, dan masih berjuang menghadapimanuver Belanda?" tutur Alamsjah berapi-api.
 
Begitu juga mengenai pertempuran lima hari lima malam di Palembang."Asnawi tidaklebih banyak tahu dibanding saya," ucap Alamsjah yang waktu itu memangku jabatanKepala Staf Komando. Panglimanya Kolonel Bambang Utoyo.Pertempuran Hari Pertama terjadi 1 Januari 1947, sekitar pk.05.00. Belanda memulaiserangan dengan insiden pancingan di Palembang Ilir. Sebuah jip berisi serdaduBelanda melanggar ketentuan garis emarkasi.Melihat pelanggaran itu, seorang anggota TRI yang bertugas berusaha menghentikanjip tersebut. Tapi para serdadu Belanda justru mempercepat laju jip, dan dari ataskendaraan itu mereka melepaskan tembakan secara membabibuta. Pihak TRI membalasmenembak, sehingga kendaraan itu kembali ke Benteng.Setelah insiden itu, pertempuran terbuka pun meletus di Palembang. Bahkan hinggamalam, terjadi tembak menembak antara pasukan TRI dan pasukan Belanda. Padapertempuran Hari Pertama itu, Lettu Djoko Suroyo, wakil Alamsjah, gugur di medanperang. Ia, Djoko Suroyo, sehabis menembak musuh dari jendela toko de Zon di jalanTengkuruk, ia berusaha menuju Sungai Jeruju. Tapi, selagi ia berlari zigzag,sebuah peluru menembus keningnya.Selain memikirkan anak buahnya yang tewas, perhatian Alamsjah juga tersitamengenai perlunya seorang komandan pertempuran yang bertanggungjawab pada frontTalang Betutu, Talang Semut, Mesjid Agung, Bukit Kecil, Pasar Lingkis sampai RSCharitas. Setelah dipikirkan masak-masak, akhirnya Alamsjah memutuskan untukmengangkat komandan Resimen XVII Mayor Dani Effendi menjadi komandan pertempuranfront tersebut,"Mengingat dalam situasi pertempuran dan sifatnya mendadak surat perintah itu sayatulis di atas kertas dari buku tulis pelajaran anak sekolah yang saya robektergesa-gesa. Surat perintah tertanggal 1 Januari 1947 itu saya tandatangani atasnama Panglima Divisi II Garuda, Kolonel Bambang Utoyo. Sebab, sejak 1 Januari,komandan Divisi tidak pernah berada di Staf Komando. Jadi otomatis, yangmemutuskan dan menentukan saya sendiri. Begitu juga mengenai hal-hal yang lain.Itu saksinya, masih ada, kakaknya Sarnubi Said. Dan semua itu pada akhirnya memengharus saya yang mempertanggungjawabkannya pada atasan saya," papar Alamsjah."Asnawi tidak tahu soal ini.Dan asal tahu, Kolonel Bambang Utoyo sebagai panglimabaru pada hari kelima kembali ke Palembang."Jadi, kata Alamsjah, itulah salah satu faktor yang membuatnya tidak menyebut-nyebut nama Bambang Utoyo secara spesifik dalam bukunya.Selain memang dia yang banyak menentukan di lapangan."Masak saya juga harusmenyebut Komandan Brigade saya yang memerintahkan saya. Apa yang saya tulis kanapa yang saya kerjakan dan alami. Ini kan riwayat hidup saya, bukan riwayat hidupKomandan Brigade. Jadi apa yang saya kerjakan, itu yang saya tulis. Ini juga kanbukan buku sejarah, tapi riwayat hidup pribadi saya," tandas Alamsjah di ruangkerjanya.Rupanya, apa yang disanggah Alamsjah dari pernyataan Asnawi kepada DasmanDjamaluddin, bukan cuma soal "A.K.Gani" dan "Bambang Utoyo", tapi juga soal "IbnuSutowo","Apa yang dikatakan Asnawi tentang Ibnu Sutowo, juga salah. Saya tidakpernah mengatakan atas usul saya.Pada awal tahun 1967, kata Alamsjah, ada pertikaian antara Menteri PertambanganSlamet Branatana dan Ibnu Sutowo. Branatana mengirim laporan pada Pak Hartomengenai penyimpangan-penyimpangan yang menurutnya dilakukan Ibnu Sutowo selaku

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->