BAB IIPEMBAHASAN
1.Definisi Tari Topeng
Menurut pendapat salah seorang seniman dari ujung gebang-Susukan-Cirebon, Marsita, kata topeng berasal dari kata” Taweng” yang berarti tertutupatau menutupi. Sedangkan menurut pendapat umum, istilah kata Topengmengandung pengertian sebagai penutup muka / kedok.Berdasarkan asal katanya tersebut, maka tari Topeng pada dasarnyamerupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.Seperti yang telah diutarakan diatas, bahwa unsur-unsur yang terdapatdalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan- pesan terselubung, baik dari jumlah kedok, warna kedok, jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalammenyebarkan agama Islam dengan menggunakann kesenian Tari Topengsetelah media Dakwah kurang mendapat Respon dari masyarakat.Jumlah Topeng / Kedok seluruhnya ada 9 (sembilan ) buah, yaitu :Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung atau Patih, Kelana atauRahwana, Pentul, Nyo atau Semblep, Jinggananom dan Aki – aki. Darikesembilan Topeng / Kedok tersebut yang dijadikan sebagai Kedok pokok hanya 5 (lima ) buah yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang,Tumenggung dan Kelana. Sedangkan empat kedok lainnya hanya digunakanapabila dibuat ceruta / lakon seperti cerita Jaka Blowo, Panji Blowo, PanjiGandrung dll.2.
Sejarah Perkembangan Tari Topeng Cirebon
Sebagai hasil kebudayaan, Tari Topeng mempunyai nilai hiburan yangmengandung pesan–pesan terselubung, karena unsur–unsur yang terkandungdidalamnya mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatmenyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga mempunyai nilai3